
Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
Bab 2
Pagi itu, mentari Jakarta terasa menyengat, kontras banget sama hati Anjani yang masih dingin ketakutan. Setelah Sakti pergi subuh tadi, Anjani nggak bisa tidur. Dia cuma duduk di dipan kamarnya, memegang jaket kulit Sakti. Jaket ini sekarang jadi satu-satunya jembatan antara dunianya yang sederhana dan dunia Sakti yang penuh intrik.
Menikah siri. Kata-kata itu berputar terus di kepala Anjani. Itu adalah impian terliar, tapi cara mencapainya terasa salah. Sakti kehilangan rumahnya, ancamannya ke Papanya itu pasti bakal ada konsekuensinya. Anjani merasa egois. Dia merasa dirinya adalah penyebab kehancuran Sakti.
"Anjani! Udah bangun? Ada paket buat kamu!" Suara Mbak Rini, salah satu pengurus panti, mengagetkan Anjani.
Anjani cepat-cepat menyembunyikan jaket itu di bawah bantal dan membuka pintu. Di tangannya, Mbak Rini memegang sebuah kotak kardus kecil dan tas belanja kertas mewah.
"Dari siapa, Mbak? Aku nggak pesan apa-apa," tanya Anjani bingung.
"Ada kurir yang bilang ini dari Tuan Sakti. Buruan buka!" Mbak Rini nyengir.
Dengan tangan gemetar, Anjani membuka kotak itu. Di dalamnya ada gaun putih sederhana, anggun, tapi nggak berlebihan. Kainnya jatuh lembut, pas banget buat upacara kecil. Di tas belanja yang lain, ada sepatu flat cantik dan sebuah clutch kecil. Bersama semua itu, terselip selembar surat tulisan tangan Sakti:
Sayang, pakai ini hari ini. Aku sudah atur semuanya. Kamu cuma perlu hadir. Aku jemput jam 4 sore. Aku tahu kamu takut, tapi ini demi kita. Nggak ada kata mundur. Aku cinta kamu. Sampai jumpa.
Air mata Anjani menetes. Nggak peduli seberapa besar tekanan yang Sakti terima, dia masih sempat mikirin detail kecil ini. Gaun ini, bukan gaun pengantin mewah dari desainer mahal, tapi gaun ini terasa lebih bernilai karena dikirim dari hati Sakti yang sedang berjuang sendirian.
Siang itu, Anjani menghabiskan waktu dengan merenung, berdoa, dan bicara dengan beberapa anak panti yang dia asuh. Dia nggak menceritakan apa-apa, tapi sentuhan tangan anak-anak itu memberinya kekuatan. Mereka adalah alasan kenapa panti asuhan ini harus aman, dan kalau pernikahannya dengan Sakti adalah cara untuk memastikan perlindungan itu, dia akan melakukannya. Dia akan berdiri tegak di samping Sakti.
Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi jauh dari pusat kota, Sakti duduk tegang di hadapan sahabatnya, Rio. Rio adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh cerita. Dia seorang pengacara muda, cerdas, dan yang paling penting, punya kesetiaan yang nggak bisa dibeli uang Hardian Valentino.
"Gila, Sakti. Kamu benar-benar nekat," ujar Rio sambil menyeruput kopinya. "Dalam 12 jam, kamu berhadapan dengan Ayahmu, diusir, dan sekarang kamu mau nikah siri? Aku salut sama nyali kamu."
Sakti nggak tertawa. "Nggak ada pilihan, Yo. Begitu aku keluar dari rumah itu, aku tahu Papaku akan bergerak. Kalau aku nggak ikat Anjani, dia akan cari cara buat memisahkan kami secara paksa. Bahkan mungkin buat Anjani terancam."
"Oke, aku ngerti. Makanya aku sudah siapin semuanya. Aku sudah kontak penghulu dan dua saksi yang benar-benar bisa dipercaya. Tempatnya di rumah Eyangku di Bogor. Kosong, terpencil, dan aman dari radar siapa pun."
"Aman dari radar Papaku?" tanya Sakti memastikan.
"Sangat aman. Hardian Valentino nggak akan pernah menyangka kamu kabur ke Bogor. Dia pasti mikir kamu sembunyi di Bali atau ke luar negeri." Rio menunjukkan dokumen singkat. "Ini perjanjian pranikah sederhana. Jaga-jaga kalau Hardian menyerang dari sisi hukum. Aku tekankan, kamu nggak punya aset, dan Anjani nggak menuntut aset apa pun. Jadi nggak ada yang bisa dia gugat."
Sakti tersenyum tipis. "Makasih, Yo. Kamu benar-benar malaikat pelindungku."
"Malaikat pelindung yang akan dimusuhi Hardian seumur hidup," canda Rio, tapi kemudian ekspresinya berubah serius. "Dengar, Sakti. Begitu kamu nikah siri, ini nggak bisa dibatalkan seenaknya. Kamu resmi jadi suami Anjani di mata agama. Kamu siap dengan semua tanggung jawab ini? Kamu udah kehilangan segalanya lho."
Sakti menatap keluar jendela. Hujan mulai turun rintik-rintik. "Aku memang kehilangan uang, rumah, dan status. Tapi aku nggak kehilangan diriku, Yo. Dan aku dapat Anjani. Itu lebih dari cukup."
"Kalau begitu, bagus. Sekarang, fokus. Jam 4 sore kita jemput Anjani, jam 6 upacara, jam 7 kamu bisa bulan madu sederhana di rumah Eyang. Aku akan jaga pintu gerbang di Jakarta. Aku cuma butuh satu hal, janji sama aku: begitu kakek kamu membaik, kamu harus cari cara untuk mengakui Anjani. Jangan biarin dia terus-terusan jadi istri yang tersembunyi."
"Aku janji, Rio."
Tepat pukul 4 sore, Sakti menjemput Anjani. Dia nggak datang dengan mobil sport mewahnya yang biasa, tapi dengan mobil Rio yang nggak mencolok. Sakti terlihat berbeda. Bajunya sederhana, tapi matanya memancarkan ketenangan.
Anjani sudah siap. Melihat Anjani dalam balutan gaun putih itu, semua keraguan Sakti hilang. Dia cantik, murni, dan benar-benar tak ternilai harganya.
"Hai, calon istriku," sapa Sakti lembut, meraih tangan Anjani.
"Hai, calon suamiku," balas Anjani, pipinya bersemu merah.
Mereka berdua naik ke mobil, dan Rio langsung mengemudi menuju Bogor. Perjalanan itu diisi dengan obrolan ringan, tapi di balik tawa kecil mereka, ada ketegangan yang menggantung. Mereka tahu, mereka sedang mempertaruhkan semua yang mereka punya.
Pukul enam kurang lima menit, mereka tiba di rumah Eyang Rio. Sebuah rumah kayu bergaya lama yang dikelilingi kebun rindang. Rumah itu terasa hangat dan jauh dari hiruk pikuk kota.
Di teras, penghulu dan dua saksi sudah menunggu. Semuanya berlangsung cepat, khidmat, dan penuh haru. Nggak ada kemewahan, nggak ada pesta besar, cuma janji suci yang disaksikan oleh Tuhan dan beberapa orang terpercaya.
Saat Sakti mengucapkan ijab kabul, suaranya mantap dan jelas. Anjani menangis, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap-luap. Di tengah semua ancaman dan tekanan, dia kini resmi menjadi istri dari pria yang sangat dicintainya. Mereka sudah melalui garis api pertama.
Setelah upacara selesai, Anjani dan Sakti bertukar cincin sederhana yang dibeli Sakti di pinggir jalan. Cincin perak tanpa berlian, tapi bagi mereka, ini lebih berharga daripada cincin warisan keluarga Valentino.
"Selamat, Nyonya Sakti Valentino," bisik Sakti, mencium kening Anjani lama.
Anjani memeluknya erat-erat. "Terima kasih sudah memilih aku, Sakti."
Mereka berdua duduk di kursi rotan di teras, menikmati sisa cahaya senja yang merayap turun. Rio dan para saksi sudah pamit, meninggalkan mereka berdua untuk menikmati momen pertama sebagai suami istri.
Sakti merasa lega. Beban seberat gunung di pundaknya seolah terangkat. Mereka berhasil. Mereka menang. Setidaknya, untuk malam ini.
Tiba-tiba, ponsel Sakti yang diletakkan di meja bergetar hebat. Nomor yang sama seperti semalam: Ayahnya.
Sakti menghela napas. "Pasti dia mau marah lagi. Aku abaikan saja."
"Angkat, Sakti. Siapa tahu penting. Jangan biarkan dia berpikir dia menang dengan mengabaikanmu," desak Anjani.
Sakti mengangguk, mengambil ponselnya dengan enggan. "Ya, Pa?"
Nggak ada amarah di seberang sana. Yang ada cuma suara yang tercekat, nyaris menangis-suara yang nggak pernah Sakti dengar dari Ayahnya seumur hidupnya.
"Sakti! Kakek... Kakek kolaps lagi! Lebih parah dari kemarin. Dia di ICU sekarang! Datang ke Rumah Sakit Medika Sentosa!"
Jantung Sakti langsung berdebar kencang. Dia melompat berdiri, wajahnya tegang. "Kenapa bisa? Bukannya dia stabil?"
"Jantungnya melemah drastis! Dokter bilang dia cuma punya waktu kurang dari 24 jam kalau nggak ada transplantasi segera. Sakti! Kakek..." Suara Hardian putus-putus.
"Aku ke sana sekarang!" Sakti memutus panggilan, langsung meraih kunci mobil.
"Ada apa? Kenapa Kakek?" tanya Anjani, ikut berdiri, matanya penuh kekhawatiran.
"Kakek kolaps. Aku harus pergi, Anjani. Aku minta maaf. Ini... ini nggak bisa ditunda. Tolong, kamu aman di sini. Aku akan segera kembali."
Sakti baru mau berlari ke mobil saat ponselnya bergetar lagi. Kali ini, pesan teks dari Ayahnya:
Jangan bodoh. Aku tahu kamu nikah siri. Urusan itu belakangan. Kakekmu butuh donor jantung. Tiba-tiba ada donor. Tapi ada syarat. Datang ke rumah sakit sekarang! Nyawa Kakekmu di tanganmu!
Sakti membeku di tempatnya. Donor tiba-tiba? Syarat? Ayahnya pasti tahu tentang pernikahannya, tapi kenapa dia nggak marah? Kenapa dia malah fokus ke kakek?
Sakti mengemudi secepat kilat. Dia meninggalkan Anjani sendirian, di malam pertama mereka sebagai suami istri, dengan sebuah janji yang baru saja terukir dan sebuah ancaman baru yang bahkan lebih mengerikan.
Rumah Sakit Medika Sentosa, lantai VIP. Hardian dan Ibu Diana duduk di kursi tunggu, wajah mereka tampak kacau dan rapuh. Untuk pertama kalinya, Sakti melihat Papanya nggak seperti CEO perusahaan besar, tapi cuma seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.
"Pa! Bagaimana Kakek?" tanya Sakti, napasnya tersengal.
"Dokter sedang berusaha menstabilkannya. Tapi dia harus segera dioperasi, Sakti. Jantungnya nggak kuat lagi." Hardian menarik Sakti ke samping, suaranya pelan dan mendesak.
"Apa maksud pesan itu, Pa? Donor apa? Syarat apa?"
Wajah Hardian mengeras, kembali pada wujud aslinya yang keras. "Kamu tahu Tuan Wijaya? Sahabat Kakekmu yang dulu partner bisnis kita?"
Sakti mengangguk. "Tahu. Beliau baru meninggal, kan?"
"Tuan Wijaya sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ sejak lama. Ternyata, jantung beliau cocok. Tapi sebelum meninggal, beliau buat surat wasiat dengan syarat yang nggak masuk akal." Hardian menatap Sakti tajam. "Transplantasi ini cuma bisa dilakukan kalau kamu menikahi cucunya, Sakti. Gadis yang bernama Mala."
Dunia Sakti langsung berhenti berputar. Mala. Gadis yang dia kenal sejak kecil, yang sering bermain dengannya di rumah Kakeknya. Gadis yang selalu dia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang dia harus menikahi Mala?
"Apa-apaan ini, Pa?! Ini gila! Kenapa harus aku?" Sakti nggak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Karena itu wasiatnya! Tuan Wijaya tahu kamu cucu kesayangan Kakekmu. Dia bilang, dia ingin memastikan cucunya punya masa depan yang aman dengan keluarga Valentino. Dia nggak percaya uang, dia percaya ikatan keluarga!" Hardian mencengkeram bahu Sakti. "Ini bukan lagi soal bisnis, Sakti. Ini tentang nyawa Kakekmu! Jantung itu ada di sini, siap digunakan! Tapi kalau kamu bilang nggak, kita kehilangan kesempatan ini. Kakekmu akan meninggal besok!"
Sakti merasa mual. Baru beberapa jam lalu dia menikahi Anjani, berjanji untuk menjadikannya satu-satunya. Sekarang, Ayahnya memaksanya melanggar janji itu demi nyawa Kakek.
"Aku nggak bisa, Pa! Aku nggak bisa menikahi Mala! Aku sudah menikah!" desis Sakti.
"Aku tahu kamu nikah siri dengan gadis panti asuhanmu itu!" Hardian berbisik, matanya menajam, penuh ancaman. "Aku tahu kamu pikir kamu menang. Tapi kamu salah. Aku nggak membatalkan donasi panti asuhan itu, bukan karena ancamanmu soal rahasia bisnis. Aku nggak mau tanganmu kosong saat menghadapi situasi ini, Sakti. Kamu harus punya sesuatu yang bisa aku rebut darimu."
Hardian mendekatkan wajahnya ke telinga Sakti. "Kalau kamu menolak menikahi Mala, besok pagi Kakekmu meninggal. Dan setelah itu, aku akan pastikan gadis panti asuhanmu itu, si Anjani, akan hilang dari muka bumi ini. Aku akan buat dia seolah nggak pernah ada. Kamu pilih, Sakti. Nyawa Kakekmu, atau keselamatan istrimu. Kamu harus jadi suami Mala, atau kamu akan jadi duda yang nggak punya Kakek."
Ancaman itu adalah pukulan telak. Sakti nggak cuma harus memilih antara Kakek dan Anjani. Dia harus memilih antara nyawa Kakeknya dan keselamatan Anjani. Hardian nggak main-main. Dia akan menggunakan segala cara.
Sakti memejamkan mata, membiarkan sakit itu menyebar di dadanya. Dia baru saja bersumpah setia. Kini, sumpah itu harus dikhianati dalam hitungan jam.
"Baik, Pa," kata Sakti, suaranya hampa. "Aku akan menikahi Mala. Tapi ingat, ini bukan pernikahan. Ini adalah perjanjian darah demi Kakek. Dan kamu janji, Anjani akan aman."
Hardian tersenyum dingin. "Dia akan aman, selama kamu menjalankan peranmu dengan baik, Sakti. Sekarang, ayo kita temui Mala dan keluarganya. Malam ini juga kita harus sepakati tanggal pernikahan. Besok, Kakekmu harus dioperasi."
Sakti mengikuti langkah ayahnya, berjalan menuju ruang tunggu lain. Gaun putih Anjani, janji suci yang baru terucap, dan ciuman di bawah senja, semuanya terasa seperti mimpi yang baru saja dia hancurkan sendiri. Malam pertama pernikahannya, dia memilih istri kedua, demi nyawa dan keselamatan.
Anda Mungkin Juga Suka





