
Dosen Duda Anak 1
Bab 3
Narthalie terkejut dengan pukulan pelan yang tiba-tiba, dari seseorang. Ia mengalihkan netra hitam legam menatap sang empu yang sudah menghalangi dirinya akan minum. Ketika tahu siapa orang itu, ia mengalihkan kedua netra kembali ke arah sahabat yang menunjukan senyum manis andalan.
"Kenapa nih bocah ada di sini?" semprot Narthalie tanpa basa basi lagi. Menunjukan ketidak sukaan atas kehadiran si kecil, peganggu.
"Jangan marahin Bunda!" pekik Gar melihat intraksi kedua wanita muda itu yang sepertinya akan ribut lagi.
Alva menahan tangan Narthalie yang akan memukul kepalanya lagi, ia beranjak dan duduk di samping Gar yang kosong karena kursi di meja yang Alva pilih banyak.
"Iya, Tante Nartha gak bakal marahin Bunda kok." Alva menenangkan dengan membawa tubuh gembal ke dalam pelukkannya.
Gar memeluk Alva balik dengan posesif. Narthalie yang melihat itu merasa heran. Dipikirannya seketika muncul beberapa pertanyaan. Kenapa anak kecil ini begitu sayang Alva? Ke mana pula orang tua dari anak ini? Sejak kapan mereka begitu dekat padahal baru bertemu kurang lebih dua puluh empat jam?
"Dia anak kamu Va?" Pertanyaan dari Narthalie bukan sekedar pertanyaan melainkan sebuah tuduhan bagi Alva yang mendengarkannya.
"Gila kali kamu, mana mungkin dia anak aku?" Bantah Alva langsung tidak terima.
"Lalu? Menurut kamu masuk akal dia yang baru ketemu tiga jam itu bisa deket banget sama kamu dan panggil kamu juga 'Bunda'?" Narthalie memberitahukan keganjalan yang dirasanya.
"Y-ya, aku gak tahu," sahut Alva acuh tetapi berbeda dengan otaknya yang membernarkan apa kata sahabatnya. Seketika hening seakan jawaban Alva ditelan tidak menimbulkan percekcokan antara sahabat tersebut.
"Dia tidur?" Narthalie kembali bertanya setelah beberapa menit lalu tidak ada pembincaraan yang mengalir lagi. Pertanyaan itu hanya dijawab anggukan oleh Alva, setelah memastikan kebenarannya.
Mereka diam seolah tidak berpenghuni, Alva tiba-tiba memikirkan perkataan Narthalie yang ada benarnya. Begitu pun Narthalie yang masih penasaran dengan pertanyaan dirinya sendiri. Pikiran mereka terisi dengan segala hal yang topiknya sama.
Suara panggilan telpon dari benda mati tipis milik Narthalie membuat kedua wanita itu tersadar ke dunia nyata. Narthalie segera menerima telpon yang terlihat tulisannya 'Mom' tanpa banyak bertanya ia menyahuti setelah panggilan itu tersambung. "Ya, Mom? Kenapa?"
"Bentar, aku sekarang ke sana," lalu Narthalie mematikan panggilan singkat itu. "Va, aku duluan pulang ya, kamu di sini aja nunggu tuh bocil bangun." Narthalie memusatkan perhatiannya untuk berpamitan.
"Ada urusan dadakan? Kata Mom apa emang?" tanya Alva penasaran.
"Gak tahu, disuruh ke rumah cepet. Aku duluannya, dadah see you." Mengakhiri pembicaraan mereka, kemudian Narthalie beranjak setelah cepaka-cepiki.
Saat Narthalie buru-buru berjalan menuju halte untuk menunggu mobil grab yang ia sudah pesan tiba-tiba dirinya menumbruk seseorang yang membuat dahinya cenat-cenut saking kerasnya. Ia mendongkak dengan mengusap dahinya ketika tahu siapa yang menumbruknya, raut Narthalie berubah drastis. Jengkel dan kesal.
"Anda sedang mencari anaknya ya?" tuding Narthalie karena ia teringat dengan bocil itu yang sekarang bersama Alva. "Dia tidur sama sahabat saya di toko es krim," beritahunya.
Ketika ia akan melanjutkan langkahnya, ia terhenti lalu berbalik, "Jangan sering biarin anak kecil berkeliaran sendiri." Selanjutnya Narthalie benar-benar pergi dari tempat kejadian menuju ke tujuan awal.
Pria muda berkepala dua lebih itu menggelengkan kepala mendengarnya. "Dasar sok tahu, padahal mau dijelasin gak mau denger." Lalu ikut pergi ke tujuan awalnya. Meninggalkan bekas kejadian yang unik di pinggir jalan.
"Dia kapan bangunnya sih? Mana aku gak tahu orang tuanya lagi kan susah mau kasih tahu nih bocil sama aku." gerutu Alva dengan tangan yang mengganggu Gar tidur.
"Ah ya, bukannya pria itu Papah ya?" seru Alva mengingat seseorang, "Tapi sama aja aku gak tahu nomornya dan juga namanya aja aku gak tahu." Raut Alva berubah murung seketika.
"Bangunin jangan, bangunin jangan, bangunin jangan. Duh udah hampir sore lagi." Alva bingung. Ia sedang sibuk dengan membangunkan atau tidak tetapi suara seseorang yang familiar terdengar di gendang telinganya.
"Eh Bapak, mau pesen es krim juga?" tanya Alva sopan lalu menatap sekeliling meja yang masih kosong. "Di sini masih ada kami, tapi bentar lagi pulang kok kalau Bapak mau duduk di sini, silahkan," lanjut Alva bersuara. Ketika orang yang diajak bicara akan membantah Alva kembali bersuara. "Duduk aja Pak gapapa kok."
"Saya mau mengambil anak saya." Pria yang dipanggil Bapak oleh Alva bersuara tidak mengikuti permintaannya. Ia berucap yang ingin sedari tadi diucapkan tetapi Alva memotongnya. Seakan tersambar petir, Alva mematung sembari mencerna lagi perkataan Dosennya yang mengatakan 'anak saya'.
Jadi Garth anaknya Pak Gabriel? Omaygat Va kenapa gak kamu perhatiin wajah mereka emang sedikit mirip. Terus laki-laki yang tadi pagi Gar panggil Papa itu siapa? Maksudnya Bapak Gar ada dua? Atau mereka gay? Pikiran-pikiran yang dijawab dirinya sendiri itu membuatnya tidak menyadari Garth sudah berada digendongan Dosennya.
"Terima kasih sudah menjaga anak saya." Lamunan Alva buyar dengan suara ucapan terima kasih dari Dosennya sendiri yang ternyata tidak singel itu. "saya permisi kalau begitu." Pamitnya dengan menunduk sebagai tanda hormat.
Gabriel benar-benar pergi setelah pamit tanpa menambahkan suara lagi untuk dilontarkan kepada Alva. Begitupun Alva yang tidak begitu jelas mendengarkan karena fokusnya tidak ada. Seketika saat sadar dari pikiran-pikiran ia tersentak akan hilangnya sang dosen.
Dilihatnya sekitar dan terlihat punggung tegap seseorang yang menggengdong anak kecil semakin kecil dan hilang tidak terlihat lagi ditelan belokan. Ia menghela napas dalam dan kasar bersamaan.
Sungguh tidak menyangka ayah yang sebenarnya anak kecil bernama Garth adalah pak dosen, Gabriel Franz. Pasti teman-temannya yang mendambakan Gabriel tidak menyangka bahwa sudah memiliki anak yang berumur sekitar tiga tahun lebih.
"Apa mereka masih menyukai Pak Gabriel kalau tahu udah beristri dan punya anak satu?" monolongnya.
"Tapi kok gak ada yang tahu kalau Pak Gabriel udah nikah? Atau aku yang gak tahu ya?" Masih memikirkan alasan yang 'tak kunjung tahu jawabannya. "Ihh, kok aku jadi kepo sih? Udah ah mau pulang," Alva beranjak kemudian membayar es krim yang tadi dimakan dan pergi meninggalkan penghuni toko es krim menuju kediamannya.
Gabriel menatap sang putra kecilnya yang masih tidur lelap di kursi samping kemudi. Mereka akan pulang karena sudah sore dan pekerjaan sudah selesai. Tapi saat mengingat belum mengisi perut mereka, ia berhenti di restoran sofood kesukaan Garth.
Melangkahkan kakinya untuk memesan dengan meninggalkan sang anak yang tidak terusik itu sembari mengunci pintu mobil agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Tidak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit pesanannya sudah selesai dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman yang megah.
Rumahnya memang tidak jauh dari kampus tempat ia mengajar di sana. Sampai di rumah membangunkan sang anak untuk mengisi perutnya. Lalu makan bersama dan melanjutkan dengan memandikan serta menunggu terlelap kembali.
Ketika sudah selesai mengurus si kecil, ia juga melakukan hal yang tidak beda. Membersihkan tubuhnya dan mengecek email dari kantor dan butik yang baru di rilis tiga bulan lalu. Selesai semuanya, ia ikut berbabaring di ranjang sang anak dengan tersenyum hangat kepada sang anak yang lebih dulu terlelap ke dunia mimpi, disusul dirinya.
Anda Mungkin Juga Suka





