
Dua Sahabat yang Bercerai
Bab 3
Sebelumnya aku juga pernah membicarakan soal perceraian dengan Riko. Tapi dia selalu marah, dan akhirnya aku yang meminta maaf dan membujuknya agar mau memaafkanku. Makanya, dia mengira aku juga hanya sedang kesal saja seperti sebelumnya.
Aku balas menjawab, "Riko, kali ini aku serius. Ayo kita cerai. Kita bertemu di depan Kantor Catatan Sipil besok pagi jam setengah sembilan."
Riko segera membalas, "Oke, kalau memang kamu mau cerai. Akan kukabulkan keinginanmu itu."
Aku tidak membalas pesannya lagi.
Keesokan paginya, sesaat setelah aku dan Winda sampai di lokasi, Riko dan Anita juga datang.
Riko dan Anita pernah berpacaran saat masih kuliah, tapi mereka putus karena kesalahpahaman. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, Riko rupanya masih belum bisa melupakan Anita.
Aku menatap anjing peliharaan di pelukan Anita, kemudian teringat wajah nenekku saat meninggal. Rasa sakit tiba-tiba menghujam dadaku.
Riko lalu berjalan mendekat, dia sempat melirikku sekilas saat hendak masuk gedung.
Aku hanya berkata dengan nada datar, "Tunggu sebentar. Winda juga mau bercerai, tapi Rafi masih belum datang."
Riko mengerutkan kening, "Mely, kamu masih belum puas hanya dengan menceraikanku? Kamu juga mau membuat seluruh keluargaku jadi kacau karena perceraian?"
Mendengar itu membuat Winda langsung marah, "Ini keputusanku sendiri, nggak ada hubungannya dengan Mely. Kamu sendiri juga tahu kan seperti apa sifat adikmu itu? Kalian berdua sama-sama brengsek!"
Anita tersenyum tipis, "Nona Winda, kami bicara begitu juga karena peduli. Kenapa Nona harus marah-marah begini?"
Dia melirik ke arahku, "Riko cuma nggak mau kamu terpengaruh oleh Mely, dan terbawa emosi sampai mau menceraikan Rafi juga."
Aku menatap balik Anita, "Memangnya Riko bisu? Sejak kapan kamu mewakilinya bicara begini?"
Anita lalu menatap Riko dengan tatapan memelas.
"Maafkan aku, Kak Riko. Aku sudah salah bicara dan malam membuat Mely marah."
Riko lalu berkata serius, "Cukup, Mely."
Aku hanya meliriknya tajam.
Sepertinya Riko sangat marah padaku, dia sampai membentak, "Memangnya apa salah Anita? Kamu duluan yang melarangku membantunya mencarikan anjing peliharaannya yang hilang, lalu sekarang kamu juga mau memojokkannya."
Anita berkata dengan lembut, "Nona Mely, tolong jangan salah paham. Waktu itu Riko cuma mau membantuku mencari Kiki saja. Kami nggak punya hubungan apa-apa."
"Tapi, seharusnya waktu itu kamu juga jangan sampai mendoakan nenekmu mati hanya demi membuat Riko kembali. Itu kan nggak sopan, apalagi nenekmu juga sudah tua."
Riko lalu menatapku dengan penuh penghinaan, "Kasihan nenekmu yang sudah sangat menyayangimu, Mely. Kamu benar-benar nggak tahu terima kasih."
Aku kemudian mengeluarkan surat kematian nenek dari dalam tas dan menunjukkannya padanya.
"Riko, buka matamu lebar-lebar dan baca ini baik-baik. Nenekku sudah meninggal, sudah meninggal!"
"Saat kamu pergi membantu Anita mencari Kiki, nenekku kena serangan jantung. Aku sudah memohon agar kamu kembali untuk menyelamatkan nyawanya, tapi kamu menolak. Kamu merasa bahwa membantu Anita mencari Kiki lebih penting daripada menyelamatkan nyawa nenekku. Tapi kamu masih berani memakiku?"
Riko melirik surat kematian yang ada di tanganku sambil tertawa mengejek, "Aku ini dokter yang merawat nenekmu. Aku lebih tahu kondisinya daripada kamu. Aku nggak habis pikir kamu bahkan sampai membuat surat kematian palsu demi membohongiku. Aku kecewa padamu."
"Jangan kira aku nggak tahu, ya. Kamu sebenarnya nggak mau cerai, makanya sampai menunjukkan surat kematian palsu itu padaku supaya aku luluh. Asal kamu tahu, itu nggak akan mempan. Kan kamu yang terus-menerus minta cerai!"
Aku memejamkan mata, tiba-tiba sudah lelah menghadapi semua ini. Aku enggan menjelaskan masalah ini lagi padanya.
Terserah apa yang dia pikirkan tentangku, aku tidak peduli lagi.
"Riko, kamu benar-benar bodoh!"
Raut wajah Riko langsung berubah menjadi suram setelah mendengar ucapanku barusan. Dulu aku sangat mencintainya, dan tidak akan mungkin menghinanya seperti barusan.
Dia baru saja mau mengatakan sesuatu, tapi Rafi keburu datang.
Aku dan Winda saling bertukar pandang, kemudian segera melangkah ke dalam gedung tanpa banyak bicara.
Hari ini tidak ada anteran, jadi surat cerainya dapat segera diproses.
Selama menunggu, tatapan Riko terus tertuju padaku. Aku tahu dia menungguku membuka mulut dan memohon padanya untuk membatalkan perceraian ini. Tapi aku tidak akan pernah melakukannya. Aku bahkan tidak meliriknya sama sekali.
Begitu keluar dari Kantor Catatan Sipil, tiba-tiba Kiki, anjing peliharaan Anita, melompat ke arahku. Aku pun refleks menepisnya.
"Jangan sakiti Kiki." Anita berlari menghampiri anjing peliharaannya, hendak melindunginya. Tapi wanita itu malah tidak sengaja jatuh ke tanah.
Riko segera membantunya berdiri, sambil bertanya dengan cemas.
"Anita, kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Pria itu lalu menatapku dengan tatapan marah.
"Mely, cepat minta maaf ke Anita."
Aku malas menanggapinya dan memilih untuk segera berbalik pergi. Namun, Riko malah mengejarku dan mencoba meraih lenganku. Tapi entah kenapa, dia malah terhuyung dan tidak sengaja mendorongku jatuh dari tangga."
"Ah!"
Aku kaget dan segera melindungi perutku, tapi semuanya terlambat.
"Perutku sakit sekali ...."
Winda segera berlari ke sampingku, dia melihatku yang sedang kesakitan. Kedua matanya mulai memerah karena cemas.
"Jangan takut, Mely. Nggak apa, semuanya akan baik-baik saja."
Dia lalu menelepon ambulans dan berteriak marah pada Riko, "Riko, apa kamu nggak tahu kalau Mely sedang hamil? Kenapa malah mendorongnya?"
Riko membelalakkan mata melihat darah yang membasahi kakiku, dia tampak sangat kaget.
Anda Mungkin Juga Suka





