Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DOLLAR MEKAR RUMAH TANGGA BUBAR

DOLLAR MEKAR RUMAH TANGGA BUBAR

Demi ekonomi, Maryati bekerja ke Taiwan sebagai perawat lansia dan meninggalkan anak suaminya. Namun, gaji besar justru membuatnya terjerumus pergaulan bebas hingga berselingkuh dengan sesama TKI. Kehancuran rumah tangga tak terelakkan saat Irwan mengetahui pengkhianatan tersebut. Maryati pun tenggelam dalam penyesalan mendalam. Di tengah luka hatinya, Irwan didekati Ajeng, gadis tomboy yang tulus mencintainya. Mampukah Irwan memaafkan Maryati yang ingin kembali?
Bab
Bagikan

Bab 2

Indonesia….

Di sebuah rumah bangunan sederhana yang terbuat dari batu bata. Irwan tampak gelisah. Berkali-kali dia menyentuh dahi sang putri.

Irwan mengambil termometer dan menempelkan di ketiak Marisa. Gadis kecil itu meringkuk memeluk boneka lusuh kesayangannya. Bibirnya kering, kedua matanya terpejam rapat.

"Ayah … Ayah…" Marisa terus mengigau.

Irwan kembali mengusap dahi Marisa, lalu mengambil termometer. Suhu badan Marisa lumayan tinggi.

"Astaghfirullah, Nak. Badanmu panas banget, Nduk."

Laki-laki itu bangkit dan mondar-mandir di kamar sederhana itu. Dia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Di tempat tidur, Marisa kembali mengigau. Kali ini memanggil nama ibunya.

"Ayah, Ibu kapan pulang?" tanyanya parau.

"Sabar ya, Nak. Ibu cari duit buat beliin Marisa boneka barbie dan rumahnya. Ayo, kita ke rumah Bu Bidan!"

Irwan segera menggendong gadis kecilnya. Tepat di depan pintu, dia bertemu Sumi, ibunya. Sumi menatap heran pada anak dan cucunya itu.

"Lho, malam-malam mau ke mana, Wan?" tanyanya bingung.

"Sasa panas, Bu. Aku harus ke rumah Bu Arum!" jawabnya sembari mengeratkan kain jarik untuk menggendong Marisa.

Sumi mendekat dan mengusap kepala cucunya itu. "Panas sekali, Wan. Pantas saja tadi sore dia nggak mau maem. Kamu sudah kasih tahu Marya?" tanya perempuan paruh baya itu.

Irwan menggeleng lemah. Sudah dua hari ini dirinya tidak bisa menghubungi Maryati. Terakhir Maryati mengirim pesan singkat, mengabarkan jika dia berada di Paris ikut bosnya.

"Mar, nggak bisa ditelepon, Bu. Kemarin lusa dia bilang ikut bosnya ke Paris ke rumah anaknya Nenek, gitu katanya," jawab laki-laki berwajah manis itu.

Sumi mengangguk samar. Dia bisa memaklumi, menantunya itu pasti sibuk karena mengurus lansia. Apalagi mereka berada jauh dari Taiwan.

"Yowes, mungkin memang nggak bisa buka HP di sana, Wan. Ayo, Ibuk ikut ke rumah Bu Arum. Tapi enak nggak yo, Le?" tanya Sumi sedikit ragu.

"Enak nggak enak, Bu. Marisa harus dapat obat. Aku takut, Bu."

Sumi kembali mengangguk. Dia mengusap pelan punggung tegap sang anak. Sumi menatap pada Marisa yang menempelkan pipi di dada ayahnya. Sekali lagi, Sumi mengusap kepala cucunya dengan tatapan sedih.

*

"Ah, Mas, sudah. Aku capek," keluh Maryati memelas.

Kedua lengannya melingkari bahu Agung. Agung kembali menciumi wajah sang pujaan hati. Sementara tangannya kembali bergerilya di tubuh polos Maryati.

Tidak ada pilihan bagi Maryati, dia kembali melayani Agung. Wanita itu berkali-kali memekik akan permainan Agung. Malam ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur kamar hotel sederhana itu.

Setelah puas, Agung menjatuhkan tubuh di samping Maryati. Lengan kekarnya memeluk erat tubuh sang kekasih.

"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Agung sambil mengusap pipi Maryati.

"Mas nggak boleh ya, begini sama yang lain!" ucap Maryati manja.

Agung terkekeh pelan. "Ya, nggaklah. Aku ingin nanti setelah pulang kita nikah, Ya. Kamu cepat urus perceraianmu. Jangan mau digantung terus," ucapnya.

Maryati mengangguk samar. Wanita itu memejamkan mata di dada lembab Agung. Kedua matanya terpejam rapat. Bayangan wajah Irwan dengan senyumnya yang manis, sifatnya yang sabar dan kelucuan Marisa mengobrak-abrik hati Maryati.

"Maafkan aku, Mas Wan," ucap Maryati dalam hati. "Aku mencintai Mas Agung, tapi aku juga nggak tega meninggalkan kamu, Mas," lanjutnya.

Maryati mendongak menatap Agung. Dia melingkarkan tangannya di bahu Agung, memeluk laki-laki yang telah tertidur karena kelelahan itu.

Wajah Agung memang bersih dan terawat, berbeda dengan Irwan yang sering terkena sinar matahari. Agung sudah empat tahun bekerja di Taiwan. Laki-laki itu sering mengutarakan keinginannya menikahi Maryati setelah pulang ke Indonesia dua tahun lagi.

Maryati tersenyum. Membayangkan jika dirinya menikah dengan Agung. Tentu saja dia harus meminta cerai dengan Irwan terlebih dahulu. Namun, membayangkan wajah kecewa Irwan, Maryati menjadi dilema.

Selama satu tahun bekerja di Taiwan, Maryati sering mengirimkan uang untuk Marisa. Namun, dia sering menghindari komunikasi dengan Irwan menggunakan banyak alasan.

*

"Mas Irwan, tolong hari ini ambilkan pupuk organik, ya," pinta seorang guru pada Irwan yang tengah menyiapkan teh.

"Nggih, Pak. Pupuk sama apa?" tanya Irwan.

Pak Andi, guru olahraga itu tampak mengecek catatan di kertas. Sekolah memang tengah mengadakan aksi tanam pohon sebagai kegiatan anak-anak di hari Sabtu setelah olahraga. Ini adalah bagian dari program outdoor learning supaya anak-anak tidak bosan dengan pelajaran di dalam kelas.

Pak Andi mendapatkan tugas tambahan mengurus dan membimbing anak-anak didiknya, sesuai dengan keputusan rapat sekolah. Rencananya, Pak Andi akan dibantu dua orang guru lainnya.

"Em, enaknya ditambah bunga apa ya, Mas? Depan kantor itu kan rindang dan rumputnya nggak subur. Kata Pak Kepsek, rumputnya bisa diganti dengan bunga. Apa Mas Irwan punya ide?" tanya Pak Andi pada Irwan.

Irwan mengangguk-angguk. Laki-laki itu memang memiliki hobi berkebun. Irwan paham betul tentang beberapa jenis tanaman dan bunga sesuai fungsinya.

"Kalau menurut saya, sih, ditanami bunga nyonya benges saja, Pak. Sama bunga menur. Itu bunganya awet, pohonnya juga nggak mati-mati malah terus berkembang," jelas Irwan sambil membuka aplikasi Mbah Google untuk menunjukkan pada Pak Andi, tanaman yang dimaksud.

Pak Andi mengangguk-angguk setuju. Dia hanya terkekeh mengingat nama unik yang disebutkan oleh Irwan. Bunga fuschia yang dimaksud bunga nyonya benges.

Setelah selesai menyiapkan kopi dan teh untuk para guru, Irwan melajukan motor sederhananya ke toko pertanian milik Pak Haji Dahlan.

"Assalamualaikum, Mas. Minta pupuk organik dua karung, sama bibit bunga, ada?" tanya laki-laki itu pada pegawai toko.

"Beli, Mas, jangan minta. Yang boleh diminta itu Mbak Ajeng," canda pegawai itu sembari melirik ke dalam.

"Huust, Mbak Ajeng masih kuliah. Kalau kamu gombalin, nanti dipecat Pak Haji, kapok kamu!" sahut Irwan.

Pegawai toko itu tertawa. Dia melirik menggoda ke arah Irwan. "Bukan buat aku, Mas. Tapi buat Mas Irwan," bisiknya.

"Ngawur kamu. Aku sudah punya istri. Ya, sudah, cepat ambilkan!"

"Istrinya kan pergi, di sana nggak tentu setia, Mas. Kebanyakan TKW itu di sini punya suami, di sana punya suami lho, Mas. Ingat, nggak? Banyak kasus yang suami di luar, istri di rumah, sama-sama selingkuh terus rumah bagus harga ratusan juta dirobohin buldoser?"

Irwan terdiam. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah. Ah, tidak! Mungkin orang lain banyak yang seperti itu. Tetapi tidak untuk Maryati, istrinya. Dia istri yang setia dan baik.

Ucapan pegawai Pak Haji Dahlan menyita pikiran Irwan selama perjalanan pulang dari toko. Irwan terus-menerus meyakinkan diri bahwa tidak semua TKW seperti yang dikatakan pegawai toko tadi.

"Maaf, Pak. Bibit bunganya kosong. Mau diganti bunga apa, ya?" tanya Irwan sambil menyodorkan kertas bon.

"Di rumah sampeyan nggak ada, Mas, bunga itu?" tanya Bu Guru Lili.

"A-ada, Bu. Tapi bukan bibit seperti di toko. Sudah tumbuh. Beberapa pot!" jawab Irwan pelan.

"Nah, beli saja punya kamu, Mas. Nanti, Mas Irwan bisa kembangin lagi. Bagaimana? Nanti, tolong Mas Irwan yang tanamin, sekalian ajari anak-anak!" cetus Pak Kepsek yang langsung diangguki oleh guru lainnya.

Irwan terdiam tidak percaya. Dia baru menyadari, bunga-bunga yang dia kembang-biakkan dan rawat itu bisa menghasilkan uang jajan untuk Marisa.

Irwan kembali melajukan motornya ke rumah hendak mengambil beberapa pot bunga. Namun, sebelum itu, dia meminta izin untuk menjemput Marisa di Sekolah Taman Kanak-Kanak.

"Nggak nyangka, kalau yang dulu polos, begitu bau uang dollar jadi berubah."

"Hm, wes biasa, Yu. Waktu aku jadi TKW juga sering lihat begitu, banyak kok yang berubah. Di Indonesia alim, kalem, di sana kalau lagi libur kayak penyanyi dangdut konser penampilannya. Ya, meskipun masih banyak yang bener!"

Gunjingan para ibu-ibu yang menunggu anaknya di depan gerbang sekolah TK itu, langsung terhenti begitu melihat Irwan. Mereka berbisik-bisik sembari menatap miris pada laki-laki muda itu.

"Mas Irwan, apa sudah lihat foto istrimu di Facebook?" tanya salah satu ibu keceplosan.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari berjuang membesarkan dua keponakan tanpa berharap menemukan pria yang tulus. Takdir mempertemukannya dengan miliarder Bastian Navarell yang menyelamatkannya dari bahaya. Meski saling jatuh cinta, Almira memilih lari saat tahu Bastian telah beristri karena tak ingin jadi orang ketiga. Bastian yang terobsesi tidak menyadari bahwa Almira sebenarnya masih perawan. Akankah kebenaran ini menyatukan mereka dalam jalinan cinta yang elegan dan penuh haru?
Sampul Novel Cinta & Selingkuh
8.9
Hati Stela hancur berkeping-keping saat menyaksikan pengkhianatan suaminya secara langsung. Melihat pria yang ia cintai memadu kasih dengan wanita lain membuat dunianya seketika runtuh. Meski terluka hebat, Stela memilih untuk tidak langsung pergi. Ia memutuskan bertahan demi sebuah misi balas dendam yang terencana. Stela bertekad membuat suaminya menyesali perbuatannya dan merasakan kepedihan mendalam yang selama ini ia tanggung sendirian.
Sampul Novel Hati Biru Affa
8.6
Air mata gadis 17 tahun itu pecah saat melihat sosok yang ia anggap kakak sendiri mengkhianati kepercayaannya. Rahasia hati yang ia titipkan justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan; sang kakak terlihat pergi bersama pria pujaan hatinya. Meski sang kakak membantah, amarah sang remaja tak terbendung hingga nyaris melayangkan pukulan fisik. Di tengah keributan ini, seorang teman pria hanya bisa terpaku melihat persahabatan tulus mereka kini hancur karena cinta.
Sampul Novel KABUT CINTA DI KOTA HUJAN
8.9
Gayatri terpaksa menikahi Baskoro demi beban sang ibu, meski tahu suaminya masih mencintai mantan kekasihnya, Saras. Di tengah dinginnya Kota Hujan, pernikahan muda ini goyah saat Bima, atasan Baskoro, mulai mendekati Gayatri. Keadaan kian rumit dengan kembalinya Andika, mantan Gayatri, serta kepulangan Saras dari luar negeri. Di sela perjuangan kuliah dan badai pertengkaran, mampukah keduanya menjaga kesetiaan dan mempertahankan rumah tangga mereka?
Sampul Novel Kawin Kilat: Suami Misteriusku teryata Milyarder
8.7
Keputusan Grace Johnson melakukan kawin kilat setelah diselingkuhi menuai cemoohan. Dia dianggap bodoh karena meninggalkan calon pewaris Keluarga Hayes demi lelaki miskin. Namun, suami barunya ternyata konglomerat misterius sekaligus paman mantan tunangannya sendiri. Saat Grace merasa tertipu dan meminta cerai, sang suami berhasil meyakinkannya dengan alasan tak terduga. Kini, sang mantan justru terusir tanpa harta, sementara sang miliarder memilih menyembunyikan wajah tampannya di balik topeng.
Sampul Novel Ketika Istri Sudah Mati Rasa
7.9
Dunia Alexa hancur saat mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatnya sendiri. Meski sempat terpuruk, ia bangkit untuk membalas rasa sakit hati tersebut dengan cara yang elegan. Namun, Sintya yang tak puas setelah merebut Ryan justru terus berusaha menghancurkan hidup Alexa, bahkan menyasar Anggia. Di tengah konflik ini, muncul Razka yang setia melindungi Alexa dari segala ancaman. Mampukah Alexa membuka hati kembali setelah dikhianati begitu dalam?