
Direktur Iblis Takut Kehilangan
Bab 3
Seminggu. Lia Adelia sudah bertahan seminggu di Bank Arta Utama, yang lebih cocok disebut Bank Neraka Utama. Dan ajaibnya, Lia masih hidup.
Selama tujuh hari itu, Guntur Mahendra menjalankan perannya sebagai Direktur Iblis dengan sangat konsisten. Dia nggak pernah datang telat, nggak pernah senyum, dan nggak pernah bicara lebih dari sepuluh kata tanpa memberikan perintah baru. Lia merasakan tekanan yang luar biasa. Tugas-tugasnya selalu di luar nalar. Kemarin, Guntur memintanya mencari tahu apa penyebab saham perusahaan fintech klien mereka anjlok 15% dalam waktu 30 menit. Lia nggak tahu apa-apa soal saham, tapi dia akhirnya berhasil, bukan dari analisis keuangan, tapi dari mencari berita di forum online yang bilang CEO perusahaan itu kedapatan selingkuh di Bali. Personal drama affects stock price. Lia belajar hal baru.
Hari ini, hari Senin. Lia sudah berdiri di mejanya sejak pukul 07:30. Dia nggak mau lagi ada drama 'terlambat lima detik'.
Lia sedang sibuk menyortir surat-surat yang masuk-semuanya harus private dan rahasia-saat pintu ruang kerja Guntur terbuka. Direktur itu keluar, mengenakan setelan jas abu-abu tua yang terlihat seharga motor matic Lia yang udah disita. Ia kelihatan tegang.
"Lia," panggil Guntur, suaranya seperti gergaji yang menggesek kayu.
"Ya, Pak?" Lia langsung berdiri, siap siaga.
"Kopi saya. Sudah kamu siapkan?"
Lia mengerutkan dahi. Sejak kapan Lia mengurus kopi? Tugas itu harusnya urusan pantry. "Maaf, Pak Guntur, saya belum sempat. Saya sedang menyortir berkas penting yang baru datang."
Guntur menatapnya tajam. "Lia. Asisten saya yang lama selalu menyiapkan kopi saya. Hanya kopi. Apa susahnya? Kamu pikir kamu dibayar untuk hanya menyortir kertas?"
Lia menahan napas. Ini dia, diskriminasi kelas pekerja yang paling menjengkelkan. Lia, seorang Asisten Direktur (meski cuma Asisten Tameng), tetap dianggap pesuruh.
"Baik, Pak. Kopi seperti apa yang Bapak inginkan?" tanya Lia, berusaha profesional.
"Kopi hitam, tanpa gula, panasnya harus pas. Jangan terlalu panas, jangan terlalu hangat. Kalau sampai salah, kamu harus ganti. Paham?"
"Paham," jawab Lia singkat. Dia segera pergi ke pantry, hatinya panas banget. Kenapa si Direktur ini harus ribet banget sih cuma gara-gara kopi?
Lia kembali ke mejanya lima belas menit kemudian, membawa kopi hitam pekat di cangkir keramik. Dia tahu Guntur pasti memperhatikan setiap gerakannya.
"Ini kopi Bapak," kata Lia, meletakkannya di sudut meja Guntur.
Guntur mengambil cangkir itu, menyesapnya sedikit. Ekspresinya masih datar. Lia menunggu, siap untuk diceramahi soal suhu yang salah atau aroma yang kurang.
"Lumayan," kata Guntur, itu adalah pujian terpanjang yang pernah Lia dengar dari mulutnya. Tapi setelah itu, ia menambahkan, "Tapi lain kali, pastikan cangkirnya nggak ada sidik jari kamu. It's distracting."
Lia mau sekali melempar tumpukan berkas padanya. Distracting? Gila. Benar-benar gila!
Sejak hari itu, menyiapkan kopi Guntur jadi salah satu tugas harian Lia. Tapi anehnya, Lia menemukan pola. Guntur nggak pernah minum kopi itu sampai habis. Selalu sisa sepertiga cangkir. Dan ia cuma minum tepat pukul 08:15 dan 15:00. Nggak lebih, nggak kurang.
Lia mulai menemukan celah di balik tembok es Guntur. Di balik semua perintahnya yang absurd, Lia menyadari Guntur itu gila keteraturan. Semua yang dia minta, sekacau apapun kelihatannya, pasti ada tujuannya.
Misalnya, dia menyuruh Lia memesan makanan dari restoran fast food yang jauh dan mahal untuk makan siangnya. Lia bingung. Kenapa nggak pesan makanan hotel mewah yang ada di bawah gedung saja?
Lia mencari tahu. Ternyata, Guntur sedang melakukan negosiasi rahasia dengan pemegang saham mayoritas restoran fast food itu, yang benci makanan mewah. Guntur cuma mau terlihat "biasa-biasa saja" di mata kliennya. Lia, dengan insting ibu rumah tangganya, menyimpulkan: Guntur nggak cuma cerdas dalam berbisnis, dia juga cerdas dalam berpura-pura. Dia memainkan peran.
Di hari lain, Lia menemukan Guntur berdiri di depan jendela kaca, menatap pemandangan kota. Lia masuk untuk menyerahkan jadwal rapat. Saat dia masuk, Guntur buru-buru membalikkan badannya, seolah ia nggak mau Lia melihat dia sedang 'melamun'.
"Ini jadwal rapat Bapak, sudah saya masukkan ke kalender digital Bapak juga," kata Lia, meletakkan tablet di meja.
"Bagus," Guntur mengambilnya. "Oh, satu lagi. Saya mau kamu carikan pengasuh anak yang bisa datang ke sini. Untuk anak-anak saya."
Lia terdiam. "Bapak sudah menikah? Maaf, saya tidak tahu."
Guntur menatapnya dengan pandangan paling dingin yang pernah ada. "Itu bukan urusan kamu. Tapi, nggak. Saya nggak menikah. Itu anak-anak sepupu saya. Mereka akan tinggal di apartemen saya selama dua minggu. Saya nggak punya waktu untuk mengurus mereka. Cari pengasuh yang profesional. Saya nggak mau dengar suara tangisan di apartemen saya."
Lia merasa kasihan. Jadi, si dingin ini ternyata punya keponakan, dan dia nggak tahu cara mengurus mereka. Dia terlihat sangat panik, meskipun ia mencoba menyembunyikannya di balik sikap arogan.
Lia mengangguk. "Saya akan carikan, Pak. Saya rasa lebih baik mencari pengasuh yang sudah punya pengalaman mengurus anak-anak, bukan cuma yang profesional. Mengurus anak kecil butuh hati, Pak, bukan cuma CV."
Guntur menyipitkan mata. "Kamu berani menggurui saya?"
Lia menelan ludah. "Bukan, Pak. Hanya saran. Saya ibu dari dua anak. Saya tahu bagaimana sulitnya mencari orang yang tulus mengurus anak. Apalagi anak yang baru ditinggal orang tuanya. Pengasuh dari agen biasa mungkin hanya melihat uang."
Guntur terdiam lama. Dia menatap Lia, kemudian perlahan menoleh ke jendela. "Terserah. Lakukan apa pun yang perlu. Tapi pastikan anak-anak itu nggak mengganggu pekerjaan saya."
Lia keluar dari ruangan, hatinya terasa sedikit lembut. Guntur Mahendra, si Dewa Es, ternyata cuma pria yang nggak tahu cara mencintai atau dicintai, apalagi mengurus anak. Lia jadi merasa punya keuntungan kecil: dia tahu urusan hati, sementara Guntur cuma tahu urusan uang.
Pencarian pengasuh nggak gampang. Guntur nggak mau pakai agen formal karena takut bocor ke media. Akhirnya, Lia memutuskan memanggil Bu Tati.
"Bu Tati, mau nggak bantu saya? Gajinya lumayan, malah lebih besar dari yang saya bayar ke Ibu," bujuk Lia.
Bu Tati, yang memang senang mengurus anak-anak, akhirnya setuju. Malam itu, Lia membawa Bu Tati ke apartemen Guntur untuk perkenalan.
Apartemen Guntur di lantai paling atas. Mewah, luas, dengan pemandangan malam kota yang spektakuler. Lia merasa dirinya benar-benar nggak pantas berada di sana.
"Ini Bu Tati, Pak. Dia bukan dari agen, tapi dia yang mengurus anak-anak saya di kontrakan. Dia orangnya tulus dan bertanggung jawab," jelas Lia pada Guntur, yang berdiri dengan angkuh di tengah ruang tamu minimalisnya.
Guntur menatap Bu Tati dari atas ke bawah. "Kamu yakin, Lia? Saya butuh yang lulusan sekolah keperawatan anak."
Bu Tati, dengan santai, menjawab, "Saya nggak lulusan sekolah, Mas. Tapi saya udah ngurus tujuh anak cucu, dan semua sehat walafiat. Kalau cuma ngurus dua bocah, saya jamin mereka nggak akan nangis. Saya juga bisa masak makanan bergizi, nggak cuma mi instan."
Guntur terdiam. Lia menahan tawa. Bu Tati memang jago dalam menghadapi orang sombong.
"Baiklah. Lia, urus kontraknya. Pastikan semua rahasia apartemen ini nggak bocor. Kamu yang bertanggung jawab," kata Guntur, kembali ke mode Direktur Dinginnya.
Saat Bu Tati dan Guntur sibuk membicarakan jadwal anak-anak sepupunya, Lia melihat ada sesuatu yang aneh. Di sudut ruang kerjanya yang sangat teratur, ada sebuah bingkai foto yang terbalik.
Rasa penasaran Lia nggak bisa dibendung. Saat Guntur sedang berbicara di telepon dengan nada galak, Lia mendekat dan membalik bingkai itu.
Di sana, ada foto seorang wanita cantik, kurus, berambut panjang, sedang tersenyum bahagia bersama Guntur. Mereka terlihat sangat muda dan sangat bahagia. Wajah Guntur di foto itu... nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Dia tertawa lepas.
Tiba-tiba, Guntur menyelesaikan teleponnya. "Lia! Apa yang kamu lakukan?!"
Lia tersentak. Dia meletakkan kembali bingkai itu. "Maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
Guntur berjalan cepat ke arah Lia, wajahnya merah padam. "Jangan pernah! Dengar saya, Lia. Jangan pernah menyentuh barang-barang pribadi saya. Kamu di sini untuk bekerja. Bukan untuk mencampuri urusan saya. Keluar sekarang!"
Lia Adelia nggak pernah melihat Guntur semarah itu. Wajahnya benar-benar menyeramkan. Lia langsung keluar dari apartemen, hatinya berdebar kencang. Dia tahu dia melanggar batas.
Tapi Lia juga tahu satu hal: Guntur Mahendra yang sekarang, adalah pria yang hancur. Wanita di foto itu pasti adalah masa lalunya, masa lalu yang membuatnya menjadi robot es seperti sekarang. Lia jadi sedikit kasihan.
Seminggu kemudian, keadaan di kantor sedikit berubah. Kehadiran Bu Tati di apartemen Guntur ternyata membawa kedamaian. Anak-anak sepupu Guntur nggak pernah menangis lagi.
Guntur, tanpa sadar, mulai ketergantungan pada Lia. Bukan cuma soal pekerjaan, tapi soal hal-hal kecil yang Lia atur tanpa perlu diperintah.
Misalnya, Lia tahu Guntur nggak suka sayur brokoli di makan siangnya. Lia akan menelepon restoran dan meminta koki menggantinya dengan wortel, sebelum Guntur sempat komplain. Lia juga tahu, Guntur sering sakit kepala kalau nggak minum air putih yang cukup. Lia meletakkan botol air mineral di sebelahnya, setiap dua jam.
Guntur nggak pernah berterima kasih. Dia cuma menatap Lia, seolah bilang, saya tahu kamu yang melakukannya.
Suatu sore, jam sembilan malam. Lia sedang lembur, menyelesaikan laporan yang harus Guntur bawa ke luar negeri. Guntur sendiri masih di ruangannya, terlihat stres.
Tiba-tiba, Guntur keluar dari ruangannya, kemejanya sudah agak kusut, dasinya longgar. Lia hampir nggak percaya melihat Guntur dalam mode 'manusia biasa'.
"Lia, sudah jam segini. Kenapa kamu nggak pulang?" tanyanya, nadanya sedikit lebih rendah dari biasanya.
"Laporannya harus selesai malam ini, Pak. Saya sudah janji," jawab Lia.
Guntur berjalan ke meja pantry kecil di sudut ruangan Lia. Dia membuat kopi lagi. Tapi kali ini, dia membuat dua cangkir.
Dia meletakkan satu cangkir kopi di meja Lia. "Minum. Itu kopi. Bukan racun."
Lia memandangi kopi itu. Kopi hitam tanpa gula. Sama persis seperti punya Guntur.
"Makasih, Pak. Tapi... saya nggak suka kopi hitam tanpa gula. Itu terlalu pahit buat saya," kata Lia jujur.
Guntur mengangkat alisnya. "Pahit? Hidup ini memang pahit, Lia. Kamu harus terbiasa."
"Justru itu, Pak. Karena hidup sudah pahit, kita butuh hal-hal manis untuk menyeimbangkan. Saya sukanya kopi dengan banyak susu dan sedikit gula. Atau, lebih baik, teh manis hangat," balas Lia, sedikit berani.
Guntur terdiam lagi. Ekspresi di wajahnya... itu adalah perpaduan antara terkejut dan tertarik. Dia nggak pernah bertemu orang yang berani menantang filosofi hidupnya yang pahit.
"Baiklah. Kalau begitu, buang kopi itu. Dan lain kali, jangan sampai saya melihat kamu lembur lagi tanpa ada kopi manis di mejamu," perintah Guntur, nada arogannya kembali, tapi kali ini terdengar lebih seperti perhatian yang terselubung.
Lia tersenyum tipis. "Siap, Pak. Besok saya bawa bekal teh manis dari rumah."
Guntur nggak menjawab. Dia kembali ke ruangannya.
Lia menatap cangkir kopi hitam itu. Dia nggak membuangnya. Dia meminumnya sedikit, hanya untuk merasakan bagaimana rasa pahit yang disukai Guntur. Sambil minum, dia berpikir.
Guntur Mahendra itu nggak sepenuhnya dingin. Dia hanya terlalu takut untuk menjadi hangat. Dia takut di-khianati lagi. Dia takut diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai uang.
Lia, yang sudah bersumpah nggak mau menikah lagi, justru menemukan dirinya perlahan mulai mengerti si Direktur Galak ini. Dia melihat kesamaan di antara mereka: sama-sama hancur karena masa lalu, dan sama-sama membangun tembok tinggi. Bedanya, tembok Lia dibangun dari duka, tembok Guntur dibangun dari trauma dan kesombongan.
Lia nggak tahu kenapa Guntur memilihnya. Tapi dia tahu, kenapa dia bertahan.
Gaji besar, itu pasti. Tapi yang lebih penting, Lia Adelia yang gendut dan janda, di kantor itu merasa dirinya berharga. Guntur Mahendra, si Dewa Es, membutuhkan kemampuannya. Dan kebutuhan itu, terasa jauh lebih memuaskan daripada pujian yang tulus.
Malam itu, saat Lia naik taksi yang dibayarkan Guntur (dengan uang dari klip uang yang selalu Lia kembalikan sisanya), dia melihat ke luar jendela. Dia tersenyum.
Di kantor, Guntur Mahendra sedang membaca background check Lia yang Lia abaikan: riwayat kesehatan, alamat kontrakan, dan catatan sekolah Doni.
Ia tahu Lia Adelia adalah orang yang paling nggak mungkin dia sukai di dunia ini. Tapi ia juga tahu, ia nggak bisa bekerja tanpa Lia. Ketergantungan itu menyebalkan. Ketergantungan itu berisiko. Tapi Lia Adelia, si plus size yang efisien, adalah satu-satunya orang yang membuat hidup Guntur yang kacau ini terasa sedikit... terkendali.
Ia membuang berkas Lia ke tempat sampah. Kemudian, tanpa sadar, ia mengambil ponselnya, dan diam-diam mencari tahu di mana restoran yang punya teh manis yang enak. Cuma untuk memastikan, tentu saja.
Anda Mungkin Juga Suka





