Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosenku Mantan Suamiku

Dosenku Mantan Suamiku

Ardan menceraikan Luna karena tuduhan perselingkuhan dan keraguan atas status anak mereka. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang berbeda. Ardan yang dulu pengusaha sukses, kini menjadi dosen di kampus tempat Luna menuntut ilmu. Meski Ardan masih menyimpan dendam dan melontarkan kalimat pedas tentang pengkhianatan masa lalu, Luna justru menanggapi sikap dingin mantan suaminya itu dengan keberanian dan kecurigaan yang jenaka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana pagi hari di Panti Asuhan Lentera Hati terasa begitu riuh. Beberapa anak sibuk bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, sementara yang sudah dewasa sedang mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Di sisi lain, suasana di rumah Ibu Panti jauh lebih gaduh. Tangisan anak kecil bercampur dengan suara omelan seorang wanita menciptakan keramaian yang memusingkan di pagi hari.

"Iya, Cio... sebentar. Ini Bunda lagi siap-siap!"

Drucia Luna, wanita cantik berusia 23 tahun itu, nyaris kehilangan kesabarannya menghadapi putra semata wayangnya yang sangat rewel. Ibunya sedang memasak, dan ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Jadi tidak ada yang mengurus anaknya saat ini.

"BUNDA LAMA!" teriak bocah itu diiringi dengan tangisan yang semakin kencang.

Luna menarik napas, berusaha meredam emosinya. Dari arah dapur, Juli-ibu pantinya, berlari kecil menghampiri mereka.

"Ayo, mandi sama Nenek, ya," bujuk Juli lembut sambil membungkuk untuk menggendong Cio.

Namun, bocah itu dengan cepat menepis tangan Juli. "Nggak mau! Maunya sama Bunda!" teriaknya.

Luna mendesis kesal. Tak sabar lagi menghadapi tingkah putranya yang setiap pagi selalu begini. "Bunda panggilin Om Paket, ya, kalau masih nangis. Biarin aja, biar jadi anaknya Om Paket," ancamnya.

Ini adalah kelemahan anaknya. Bocah itu punya trauma kecil terhadap pengantar paket, karena sebelumnya pernah digoda akan dimasukkan ke dalam keranjang karung yang dibawanya.

"Enggak, Bunda! Cio Nggak mau!" teriaknya kencang.

"Udah, kamu berangkat sana. Nanti terlambat. Biar Ibu yang urus Cio," ujar Juli dengan lembut.

Luna mendengus kesal, lalu dengan gerakan cepat ia mengambil tas dan kantong besar berisi beberapa kotak jajanan yang akan dijualnya di kampus.

"Sialan kamu, Mas Ardan. Dari sekianya banyaknya sifat baik, kenapa harus gen tantrum yang kamu turunin ke anak aku? Lama-lama aku bisa darah tinggi kalau kayak gini terus," gerutunya kesal.

Luna masih teringat cerita Ibu mertuanya tentang Ardan kecil yang dikenal sering tantrum hingga membuat semua orang di rumah kerepotan. Siapa sangka sifat itu kini diwarisi oleh Cio, putra mereka.

"Untung punya Ibu sabar," gerutunya lagi sambil melangkah ke halaman depan dan menaiki motor matic kesayangannya.

*****

Setibanya di kampus, Luna memarkir motornya di tempat biasa. Namun, hari ini suasana terasa berbeda. Kampus tampak lebih ramai dari biasanya. Ia sempat melihat sekumpulan mahasiswa berkumpul di depan papan pengumuman.

"Ada apa sih?" gumam Luna penasaran sambil berjalan mendekat.

"Dosen baru, Lun. Ngajar di kelas kamu," jawab salah satu temannya.

"Pak Edi jadi resign?" tanya Luna.

"Iya, diganti sama Dosen itu."

Luna yang penasaran segera membaca pengumuman itu. Ia tertegun, matanya membesar saat melihat nama yang tertulis di sana. Dr. Ardan Willy Kusuma, Dosen baru yang menggantikan salah satu Dosen di jurusannya.

"Wah, nggak mungkin..." bisik Luna tak percaya. "Dia pengusaha, nggak mungkin tiba-tiba ganti profesi jadi Dosen," gumamnya lagi. "Enggak, ini pasti namanya aja yang sama. Lagian dia tinggalnya di Jakarta, nggak mungkin kalau tiba-tiba pindah ke Bandung."

Tak mau pusing-pusing memikirkan itu lagi, Luna segera masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangku barisan tengah dengan hati yang masih gelisah. Meski belum terbukti bahwa Dosen itu benar-benar mantan suaminya, namun jantungnya sudah berdebar kencang.

"Please... semoga bukan dia," gumamnya dalam hati. Berharap bahwa apa yang ia khawatirkan tidak akan menjadi kenyataan.

Setelah semua mahasiswa masuk dan duduk di tempatnya, suasana kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada pintu, menunggu kedatangan Dosen baru yang akan menggantikan Pak Edi di kelasnya.

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang pria dewasa dengan tubuh tinggi gagah dan wajah yang tampan sempurna, masuk dengan langkah yang penuh percaya diri. Meskipun terlihat sudah matang, pesona yang dimilikinya tak pudar. Membuat para mahasiswi langsung terpesona melihatnya.

"Selamat pagi, semuanya," suara Ardan mengalun tenang namun penuh wibawa. "Saya Dr. Ardan Willy Kusuma, dan saya yang akan menggantikan Pak Edi di mata kuliah ini."

Berbeda dengan teman-temannya tampak antusias, Luna justru terjebak dalam kegelisahan yang tak bisa ia hindari. Ia membeku di tempat, menatap Ardan dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Ardan belum menyadari kehadiran Luna di sana. Ia lanjut memperkenalkan dirinya di depan para Mahasiswa. Semua menyambutnya dengan antusias, bahkan beberapa dari mereka ada yang langsung bertanya.

"Sebelumnya ngajar di mana, Pak?" tanya seorang mahasiswa.

"Saya belum pernah mengajar. Saya hanya pengusaha yang ditawarkan untuk menjadi Dosen di kampus ini," jawab Ardan dengan tenang.

"Wah, mantap nih. Diajar langsung sama yang udah berpengalaman," sahut mahasiswa lain dengan antusias.

Ardan hanya tersenyum tipis, merasa senang dengan sambutan mereka.

"Umur berapa, Pak?" tanya mahasiswa yang duduk di bangku belakang.

Ardan kembali tersenyum, menjawab dengan santai, "38."

"Wah... pasti mudanya ganteng banget ya, Pak," sahut mahasiswi lain dengan ceria.

Lagi-lagi Ardan hanya tersenyum tipis, tak merasa terganggu dengan godaan mereka. Ia sudah terbiasa mendapatkan perhatian karena ia memang memiliki ketampanan yang luar biasa.

"Anaknya berapa, Pak?" tanya seorang mahasiswa lagi. Kali ini menyentuh ranah privasinya, jadi Ardan memilih untuk tidak menjawabnya.

Ardan segera melangkah menuju meja dosen untuk duduk. Namun, saat hendak duduk, matanya secara tak sengaja menangkap sosok wanita cantik yang duduk di bangku tengah.

Ardan terdiam sejenak. Tubuhnya membeku dan jantungnya berdegup kencang. Matanya terpaku pada Luna yang kini menundukkan kepala, seolah menghindari pandangannya.

Beberapa mahasiswa yang menyadari perubahan sikap Ardan langsung menoleh ke arah Luna. Namun, lamunan Ardan terputus ketika salah satu mahasiswa melontarkan godaan.

"Itu namanya Luna, Pak. Cantik emang, banyak yang suka. Tapi sayangnya dia janda satu anak," ucapan pria bertubuh gendut itu mengundang gelak tawa teman-temannya. Sementara Luna hanya bisa menarik napas panjang, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

"Enggak. Siapa juga yang tertarik? Istri saya lebih cantik," balas Ardan dengan nada ketus. Tampaknya ia masih menyimpan dendam pada Luna, terbukti dari tatapannya yang kini berubah tajam.

"Cieee..." goda beberapa mahasiswa. Luna yang sudah muak segera bangkit dari tempat duduknya dan pura-pura izin ke toilet.

"Maaf, Pak. Saya izin ke toilet sebentar," ujar Luna.

Tanpa menunggu jawaban dari Ardan, Luna langsung berjalan keluar dari kelas. Tindakannya itu membuat beberapa teman-temannya bergumam dengan suara pelan, menganggap Luna tidak sopan karena semena-mena terhadap Dosen baru.

"Yang akan presentasi, silakan bersiap-siap. Saya keluar sebentar," ujar Ardan, kemudian melangkah keluar kelas, mengikuti Luna yang sudah berjalan menuruni tangga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel Disusui Madu
8.7
Wafa terpaksa menumpang di kediaman Cindy atas ajakan Dika, suaminya. Namun, kehidupan Wafa berubah drastis menjadi pelayan di sana. Konflik memuncak saat mertuanya lebih memihak Cindy, ditambah duka mendalam atas kematian putra sulungnya, Delon. Keadaan kian misterius ketika Cindy mendadak hamil sementara ia terus mendominasi rumah tangga Wafa. Di tengah lilitan utang biaya medis dan pengkhianatan, mampukah Wafa bertahan atau memilih pergi demi kedamaiannya?
Sampul Novel Istri yang Lari di Hari Pernikahannya
9.3
Siti Maemunah terpaksa menjalani pernikahan akibat perjodohan yang diatur oleh sang paman. Namun, sesaat setelah akad nikah usai, ia justru memilih kabur dan meninggalkan suaminya. Maemunah merasa yakin bahwa ia tidak akan pernah berpapasan lagi dengan pria tersebut selamanya. Tak disangka, takdir berkata lain ketika setahun kemudian ia kembali dipertemukan dengan Alga. Kini, Maemunah harus menghadapi kenyataan pahit dari masa lalu yang sempat ia hindari.
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli
8.9
Arista berharap pernikahan dengan Yoga penuh kelembutan, namun realitanya justru menyakitkan. Setelah berhenti bekerja demi suami, dia malah diabaikan dan tidak diberi nafkah dengan alasan gaji yang tertunda. Kesabaran Arista mencapai batasnya saat ia memergoki kebohongan Yoga ketika buah hati mereka jatuh sakit. Kini, Arista bertekad menguak kebenaran di balik sikap dingin suaminya. Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan Yoga selama ini?
Sampul Novel MINE
8.9
MINE
Hidup Ana berubah drastis setelah berselisih dengan pengusaha dingin yang menjadi pembicara di kampusnya. Meski kesal, Ana terpaksa terus berurusan dengan pria menyebalkan itu. Tanpa disadari, sosok tersebut adalah pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Perubahan sifat sang pria membuat Ana bimbang antara benci dan puja. Di tengah perasaan yang berkecamuk, hubungan mereka justru dihantam berbagai teror berbahaya. Mampukah mereka bertahan menghadapi ujian?
Sampul Novel MrP (Mertua Rasa Pelakor)
7.9
Kehancuran rumah tangga membayangi saat campur tangan mertua menjadi duri dalam pernikahan. Memiliki suami yang lebih mengutamakan ibunya daripada anak dan istri sendiri adalah ujian berat bagi kesabaran. Meski hati terkoyak, aku berusaha tegar menghadapi hinaan mertua yang puas melihat penderitaan kami. Saat Mas Bo'eng memilih pergi meninggalkan aku dan Fito dalam kepahitan, aku terpaksa bertahan di tengah luka batin yang kian mendalam.