
Dosen Suamiku
Bab 3
"Geer sekali kamu." wajah rafka berubah menjadi datar lagi ketika Dara melihatnya.
"Saya tahu kalo saya cantik gak usah dilihatin juga kali." dengan geernya dara berbicara begitu.
"Cantikan juga kucing saya."
"Sialan! Gue disamain sama kucingnya, dia pikir gw hewan apa." gumam Dara dengan tatapan kesel dan memanyunkan bibirnya.
"Gak usah dimajuin tuh bibir! Minta dicium kali yah" rafka melihat Dara sedang memanyunkan bibirnya seperti sedang kesel padanya.
"Dasar mesum" Dara melempar sebuah buku nilainya untung saja tidak mengenai wajah gantengnya jika kena hancur dah wajah gantengnya itu.
Setelah kegiatan kuliah selesai semua mahasiswa sudah diperbolehkan pulang, Dara yang baru saja keluar dari kelasnya bersama teman-temannya tidak sengaja bertemu dengan dosennya yang sangat ia benci.
"Pulang sama siapa." tanya Rafka dengan tatapan datar.
"Situ tanya saya?" Balik tanya Dara yang masih kezel pada dosennya.
"Didepan saya hanya kamu? Masa saya nanya orang lain." kata Rafka dengan dingin.
"Siapa tahu nanya teman saya gitu si Risa." ucap Dara arah matanya menatap teman sebelahnya.
"Kok gua sih dar, kan yang didepan pak rafka lu bukan gua." ujar risa dengan wajah polosnya.
"Udah lu mendingan diam aja." bisik dari pada temannya.
"Emangnya kenapa?" Hadehh cape juga bicara sama teman yang polosnya minta ampun.
"Ehemm jadi kamu pulang sama siapa?" Rafka yang merasa dicuekin lalu angkat bicara.
"Dijemput supir, iya kan ris." Dara mengedipkan matanya menginsyaratkan agar mengiyakan ucapan dirinya.
"Bukannya supir lu lagi pulang kampung yah." Risa yang tidak paham dengan kode temannya itu.
"Ishhh lu kenapa jawab jujur sih." Dara kezel kenapa temannya malah jawab jujur.
"Kamu ingin menghindar dari saya?" Tanya Rafka Dengan tajamnya.
"Ng-nggak kok pak saya..." Dara mengucapnya dengan terbata-bata Padahal niatnya ingin menghindari dosennya.
"Banyak alasan kamu." Rafka tau jika Dara mencoba untuk lari darinya. Jangan coba-coba untuk lari dari Rafka.
"Hmm... Dar gua balik duluan yah udah ditungguin bokap gua."
"Ehhh tunggu dulu tanggung jawab lu ris."
"Sorry, duluan bye." Risa melambaikan tangannya cepat-cepat menghindar dari dosennya agar tidak kena marah.
"Mau kemana kamu." Rafka yang merasa Dara ingin kabur dari dirinya ia menahan lengannya agar tidak kabur.
"saya mau pulang lah pak." sewot Dara.
"Ikut saya." Rafka menarik tangan Dara menuju ruangan dosennya.
"Saya mau dibawa kemana pak." Dara mencoba untuk melepaskan tangannya tapi tidak bisa karena lebih kuat dari dirinya.
"Sudah, ikut saya saja." sampai di depan ruangan kerjanya rafka melepaskan tangannya, Dara ketakutan. buat apa dosennya membawa ke ruangannya sedangkan semua dosen sudah pada pulang ke rumahnya.
"Bapak ngapain bawa saya ke ruangan bapak, saya tahu pasti bapak mau ngapa-ngapain saya kan ngaku aja deh." Dara menunjukkan dosennya bahwa ucapan dirinya memang benar.
"Apa sih jangan kegeeran deh, saya bawa kamu ke ruangan ini karena ada tugas yang kamu kerjakan." Mati sudah malu sekali dara sudah memfitnahnya.
"Ayo masuk." ajak Rafka kemudian Dara pun mengikutinya dari belakang.
"Saya nyuruh kamu ke sini karena saya ingin kamu bantu saya memasukkan nilai."
"Tapi Pak sekarang sudah waktunya pulang, besok masih ada waktu kan." pikir Dara memangnya tidak ada waktu lain apa? Dirinya juga tidak akan kabur dari dosennya.
"Saya mau sekarang, karena saya tidak suka menunda-nunda pekerjaan"
"Tapi pak semua dosen sudah pada pulang." Dara takut karena hanya ada mereka berdua di dalam kampus ini.
"Lalu urusannya apa? Cepat kerjakan jangan banyak tanya !!" Dara langsung mengerjakan tugasnya dari pada berbicara pada dosennya tidak akan ada habisnya.
"Dasar kepala batu." Rafka hanya tertawa mendengar ucapan mahasiswinya yang sedang kezel.
Rafka menatap wajah Dara dengan senyum-senyum tanpa berhenti menatapnya tanpa dia sadari yang ditatapnya malah menatap tajam ke arah dosennya membuat Rafka berhenti tersenyum.
"Apa?" Dara melototkan matanya ke arah mata dosennya.
"Galak amat jadi perempuan." Rafka jadi ngeri jika perempuan sudah marah.
"Suka-suka saya lah." sewot Dara kemudian melanjutkan tugas yang diperintahkan dosennya.
"Jangan galak-galak nanti cowo nggak ada yang suka sama kamu " ujar Rafka dengan datar
"Terserah saya lah" Dara tidak perduli dengan perkataan dosennya yang terpenting ia sudah selesai mengerjakan tugasnya.
"Semuanya sudah selesai, sekarang saya sudah dibolehkan pulang kan Pak !!" Dara sudah selesai membereskan mejanya yang berantakan tadi.
"Siapa yang nyuruh kamu pulang?" Tanya Rafka menatap wajah Data dengan datar, Dara pun kembali duduk ditempatnya.
"Tugas apa lagi yang perlu saya kerjakan." Dara menghembuskan nafasnya perlahan rasanya ingin memarahi dosennya tapi mau bagaimana lagi nilainya yang akan terancam.
"Tidak ada" singkat Rafka membuat Dara ingin membunuh dosen ini yang sangat menyebabkan
"Kalo tidak ada saya mau pulang. sudah sore, saya takut orang tua saya nyariin." Dara bangkit dari tempat duduknya sebelum keluar dari ruangan ini dosennya menahan pergelangan tangannya.
"Apa lagi sih pak?" Dara menatap tajam ke arah mata dosennya.
"Pulang bareng saya"
"Tapi Pak...." belum sempat Dara berbicara dosennya sudah menarik tangannya. Berjalan memasuki lift Dara melihat tangannya yang masih digenggam oleh dosennya, Rafka pun menatap wajah Dara yang dibuat Bingung mengapa dia menatap dirinya.
"Kenapa?" Tanya Rafka dengan tatapan polos seperti tidak tahu apa-apa.
"Tangan Pak nggak mau dilepasin gitu." Dara menunjukkan arah matanya menuju tangan yang sedang digenggam oleh dosennya. Langsung saja Rafka melepaskan tangan mahasiswinya membuat dirinya menahan malu setengah mati.
Setelah itu lift pun terbuka lebar Rafka melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobilnya karena tadi sudah membuatnya malu.
"Pak tunggu, jalannya jangan cepat-cepat donk." Dara berlari mengikuti dosennya di belakang tubuhnya.
"Kamu jalan lambat sekali." Sindir Rafka melihat ke belakang Dara masih berada jauh membuat dirinya diam menunggu.
"Sabar donk Pak, lagian langkahnya cepat sekali." Dara mendekati dosennya yang sudah menunggu dirinya sedari tadi.
"Mangkanya jangan pendek jadi orang." sontak Rafka membuat Dara jengkel enak saja mengatai dirinya pendek apakah dia tidak sadar bahwa dia yang lebih tinggi.
"Biarin pendek-pendek gini banyak cowo yang suka."
"Kata siapa?" Mereka berdua berhenti melangkah Rafka menatap matanya lebih dekat untuk mengamati wajahnya.
"Kk..katta saya lah" Rafka membuat Dara gugup untuk menjawabnya bila wajahnya semakin dekat
"Pede sekali kau." Rafka menjauhi wajahnya kembali melangkahkan kakinya.
"Iri bilang Boss" ucap Dara lalu berlari takut jika kena marah bossnya.
"Awassss saja kamu Daraaaaa." teriak Rafka berlari mengejar Dara sampai diparkiran Dara berhenti dari larinya menunggu Dosennya yang mengejar dirinya tadi.
"Ampun Pak, saya cuma bercanda kok." Dara pasrah untuk tidak dikejar lagi oleh dosennya.
Anda Mungkin Juga Suka





