
Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
Bab 2
Grazella segera menuju Cafe, untuk mencari pundi-pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya, pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan, dan membawa pesanan itu ke pelanggan.
Sebenarnya gadis itu sangat risih, bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring, atau office girl, tapi karena Cafe ini milik keluarga, Veronica sahabatnya, dia ditaruh di bagian Waiters.
Bukan tanpa alasan, Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat, dengan rok di atas lutut. Tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.
Grazella juga harus melepas, kacamata bundar atas tuntutan dari manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan, memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pelanggan yang bersikap seenaknya. atau sekedar memegang tangannya.
Seperti saat itu, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan, Grazella yang mengakibatkan sang gadis, harus duduk dipangkuan pria itu. Di meja lain, seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis, yang ingin memangsa.
"Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu, baby girl."
Pria Itu tersenyum senang, saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya.
"Good girl," ucapnya, dengan bangga.
Dengan lancang, pelanggan itu justru memeluk erat, Grazella. Sudah pasti sang gadis, memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.
Grazella terlihat mengikuti, langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku, Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut.
"Bapak lihat sendiri tadi! Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu, tak mau kalah.
"Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik-baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.
Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.
Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja, Gabriel enggan berpaling dari Grazella. Pria itu terus menatap lekat, sang gadis. Sampai manager pun, tidak berani mengganggunya, karena sudah pasti uanglah yang membuatnya diam.
Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi, dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian, Grazella ikut keluar dari Cafe, dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.
Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup. Dengan terpaksa dia memilih pulang, menggunakan rute lain.
Gadis itu terpaksa melewati gang sempit, waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya. "Tuan, Nona sudah masuk perangkap, Anda!" Dengan kecepatan seribu, pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.
• • •
Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh, dan benar saja, seseorang dengan hoodie hitam, dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.
Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin, ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan.
"Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.
Dengan langkah cepat, Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?" Grazella tidak mengenal pria tersebut.
Gabriel mengambil tangan, Grazella dan menariknya.
"Andiamo a casa," ucapnya santai.
'Ayo kita pulang,'
Gadis itu hanya diam, karena bingung.
"Can you speak English, please?"
"You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna.
"What? are, you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.
Pria itu menatap tajam ke arah Grazella, yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.
'Mereka menggunakan bahasa inggris'
"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu Paman! Lagi pula, apa salahku?" ucapan gadis itu, membuat sang pria kesal.
Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan Paman?
"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta, sayang," ucap pria tersebut.
"Bwuuhaha." Grazella tertawa dengan sangat kencangnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?
Grazella menatap lekat sang pria, dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini Pama ... aarrghh!" Dengan sigap, pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.
Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku, brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun, terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya.
"Aku banyak uang, sayang. Aku akan membuat wajahmu, cantik."
"Dasar psikopat! Lepas!" teriak Grazella.
"Apa, kamu tidak mau bertemu dengan Adikmu, baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.
Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan menelfon seseorang. "Halo, Kak Dicky. Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?" Suara Grazella sudah sedikit bergetar.
"Tadi, ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus membawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka, Grace?"
Ponsel gadis itu terjatuh, dengan cantiknya di aspal.
"Dimana, Adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya, dan menatap tajam ke arah sang pria.
Sementara sang empu, hanya tersenyum manis, dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat, sayang. Adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa
helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam, dengan banyak pikiran di kepalanya.
To be continued..
Anda Mungkin Juga Suka





