
Direndahkan Oleh Keluarga Suami
Bab 2
Matahari sudah mulai terbenam, memancarkan cahaya oranye-merah yang terpantul di kaca jendela kamar Jasmine. Kegelapan perlahan merayap di luar, tetapi di dalam, hatinya justru semakin terang oleh rasa sakit yang sulit dijelaskan. Ardan duduk di kursi kayu tua di sudut ruangan, tangannya yang kokoh memijat pelipis, berusaha menenangkan pikirannya. Jasmine berdiri di dekat jendela, matanya menatap langit yang berubah, berharap bisa menemukan jawaban dalam warna-warna senja itu.
Anindya telah pergi, meninggalkan rumah itu dengan langkah angkuh, seakan dia adalah ratu yang baru saja menguasai kerajaan. Jasmine, di balik matanya yang berkilau dengan air mata, mendengar detak jantungnya yang berdetak cepat, menyuarakan perasaan yang sulit dikendalikan. Ardan akhirnya mendongak, menatap Jasmine dengan mata yang penuh ketegangan dan kebingungan. Sejak awal, dia tahu bahwa kembalinya Anindya ke dalam hidup mereka akan mengubah segalanya, tetapi dia tak pernah menduga bahwa rasa sakit itu akan menghancurkan segalanya begitu dalam.
"Jasmine, kita perlu bicara," kata Ardan, suaranya gemetar. Dia mengangkat tangan, lalu menurunkannya lagi, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat di antara kekacauan pikirannya.
Jasmine tidak menoleh, hanya membiarkan angin sepoi-sepoi mengusik rambutnya, merasakan sejuknya yang bertolak belakang dengan kehangatan di dalam hatinya yang meradang. Setiap kata Ardan adalah kebohongan, setiap keheningan adalah pengkhianatan. Di luar, burung-burung terbang pulang ke sarangnya, menciptakan bayangan yang bergetar di dinding, seperti kebingungan yang ada dalam dirinya.
"Jasmine, aku tahu ini sulit, tapi..." Ardan melanjutkan, langkahnya mendekati Jasmine. Namun, Jasmine mengangkat tangannya, meminta dia untuk berhenti. Itu cukup, sudah terlalu banyak kata-kata yang diucapkan hanya untuk menutupi kenyataan.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Ardan," katanya, suaranya hampir berbisik, tetapi tajam seperti pisau. "Selama ini, aku selalu berharap. Aku selalu berpikir bahwa suatu hari, aku akan merasa dicintai, dipedulikan. Tapi sekarang, aku tahu itu semua hanya mimpi. Cinta kita, semuanya hanyalah kebohongan."
Ardan terdiam, seperti sedang menelan amarah dan sesal yang begitu besar. Wajahnya dipenuhi ekspresi yang sulit dibaca, perasaan yang terperangkap antara keinginan untuk meminta maaf dan rasa marah pada dirinya sendiri. "Jasmine, aku minta maaf," katanya akhirnya, tetapi kata-katanya terdengar seperti bisikan yang hilang di angin malam. "Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi aku..."
"Tapi apa?" Jasmine memotong. "Kita sudah hidup bersama selama bertahun-tahun, Ardan. Aku tahu setiap gerakanmu, setiap ekspresi di wajahmu. Aku tahu bagaimana caramu berbicara, caramu tersenyum, dan caramu menatapku seperti aku hanya bayangan yang tidak pernah ada. Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya?"
Ardan menundukkan kepala, dan Jasmine tahu bahwa di balik wajahnya yang tertutup, ada ribuan kata yang ingin keluar, kata-kata yang selama ini dia tahan. Jasmine melangkah ke arah Ardan, mendekat hingga jarak di antara mereka hanya sehelai rambut. Dia ingin melihat ke dalam matanya, mencari tahu apakah pria itu benar-benar menyesal, ataukah ini hanya perasaan bersalah yang datang saat badai mendekat.
"Jasmine, aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Ardan dengan suara penuh kebingungan. "Aku tahu aku tidak pernah menunjukkan cinta, tapi aku..."
"Tidak pernah menunjukkan?" Jasmine tertawa getir. "Ardan, kalau kau tidak bisa menunjukkan cinta, lalu apa yang kau lakukan selama ini? Mempermainkanku? Mencoba membuatku percaya bahwa aku cukup layak untukmu? Aku tahu, Ardan. Aku tahu bahwa di setiap pelukan kita, di setiap kata manis yang kau ucapkan, ada kebohongan. Dan aku... aku sudah cukup."
Tangis Jasmine akhirnya pecah, bukan hanya karena rasa sakit, tetapi juga karena kelegaan yang datang dengan kenyataan. Ardan hanya bisa menatapnya dengan mata yang mulai basah, seakan dia baru menyadari seberapa dalam luka yang dia sebabkan.
"Jasmine, aku ingin kau tahu satu hal," kata Ardan, suaranya berat dengan penyesalan. "Aku mencintaimu dengan cara yang... aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku bodoh, dan aku sudah terlambat."
Jasmine menatapnya untuk terakhir kalinya, seakan menilai apakah kata-kata itu cukup untuk menebus segala pengkhianatan. Namun, dia tahu jawaban itu. Hati yang pernah begitu penuh kini hanya menyisakan bekas luka yang tak akan pernah sembuh.
"Jangan," kata Jasmine, suaranya penuh kepedihan. "Jangan membuatnya lebih sulit. Kita tidak bisa kembali, Ardan. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa mengubah semuanya."
Malam itu, Jasmine tidur dengan sesak di dadanya, di ruangan yang terasa asing, meski sudah menjadi tempatnya bertahun-tahun. Dia tahu satu hal: hari-hari ke depan tidak akan pernah sama lagi. Dia sudah lelah menunggu, lelah berharap. Kini, saatnya dia berdiri di atas kakinya sendiri, meskipun itu berarti menghadap dunia sendirian.
Anda Mungkin Juga Suka





