Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dirka & Viona

Dirka & Viona

Dirka hidup bergelimang harta namun kesepian tanpa orang tua. Ia hanya ditemani para pelayan setia yang mencemaskan masa depan warisannya. Saat mengunjungi tempat penuh kenangan masa kecil, Dirka bertemu seorang gadis misterius yang berniat mengakhiri hidup. Pertemuan itu membangkitkan memori kelam masa lalunya. Meski sang gadis membisu, Dirka tak tega membiarkannya sendiri. Ia pun memutuskan membawa gadis itu pergi demi menyelamatkannya dari keputusasaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dirka sekarang mengendarai motornya sambil membonceng gadis yang baru saja ditemuinya.

Dia sangat canggung sekarang. Bukan karena ini pertama kalinya dia membonceng seorang gadis. Tetapi memang tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi antara dia dan gadis ini.

'Sekarang, apa yang harus kukatakan untuk mengajaknya bicara,' pikir Dirka, mencari cara bagaimana memulai pembicaraan. Dirka hanya takut, jika dia salah dalam memilih kata-kata.

"H-hei lihat, ada kereta lewat!" seru Dirka sambil menunjuk kereta yang terlihat melintas di kejauhan yang ada di tengah persawahan.

Tentu saja tidak ada jawaban.

'Apa yang aku katakan! dasar idiooot!' Dirka merasa sangat malu sekarang, dengan apa yang baru saja dia katakan.

Bisa-bisanya dia mengajak bicara seorang gadis depresi dengan menunjuk kereta melintas sebagai topik pembukanya. Ingin sekali rasanya dia memukul wajahnya sendiri, karena rasa malunya.

Beruntung lawannya bicara tidak melihat wajahnya. Jika dia melihatnya, mungkin Dirka akan jadi semakin tidak kuat, karena wajah malunya dilihat.

Hasilnya, suasana pun semakin canggung.

'Semoga saja dia nggak menganggap aku orang aneh,' batin Dirka, lalu bertanya, "B-boleh aku tahu namamu?"

Namun, tetap tidak ada jawaban sama sekali.

'Hahh, sepertinya nggak ada gunanya mengajaknya bicara sekarang,' Dirka tidak tahu bagaimana ekspresi gadis di belakangnya. Jujur dia sangat penasaran bagaimana warna wajahnya sekarang.

★★★

Beberapa menit pun berlalu cepat. Hingga Dirka akhir sampai di tempat yang dia tuju.

Dilihat sekilas dari gerbang masuk, tempat ini seperti perkomplekan gedung universitas yang memiliki banyak gedung bertingkat.

Ada total 10 gedung yang berdiri kokoh. Gedung-gedung dihuni oleh para siswa dan dikelompokkan menurut umur mereka. Gedung-gedung itu juga tidak hanya berfungsi sebagai sekolah tetapi juga sebagai asrama.

Namun, kali ini Dirka membawa gadis ini ke gedung yang dimana isinya hanyalah anak-anak kecil berumur 5-6 tahun.

"Kita sudah sampai," kata Dirka.

Mendengarnya, gadis itu pun mengangguk pelan lalu turun dari motor Dirka.

"Ayo," ajak Dirka sambil menuntun gadis ini, berjalan menuju sebuah gedung yang ada di sana.

Dari luar terdengar samar-samar suara tawa ceria dari banyak anak-anak kecil, yang seperti sedang bermain bersama teman-temannya.

Sesampainya di dalam gedung, gadis itu sedikit menunjukkan ketertarikan dengan suasana yang ada di dalam. Dirinya tak menyangka jika lantai dasar dari gedung ini ternyata sama seperti aula besar yang sangat luas. Di sekelilingnya ada ruangan yang berfungsi sebagai kelas.

Terlihat ada banyak anak-anak seumuran yang sedang bermain satu sama lain dengan teman mereka. Wajah mereka juga tampak sangat ceria.

Saat itu salah satu anak perempuan menoleh ke arahnya.

"Kak Dirkaaaa!" teriak anak perempuan itu.

Mendengar nama Dirka anak-anak lain pun langsung menghentikan permainan mereka masing, sambil menoleh memandang kearah Dirka.

"Woaa kak Dirkaa!"

"Lihat kak Dirka datang!"

Anak-anak mulai ribut saat melihat kedatangan Dirka.

"Yuhuu~" Dirka tersenyum sambil mengangkat tangannya, menyapa semua anak-anak yang ada di sana.

Seolah melihat orang yang sangat mereka tunggu. Mereka pun langsung berlarian, menghampiri Dirka.

Dirka sekarang dikepung oleh puluhan anak-anak. Seperti semut yang mengerumuni cairan gula.

'Jadi namanya Dirka,' batin gadis itu sambil memandangi pria di sebelahnya yang masih memegangi tangannya seolah tidak mau melepaskannya.

"Woaa kak Dirka, ayo main~," ajak salah satu anak laki-laki.

"Eeh, kan aku dulu yang liat kak Dirka, jadi kak Dirka harus main sama aku," keluh anak perempuan yang menyapa Dirka sebelumnya.

"Itu nggak adil, aku dulu!"

"Aku!"

"Aku!" sahut anak lain dengan berteriak panjang.

Dalam sekejap keributan di antara anak-anak langsung terjadi. Dirka yang melihatnya hanya bisa tersenyum lelah.

'Ha ha, lihat … mereka mulai ribut lagi,' batin Dirka, saat melihat anak-anak yang tadinya tampak damai, sekarang ribut sembari saling berebut menarik-narik tangannya.

"Hayoo, kalian gak boleh gitu. Liat tu kak Dirka jadi bingung," tegur seorang Wanita.

Dirka melihat ke arah wanita itu. "Ah, Ayu," panggil Dirka. "Maaf, aku nggak ngabarin kalau mau datang."

"Tidak tuan, kamu tentu bisa datang ketempat ini sesukamu. Lagi pula tempat ini adalah milikmu," balas Ayu sambil membungkuk sopan. Lalu menoleh kearah anak-anak dengan senyum di wajahnya. "Anak-anak, kalian nggak boleh nakal sama kak Dirka, liat kak Dirka jadi bingung … hayo~ sekarang minta maaf," tegurnya dengan nada lembut.

"Nggak apa-apa, Yu. Aku gak masalah sama sekali," sahut Dirka.

Namun anak-anak, tetap menurut mengikuti nasihat guru mereka, dan meminta maaf dengan wajah polos mereka.

"Kak Dirka maaf."

"Aku juga maaf."

"Aku juga."

Mendengar itu, Dirka tersenyum lembut, melihat bagaimana anak-anak di depannya. Walaupun bagi Dirka sudah mengatakan bahwa mereka tidak salah.

Dirka pun berjongkok dan menatap ke wajah polos mereka satu persatu. "Aku gak marah, jangan sedih gitu hayo … kakak juga sedih nanti kalau kalian sedih," kata Dirka.

Mendengarnya semua anak-anak mengangguk menuruti perkataan Dirka.

"Oh iya. Liat siapa yang kakak bawa. Jeng~ jeng~," paparnya sambil mengangkat tangan gadis yang dia bawa. Seperti menunjukkan sebuah kado istimewa kepada semua anak-anak.

Mendengarnya, gadis itu langsung menatap ke arah Dirka. Ekspresi wajahnya yang tadinya tampak tidak peduli, sontak berubah seolah memprotes Drika, dengan berkata, 'apa yang kamu katakan!?'

"Eh? siapa kakak ini?"

"Kakak~."

"Woaah~."

Semua anak-anak yang tadinya memasang wajah sedih, dalam sekejap berubah menjadi wajah senang. Ada juga yang bingung, dan ada juga yang terlihat sangat kagum, seperti melihat mainan baru yang baru pertama kali mereka lihat.

Dirka berakting dengan berakting memasang wajah sedih. "Kalian tau? Kakak ini sekarang sedang sedih, jadi kalian harus ajak dia bermain sampai dia nggak sedih lagi, oke?"

"Eeee!" semua anak-anak, yang mendengar permintaan Dirka langsung mengeluarkan suara keluhan dan memasang wajah enggan.

Ya itu wajar, dengan pemikiran polos mereka, jelas mereka akan lebih memilih bermain daripada harus menghibur orang lain.

Tapi Dirka tidak kehabisan akal. "Oh iya! Yang bisa membuat kakak ini tertawa, nanti semua kakak belikan mainan baru!" Dengan terang-terangan Dirka menyogok mereka.

Tentu saja sogokannya berhasil dan sukses. "Woooaah~," mata semua anak-anak langsung berbinar saat mendengar kata mainan baru.

Di sisi lain, gadis itu hanya menatap Dirka dengan wajah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Kakak, ayo main sama aku!"

"Ayo kak~."

"Kak, ayoo main sama aku~."

"Aku juga~."

"Iya, ayo~."

Semua anak-anak mulai berlomba meraih tangan gadis itu. Dan langsung menarik, membawanya ikut bersama mereka. Gadis itu sama sekali tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah dirinya dibawa oleh semua anak-anak.

'Anak-anak, Good Job!' batin Dirka, sembari mengacungkan jempol pada mereka, dan anak-anak membalasnya dengan hal yang sama.

Namun, berbeda dengan anak-anak gadis itu menoleh ke arahnya, dengan wajah kesal dan tak percaya, karena dia mulai sadar bahwa dirinya benar-benar sudah ditipu oleh Dirka.

'Semangat!' batin Dirka sambil mengacungkan jempolnya ke arah gadis itu.

★★★

Ayu yang hanya diam dari tadi, sambil menonton Dirka dan anak-anak, bertanya. "Tuan muda, siapa dia?"

"Oh dia adalah gadis yang baru saja aku tipu," jawab Dirka terang-terangan.

"Eh!?" Ayu memasang wajah kaget dengan perkataan Dirka. "T-tuan s-sejak kapan kamu jadi penipu wanita!?"

"Ha!? Oi jangan berkata seperti itu, seolah aku laki-laki brengsek!" tegur Dirka. "Aku nggak ngelakuin aneh-aneh ke dia," jelas Dirka, mencoba mengendalikan kesalah pahaman Ayu.

"Ya aku percaya—," balas Ayu dengan diikuti gumaman dan mata menatap curiga.

Dirka yang melihat ekspresi wajah Ayu, mengeluh di dalam hatinya. 'Yu, apa kau sadar? Kalau ekspresimu sangat bertolak belakang dengan perkataanmu!'

"Yu, tolong jangan memasang wajah seperti itu," keluh Dirka. "dan juga jangan berpikiran yang aneh-aneh!"

Melihat dari ekspresi wajahnya, Dirka entah mengapa merasa sedikit kesal. Dirka sadar bahwa Ayu pasti berpikiran hal yang tidak-tidak mengenai dirinya.

"T-tapi, tuan mengatakan kalau—." Dirka langsung memotongnya. "Biar aku jelaskan!" Dirka pun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya tidak ingin ada gosip sesat baru mengenai dirinya lagi.

★★★

"Bunuh diri?" Ayu tersentak kaget, setelah mendengar perkataan Tuannya.

Dirka hanya mengangguk pelan. "Ya, untungnya aku masih sempat meraih dan menariknya. Jika tidak—." Dirka tidak sampai hati melanjutkan perkataannya.

"Jadi begitu," gumam Ayu. Tidak perlu Dirka melanjutkan perkataannya. Ayu sudah paham apa maksudnya.

Dirka menoleh ke arah gadis yang dia bawa. Terlihat gadis itu sekarang sedang kewalahan, menghadapi anak-anak yang seolah tidak ada henti, mengajaknya bermain.

"Jadi begitulah aku bertemu dengannya, dan dia aku bohongi kalau aku akan mengajarkannya cara bunuh diri yang benar," ungkap Dirka.

"Eh?!" Ayu tertegun. Dia hanya tidak mengira akan mendengar tuannya mengatakan itu.

"Siapa sangka, dia akan nurut dan mau ikut dengan ku." Dirka tersenyum kecut. 'Walau itu tidak sepenuhnya kebohongan.' batinnya.

Ayu hanya terdiam sambil memandangi Dirka, yang terlihat memandang ke arah gadis itu. Walau apa yang dikatakan Tuannya hanyalah kebohongan, dan bukanlah solusi, tapi paling tidak Ayu paham maksud dari tuannya terpaksa melakukan itu.

Ayu yang tahu seperti apa masa lalu Dirka, seperti memahami apa yang dilakukan tuannya sekarang. Tapi tetap saja, untuk berbohong dengan mengatakan akan mengajarkan cara bunuh diri yang benar, menurutnya adalah sesuatu yang salah. Walau di balik itu, ada seserpih niat baik di dalamnya.

"Tapi, ini lebih baik daripada harus meninggalkannya di sana," jelas Dirka, dan melangkah berjalan menuju gadis itu.

"Ya, tuan … aku juga berpikiran sama," balas Ayu. Tuannya mungkin tidak sepenuhnya pilihan lain waktu itu. Namun, jika dia berada di sana mungkin dirinya juga lebih memilih membohonginya daripada meninggalkannya begitu saja.

Saat itu, Ayu sekilas memandangi wajah tuannya. Ekspresi yang ada di wajahnya, sangat sulit untuk dibaca. Tetapi Ayu sadar betul, bahwa ada warna sedih dibalik senyum Tuan Mudanya itu.

★★★

Dirka bersedekap, sambil bersandar di dinding. Dari sana Dirka memandangi gadis itu. Dia tersenyum, saat melihatnya tampak kelelahan dengan kelakuan anak-anak yang tanpa henti menyeretnya ke sana ke mari.

'Disaat seperti ini dia ternyata masih peduli dengan orang lain juga, ya,' batin Dirka sembari memandangnya.

Gadis itu tentu tidak dalam suasana hati bahagia. Namun, dia tetap memaksakan senyumnya didepan anak-anak. 'Mungkin dia hanya tidak ingin kesedihannya membebani orang lain,' pikir Dirka.

Tiba-tiba ada suara berdering keras. Itu adalah suara Alarm. Semua anak-anak langsung mengeluarkan suara keluhan mereka masing-masing mendengar itu.

"Anak-anak, sudah waktunya belajar. Ayo kembali ke kelas kalian masing-masing," seru Ayu memberitahukan kepada semua anak-anak.

"Yaa," anak-anak dengan wajah malas mereka menyahuti perkataan ayu. Namun, walau mereka tetap patuh pergi ke kelas mereka masing-masing.

Disisi lain gadis itu langsung memasang wajah lega. Seolah baru saja lepas dari beban berat. Dirka mendekat ke arahnya. Yang terlihat duduk bersimpuh di lantai karena kelelahan.

★★★

Sesampainya di sana, Dirka langsung duduk di sebelahnya. "Gimana rasanya bermain dengan mereka?" tanya Dirka pada gadis itu, dengan senyum di wajahnya.

Gadis itu sama sekali tidak menyahutinya, dan malah memalingkan wajahnya.

Dirka yang melihatnya, sadar. Mungkin dia masih kesal karena sudah dibohonginya. Namun, Dirka sama sekali tidak peduli.

Dirka pun mulai berbicara sendiri. "Dulu, saat baru bertemu pertama kali anak-anak ini, mereka tidak pernah memasang senyuman seperti itu di wajahnya," ungkap Dirka. "Tidak ada orang tua, atau bahkan keluarga. Kebanyakan dari mereka saat ditanya, di mana ayah dan ibumu? mereka selalu menggelengkan kepala menjawab tidak tahu. Ada juga yang langsung menangis saat ditanya seperti itu."

Tidak ada respon sama sekali dari gadis di sebelahnya.

'Andai dia tahu bahwa anak-anak ini adalah anak jalanan dan korban penculikan, serta penjualan organ tubuh. Aku penasaran bagaimana dia akan menanggapinya,' batin Dirka.

Tapi Dirka tidak ingin membicarakan masalah ini pada orang luar. Jadi dia tidak ingin mengungkapkan identitas anak-anak.

"Tapi, senang rasanya melihat mereka sekarang sudah bisa tertawa kembali seperti itu," gumam Dirka, sembari memandangi anak-anak yang sekarang belajar di kelas.

★★★

POV Viona.

Papaku meninggal. Ibuku yang selalu menyayangiku tiba-tiba pergi meninggalkanku begitu saja tanpa tahu apa penyebabnya.

Aku tidak memiliki siapapun lagi. Bahkan keluarga dari ibu dan ayahku juga tidak ada lagi.

Rumah satu-satunya tempatku tinggal, tiba-tiba diminta orang lain. Dia mengatakan bahwa rumah itu adalah jaminan dari hutang ibuku.

Karena kondisiku yang tidak bisa berbicara membuatku sulit mencari pekerjaan. Ditambah aku juga masih kelas dua sekolah menengah. Membuatnya jadi lebih sulit.

Karena tak ada biaya. Aku juga harus keluar dari sekolah. Tidak ada orang yang peduli. Bahkan orang-orang disekitarku tidak pernah menanyakan kondisiku. Aku juga tidak punya teman sama sekali. Mungkin karena kondisiku mereka menjaga jarak dariku.

Aku lelah, dan sangat lelah. Tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku sangat frustasi. Aku juga tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku tidak sanggup hidup seperti ini.

'Mungkin lebih baik aku mati saja.'

Pemikiran itu muncul begitu saja di kepalaku, dan anehnya tidak ada rasa penyesalan sama sekali saat mengucapkan itu. Bahkan rasa takut sekalipun.

★★★

Hari ini aku pergi ke tempat yang dulu pernah aku datangi dengan papa, saat masih kecil. Tempat ini adalah tebing pinggir pantai. Walau hanya sekali aku kemari. Namun itu juga menjadi terakhir kalinya aku keluar bersama papa.

Saat berangkat menuju tempat ini. Langkah kakiku terasa sangat ringan. Namun, saat sampai di tempat itu … semua kenangan masa lalu bersama ayahku, dan ibuku tiba-tiba terlintas di kepalaku.

Aku menangis. 'Mengapa kenangan ini tiba-tiba muncul?'

Di sana aku melihat ada seseorang. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Bahkan saat dia menyapaku, aku sama sekali tidak menanggapinya. Dan terus berjalan ke arah tebing.

'Akhirnya, penderitaan ini sebentar lagi akan hilang.'

Namun saat aku hampir melangkah jatuh ke dasar jurang. Seseorang berteriak dari belakang dan langsung menarikku dengan keras.

Rasa sakit saat terjatuh, seoral menjadi pemicu rasa sakit di hatiku, dan membuatku semakin menangis sejadi-jadinya.

Aku melihat wajahnya. Saat dia berkata menanyakan kondisiku, dia ternyata pria yang menyapaku barusan.

'Kenapa kamu melihatku seperti itu?' ini pertama kalinya aku melihat seseorang memasang wajah khawatir untukku.

Banyak pertanyaan yang dilontarkannya, namun aku tidak bisa menjawabnya. Andai aku menggunakan bahasa isyarat, apa dia akan paham? Aku tidak yakin.

Pria ini jelas lebih tua dariku. Namun kenapa dia terlihat sangat peduli padaku, walau dia tidak mengenalku sama sekali?

Tiba-tiba dia meraih tanganku, dan memaksaku untuk ikut dengannya. Aku awalnya menolak, namun setelah mendengar perkataannya, aku menurutinya begitu saja. Itu Karena dia mengatakan akan mengajarkanku cara bunuh diri yang lebih baik.

Mendengar itu, membuatku sadar. Bahwa ternyata dia sebenarnya tidak peduli sama sekali padaku.

Namun, pada kenyataannya. Aku benar-benar sudah di tipu olehnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Wanita Kedua
8.2
Dulu dibutakan cinta, Aulia kini hancur saat mengetahui Dimas berkhianat dengan menikah lagi. Tak hanya dikhianati, ia bahkan diusir dan dihapus dari kehidupan keluarga suaminya. Bertekad bangkit, Aulia menemui Rina untuk mencari kerja demi melupakan luka. Ia pun bekerja pada Sagas untuk membalas budi masa lalu. Meski hatinya sering goyah, dukungan sahabatnya terus menguatkan Aulia agar tidak kembali pada kekejaman Dimas. Sanggupkah ia berdiri tegak?
Sampul Novel Derita Penantian Cinta
8.6
Almira adalah sarjana asal desa yang bekerja di perusahaan swasta. Tekanan muncul saat ayahnya mendesak Almira segera menikah karena sang adik sudah bertunangan. Sang ayah takut Almira akan sulit mendapat jodoh jika dilangkahi adiknya, yang dianggap sebagai aib keluarga. Meski dipaksa melalui berbagai perjodohan, Almira menolak semua pria itu karena merasa tidak cocok. Sikapnya memicu kemarahan ayah yang kini melabeli Almira sebagai gadis sombong dan pemilih.
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri
9.5
Dunia Kiana Putri hancur saat Salsabila, saudara tirinya, dan sahabatnya sendiri, Dara, mengkhianatinya. Terusir dari rumah penuh kenangan, ia bangkit dan sukses menjadi desainer perhiasan setelah lima tahun berjuang. Meski mandiri membesarkan putranya, Haidar, hati Kiana tetap tertutup rapat. Tiba-tiba, Alif muncul membawa tawaran mengejutkan: pernikahan dan janji untuk menjaga Haidar. Di tengah keraguan akibat luka lama, Kiana harus menghadapi kehadiran pria misterius ini.
Sampul Novel LOVE FROM LA
9.7
Berawal dari interaksi di media sosial, Kim dan Diki membangun hubungan yang tak terduga. Kim adalah sersan satu tentara Amerika keturunan Indonesia-Cina yang hidup mandiri sejak kehilangan orang tuanya di usia delapan tahun. Meski terpisah jarak dan bahasa, kenyamanan membuat Diki nekat menyatakan perasaan. Tak disangka, Kim menerimanya. Akankah cinta lintas negara yang lahir di dunia maya ini mampu bertahan dan berlanjut menjadi pertemuan nyata di masa depan?
Sampul Novel MEMBAKAR GAIRAH
9.4
Sepuluh tahun berlalu sejak tragedi hotel menghancurkan cinta Joshua dan Reinata. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi pelik saat Joshua muncul sebagai kekasih Kayla, putri tiri Reinata. Terbakar api cemburu dan perasaan yang belum padam, Reinata bertekad menggoda Joshua demi merebutnya kembali. Akankah Joshua terjebak dalam gairah terlarang bersama calon ibu mertuanya? Bagaimana hancurnya hati Kayla jika rahasia kelam masa lalu sang suami terungkap?
Sampul Novel Modus Tuan Muda
8.5
Mona Latea terjebak dalam nasib malang saat terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Elisa, yang menolak perjodohan keluarga. Kini, ia harus melayani seorang tuan muda yang ternyata hanyalah pria manja dengan tingkah menyusahkan seperti bayi besar. Tanpa bayaran sepeser pun, Mona harus menghadapi hari-hari penuh tekanan demi memenuhi tanggung jawab tersebut. Kisah romansa dewasa ini penuh intrik antara pengabdian paksa dan pesona sang tuan muda yang manipulatif.