
Dirka & Viona
Bab 2
Dirka sekarang berada di garasi, terlihat ada lebih dari 10 mobil mewah yang berjejer di sana. Ada juga beberapa mobil classic produksi tahun 40-60an.
Walaupun dia memiliki banyak mobil mewah seperti Porsche, Lamborghini, Ferrari, Bugatti. Tapi, tidak ada satupun dari semua mobil itu yang dibeli dengan uangnya sendiri.
Semua itu didapatkannya sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunnya, dari beberapa rekan bisnisnya. Bahkan semua mobil Classic yang ada di sana, juga hanyalah peninggalan dari almarhum kakeknya.
Tapi, dari semua mobil yang dia miliki, hanya ada satu kendaraan yang sering digunakan. Kendaran itu adalah sepeda motor.
Dirka sekarang berjalan menuju motor peninggalan ayahnya.
"Caky, kita jalan-jalan hari ini," Dirka berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk tangki motornya.
Caky adalah nama yang dia berikan pada Motor BMW R25 peninggalan ayahnya. Memang tidak terlihat sebagus layaknya motor sport jaman sekarang. Dengan warna cat pada body-nya yang tampak sedikit kusam. Menunjukkan betapa tuanya usia motor ini.
Tetapi walaupun begitu, ada rasa nostalgia tersendiri baginya saat mengendarai motor ini. Karena mengingatkan dirinya saat masih kecil, yang selalu mengelilingi kota bersama ayah dan juga ibunya menggunakan motor ini.
★★★
Saat Dirka menaiki motor kesayangannya, dan sebelum mengenakan helmnya.
Adrian datang menghampirinya dan berkata, "Tuan, tolong bawalah ini untuk berjaga-jaga," kata Adrian sambil menyerahkan sebuah kotak yang seukuran smartphone kepada Dirka.
Tentu saja, Dirka spontan menerimanya.
"Hm? benda apa ini, Dri?" tanya Dirka sambil mengamati dengan wajah penasaran kotak besi tipis yang dipegangnya.
"Itu pistol lipat, tuan," jawab Adrian.
Dirka terdiam sesaat saat mendengarnya. Lalu mendongak dan memandang Adrian dengan tatapan konyol yang berdiri di depannya.
"Aku cuma pergi ke tebing hutan pinus, bukan mau merampok … buat apa coba, aku bawa benda kayak gini!?" tanya Dirka dengan sedikit nada kesal.
Dirka juga merasa tidak memiliki musuh sama sekali. Jadi dia hanya berpikir, seperti membawa senjata api atau senjata apapun, untuk berjaga-jaga jelas hal yang sangat tidak perlu, pikirnya.
"Aku tahu tuan, tapi paling tidak saya bisa sedikit tenang jika tuan membawa benda ini," kata Adrian. "Kalau tuan menolak, maka aku akan memerintahkan beberapa orang untuk mengawalmu!" tegasnya.
"Bukannya sudah aku bilang aku tidak butuh pengawalan!" balas Dirka dengan kesal.
"Tidak tuan, aku tetap tidak bisa mengikuti perintahmu ini," bantah Adrian. "Bagaimanapun tuan adalah satu-satunya tuan kami sekarang, apa jadinya jika terjadi apa-apa padamu, tuan!" jelasnya dengan nada tegas.
"Tapi, aku tidak pergi ke tempat berbahaya!" balas Dirka.
"Tetap tidak, tuan!"
"Lalu kapan aku bisa pergi tanpa harus membawa benda-benda, seperti ini?!" ujar Dirka, dengan wajah jengkel.
"Mungkin jika Tuan, sudah memiliki pewaris," sahut suara perempuan.
Dirka dan Adrian pun spontan menoleh ke arah pemilik suara itu, yang tiba-tiba menyahuti perdebatan mereka.
"Yuli!? Sejak kapan kamu disini?" tanya Dirka heran.
"Dari tadi Tuan," jawab Yuli.
"Ha!? Tapi aku dari tadi di sini cuma berdua dengan Adrian!" ucap Dirka.
Dirka sangat sadar, bahwa dia dari tadi di sini hanya berdua dengan Adrian.
"Tapi, yang dikatakan Yuli memang ada benarnya juga, tuan," menghiraukan Tuannya yang terlihat kebingungan, Adrian malah menyetujui perkataan istrinya.
"Bi-bisakah kalian berdua untuk tidak membicarakan masalah ini?" keluh Dirka.
"Tapi, bukankah memang seperti itu?" balas Adrian. "Tuan, bahkan saya lihat tidak tertarik sama sekali dengan perempuan."
"Oi Dri! dari mana datangnya pemikiran liar seperti itu!?" Dirka hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa Adrian menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki ketertarikan sama sekali kepada seorang wanita. Seolah mengarahkannya pada kesimpulan yang sebaliknya.
Yuli ikut menambahkan. "Tapi bukannya itu memang benar, tuan? disaat ada perempuan cantik mendekatimu, bahkan tuan tidak terlihat menunjukkan ketertarikan sama sekali," ucapannya sambil berakting sedih sembari menghapus air matanya.
"Yuuul! Kamu juga jangan berpikiran yang macam-macam!" Bentak Dirka dengan wajah sangat kesal. 'Apa-apaan mereka berdua ini?! bisa-bisanya mereka berdua berpikiran kalau aku kelainan!' dihatinya Dirka mengeluh.
"Lah, mau bagaimana lagi, tuan. Ini semua juga sudah menjadi pembicaraan di antara para pelayan," ungkap Yuli.
Mendengar informasi itu, mata Dirka membesar tidak percaya. "Ha! Serius?"
Keduanya mengangguk, dengan wajah prihatin.
"Bisa-bisanya kalian semua ngegibahin tuan kalian sendiri! siapa yang berani-beraninya menyebarkan gosip sesat seperti ini!?" tanya Dirka.
Yuli pun menjawab. "Yang memberi tahu kami ini Anas, Tuan."
"Sialan! anak satu itu emang kampret!" gerutu Dirka dengan wajah sangat kesal. "Awas kalau ketemu besok!"
"Tapi tuan, jika kamu ingin membuktikan kalau itu memang cuma gosip, hanya ada satu cara melakukannya," jelas Adrian.
"Apa itu? katakan!"
"Carilah perempuan, dan nikahi dia, Tuan," kata Adrian dengan nada penuh keyakinan.
Dirka pun langsung terdiam sambil menatap lurus ke arah Adrian dengan wajah konyol.
Disisi lain, Yuli terlihat mengangguk setuju dan sangat mantap. "Itu benar sekali tuan … terus setelah menikah, kamu juga harus cepat punya anak. Karena itu akan menjadi bukti kalau yang kamu nikahi memang benar-benar seorang wanita, tuan," imbuhnya.
"Ap,-!!"
Tidak membiarkan Dirka mengeluh, Adrian langsung menambahkan. "Benar Tuan, karena kalau tidak … mungkin akan ada gosip baru, di mana kamu menikahi seorang yang tampak seperti wanita tapi ternyata dia seorang laki-laki tuan!" Adrian mengatakan itu dengan memasang wajah ngeri.
Keduanya benar-benar tidak memiliki belas kasihan sama sekali pada Dirka, dan langsung menghujaninya dengan pernyataan dan kesimpulan yang benar-benar membuat Dirka tidak mampu menjawab bahkan membantahnya sama sekali.
Dirka pun tanpa memperdulikan dan tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung menyalakan motornya. Lalu pergi meninggalkan keduanya sambil menggeber motornya sekeras mungkin, agar tidak mendengar lagi nasihat yang penuh dengan sindiran menyakitkan itu.
Melihat tuannya melarikan diri. Adrian dengan wajah tersenyum, berteriak. "Hati-hati tuan!"
"Tuan, jangan lupa pulang bawa calon istri!" seru Yuli dengan teriakan yang lebih keras.
"Aaaaa! gak denger!" teriak Dirka, sambil menggeber suara motornya lebih keras.
★★★
"Sepertinya kita kelewatan ya," kata Adrian.
"Mau bagaimana lagi, mungkin dengan cara ini tuan mau mulai berpikir mengenai masa depannya," balas Yuli.
"Ya, kau benar," Adrian mengangguk setuju.
Mungkin ini tidak sopan, di mana mereka yang hanyalah seorang pelayan, mengerjai tuan mereka sampai seperti ini.
Tapi keduanya juga senang, walaupun sebenarnya Dirka bisa saja memarahi mereka kalau mau. Tetapi dia malah memilih pergi dan menganggap bahwa ini hanyalah sebuah candaan biasa.
Walaupun sebenarnya, candaan tadi adalah keinginan sebenarnya dari mereka semua yang melayani Dirka.
Karena mereka tahu, kalau Dirka sekarang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, memang harus membuat keluarga untuknya, dan demi kebahagian masa depannya.
Adrian menoleh ke arah istrinya, dan bertanya, "jadi, apa kamu sudah memerintahkan orang untuk mengawasi tuan?"
"Sudah," balas Yuli. "Aku juga menyuruh mereka berdua untuk menyamar, agar tidak ketahuan," ungkapnya.
"Memang siapa yang kamu kirim?" tanya Adrian penasaran
"Susan dan Yunita, bersama anak buah mereka masing-masing."
"Semoga mereka bisa bekerja dengan baik, dan tidak membuat masalah," ucap Adrian sambil mendongak membayangkan kelakuan kedua wanita itu.
"Mau bagaimana lagi, orang yang sekarang tidak ada misi, cuma mereka berdua," sahut Yuli dengan nada terpaksa. "kalau Yunita, aku yakin dia tidak akan membuat masalah, tapi—," Yuli berkata sambil tersenyum kecut. "... aku tidak yakin dengan Susan."
"Ya, aku juga berpikiran sama," sahut Adrian, sambil memijat kening di antara kedua alisnya, seperti orang yang sedang sakit kepala.
★★★
Dilampu merah, terlihat Dirka menggerutu dengan wajah kesal. "Bisa-bisanya mereka menyuruhku menikah, disaat aku masih berumur 22 tahun!"
"Mama, kenapa kakak itu ngomong sendiri?" tanya anak dari pengendara motor di sebelah Dirka, sambil menunjuk ke arahnya.
"Ssst, jangan nunjuk-nunjuk," tegur ibunya, sambil tersenyum dan mengangguk canggung ke arah Dirka.
Dirka pun hanya bisa membalasnya dengan senyum canggung yang sama, lalu menutup helm untuk menyembunyikan wajah malunya.
★★★
Butuh dua jam bagi Dirka mengendarai motornya untuk sampai di tempat yang ia tuju. Sesampainya sana dia pun masih harus berjalan kaki setengah jam melalui hutan pinus.
'Sudah lama sekali aku tidak merasakan udara sesegar ini,' batin Dirka sambil terus berjalan.
Dirka dengan wajah tersenyum memandangi rimbunnya hutan pinus yang ada disekelilingnya, saat berjalan.
"Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang banyak berubah dari tempat ini, ya," gumamnya. Dirak sangat ingat betul mengenai tempat ini. Sejak kecil Dirka sudah sering kemari. Hanya baru kali ini dirinya sempat kemari setelah setahun harus berada di luar negri. Namun, tidak ada yang banyak berubah dari tempat ini, jalan setapak masih tanah sama seperti dulu, hanya pepohonan muda yang bertambah di beberapa tempat, membuat hutan ini tampak lebih lebat.
Setengah jam Dirka berjalan, dan kini merasakan angin sepoi yang sangat sejuk. Aroma lautan ikut dalam hembusan kesejukan yang ia rasakan.
Dirka semakin bersemangat dan mempercepat langkahnya.
"Huuuoo!" Dirka bersorak, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat benar-benar sampai ditempat yang ia tuju.
★★★
Dirka disuguhi panorama indah lautan yang ia lihat dari atas tebing, tentu masih sama seperti dulu. Namun, matanya seolah tak pernah bosan memandanginya.
Dirka memandangi garis semu yang seolah memisahkan antara langit dan laut. Selayaknya sebuah ilusi fatamorgana, membuatnya seperti melihat ujung dari samudra ini.
Ombak ditengah lautan yang sesekali terlihat ada bercak putih dan membentuk garis di permukaannya, lalu secara perlahan mulai menghilang.
Dirka menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Tempat ini memang yang terbaik," gumamnya, dengan senyuman kedamaian di wajahnya.
Dirka seolah sangat disambut di sini. Suara debur ombak yang menghempas dinding tebing, ditambah suara dari daun di pepohonan yang terkena angin menjadi suara khas di tempat ini. Seperti alam yang bernyanyi dengan melodinya sendiri.
"Sudah berapa lama aku tidak kemari ya?"
Dirka mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang ketempat ini. Walaupun pada akhirnya tidak bisa mengingatnya. Dirka tetap merasa senang akhirnya dia ketempat ini setelah sekian lama.
★★★
Beberapa menit berlalu.
Dirka sekarang tampak masih di tempatnya, dengan sebatang rokok ditangannya. Tidak ada hal lain yang dia lakukan kecuali itu.
Namun, disaat Dirka masih menikmati kesunyian yang tenang ini. Tiba-tiba dirinya mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan.
"Hm?" Dirka pun menoleh kebelakang, mencari tahu siapa pemilik suara langkah kaki itu.
Matanya langsung tertuju pada seseorang yang berjalan mengenakan jaket hoodie berwarna abu-abu.
Dengan wajah penasaran, Dirka menatap ke arahnya. Tidak jelas siapa, dengan tudung jaket yang menutupi kepalanya, dan berjalan dengan wajah menunduk, membuatnya tidak bisa melihat wajah orang ini.
Tapi, apa yang mencuri perhatiannya bukanlah hal itu.
'Apa ia menangis?' batin Dirka. Melihat pundak orang itu yang bergerak naik turun tak beraturan.
Saat sosok itu berjalan ke arahnya. Dirka berdiri dari duduknya bermaksud mengajak orang itu bicara. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirka.
Dirka dihiraukan olehnya, dia bahkan tidak merespon dan menjawabnya sama sekali, dan terus berjalan melewatinya begitu saja.
'Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini?' batin Dirka, sambil berbalik memandangi punggung orang itu berjalan.
Dirka hanya berdiri diam di tempatnya sambil terus memandang ke arahnya.
Perlahan Dirka mengerutkan keningnya dengan perasaan curiga, karena orang itu terus berjalan menuju tepi tebing. Perasaannya semakin tak karuan. Lalu memutuskan berjalan mengikuti sosok di depannya.
Orang di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Rasa khawatirnya semakin menjadi.
Dirka pun mempercepat langkahnya.
Jarak orang itu dengan tepi tebing sekarang hanya sekitar dua meter. Mengetahui itu, tanpa pikir panjang Dirka langsung berlari secepat yang ia bisa.
"Sial!" Dirka sadar apa yang ingin orang ini coba lakukan.
Dirka terus berlari secepat yang ia mampu, dan menggunakan tangan kanannya berusaha meraih apapun yang bisa ia raih dari orang ini.
"Oi berhenti!" Saat kaki orang itu melangkah ke pijakan kosong di tepi tebing jurang. Dirka sambil berteriak langsung mencengkram bagian punggung jaketnya dan sekuat tenaga langsung menariknya ke belakang.
"Kyaaa!" jeritan seorang perempuan.
Dirka sangat terpaksa melakukannya, mungkin yang dilakukannya terlalu berlebihan. Tapi apa daya, dirinya terlalu panik. Sedetik saja terlambat, maka sudah dipastikan orang ini akan jatuh ke dasar tebing, yang merupakan lautan dengan ombak yang sangat ganas.
Sambil menahan amarahnya Dirka berbalik dan memandang ke arah orang yang baru saja ia tolong.
★★★
Dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dirka memandangi gadis di depannya sembari menahan emosinya.
Tampak rambut hitam panjang gadis di depannya terurai dan mengibas karena terbawa angin. Wajah tangis tersedu-sedu, melukis penderitaan di paras cantiknya, seperti menusuk perlahan bagian terdalam jantung dirka.
Dirka perlahan berjalan ke arahnya dan berjongkok sambil menatap wajah gadis itu dengan wajah pahit.
Melihat gadis di depannya, membuat Dirka teringat dengan masa lalunya. 'Apa dulu aku juga membuat ekspresi seperti ini,' batin Dirka.
Dirka seperti ingin meremas jantungnya kara rasa sakit yang dirasakannya tidak mungkin bisa dijangkaunya, saat melihat raut wajah tangis gadis di depannya yang benar-benar tampak sangat menyakitkan. Seolah dari sanalah rasa sakit itu di ke dalam perasaannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirka. 'Bodohnya aku menanyakan ini, bukankah dia jelas tidak baik-baik saja!' Dirka mencemooh dirinya sendiri karena menanyakan hal yang seharusnya dia sudah tahu jawabannya.
Walau ada rasa marah dengan yang gadis ini coba lakukan. Dirka sangat sadar tidak ada gunanya menghujatnya.
Itu jelas bukanlah solusi untuk sekarang. Lawan bicaranya adalah orang yang mengalami depresi berat, sampai-sampai berpikiran dan mencoba mengakhiri hidupnya yang jelas salah.
'Entah apa yang dialaminya sampai dia memilih jalan seperti ini. Melihat dari parasnya sepertinya ia masih berumur belasan tahun,' pikir Dirka. Walau dia tahu, tidak bisa menilai umur seseorang hanya dari wajah.
'Hidup terkadang memang tak adil, aku juga pernah seperti mengalaminya, tapi pernahkan ia berpikir bahwa penderitaan yang membuatnya bertindak seperti ini? bukanlah sebuah kata yang tertulis pada halaman terakhir?' batin dirka.
'Ya, mungkin ia tidak tahu kalau di balik halaman itu masih ada halaman kosong, yang masih bisa ia lukis dengan tintanya sendiri,' batin Dirka.
Namun Dirka tahu yang terpenting sekarang bukanlah masalah itu.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batinnya. Dirka mencoba mencari tahu apa yang harus ia lakukan untuk gadis ini sekarang. ia merasa tidak boleh mendiamkan gadis ini begitu saja.
"Boleh aku tahu, siapa namamu?" tanya Dirka. ia memutuskan untuk bertanya hal paling dasar terlebih dahulu. Dirka tidak ingin terlalu terburu-buru di sini.
Tapi, Gadis itu tetap tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
'Sepertinya tidak ada gunanya berbicara dengannya sekarang,' batin Dirka. 'Tapi, aku juga tidak boleh meninggalkannya begitu saja.'
Dirka sangat sadar, ia tidak bisa meninggalkan gadis yang terlihat sangat depresi ini begitu saja sendirian.
Karena jika ia meninggalkannya begitu saja, bukan hal yang tidak mungkin kalau gadis ini akan mencoba hal yang sama sekali lagi.
Dirka pun membuat keputusan.
"Kamu, ayo ikut aku," ajak Dirka sambil meraih tangannya, dan menariknya untuk berdiri.
Melalui tangannya Dirka merasakan tangan kecil gadis ini, dan entah mengapa itu terasa sangat rapuh.
Gadis itu terus meronta berusaha melepaskan tangannya, dari tangan Dirka.
Tapi Dirka tidak peduli, dan terus menuntunnya, sembari berkata. "Kamu ingin bunuh diri bukan? Akan aku ajarkan bagaimana cara bunuh diri yang paling baik," kata Dirka sambil terus berjalan menuntunnya.
Mendengar perkataan Dirka mata gadis itu menatapnya dengan tatapan yang sangat menyakitkan bagi Dirka.
Tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari gadis ini. Tapi, melalui tangannya Dirka merasakan bahwa perlawanan yang ia tunjukkan padanya mulai melemah. Seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
★★★
Di sisi lain.
Terlihat seorang anak laki-laki berumur 17 tahun, yang mengenakan jas hitam terlihat bergelantungan di atas pohon dengan seutas kawat besi yang mengait di pinggangnya.
ia memegang teropong kecil di tangannya, dengan serius mengamati Dirka yang berada di kejauhan.
Melalui earphone yang ia kenakan ia melapor kepada atasannya. "Miss … lapor! tuan muda, terlihat pergi meninggalkan tempat ini. ia juga membawa seorang gadis yang tidak dikenal."
Setelah melaporkan kepada atasannya, melalui earphone-nya. Terdengar suara perempuan membalasnya. [Bagus! kirimkan posisi tuan muda secara real time! sambil terus awasi dan ikuti dia! serta berikan laporan setiap lima menit, padaku!]
"Baik!" sahut Lingga.
★★★
Di tempat berbeda dan diwaktu yang sama. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya.
Terlihat seorang perempuan mengenakan jaket kulit hitam, dan celana jeans berwarna biru muda yang terdapat sobekan di lututnya. Dengan sepatu boots kulit berwarna coklat gelap.
Dia adalah Yunita. Yunita tanpa berlama-lama langsung berjalan ke arah motor sportnya.
Di kacamata hitam yang ia kenakan, terlihat sebuah peta hologram yang menunjukkan di mana posisi dari Dirka sekarang.
Yunita menghidupkan motornya, dan langsung memacunya dengan kecepatan tinggi, diantara keramaian jalan kota, menuju tempat Dirka berada.
Anda Mungkin Juga Suka





