
DOLLAR MEKAR RUMAH TANGGA BUBAR
Bab 2
Indonesia….
Di sebuah rumah bangunan sederhana yang terbuat dari batu bata. Irwan tampak gelisah. Berkali-kali dia menyentuh dahi sang putri.
Irwan mengambil termometer dan menempelkan di ketiak Marisa. Gadis kecil itu meringkuk memeluk boneka lusuh kesayangannya. Bibirnya kering, kedua matanya terpejam rapat.
"Ayah … Ayah…" Marisa terus mengigau.
Irwan kembali mengusap dahi Marisa, lalu mengambil termometer. Suhu badan Marisa lumayan tinggi.
"Astaghfirullah, Nak. Badanmu panas banget, Nduk."
Laki-laki itu bangkit dan mondar-mandir di kamar sederhana itu. Dia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Di tempat tidur, Marisa kembali mengigau. Kali ini memanggil nama ibunya.
"Ayah, Ibu kapan pulang?" tanyanya parau.
"Sabar ya, Nak. Ibu cari duit buat beliin Marisa boneka barbie dan rumahnya. Ayo, kita ke rumah Bu Bidan!"
Irwan segera menggendong gadis kecilnya. Tepat di depan pintu, dia bertemu Sumi, ibunya. Sumi menatap heran pada anak dan cucunya itu.
"Lho, malam-malam mau ke mana, Wan?" tanyanya bingung.
"Sasa panas, Bu. Aku harus ke rumah Bu Arum!" jawabnya sembari mengeratkan kain jarik untuk menggendong Marisa.
Sumi mendekat dan mengusap kepala cucunya itu. "Panas sekali, Wan. Pantas saja tadi sore dia nggak mau maem. Kamu sudah kasih tahu Marya?" tanya perempuan paruh baya itu.
Irwan menggeleng lemah. Sudah dua hari ini dirinya tidak bisa menghubungi Maryati. Terakhir Maryati mengirim pesan singkat, mengabarkan jika dia berada di Paris ikut bosnya.
"Mar, nggak bisa ditelepon, Bu. Kemarin lusa dia bilang ikut bosnya ke Paris ke rumah anaknya Nenek, gitu katanya," jawab laki-laki berwajah manis itu.
Sumi mengangguk samar. Dia bisa memaklumi, menantunya itu pasti sibuk karena mengurus lansia. Apalagi mereka berada jauh dari Taiwan.
"Yowes, mungkin memang nggak bisa buka HP di sana, Wan. Ayo, Ibuk ikut ke rumah Bu Arum. Tapi enak nggak yo, Le?" tanya Sumi sedikit ragu.
"Enak nggak enak, Bu. Marisa harus dapat obat. Aku takut, Bu."
Sumi kembali mengangguk. Dia mengusap pelan punggung tegap sang anak. Sumi menatap pada Marisa yang menempelkan pipi di dada ayahnya. Sekali lagi, Sumi mengusap kepala cucunya dengan tatapan sedih.
*
"Ah, Mas, sudah. Aku capek," keluh Maryati memelas.
Kedua lengannya melingkari bahu Agung. Agung kembali menciumi wajah sang pujaan hati. Sementara tangannya kembali bergerilya di tubuh polos Maryati.
Tidak ada pilihan bagi Maryati, dia kembali melayani Agung. Wanita itu berkali-kali memekik akan permainan Agung. Malam ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur kamar hotel sederhana itu.
Setelah puas, Agung menjatuhkan tubuh di samping Maryati. Lengan kekarnya memeluk erat tubuh sang kekasih.
"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Agung sambil mengusap pipi Maryati.
"Mas nggak boleh ya, begini sama yang lain!" ucap Maryati manja.
Agung terkekeh pelan. "Ya, nggaklah. Aku ingin nanti setelah pulang kita nikah, Ya. Kamu cepat urus perceraianmu. Jangan mau digantung terus," ucapnya.
Maryati mengangguk samar. Wanita itu memejamkan mata di dada lembab Agung. Kedua matanya terpejam rapat. Bayangan wajah Irwan dengan senyumnya yang manis, sifatnya yang sabar dan kelucuan Marisa mengobrak-abrik hati Maryati.
"Maafkan aku, Mas Wan," ucap Maryati dalam hati. "Aku mencintai Mas Agung, tapi aku juga nggak tega meninggalkan kamu, Mas," lanjutnya.
Maryati mendongak menatap Agung. Dia melingkarkan tangannya di bahu Agung, memeluk laki-laki yang telah tertidur karena kelelahan itu.
Wajah Agung memang bersih dan terawat, berbeda dengan Irwan yang sering terkena sinar matahari. Agung sudah empat tahun bekerja di Taiwan. Laki-laki itu sering mengutarakan keinginannya menikahi Maryati setelah pulang ke Indonesia dua tahun lagi.
Maryati tersenyum. Membayangkan jika dirinya menikah dengan Agung. Tentu saja dia harus meminta cerai dengan Irwan terlebih dahulu. Namun, membayangkan wajah kecewa Irwan, Maryati menjadi dilema.
Selama satu tahun bekerja di Taiwan, Maryati sering mengirimkan uang untuk Marisa. Namun, dia sering menghindari komunikasi dengan Irwan menggunakan banyak alasan.
*
"Mas Irwan, tolong hari ini ambilkan pupuk organik, ya," pinta seorang guru pada Irwan yang tengah menyiapkan teh.
"Nggih, Pak. Pupuk sama apa?" tanya Irwan.
Pak Andi, guru olahraga itu tampak mengecek catatan di kertas. Sekolah memang tengah mengadakan aksi tanam pohon sebagai kegiatan anak-anak di hari Sabtu setelah olahraga. Ini adalah bagian dari program outdoor learning supaya anak-anak tidak bosan dengan pelajaran di dalam kelas.
Pak Andi mendapatkan tugas tambahan mengurus dan membimbing anak-anak didiknya, sesuai dengan keputusan rapat sekolah. Rencananya, Pak Andi akan dibantu dua orang guru lainnya.
"Em, enaknya ditambah bunga apa ya, Mas? Depan kantor itu kan rindang dan rumputnya nggak subur. Kata Pak Kepsek, rumputnya bisa diganti dengan bunga. Apa Mas Irwan punya ide?" tanya Pak Andi pada Irwan.
Irwan mengangguk-angguk. Laki-laki itu memang memiliki hobi berkebun. Irwan paham betul tentang beberapa jenis tanaman dan bunga sesuai fungsinya.
"Kalau menurut saya, sih, ditanami bunga nyonya benges saja, Pak. Sama bunga menur. Itu bunganya awet, pohonnya juga nggak mati-mati malah terus berkembang," jelas Irwan sambil membuka aplikasi Mbah Google untuk menunjukkan pada Pak Andi, tanaman yang dimaksud.
Pak Andi mengangguk-angguk setuju. Dia hanya terkekeh mengingat nama unik yang disebutkan oleh Irwan. Bunga fuschia yang dimaksud bunga nyonya benges.
Setelah selesai menyiapkan kopi dan teh untuk para guru, Irwan melajukan motor sederhananya ke toko pertanian milik Pak Haji Dahlan.
"Assalamualaikum, Mas. Minta pupuk organik dua karung, sama bibit bunga, ada?" tanya laki-laki itu pada pegawai toko.
"Beli, Mas, jangan minta. Yang boleh diminta itu Mbak Ajeng," canda pegawai itu sembari melirik ke dalam.
"Huust, Mbak Ajeng masih kuliah. Kalau kamu gombalin, nanti dipecat Pak Haji, kapok kamu!" sahut Irwan.
Pegawai toko itu tertawa. Dia melirik menggoda ke arah Irwan. "Bukan buat aku, Mas. Tapi buat Mas Irwan," bisiknya.
"Ngawur kamu. Aku sudah punya istri. Ya, sudah, cepat ambilkan!"
"Istrinya kan pergi, di sana nggak tentu setia, Mas. Kebanyakan TKW itu di sini punya suami, di sana punya suami lho, Mas. Ingat, nggak? Banyak kasus yang suami di luar, istri di rumah, sama-sama selingkuh terus rumah bagus harga ratusan juta dirobohin buldoser?"
Irwan terdiam. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah. Ah, tidak! Mungkin orang lain banyak yang seperti itu. Tetapi tidak untuk Maryati, istrinya. Dia istri yang setia dan baik.
Ucapan pegawai Pak Haji Dahlan menyita pikiran Irwan selama perjalanan pulang dari toko. Irwan terus-menerus meyakinkan diri bahwa tidak semua TKW seperti yang dikatakan pegawai toko tadi.
"Maaf, Pak. Bibit bunganya kosong. Mau diganti bunga apa, ya?" tanya Irwan sambil menyodorkan kertas bon.
"Di rumah sampeyan nggak ada, Mas, bunga itu?" tanya Bu Guru Lili.
"A-ada, Bu. Tapi bukan bibit seperti di toko. Sudah tumbuh. Beberapa pot!" jawab Irwan pelan.
"Nah, beli saja punya kamu, Mas. Nanti, Mas Irwan bisa kembangin lagi. Bagaimana? Nanti, tolong Mas Irwan yang tanamin, sekalian ajari anak-anak!" cetus Pak Kepsek yang langsung diangguki oleh guru lainnya.
Irwan terdiam tidak percaya. Dia baru menyadari, bunga-bunga yang dia kembang-biakkan dan rawat itu bisa menghasilkan uang jajan untuk Marisa.
Irwan kembali melajukan motornya ke rumah hendak mengambil beberapa pot bunga. Namun, sebelum itu, dia meminta izin untuk menjemput Marisa di Sekolah Taman Kanak-Kanak.
"Nggak nyangka, kalau yang dulu polos, begitu bau uang dollar jadi berubah."
"Hm, wes biasa, Yu. Waktu aku jadi TKW juga sering lihat begitu, banyak kok yang berubah. Di Indonesia alim, kalem, di sana kalau lagi libur kayak penyanyi dangdut konser penampilannya. Ya, meskipun masih banyak yang bener!"
Gunjingan para ibu-ibu yang menunggu anaknya di depan gerbang sekolah TK itu, langsung terhenti begitu melihat Irwan. Mereka berbisik-bisik sembari menatap miris pada laki-laki muda itu.
"Mas Irwan, apa sudah lihat foto istrimu di Facebook?" tanya salah satu ibu keceplosan.
***
Anda Mungkin Juga Suka





