Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu

Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu

Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langkah Sakti terasa berat, kayak menapaki dasar lautan. Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik itu seolah jadi panggung sandiwara paling menyedihkan. Baru beberapa jam lalu dia resmi jadi suami Anjani, sekarang dia dipaksa untuk 'melamar' perempuan lain, demi nyawa dan keselamatan.

Ayahnya, Hardian, berjalan mendahului dengan langkah penuh kemenangan yang tersembunyi di balik kekhawatiran palsu. Hardian tahu, dia sudah menang. Dia berhasil menemukan titik lemah Sakti: Kakek dan Anjani.

Mereka tiba di ruang tunggu VIP lain. Di sana sudah duduk dua orang: paman Mala, Tuan Dharma, dan Mala sendiri. Mala. Gadis yang selalu Sakti anggap adiknya. Mala terlihat rapuh dalam balutan gaun hitam sederhana, matanya sembab karena baru kehilangan kakeknya, Tuan Wijaya.

Melihat Sakti, Mala langsung berdiri. Senyum tipis yang dipaksakan terukir di wajahnya. "Sakti? Aku nggak nyangka kamu datang."

Sakti membalas senyum itu, senyum palsu yang terasa kayak mengiris bibirnya sendiri. Dia menyalami Tuan Dharma, yang terlihat letih dan penuh kesedihan.

"Tuan Dharma, saya ikut berduka atas kepergian Tuan Wijaya," ujar Sakti, nadanya tulus.

"Terima kasih, Sakti. Kami sangat menghargai kehadiranmu. Terutama dalam situasi Kakekmu sekarang ini," balas Tuan Dharma, suaranya pelan.

Hardian langsung mengambil alih kendali, duduk di sofa terdekat seolah dia adalah hakim agung. "Baik, karena waktu kita sangat sempit, kita langsung saja ke intinya. Tuan Wijaya adalah sahabat lama Ayah saya. Wasiatnya harus kita hormati. Kita di sini bukan untuk merundingkan bisnis, tapi merundingkan nyawa. Nyawa Kakek saya, dan harga diri keluarga Anda, Tuan Dharma."

Hardian menoleh ke Sakti. "Sakti, jelaskan rencanamu pada mereka. Kamu harus meyakinkan Tuan Dharma bahwa kamu serius menjalankan wasiat Tuan Wijaya."

Sakti menelan ludah. Ini adalah bagian yang paling sulit. Dia harus berakting, meyakinkan orang-orang yang dia hormati bahwa dia mencintai Mala, padahal hatinya remuk redam memikirkan Anjani yang ditinggal sendirian di Bogor.

"Mala... Tuan Dharma," Sakti mulai bicara, berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku nggak bisa bohong, situasi ini sangat mendadak. Tapi aku kenal Mala sejak lama. Kami tumbuh bersama. Kakekku... dia sudah seperti segalanya bagiku. Kalau memang ini satu-satunya syarat agar Kakekku bisa selamat, aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Mala."

Mala menatap Sakti, matanya penuh tanda tanya. Dia tahu betul Sakti nggak pernah menunjukkan ketertarikan romantis padanya. Mereka benar-benar murni seperti kakak dan adik.

"Sakti, aku... aku kaget. Kita, kan, sudah kayak keluarga. Apa... apa kamu yakin?" tanya Mala, suaranya ragu.

Sakti memaksakan senyum yang lebih lebar. "Aku yakin, Mala. Aku ingin Kakekku hidup. Dan aku juga ingin melihat kamu bahagia. Mungkin ini cara Tuhan menyatukan kami setelah semua yang terjadi." Astaga, aku terdengar kayak aktor murahan, batin Sakti benci pada dirinya sendiri.

Tuan Dharma terlihat lega, tapi juga sedikit curiga. Dia melirik Hardian, lalu kembali ke Sakti. "Baik, Sakti. Kami menghargai pengakuanmu. Kami tahu kamu berasal dari lingkungan yang berbeda. Tapi Mala adalah harta terakhir yang ditinggalkan Wijaya. Kami mau pernikahan ini dilakukan secara resmi dan terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi."

"Tentu saja!" seru Hardian cepat. "Kami sudah menyiapkan segalanya. Pernikahan akan dilangsungkan besok lusa. Cepat, tapi megah. Kami akan menggunakan Balai Agung. Sakti akan mengurus semua dokumen. Setelah itu, Kakek bisa dioperasi."

Sakti memotong. "Tunggu, Pa. Besok lusa? Itu terlalu cepat."

"Nggak ada kata terlalu cepat, Sakti! Kakekmu nggak punya waktu!" desis Hardian, matanya memperingatkan Sakti untuk nggak membantah.

Sakti tahu dia harus mundur dari perdebatan waktu. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dia kompromikan. Dia menatap Mala lurus-lurus.

"Mala, Tuan Dharma. Ada satu hal yang harus aku jelaskan, ini tentang perjanjian kita," kata Sakti, mencoba mencari kata yang tepat. Dia nggak bisa melibatkan Mala dalam kebohongan.

"Perjanjian apa, Nak?" tanya Tuan Dharma.

Sakti menarik napas. "Pernikahan ini... aku ingin menjamin bahwa Mala akan mendapatkan perlindungan dan keamanan penuh dari keluarga Valentino. Aku akan menjaganya, menghormatinya. Tapi aku juga harus jujur. Aku minta maaf, Mala. Aku nggak bisa menjanjikan hati aku seutuhnya. Paling nggak, nggak untuk saat ini."

Mala terkejut. Tuan Dharma mendengus nggak senang, sementara Hardian langsung menyela.

"Sakti! Jangan bicara omong kosong! Tentu saja kalian akan saling mencintai setelah menikah!" Hardian mencoba menutupi kejujuran Sakti.

"Nggak, Pa. Biarkan aku bicara," potong Sakti tegas. Dia menatap Mala lagi. "Mala, aku butuh kamu untuk peran ini. Setelah Kakekku pulih, kalau kamu mau, kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik, dengan perceraian. Tapi selama kita menikah, aku akan memberimu semua yang kamu butuhkan, kecuali... ya, kamu tahu. Kehidupan pernikahan yang normal. Aku harap kamu mengerti."

Mala, yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya. Di matanya nggak ada marah, cuma kesedihan yang mendalam. Dia mengangguk perlahan. "Aku mengerti, Sakti. Aku tahu kamu cuma ingin Kakekmu selamat. Aku akan menikahimu. Aku... aku hanya ingin Kakekku (Tuan Wijaya) tenang, dan kamu nggak perlu khawatir. Aku akan jalankan peran ini. Tapi sebagai imbalannya, aku mau kamu janji, kamu akan selalu terbuka tentang apa pun yang kamu rasakan, Sakti. Jangan pernah bohong padaku."

Sakti merasa tertampar oleh kemurahan hati Mala. Dia baru saja berbohong tentang perasaannya, tapi Mala memintanya untuk jujur. "Aku janji, Mala. Aku akan berusaha jujur sebisaku."

Tuan Dharma, walau nggak sepenuhnya puas, akhirnya mengangguk. "Baik. Kalau Mala sudah setuju, kami setuju. Besok lusa, di Balai Agung. Tapi ingat, Valentino. Kalian nggak bisa main-main dengan pernikahan ini."

Hardian tersenyum lebar. "Sempurna. Aku akan urus surat-suratnya. Sakti, kamu temui Kakek sebentar. Setelah itu, kamu pulang, dan jangan sampai aku lihat kamu berkeliaran di dekat panti asuhan itu lagi. Paham?"

Sakti nggak menjawab, dia cuma mengangguk kaku.

Sakti masuk ke ruang ICU. Kakeknya terbaring lemah, penuh selang dan kabel. Melihat Kakeknya dalam kondisi itu, semua rasa benci pada Ayahnya, semua rasa bersalah pada Anjani, seolah teredam oleh rasa takut kehilangan.

Sakti meraih tangan Kakeknya yang dingin. "Kakek, ini Sakti. Aku janji, Kakek akan baik-baik saja. Aku akan lakukan apa pun. Besok lusa, jantung baru Kakek akan ada di sini. Aku sudah urus semuanya, Kek. Kakek harus kuat, ya. Aku cinta Kakek."

Dia mencium tangan Kakeknya, air matanya menetes. Ini adalah pengorbanan terbesarnya. Dia baru saja menjual kebahagiaannya sendiri demi menyelamatkan orang yang dia cintai.

Setelah menemui Kakeknya, Sakti meninggalkan rumah sakit. Hardian sudah menyiapkan sebuah flat kecil di pusat kota untuk Sakti tinggali sampai pernikahan dengan Mala. Semacam pembuangan yang nyaman.

Sakti mengemudi menuju flat itu, tapi mobilnya secara refleks berbelok ke arah Bogor. Dia nggak tahan. Dia harus melihat Anjani. Dia harus minta maaf, meskipun dia nggak bisa menjelaskan apa-apa.

Sakti tiba di rumah Eyang Rio pukul 10 malam. Lampu di teras masih menyala. Anjani, yang ternyata nggak tidur, langsung berlari ke arahnya begitu melihat mobil Sakti.

"Sakti! Kenapa baru datang? Aku khawatir banget! Bagaimana Kakekmu?" Anjani langsung memeluk Sakti, erat, penuh lega.

Sakti membalas pelukannya, tapi pelukan itu terasa seperti siksaan. Baru beberapa jam lalu dia memeluk gadis ini sebagai istri, sekarang dia datang sebagai calon suami orang lain.

"Kakek... Kakek stabil. Dia akan dioperasi besok lusa," jawab Sakti, berusaha menjaga suaranya agar nggak bergetar.

"Syukurlah! Aku terus berdoa buat Kakekmu. Jadi, syukurlah operasinya bisa berjalan," kata Anjani, matanya bersinar.

"Anjani, aku... aku harus jujur sama kamu soal satu hal," ujar Sakti, menjauhkan Anjani sedikit agar bisa menatap matanya.

Anjani mengerutkan kening. "Jujur apa, Sakti?"

Ini dia. Momen yang paling dia takuti. Dia harus membuat Anjani menjauh, tapi dia nggak boleh menyebut nama Mala atau pernikahan kedua. Dia harus melindungi Anjani.

"Anjani, tentang operasi Kakek. Papaku... Papaku menggunakan momen ini untuk menyerangku. Dia tahu kita nikah siri. Dia tahu dia nggak bisa membatalkan itu. Tapi dia punya satu kartu truf lagi." Sakti menatap Anjani dengan tatapan penuh keputusasaan. "Dia bilang, dia akan mencelakai kamu. Dia nggak akan membatalkan donasi panti, tapi dia akan menggunakan kekuatannya untuk membuat hidup kamu... nggak nyaman. Ancaman yang jauh lebih pribadi."

Anjani pucat. "Mencelakai aku? Kenapa dia begitu jahat?"

"Dia tahu kamu adalah kelemahanku. Dan dia membuat kesepakatan denganku. Aku harus menjauh dari kamu, menunjukkan bahwa aku sudah 'menyerah' pada tuntutan keluarga, dan berjanji akan menjalani hidup yang dia mau." Sakti berbohong, memutarbalikkan fakta. Dia membuang bagian Mala dan wasiat, dan menggantinya dengan kebohongan yang lebih aman.

"Menjalani hidup yang dia mau? Maksudnya... menikahi Tifany?" tanya Anjani, suaranya tercekat.

Sakti menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak akan menikahi Tifany. Aku nggak pernah setuju dengan itu. Tapi aku harus... aku harus pindah. Aku harus putus komunikasi dengan kamu secara total untuk sementara waktu. Paling nggak, sampai Kakek pulih dan aku bisa mendapatkan pijakan sendiri untuk melawannya."

Anjani menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir. "Nggak... nggak mungkin, Sakti. Baru beberapa jam lalu kita menikah! Kamu bilang kita akan hadapi bersama!"

"Kita hadapi ini dengan cara ini! Ini adalah taktikku! Kalau Papaku melihat kita berjuang bersama, dia akan semakin keras menyerang! Kalau dia melihat aku 'menyerah', kalau dia melihat aku 'sendirian', dia akan mengendurkan pengawasan. Itu adalah satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan kamu, Anjani. Aku nggak peduli kehilangan uang, tapi aku nggak akan membiarkan dia menyentuh sehelai rambut pun di kepala kamu."

Sakti meraih tangan Anjani, meletakkan cincin perak mereka di telapak tangannya. "Simpan ini. Jangan pakai. Jangan kontak aku. Kalau kamu dengar rumor apa pun tentang aku, anggap itu kebohongan yang sengaja dibuat Papaku untuk menekan aku."

Anjani terisak, memeluk Sakti seerat mungkin, seolah itu adalah pelukan terakhir mereka. Dia nggak tahu, di balik pelukan itu, Sakti sudah menancapkan pisau pengkhianatan di punggung mereka berdua.

"Berapa lama, Sakti? Sampai kapan aku harus pura-pura kamu nggak ada?" bisik Anjani di bahu Sakti.

Sakti memejamkan mata. Dia nggak bisa bilang 'sehari' atau 'seminggu'. Karena pernikahan dengan Mala akan berlangsung besok lusa.

"Sampai Kakekku pulih total. Mungkin sebulan. Mungkin dua bulan. Begitu aku bebas dari ancaman Papa, aku akan datang menjemput kamu. Kita akan kabur ke tempat yang nggak akan pernah bisa dia temukan," janji Sakti, janji palsu yang dia ucapkan demi keselamatan Anjani.

Anjani akhirnya melepaskan pelukan itu, air matanya membanjiri pipi. "Aku percaya sama kamu, Sakti. Tapi kalau kamu sampai... kalau kamu sampai benar-benar menikahi perempuan lain, aku nggak akan pernah memaafkan kamu."

Sakti nggak sanggup menatap mata Anjani. Dia cuma bisa mencium keningnya, lama, penuh penyesalan. Dia tahu dia sudah menjadi pengkhianat, tapi dia harus meyakinkan Anjani bahwa ini demi kebaikan mereka.

"Jaga diri, Anjani. Aku cinta kamu. Sampai bertemu lagi."

Sakti berbalik, berlari ke mobil, nggak berani menoleh lagi. Dia nggak bisa membiarkan Anjani melihat betapa hancurnya dia. Dia meninggalkan Anjani sendirian, menangis, dengan janji kosong dan sebuah cincin perak di genggamannya.

Saat mobil Sakti menjauh, Anjani berdiri di sana, di bawah rembulan, hati terbelah. Dia percaya pada Sakti, tapi dia nggak bisa menghilangkan firasat buruk yang menggerogoti. Firasat bahwa pengorbanan kali ini jauh lebih besar dan lebih menyakitkan daripada yang Sakti jelaskan.

Sementara itu, Sakti mengemudi kembali ke flat barunya, memukul setir berulang kali. Dia membenci Hardian. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri, yang sudah menjadi pengecut dan pembohong. Besok lusa, dia akan menjadi suami dari dua wanita. Satu di mata Tuhan, satu di mata dunia. Dan dia tahu, badai yang sesungguhnya belum dimulai. Malam itu, Sakti tidur dengan rasa bersalah yang menusuk, seorang suami yang baru menikah tapi sudah mengkhianati janji sucinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel DINIKAHI KONGLOMERAT
9.3
Sinta menghadapi cobaan berat setelah menerima lamaran Ashraf, sang pewaris kaya. Selain teror misterius yang menuduhnya memakai guna-guna, ia harus menelan hinaan kejam dari saudara sepupunya karena status sosialnya yang rendah. Meski ibunya menangis menyesali kemiskinan mereka, Sinta tetap tegar dan beriman. Ia percaya bahwa kehormatan sejati datang dari Tuhan, bukan sekadar harta atau pendidikan, sembari berharap restu tulus sang ibu menyertai langkahnya.
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Demi melunasi utang orang tuanya kepada mucikari, Madona nekat menjebak pengacara bernama Ardan demi uang 500 juta rupiah. Namun, rencana tersebut berbalik menjadi petaka bagi Madona saat video skandal mereka justru membawanya ke dalam masalah besar. Alih-alih mendapatkan harta, ia justru terkurung di kediaman Ardan. Di tengah situasi penuh tekanan ini, akankah benih cinta mulai tumbuh, ataukah hanya rasa benci yang akan mewarnai hubungan mereka?
Sampul Novel Luka Pernikahan
8.2
Bagi Risma, menjadi istri berbakti adalah sumber kebahagiaan, namun pengabdiannya justru dikhianati oleh Kendra. Tanpa izin, sang suami melakukan poligami dan baru membawa istri mudanya, Eva, pulang saat kehamilan wanita itu menginjak lima bulan. Kendra berdalih keputusannya dipicu oleh Risma yang belum memberi keturunan meski baru menikah dua tahun. Kini, Risma terjepit di antara pilihan sulit: menerima kehadiran madunya atau bangkit melawan ketidakadilan ini.
Sampul Novel Luka Sebuah Pengkhianatan
9.6
Trauma mendalam menghantui Celina setelah pernikahan dengan Ahsan hancur akibat perselingkuhan sang suami dengan sahabatnya. Lima tahun menjanda, ia menutup hati meski banyak pria mencoba mendekat. Namun, Abdar tetap bertahan meski terus ditolak dengan kasar. Ia telah mencintai Celina dengan tulus sejak sebelum wanita itu menikah. Di tengah dinginnya hati Celina yang tak lagi percaya cinta, mampukah kesetiaan Abdar meruntuhkan benteng pertahanan tersebut?
Sampul Novel Menikahi Lelaki Brengsek
8.9
Kehidupan sempurna Raden Roro Ayu, seorang bangsawan terpelajar, hancur seketika saat ia dihamili oleh Nanda, sahabat kekasihnya sendiri. Meski mereka akhirnya menikah, Ayu menyimpan dendam mendalam akibat penderitaan yang ia alami. Konflik ini menghancurkan keharmonisan keluarganya dan memicu permusuhan hebat. Di sisi lain, Sonny yang masih mencintai Ayu tak rela melepaskannya. Ayu kini terjebak antara mempertahankan rumah tangga kelamnya atau kembali ke pelukan Sonny.