
Ditinggal Nikah, Aku Langsung Menikahi Putra Mahkotan
Bab 2
Jika ini terjadi dulu, aku pasti sudah meminta maaf pada mereka.
Setelah orang tuaku meninggal demi melindungiku, nenekku menolak mengasuhku karena benci padaku.
Akhirnya, aku dibawa pulang oleh Keluarga Soman yang saat itu berhubungan baik dengan keluargaku.
Perasaan minder karena menumpang hidup membuatku selalu jadi pihak yang meminta maaf duluan sejak kecil, tak peduli siapapun yang marah.
Mereka bilang kasihan padaku, katanya akan memanjakanku dan tidak akan membiarkanku bersedih sedikit pun.
Setelah bersama selama tujuh belas tahun, akhirnya aku menjalin hubungan dengan Kezzy yang lebih dewasa.
Leslie sempat marah besar, tapi setelah dewasa pun dia tetap memperlakukanku seperti adiknya sendiri.
Namun, waktu telah mengubah semuanya. Ibu mereka pergi untuk berobat keluar negeri dan aku pun ditinggalkan seperti barang usang, tak ada lagi yang peduli padaku.
Pernikahan yang sangat kunantikan, akhirnya menjadi bahan tertawaan.
Sorakan sinis dari para tamu semakin keras, bahkan ada yang ikut berteriak,
“Ceraikan saja wanita itu! Biar tahu siapa yang pantas jadi nyonya!”
Dua sahabat masa kecilku berdiri di hadapanku, menatapku dengan tanpa perasaan, seolah menunggu diriku meminta maaf.
Aku tersenyum tipis, “Semoga hubungan kalian bertiga langgeng sampai kakek nenek, selamat menempuh hidup baru!”
Suasana di bawah panggung langsung hening. Dengan marah, Leslie mengangkat tangan, hendak menamparku.
“Apa maksudmu?! Kamu tahu betapa pentingnya reputasi bagi seorang perempuan, kenapa kamu malah menyebarkan fitnah soal Yovita? Benar-benar menyebalkan!”
Padahal dia juga tahu, ini pernikahan yang sudah kusiapkan dengan penuh harapan.
Namun tetap saja, dia memilih mempermalukanku demi orang lain.
Saat menatap mataku yang mulai bergenang air mata, gerakannya terhenti sesaat.
Aku langsung melangkah keluar.
Leslie tampak panik dan reflek ingin mengejarku, tapi suara dingin Kezzy menahan langkahnya.
“Biarkan dia pergi! Aku nggak percaya yatim piatu yang nggak punya siapa-siapa seperti dia, bisa ke mana tanpa kita!”
Langkah kakinya sempat terhenti sebentar, tapi Leslie tetap berlari mengejarku, berteriak di lorong kosong itu,
“Kamu benar-benar berani pergi?! Pelihara seekor anjing bahkan lebih berguna daripada pelihara kamu di rumah kami!”
Aku hanya diam, air mataku mengalir. Kudengar dia mengumpat dua kalimat itu, lalu kembali ke ruang pesta.
Keramaian di belakang mulai mereda, aku pun melangkah ke arah mobil di pinggir jalan.
“Ayo, kita pergi urus surat nikahnya sekarang.”
Setelah mendapatkan surat nikah, aku masih merasa agak linglung.
Aku kenal dengan Jacob Lessy lewat pekerjaan. Setelah menolak pernyataan cintanya, ujung-ujungnya kami malah menikah karena perjodohan.
Karena sudah menikah, lima hari yang tersisa ini sebaiknya kupakai untuk menyelesaikan semua hubungan lama.
Aku pulang untuk beres-beres, tapi hubungan antara aku dan Keluarga Soman terlalu rumit. Uang yang harus kubayar juga bukan jumlah kecil yang bisa ditanggung sendiri.
Dengan waspada, aku menelepon Jacob. Tanpa banyak tanya, dia langsung mengirimkan uangnya.
Syaratnya hanya satu.
“Temani aku merancang sebuah pernikahan megah yang akan disiarkan di seluruh negeri.”
Tawa Jacob terdengar rendah dan hangat. Aku melihat sketsa pesta pernikahan yang indah, rasanya hati ini seperti digelitik.
Dia memberiku akses ke perencana pernikahan kelas atas yang biasanya tak mungkin kujangkau. Lokasi acaranya juga bisa diubah kapanpun sesuai ideku.
Seolah dia memang berniat mengangkatku setinggi mungkin.
Sedangkan semua sumber daya bagus di perusahaan Keluarga Soman sudah diberikan ke Yovita dan aku hanya kebagian sisa-sisanya.
Bahkan rancangan yang kubuat, namanya dicantumkan atas nama Yovita.
Memikirkan ini, senyuman di wajahku perlahan memudar.
Apa yang dikatakan Kezzy memang benar, dulu aku memang tak bisa lepas dari mereka.
Namun, sekarang sudah berbeda.
Ternyata cinta bukan tentang mengendalikan seseorang, tapi memberi dukungan yang membebaskan.
Hingga di malam hari keempat sebelum hari h, aku yang sedang mengantuk samar-samar mendengar suara pelan dari luar pintu.
“Sudah kubilang dia nggak akan pergi meninggalkan kita. Mulutnya saja galak, ujung-ujungnya tetap balik lagi seperti seekor anjing.”
Aku memaksakan diri untuk bangun, tapi rancangan di tanganku dirampas oleh Kezzy.
“Pernikahan kita sebentar lagi, untuk apa dirancang segala?”
Dia tidak tahu, rancangan itu adalah untuk pesta pernikahanku dengan Jacob.
Aku tak menjawab dan mengambilnya kembali. Dia pun mengernyit dan mulai melembutkan suaranya,
“Yovita yang mau kasih kejutan untukmu. Lagipula, minggu depan kita juga sudah menikah, jangan marah lagi, ya?”
Aku tahu betul, pesta ini pasti idenya Yovita.
Dari hari peringatan mereka bertiga, hingga pesta ulang tahunku, mereka selalu menyerahkannya pada Yovita dan membuat semuanya kacau.
Selalu Yovita yang menjadi bintang pestanya dan bersinar di tengah keramaian.
Sedangkan aku hanya bisa duduk di pojokan, memakan kue ulang tahun yang sudah rusak dan hancur berantakan.
Seperti sekarang, demi Yovita mereka meninggalkanku selama dua hari, tanpa satu kabar pun.
Aku sudah sangat mengantuk, jadi hanya menanggapinya dengan malas tanpa menoleh.
Barulah Kezzy menghela napas lega. Dari luar, Leslie yang sejak tadi bersembunyi, masuk dengan enggan.
“Maaf Ketrin, kami yang keterlaluan tadi siang, tapi pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu.”
Aku mengangguk pelan, Kezzy pun akhirnya tampak tenang dan mengeluarkan kotak kado.
Begitu dibuka, isinya sepasang sepatu hak tinggi bekas pakai.
Mereka berdua langsung tampak panik tak karuan.
Aku menatap mereka dengan senyuman mengejek.
Anda Mungkin Juga Suka





