
Direktur Iblis Takut Kehilangan
Bab 2
Lia Adelia resmi bangun jam empat pagi. Bukan karena excited mau kerja, tapi karena rasa cemas itu bikin perutnya melilit. Ini hari pertama. Kalau sampai dia gagal-dan peluangnya besar banget-dia akan kehilangan gaji tiga kali lipat yang dijanjikan si Direktur Neraka itu.
Rutinitas paginya terasa seribu kali lebih berat. Lia harus menyiapkan sarapan, bukan cuma buat Arka dan Bima, tapi juga buat Bu Tati, tetangga baik hati yang mau dititipi anak-anak selama jam kerja. Menu sarapan? Nasi goreng sederhana yang Lia usahakan tetap bergizi.
"Arka, ayo cepat! Jangan main robot-robotan mulu. Mama harus pergi sekarang," tegur Lia, suaranya berusaha sabar padahal dalam hati dia udah kayak gunung berapi mau meletus.
"Iya, Ma," jawab Arka lesu. Dia masih nggak ngerti kenapa mamanya mendadak jadi secepat kilat di pagi hari dan pulang se-lemah siput di malam hari.
Lia memeluk kedua anaknya erat-erat, mencium kening mereka, dan berjanji akan pulang cepat (janji palsu, Lia tahu banget Guntur Mahendra nggak kenal kata 'cepat').
Pukul 06:30, Lia udah berdiri di halte bus. Udara Jakarta udah mulai panas dan macetnya udah kelihatan dari jauh. Di dalam bus yang penuh sesak, Lia harus berdiri, menahan tasnya agar nggak tertinggal, sambil berusaha menjaga kemeja blazernya nggak lecek. Dia merasa dirinya kayak ikan teri yang berjuang keluar dari jaring, sementara semua orang di bank itu pasti datang dengan mobil pribadi ber-AC. Kontras itu menusuk banget.
Lia Adelia, wanita gendut, janda, dan sekarang Asisten Direktur (yang cuma jadi tameng si bos).
Dia berhasil sampai di lobi Bank Arta Utama tepat pukul 07:50. Sepuluh menit sebelum jam delapan. Cukuplah. Dia menarik napas dalam, membetulkan letak blazernya yang udah agak kusut, dan melangkah masuk.
Resepsionis yang kemarin cekikikan melihatnya, hari ini cuma senyum formal. Lia menunjukkan ID Access sementara yang udah disiapkan. Rasanya aneh banget punya ID card bank super elit kayak gini. Lia naik lift khusus eksekutif. Lantai teratas. Sunyi dan mewah.
Tepat jam 08:00, Lia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Guntur Mahendra. Ruangan Direktur itu dikelilingi cubicle super besar yang ternyata adalah ruang kerja Lia. Meja Lia besar, ada dua monitor, printer canggih, dan tumpukan berkas yang menjulang tinggi. Ini bukan meja Office Girl.
Saat Lia duduk, dia merasa sangat asing. Meja ini terlalu bersih, terlalu modern, dan terlalu dingin, sama kayak pemiliknya.
Belum sempat Lia mencolokkan kabel laptop, pintu ruangan Guntur terbuka. Direktur itu sudah berdiri di ambang pintu, kemeja birunya terlihat sempurna tanpa satu pun kerutan, rambutnya rapi klimis, dan matanya langsung menyala tajam ke arah Lia.
"Kamu terlambat lima detik," Guntur berkata datar. Lia melihat jam di layar komputernya: 08:00:05.
Lia langsung berdiri, "Maaf, Pak Guntur. Saya janji besok akan datang lebih pagi."
Guntur melipat tangan. "Saya nggak butuh janji. Saya butuh hasil. Dan kamu tahu apa hasil dari keterlambatan? Kamu membuang waktu miliaran rupiah bank ini. Sekarang, saya nggak mau dengar alasan apa pun. Duduk dan mulai bekerja."
Dia melempar kunci kecil ke meja Lia. "Itu kunci ruang brankas kecil. Di dalamnya ada briefing document yang harus kamu pelajari. Semua tentang struktur klien dan proyek bank tiga tahun terakhir. Dalam waktu satu jam, saya mau kamu rangkum dalam satu halaman, poin per poin. Saya butuh data utang terbesar klien A dan margin profit klien B. Paham?"
Lia menatap tumpukan berkas di ruang brankas yang kelihatan dari kaca transparan. Ada ratusan dokumen di sana. Dirangkum dalam satu jam? Itu namanya bunuh diri.
Tapi Lia cuma mengangguk, "Paham, Pak."
Guntur nggak mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali masuk ke ruangannya, menutup pintu kaca itu rapat-rapat, dan meninggalkan Lia sendirian di lautan kertas.
Lia segera masuk ke ruang brankas, napasnya tercekat. Dokumennya bukan ratusan, tapi mungkin ribuan! Semuanya dalam bahasa Inggris, penuh istilah keuangan yang bahkan Lia nggak pernah dengar. Derivatives, short selling, leveraged buyout. Lia cuma bisa mendalami resep rendang dan gulai.
"Ya Tuhan, ini bener-bener neraka," gumam Lia. Dia tahu, Guntur memang sengaja mau mengujinya. Mungkin dia berharap Lia menyerah dalam sepuluh menit.
Tapi Lia nggak akan menyerah. Dia teringat Doni yang selalu bangga padanya. Dia teringat wajah Arka dan Bima.
Lia mulai bekerja. Dia nggak paham semua istilah itu, tapi dia punya satu skill yang dia asah selama delapan tahun jadi ibu rumah tangga: organisasi dan kecepatan memilah. Dia menyortir berkas berdasarkan warna sampul, tanggal, dan nama klien yang paling sering disebut. Dia mencari kata kunci 'Debt' dan 'Profit Margin' di setiap halaman. Dia nggak membaca, dia memindai. Cepat, fokus, dan gila.
Tepat jam 08:55, Lia selesai. Tangannya gemetar, punggungnya sakit, tapi dia berhasil. Rangakuman satu halaman, ditulis tangan dengan rapi, poin-poin pentingnya dia highlight dengan pulpen.
Dia mengetuk pintu kaca Guntur.
"Masuk," suara Guntur.
Lia melangkah masuk, menyerahkan kertas itu. Guntur mengambilnya tanpa melihat Lia, matanya masih terpaku di layar.
Lia berdiri di sana, menunggu hukuman mati.
Guntur akhirnya membaca. Matanya bergerak cepat, alisnya bertaut. Lia bisa melihat ketidakpercayaan di wajahnya.
"Klien A, utang tertinggi pada Q3 2024: 500 Miliar. Klien B, margin profit terendah pada Q1 2023: 5.2%. Bagaimana kamu tahu?"
"Saya memindai berkas-berkasnya, Pak. Data itu ada di bab rekapitulasi akhir setiap laporan tahunan. Saya melihat angkanya dan mencocokkannya dengan nama klien yang Bapak sebutkan," jelas Lia, suaranya mantap.
Guntur meletakkan kertas itu. Dia nggak memuji. Nggak berterima kasih. Hanya ada tatapan dingin yang menilai. "Lain kali, jangan tulis tangan. Ketik. Meja kamu sudah dilengkapi komputer. Sekarang, ini tugas kedua."
Dia melempar sebuah tablet tipis ke meja Lia. "Tiga jam dari sekarang, saya harus bertemu dengan CEO PT Sinar Abadi. Jadwalkan pertemuan itu. Pastikan ruang rapat VVIP siap, semua kopi dan air mineral harus bermerek yang paling mahal. Dan ini yang terpenting: PT Sinar Abadi adalah klien paling sensitif saya. Cari tahu apa yang mereka suka dan apa yang mereka benci. Background check selengkapnya. Saya nggak mau ada kesalahan kecil pun."
Lia mengambil tablet itu. Di situ tertulis nama CEO-nya: Satya Wiguna.
Lia keluar dari ruangan, berjalan kembali ke mejanya, dan kali ini dia nggak panik. Dia mulai menyusun rencana. Tugas ini nggak butuh istilah keuangan yang rumit. Tugas ini butuh kemampuan stalking tingkat dewa, yang kebetulan banget, skill itu diasah Lia saat dia sibuk mencari tahu resep makanan yang lagi viral di TikTok.
Dia mulai mencari Satya Wiguna. Nggak cuma LinkedIn, tapi juga Instagram, Facebook, berita lama, semuanya. Dan dia menemukan hal-hal menarik.
Satya Wiguna ternyata gila golf, suka koleksi jam tangan mahal, dan yang paling penting: istrinya baru saja ulang tahun. Di postingan media sosialnya, istrinya curhat kalau suaminya nggak pernah punya waktu buat ngasih hadiah spesial. Ada juga komentar di salah satu artikel berita, kalau Satya Wiguna paling benci sama orang yang nggak on time dan benci banget sama aroma lavender.
Lia menulis semua itu dalam laporannya. Dia bahkan mencari tahu restoran mana yang paling sering dikunjungi Satya Wiguna di akhir pekan. Lia melampirkan tiga rekomendasi jam tangan mewah terbaru yang bisa dibeli Guntur sebagai 'hadiah' spontan untuk istrinya Satya Wiguna. Lia tahu banget, urusan personal touch kayak gini bisa melunakkan hati klien.
Guntur Mahendra butuh asisten yang nggak menarik perhatian, tapi yang Lia berikan adalah asisten yang prediktif dan efektif.
Waktu berlalu tanpa Lia sempat minum apalagi makan siang. Pukul 11:45, Lia kembali mengetuk pintu Guntur.
"Tugas selesai, Pak," kata Lia, menyerahkan tablet yang sudah diisi file presentasi rapi dan laporan background check detail.
Guntur mengambil tablet itu, membaca sambil berdiri, berjalan mondar-mandir di depan jendela kacanya yang membentang luas. Ia terlihat seperti sedang menyerap setiap informasi.
"Klien suka golf. Benci aroma lavender. Istrinya baru ulang tahun," Guntur membacanya. Wajahnya nggak menunjukkan apa-apa, tapi Lia yakin dia terkejut. "Dari mana kamu tahu ini semua?"
"Internet, Pak. Data publik. Saya menyimpulkan bahwa kunci kesuksesan pertemuan ini bukan hanya di angka, tapi di personal touch. Saya sudah meminta staf mempersiapkan ruang rapat, dan saya sudah menghubungi vendor untuk menyiapkan custom hadiah jam tangan untuk istri Bapak Satya," jawab Lia tanpa ragu.
Guntur berhenti berjalan. Dia menoleh ke Lia. Tatapannya kali ini beda. Bukan lagi menilai, tapi... mengamati.
"Kamu bertindak terlalu jauh, Lia," katanya. Tapi nggak ada nada marah di suaranya. Lebih ke terkejut.
"Saya bertindak efektif, Pak. Tugas asisten adalah mempermudah pekerjaan Direktur. Bapak nggak perlu memikirkan hal-hal kecil ini, cukup fokus pada angka-angka besar di rapat nanti. Urusan kemanusiaan, biar saya yang urus," balas Lia. Dia juga heran kenapa dia berani banget ngomong kayak gitu ke Guntur. Mungkin rasa lapar dan lelah membuatnya nekat.
Guntur menyunggingkan senyum tipis lagi. Tapi kali ini, senyum itu terlihat sedikit lebih manusiawi, meski masih jauh dari ramah.
"Baiklah, Lia. Sekarang, kamu bisa keluar dan makan siang. Tapi kamu punya waktu tiga puluh menit. Setelah itu, saya mau kamu menyiapkan itinerary perjalanan saya ke Singapura minggu depan. Jadwal penerbangan, hotel bintang lima, dan semua reservasi makan malam harus sudah dikirimkan ke email saya sebelum jam lima sore."
Lia menghela napas. Singapura? Dia cuma bisa bayangin tiket bus kota. Tapi ya sudahlah.
"Siap, Pak," kata Lia.
Dia keluar. Saat baru aja mencapai mejanya, ia bertemu Dinda, si HRD yang kemarin meneleponnya. Dinda membawa nampan berisi dua cangkir kopi latte dan sandwich kecil.
"Lia," panggil Dinda, matanya terlihat sedikit kasihan. "Kamu beneran masih di sini? Aku kira kamu udah kabur dari jam sembilan pagi."
Lia cuma tersenyum tipis. "Gaji tiga kali lipat bikin aku nggak bisa kabur, Dinda."
"Aku serius. Nggak ada yang pernah bertahan lebih dari seminggu jadi asisten Guntur Mahendra. Dia itu perfectionist gila, dingin, galak, dan... ya, dia nggak percaya sama siapa pun, apalagi sama cewek. Dia selalu mikir semua cewek yang masuk ke sini cuma mau godain dia," bisik Dinda.
Lia mengangkat bahu. "Untungnya, aku nggak termasuk targetnya. Aku terlalu gendut dan punya dua anak untuk jadi target godaan. Aku safe, kata dia."
Dinda menatap Lia, merasa nggak enak hati. "Lia, kamu itu cantik, lho. Kamu cuma... berisi. Jangan dengerin omongan dia. Tapi, hati-hati ya. Dia bener-bener kayak robot."
Dinda menyerahkan satu latte pada Lia. "Ini dari aku. Tenaga buat survival. Jangan sampai kamu kena stress eating di sini."
Lia tertawa kecil. Sejak Doni meninggal, ini tawa yang paling tulus yang dia rasakan. "Makasih, Dinda. Kamu penyelamatku."
Dinda pergi. Lia duduk di mejanya, memandangi latte di tangannya. Dia baru sadar betapa laparnya dia.
Lia menghabiskan waktu makan siangnya sambil mengerjakan itinerary Singapura. Dia harus membandingkan harga penerbangan kelas bisnis, rating hotel mewah, dan memesan meja di restoran yang punya Michelin Star. Semua ini terasa kayak Lia lagi merencanakan kehidupan orang lain di planet yang berbeda.
Di sela-sela pekerjaannya, Lia sempat melihat ke dalam ruangan kaca Guntur. Direktur itu sedang menerima telepon. Wajahnya nggak menunjukkan emosi, tapi rahangnya terlihat mengeras. Ia berbicara dengan nada yang sangat dingin, seolah sedang memarahi seseorang.
Saat Guntur menutup telepon, ia menghela napas panjang, dan untuk sepersekian detik, Lia melihat sesuatu di matanya: kesepian.
Guntur Mahendra, si Dewa Es yang punya segalanya, ternyata juga manusia yang kesepian. Lia jadi bertanya-tanya, kenapa dia begitu paranoid? Kenapa dia begitu yakin semua orang mau menggulingkannya?
Lia teringat ucapan Dinda: "Dia nggak percaya sama siapa pun, apalagi sama cewek."
Mungkin Guntur punya masa lalu yang menyakitkan. Mungkin dia pernah dikhianati oleh orang yang sangat dia cintai atau dia percaya. Atau, mungkin memang dia cuma terlahir galak. Lia memutuskan nggak mau ambil pusing. Yang penting, dia nggak ikut campur dalam drama hidup Guntur, dan gajinya lancar.
Saat jam 16:30, Lia sudah menyelesaikan semua tugasnya. Itinerary Singapura, lengkap dengan informasi cuaca, mata uang, dan nomor telepon penting, sudah Lia kirimkan. Dia juga sudah membersihkan mejanya, memastikan nggak ada satu pun debu tersisa. Kebiasaan ibu rumah tangga yang terorganisir ternyata sangat berguna di sini.
Lia mengecek jam. 16:50. Dia sudah bisa pulang.
Ia mengetuk pintu Guntur untuk pamit.
Guntur sedang sibuk dengan laptopnya. "Kenapa?"
"Tugas sudah selesai, Pak. Saya ingin pamit. Saya sudah mengirimkan itinerary-nya," kata Lia.
Guntur nggak mendongak. "Ya, saya sudah lihat. Cukup rapi. Tapi itu baru permulaan. Besok pagi, saya mau kamu menyiapkan semua berkas rapat yang kamu rangkum tadi. Dan ada lagi, Lia. Saya nggak suka kamu berinteraksi terlalu banyak dengan staf lain. Fokus pada pekerjaan kamu. Jangan cari teman di sini."
Lia merasa kesal. Bahkan mencari teman pun dilarang? "Baik, Pak Guntur."
"Satu lagi," Guntur akhirnya mendongak. Ia mengeluarkan dompet tipis dari jasnya. Bukan dompet, tapi klip uang. Dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. "Ini untuk taksi kamu. Saya nggak mau kamu kecapean di jalan, besok kamu harus fit. Kalau kamu nggak fit, yang rugi saya."
Lia terkejut. Guntur memberinya uang taksi? Ini bukan kebaikan hati, ini murni investasi agar asistennya nggak sakit. Lia menerima uang itu, merasa harga dirinya sedikit tergores, tapi dia harus mengakui, ini sangat membantu.
"Terima kasih, Pak," kata Lia.
Dia berbalik, berjalan keluar. Tepat sebelum menutup pintu, Lia mendengar Guntur berbicara lagi, nadanya jauh lebih lembut, seolah dia nggak berbicara pada Lia, tapi pada dirinya sendiri.
"Dan Lia, jangan sampai kamu mengecewakan saya. Saya benci dikecewakan."
Lia menutup pintu. Kalimat terakhir Guntur itu menusuk banget. Saya benci dikecewakan. Ada sejarah panjang di balik kalimat itu, Lia yakin.
Lia sampai di rumah kontrakan pukul 18:30. Bau masakan Bu Tati menyambutnya. Arka dan Bima langsung berlari, memeluk kaki Lia.
"Mama! Mama pulang!" seru Arka.
"Ma, aku kangen," rengek Bima, si bungsu.
Rasa lelah, sakit hati karena direndahkan, rasa insecure karena badannya yang besar, semuanya lenyap digantikan kebahagiaan sejati. Inilah alasan Lia bertahan. Inilah Doni versi kecil yang tersisa di hidupnya.
"Mama juga kangen, Sayang. Gimana hari ini? Kalian baik-baik aja sama Bu Tati?" Lia menciumi pipi mereka bergantian.
Bu Tati, perempuan paruh baya yang baik hati, muncul dari dapur. "Alhamdulillah, Bu Lia. Anak-anak pinter. Tapi Bu Lia kelihatan capek banget. Hari pertama ya?"
"Iya, Bu Tati. Rasanya kayak perang," Lia tertawa kecil.
Setelah makan malam sederhana dan menidurkan anak-anak, Lia duduk sendirian di ruang tamu yang sempit. Dia memegang uang taksi dari Guntur. Dua ratus ribu. Cukup untuk bayar uang susu Bima besok.
Dia memikirkan hari ini. Guntur yang galak, tugas yang nggak masuk akal, dan tatapan meremehkan dari staf lain. Tapi dia berhasil. Dia nggak dipecat. Dia bahkan berhasil membuat Guntur sedikit terdiam.
Lia bersandar di dinding. Matanya menatap langit-langit, seolah Doni sedang melihatnya dari sana.
"Doni... aku janji. Aku akan kuat. Aku akan besarkan anak-anak kita dengan baik. Aku nggak butuh siapa-siapa lagi. Aku nggak butuh pria lagi," bisik Lia, air matanya menetes.
Dia tahu, Guntur Mahendra itu racun. Pria yang membuat Lia semakin yakin pada sumpahnya: dia nggak akan pernah menikah lagi. Doni adalah yang terakhir dan yang terbaik.
Tapi ada satu hal yang Lia nggak tahu. Di saat yang sama, di apartemen mewah di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, Guntur Mahendra sedang membaca ulang itinerary Singapura.
Ia memandangi rekomendasi hadiah jam tangan untuk istri Satya Wiguna. Sebuah detail kecil yang sangat personal, sangat manusiawi, dan sangat efektif.
Guntur tersenyum. Senyum kali ini bukan mengejek, tapi penuh perhitungan. Lia Adelia memang wanita gendut yang desperate, tapi dia punya insting. Insting yang Guntur butuhkan untuk mengalahkan para musuhnya di dunia bisnis.
Guntur menutup tablet-nya. Lia Adelia akan jadi asistennya untuk waktu yang lama. Dan ia nggak akan membiarkan Lia pergi. Karena, tiba-tiba, Guntur Mahendra yang dingin itu merasa sedikit... terhibur. Sedikit penasaran. Wanita gendut yang nggak tertarik padanya ini, mungkin bisa jadi pengalih perhatian dari kesepiannya yang tak berujung. Tapi itu cuma pemikiran sesaat. Tentu saja.
Lia harus tetap profesional. Dia harus tetap menjadi tameng yang nggak menarik perhatian. Titik.
Anda Mungkin Juga Suka





