Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIONESA

DIONESA

Kehidupan Sasa berubah total saat pindah ke sekolah baru dan harus duduk sebangku dengan Dion, siswa dingin yang anti-sosial. Di saat yang sama, Sasa terpukul mengetahui ayahnya memiliki kekasih baru. Melihat Sasa yang terus murung, Dion yang semula tertutup perlahan mulai peduli dan membuka diri. Kedekatan ini menumbuhkan rasa nyaman di antara mereka hingga rahasia pribadi Dion terungkap, memicu benih cinta yang mulai terpendam di hati masing-masing.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi ini Sasha bangun lebih awal, dia ke luar kamar Papahnya sudah ada di meja makan siap untuk sarapan. Sebenarnya Sasa igin sekali menanyakan masalah pacar baru Papahnya, tapi dia menahan diri. Mengikuti saran Nino, menunggu sampai Papahnya yang duluan cerita.

“Pagi Sasa…” sapa Bimo, Papah Sasa.

“Pagi Pah…”

“Sini sarapan sama Papah, kangen Papah direcokin sama kamu kalau sedang sarapan bersama,”ujar Bimo sembari tersenyum.

Sasa ikut tersenyum. Sasa duduk di samping Bimo yang menghadap ke ruang tengah. Di ruang tengah sudah ada Nino yang sedang sibuk di depan laptopnya.

“Tumben Bang sudah bangun jam segini?” tanya Sasa.

“Iya, aku ada meeting pagi ini,” jawab Nino tanpa menoleh.

“Widihhh, sudah seperti orang penting saja sibuk pagi-pagi,” sambung Sasa.

Nino tidak menjawab, dia masih terus sibuk di depan laptopnya.

“Bang, aku berangkat sekolah sama Abang ya…”

“Enggak ah, aku mau cepat,” sahut Nino.

“Kan mau ke distro Abang juga lewati sekolah aku. Ya sekalian saja kenapa sih?”

“Aku mau cepat Sa, aku harus sudah sampai di distro 20 menit lagi.”

“Bohong banget, Abang juga belum sarapan kan?”

“Sudah.”

“Serius? Cepat amat? Ya sudah, tungguin aku sarapan ya…”

“Enggak ah, tunggu kamu makan setahun.”

“Papah… Bang Nino gak mau antar aku…” Sasa mengadu pada Bimo.

“Ya gimana Sa, Nino kan mau cepat Nak. Kamu naik taksi online saja.”

“Aaah… Sasa kan mau bareng Bang Nino.”

“Gak usah sok manja deh Sa…” sahut Nino.

“Sudah…sudah… kalau kamu mau berangkat sama Nino, kamu sarapannya di sekolah saja. jadi Nino gak kelamaan tunggu kamu Sa,” ujar Bimo.

“Ehmmm, ya sudah deh. Mbak Lastri… tolong buatin bekal aku ya,” perintah Sasa pada asisten rumah tangganya.

Sasa bergegas ke kamarnya, merapikan rambut dan mengambil tas. Sasa ke luar kamar, Nino sudah siap berangkat. Sepanjang perjalanan, Nino tidak henti-hentinya menggerutu pada Sasa.

“Awas saja kalau aku sampai telat sampai di distro ya,” gerutu Nino.

“Loh, kok salahin Sasa sih? Kan mau ke distro Abang harus lewatin sekolah aku juga kan?”

“Tadinya aku mau ambil jalur barat,” jawab Nino ketus.

“Ya salah sendiri, kenapa tadi gak bilang mau ambil jalur Barat.”

“Kamu ya, sudah menyusahkan, menyalahkan lagi. Gak ada ahlak sama sekali.”

Sasa hanya tersenyum, tidak sampai 15 menit Sasa sudah sampai di sekolah. Nino benar-benar mengejar waktu.

“Turun gih…”

“Minta uang jajan dong Bang…”

Nino semakin cemberut, tapi tetap membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang. Sasa tersenyum lebar dan turun dari mobil.

Sekolah masih sangat sepi, di parkiran murid hanya ada beberapa sepeda motor motor. Sasa bersenandung kecil melewati koridor kelas. Sasa berpikir kalau dia akan menjadi murid pertama yang tiba di kelas, ternyata salah. Dion sudah terlebih dulu tiba, dia sedang bermain gawainya dengan mengangkat kaki ke meja.

“Kenapa harus ada manusia es ini sih…” gumam Sasa pelan.

Sasa meletakkan tasnya ke atas meja, Dion meliriknya dan menurunkan kakinya. Sama seperti kemarin, hari ini juga tidak ada tegur sapa diantara mereka. Sasa duduk diam menatap lurus ke depan, sementara Dion masih sibuk dengan permainan yang ada di gawainya.

Rasa lapar mengingatkan Sasa dengan bekal nasi goreng yang dibawanya tadi. Dia membuka bekal dan menikmati setiap suapan. Dion beberapa kali melirik Sasa.

“Kenapa? Mau?” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Dion.

Tidak menolak, tidak pula menerima. Dion berdiri dan pergi begitu saja.

“Dasar aneh,” gumam Sasa lagi.

Beberapa saat kemudian, beberapa murid sudah tiba termasuk Della.

“Hai Sa, cepat juga ya kamu sampainya. Diantar ya tadi?” sapa Della hangat.

“Iya Del, eh sarapan yuk…”

“Ehmmm, aku sih sudah sarapan. Tapi nasi goreng kamu sepertinya enak, boleh aku cobain gak?”

“Boleh dong, nih…” Sasa menyodorkan kotak bekalnya pada Della.

Baru Della memakan satu suap, seorang murid laki-laki datang mendekati mereka. Dia adalah murid yang menjahili Sasa kemarin saat perkenalan.

“Hai anak baru, aku anak lama. Kenalkan aku Giring.” Giring mengulurkan tangannya.

“Sasa…”

“Asik banget nih makan nasi goreng pagi-pagi, punya kamu Del?” tanya Giring pada Della.

“Bukan, punya Sasa ini.”

“Ooh, boleh minta gak Sa?” tanya Giring dengan cueknya.

“Boleh…boleh…”

Giring langsung menyambar kotak bekal itu dan memakan beberapa suap. Dia terlihat sangat menikmati nasi goreng Sasa.

“Eh kamu masih mau gak?” tanya Giring dengan mulut yang penuh dengan nasi.

Sasa tiba-tiba merasa mual melihat Giring, menurut Sasa lebih baik dia menahan lapar dari pada harus satu sendok dengan orang seperti Giring.

“Eh Giring, itu kan punya Sasa kenap jadi kamu yang tawarin dia?” semprot Della.

“Sudah, habisin saja. Gak apa-apa, aku sudah kenyang kok,” ujar Sasa dengan senyum yang dipaksakan.

Giring menerima dengan senang hati. Giring memang terlihat jahil tapi sepertinya dia baik. Mereka bertiga mengobrol, dan mulai terlihat mereka satu frekuensi. Obrolan mereka bisa mengalir begitu saja sampai tidak terasa bel masuk sekolah sudah berbunyi.

Semua murid masuk kelas, termasuk Dion. Dion masuk kelas dengan wajah sinis, Sasa tidak menghiraukannya. Dion duduk dan mendekat pada Sasa.

“Kelas itu tempat belajar, bukan tempat makan. Gara-gara kamu, kelas jadi bau bawang!” bisik Dion.

Untuk kedua kali, Sasa melongo melihat kelakuan Dion. Sasa melihat kesekelilingnya, tidak ada murid yang mempermasalahkan bau bawang. Sasa melirik Dion, dia menahan rasa kesal. Apalagi tingkah Dion yang sangat dingin.

***

Sudah seminggu Sasa masuk di sekolah baru. Dia sudah berbaur dengan murid lain dan sudah sangat dekat dengan Della juga Giring. Tapi tidak dengan Dion, mereka masih tidak ada komunikasi. Diam-diam Sasa memperhatikan Dion, bukan memperhatikan karena dia tertarik tetapi Sasa merasa aneh saja dengan Dion. Dion bukan manusia dingin yang tidak senang bergaul, Dion bisa juga menjadi normal seperti kebanyakan murid lain. Tapi hanya dengan muris laki-laki saja, dengan murid perempuan dia akan menjadi gunung es yang sangat dingin.

Dengan Giring, murid yang paling jahil di kelas pun Dion bisa dekat. Itu artinya Dion itu bisa bergaul, tapi kenapa dia menghindari perempuan? Hal ini membuat Sasa penasaran.

“Ring, kamu kenapa bisa dekat sama Dion sih?” tanya Sasa pada Giring saat mereka sedang istirahat di kantin.

“Memangnya kenapa?”

“Ya kan dia manusia aneh.”

“Aneh dari mananya? Perasaan biasa saja.”

“Biasa dari mana? Aku loh sudah seminggu duduk satu meja dengan dia gak pernah ditegur, gak pernah diomongin. Gak tahu deh salah dimana,” ujar Sasa dengan kesal.

“Ooh kamu mau ditegur sama Dion? Bentar… Dion…” Giring berteriak memanggil Dion.

Respon Giring di luar dugaan Sasa, kebetulan Dion memang sedang lewat dari depan mereka. Spontan saja Sasa mencubit lengan Giring.

“Aaawww… sakit Sa,” gerutu Giring.

“Ya kamu juga, ngapain coba panggil-panggil Dion. Aku gak ada suruh kamu panggil dia.”

“Kirain…”

Semua sudah terlanjur, Dion yang mendengar suara Giring langsung mendekat ke meja Sasa. Wajah Sasa merona, dia merasa malu sendiri.

“Kenapa Ring?” tanya Dion begitu sampai di depan Giring.

“Enggak kok, makan yuk…” Giring malah mengajak Dion makan di meja yang sama.

Sasa semakin gelisah, dia mau pindah tempat tapi sudah tidak ada lagi tempat yang kosong. Dia mau bertahan, tapi takut Giring bicara aneh-aneh di depannya. Terpaksa Sasa berpura-pura ingin memesan makanan lagi, sementara Della sibuk dengan gawainya jadi tidak mengerti apa yang terjadi walaupun Sasa sudah memberikan kode.

Dari sudut kantin Sasa memperhatikan Giring dan Dion yang mengobrol. Mereka mengobrol sambil tertawa, membuat Sasa berpikiran kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JEX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JEX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan dikenal sebagai pebisnis yang kejam dan berhati dingin. Namun, ketenangannya terusik saat bertemu kembali dengan Yezi, wanita keturunan Jepang-Indonesia yang terlibat dalam masa lalunya. Merasa diabaikan, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal kepada ayah Yezi. Tak tinggal diam, Yezi membalas ancaman itu dengan rekaman rahasia dari kejadian tiga tahun silam. Di tengah persaingan bisnis dan arogansi, rahasia besar apa yang sebenarnya menyatukan mereka?
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Pasca kehilangan suaminya dalam kecelakaan tragis, Mutia justru difitnah oleh keluarga mendiang suaminya atas tuduhan menggoda pria beristri. Ia pun diusir hingga mengalami insiden fatal yang menghancurkan wajahnya. Setelah menjalani operasi rekonstruksi total, Mutia bangkit dengan identitas baru. Kini, ia bertekad mengejar keadilan dan membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya. Ikuti perjuangan berani Mutia menuntut balas.
Sampul Novel Dikhianati Manager Diperjuangkan Dokter
9.4
Winda menemukan bukti mengejutkan yang memicu kecurigaan bahwa suaminya menjalin hubungan gelap dengan ibu kandungnya sendiri. Namun, saat ia mencoba membongkar skandal tersebut, sebuah pengakuan tak terduga dari sang suami justru mematahkan semua dugaannya. Teka-teki mengenai sosok selingkuhan yang sebenarnya pun mulai terkuak. Sanggupkah Winda menghadapi kenyataan pahit ini? Akankah ia memaafkan pengkhianatan itu atau justru memilih melabuhkan hatinya pada sosok lain?
Sampul Novel Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
8.7
Demi meraih impian kuliah tanpa membebani orang tuanya, Fatimah mengambil langkah berani setelah lulus SMA. Meski merupakan anak tunggal, keterbatasan ekonomi keluarga mendorongnya untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Tekadnya yang sangat kuat menjadi bahan bakar utama dalam berjuang mandiri secara finansial. Kisah ini mengikuti pengorbanan Fatimah yang rela merantau jauh demi mengangkat derajat hidup dan masa depan pendidikannya sendiri.
Sampul Novel Gairah Bad Boy Salah Sasaran
8.6
Elang, mahasiswa berlabel bad boy, memiliki misi khusus saat acara malam keakraban kampus di alam terbuka. Ia berambisi mendekati Syahreni, mahasiswi cantik yang pesonanya amat memikat. Namun, akibat pengaruh alkohol, Elang justru melakukan kesalahan fatal. Ia salah memasuki tenda dan terjebak dalam situasi panas bersama Nindya, dosen pembimbingnya sendiri. Alih-alih mendapatkan sang pujaan hati, Elang kini harus menghadapi kemarahan sang dosen akibat gairah yang salah sasaran.
Sampul Novel Istri Kecil Penebus Hutang
8.1
Lavira Amrin adalah gadis polos yang malang. Akibat hutang sang ayah, ia dipaksa menjadi barang penebusan dan menikah dengan Avram, seorang penguasa bisnis misterius yang dikenal sangat tertutup bahkan kejam. Hidup Lavira penuh penderitaan karena ketidakadilan ayah kandung serta kekejaman ibu dan adik tirinya. Kini, ia terjebak dalam pernikahan dengan pria haus darah tersebut. Mampukah Lavira bertahan menjalani takdir barunya bersama sang penguasa gelap?