Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Sang Penguasa : Suami Kontrakku Memberi Segalanya

Dinikahi Sang Penguasa : Suami Kontrakku Memberi Segalanya

Setelah dikhianati oleh tunangannya, Lily melarikan diri ke alkohol hingga berakhir di ranjang bersama pria asing bernama Arsen. Kesalahpahaman membuat Lily menampar Arsen yang menuduhnya sebagai wanita bayaran. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali dua hari kemudian di sebuah pesta, di mana terungkap bahwa Arsen memiliki hubungan dekat dengan mantan tunangan Lily. Di luar dugaan, pria itu justru menyodorkan kesepakatan pernikahan kontrak dengan alasan dingin bahwa tidak akan ada pria lain yang mau menikahi Lily setelah malam pertama mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Terluka karena pengkhianatan sang tunangan, Lily melampiaskannya dengan menenggak tiga gelas cocktail hingga mabuk. Saat tersadar, Lily mendapati dirinya berada di kamar bersama seorang pria asing bernama Arsen. Kesal karena Arsen malah menganggapnya pelacur, Lily melayangkan tamparan ke pipi pria itu.

Nahasnya dua hari kemudian dia malah bertemu lagi dengan Arsen di sebuah pesta. Pria itu ternyata memiliki hubungan dekat dengan tunangan yang sudah membuat hati Lily hancur.

Lily semakin dibuat tak percaya saat Arsen tiba-tiba saja malah menawarkan sebuah pernikahan kontrak padanya.

“Pernikahan kontrak? Kenapa kamu tiba-tiba menawarkan pernikahan?” tanya Lily.

“Kalau bukan menikah denganku, pria yang pertama kali tidur denganmu, siapa yang akan menerimamu menjadi istri?” balas Arsen dingin.

1. Sentuhan Panas

“Apa yang terjadi?!”

Lily terbangun dengan jantung berdetak liar. Napasnya memburu saat matanya menyapu ruangan asing yang disinari cahaya matahari. Kepala masih berdenyut hebat akibat alkohol semalam, tetapi yang membuat tubuhnya benar-benar membeku adalah rasa sakit yang menusuk di bawah sana.

Dengan tangan gemetar, Lily meraih selimut yang melilit tubuhnya, perlahan-lahan menyingkapnya untuk memastikan sesuatu.

Dia tidak mengenakan apa pun.

“Tidak mungkin…”

Cepat-cepat, Lily menatap sekeliling dan seketika dia pun membeku.

Dia mendapati bajunya berserakan di lantai, dan sepasang sepatu pria yang tergeletak rapi di dekat meja kopi adalah bukti bahwa dia tidak sendiri tadi malam!

Ketakutan menyergapnya seketika. Lily buru-buru memegangi kepalanya, mencoba mengingat bagaimana semua ini bisa terjadi.

Semalam, Lily menyaksikan calon suaminya, Bryan, berbagi ciuman panas dengan wanita lain di apartemen miliknya sendiri. Dan lebih parahnya lagi, wanita itu adalah Sonia, gadis yang dulu paling sering merundungnya semasa sekolah.

Siapa sangka, gadis itu kini menjadi selingkuhan pria yang akan menikahinya?!

Seakan belum cukup menyedihkan, Lily bahkan mengetahui bahwa Bryan tidak pernah benar-benar mencintainya!

“Kalau dia bukan putri tunggal keluarga Mahesa, mana mau aku menikah dengan wanita membosankan sepertinya?”

Saat kalimat itu terucap dari mulut Bryan, dunia Lily runtuh seketika. Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia hanya membeku di tempat sampai dua pengkhianat itu menyadari keberadaannya.

“L-Lily?!”

Bryan sempat ingin mengejarnya, tapi Lily langsung berbalik dan meninggalkan apartemen itu.

Dalam kemarahan dan kehancuran, Lily mengemudikan mobilnya tanpa tujuan dan berakhir di sebuah bar.

Lily tidak pernah minum alkohol sebelumnya. Namun, malam itu, dia menenggak minuman keras seperti air. Setiap tegukan terasa seperti membakar tenggorokannya, tetapi tidak ada yang lebih perih dari rasa sakit di hatinya.

Dia tidak ingat berapa banyak yang dia minum.

Yang dia ingat hanyalah sepasang mata tajam yang menatapnya dari kejauhan.

Lalu, seseorang membantunya berdiri. Seorang pria.

Bibirnya tersenyum samar. Saat itu, dia mengira pria itu adalah orang baik yang akan membawanya pulang dengan selamat.

Tetapi setelah memasuki kamar hotel…

Sentuhan panas itu. Bibir yang melumatnya rakus. Lengan kekar yang mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di kasur.

Terlalu jelas.

Terlalu nyata.

Lily menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak. Tidak. Tidak.

Dia tidak ingin mengingat lebih jauh.

Perlahan, dia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya langsung menegang. Rasa sakit itu…

Air matanya menggenang.

Dia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dia tarik kembali.

Dengan buru-buru, Lily memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai. Namun, saat masih membungkuk, suara gagang pintu kamar mandi yang berputar membuatnya membatu.

Pintu terbuka.

Lily menoleh, tubuhnya langsung merapat ke dinding, memegangi selimut di dadanya seperti perlindungan terakhir.

Detak jantungnya kacau.

Seorang pria keluar dari kamar mandi.

Tinggi. Dingin. Berbahaya.

Hanya mengenakan kemeja putih dengan beberapa kancing terbuka, pria itu tampak santai membetulkan jam tangan Richard Mille yang Lily tahu harganya setara dengan satu unit apartemen mewah.

Pria itu menatapnya lurus.

"Sudah bangun?"

Nada suaranya dalam dan tenang, seolah apa yang terjadi semalam bukanlah masalah besar.

Lily menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa kering.

Pria itu tidak mengucapkan apapun lagi. Dengan langkah tenang, dia berjalan menuju cermin, merapikan kerah bajunya seakan ini hanyalah pagi biasa baginya.

Namun, kalimat berikutnya membuat tubuh Lily menegang.

"Apa kamu tidak takut dimaki pelanggan?"

Pelanggan?

Kening Lily berkerut dalam. Apa pria ini baru saja menganggapnya wanita bayaran?!

Matanya membelalak.

Tidak. Ini pasti mimpi buruk.

Tapi saat melihat ekspresi santai pria itu, kenyataan menamparnya lebih keras.

Lily ingin membalas, tetapi bibirnya terlalu kelu. Dia hanya bisa memandangi pria itu—pria yang telah merenggut sesuatu yang paling berharga darinya.

Saat pria itu menoleh dan hendak berbicara, Lily langsung berlari menuju kamar mandi, mengunci pintu.

Punggungnya menempel di dinding, tubuhnya gemetar hebat.

Air mata yang sejak tadi tertahan kini jatuh begitu saja.

Apa yang telah dia lakukan?! Karena tindakan bodohnya pergi ke bar, sekarang Lily harus kehilangan kesuciannya kepada pria yang bahkan tidak peduli padanya!

**

Lily tidak tahu berapa lama dia berdiam diri di kamar mandi, memikirkan betapa malu dirinya jika orang tuanya tahu mengenai apa yang telah terjadi.

Dia hanya berharap ketika keluar, pria itu sudah tidak ada.

Namun, harapannya hancur seketika.

Saat dia membuka pintu, pria itu masih di sana.

Kini telah berpakaian lengkap, duduk di sofa dengan kaki bersilang, menatap layar ponselnya dengan ekspresi acuh tak acuh.

Lily menggigit bibir. Dia tidak ingin berlama-lama di sini.

Tanpa sepatah kata pun, Lily menyambar tasnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan melewati sang pria begitu saja menuju pintu.

Namun—

"Ambil bayaranmu."

Langkah Lily terhenti.

Hatinya bergetar hebat.

Perlahan, dia menoleh ke belakang.

Pria itu bahkan tidak melihatnya saat berbicara.

Tangannya bergerak santai, menunjuk sebuah tumpukan uang di meja kopi.

"Bayaran?" gumam Lily, tubuhnya membeku di tempat.

Saat itu, Arsen Sebastian Luis pun mengangkat pandangannya dan melihat Lily sekilas. Dia menautkan alis, lalu memutuskan untuk berdiri dan mendekati wanita di hadapannya itu.

Tinggi. Mendominasi. Berbahaya.

Lily bahkan harus mendongak untuk menatap wajah Arsen yang tajam dan tak terbaca.

"Apa kurang?"

Lily ingin menangis. Pria ini benar-benar berpikir bahwa dia…

"Aku tidak tahu berapa yang sudah dibayarkan temanku," lanjut pria itu seraya meraih tangan Lily, memaksanya menerima tumpukan uang itu. “Tapi ambil saja ini. Itu bayaran yang pantas untuk dirimu."

Darah Lily mendidih.

Dadanya naik turun menahan emosi yang meledak.

Tanpa berpikir panjang, Lily mengangkat tangan dan menamparnya keras!

PLAK!

“Jaga sikap Anda, dasar bajingan!”

Tanpa menunggu jawaban dari pria di hadapannya, Lily cepat-cepat pergi dari sana selagi menahan tangisan di ujung mata.

Di sisi lain,

Pria itu, Arsen bergeming. Dia tidak menyangka akan ditampar ketika ingin memberikan bayaran lebih kepada wanita panggilan yang dipesan oleh temannya itu.

Dalam hati, tak elak dia bertanya. Apa wanita panggilan zaman sekarang memang segalak ini?

Selagi menghela napas, Arsen berbalik untuk meraih jasnya agar bisa segera pergi. Namun, di saat itu tatapannya jatuh ke ranjang.

Pria itu pun membeku.

Bercak merah. Darah?

Arsen menatapnya lama, kemudian mengerutkan kening.

Wanita panggilan tadi ... masih perawan?

2. Pertemuan Mengejutkan

Dua hari berlalu.

Lily tidak menyentuh ponselnya.

Sejak malam itu, dia mengurung diri di kamar, menolak bertemu siapa pun, mengabaikan semua panggilan dan pesan, terutama dari Bryan.

Pria itu tak henti-hentinya menghubunginya, tapi Lily tidak peduli.

Setiap kali ponselnya bergetar, dia hanya menatapnya dingin sebelum kembali memejamkan mata.

Dia butuh waktu.

Untuk melupakan pengkhianatan Bryan.

Untuk menghapus ingatan tentang malam itu.

Untuk menghilangkan perasaan kotor dan malu setiap kali melihat bayangannya sendiri di cermin.

Namun, Lily tidak bisa terus bersembunyi.

Hari ini, keluarga Bryan mengundang mereka ke pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya.

Dan Lily tidak punya pilihan selain untuk pergi dengan wajah pucat.

"Apa perlu kita pergi ke dokter?"

Suara lembut Risha, ibu Lily, memecah keheningan di dalam mobil.

Lily menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Bunda. Tidak perlu cemas.”

Dia mengalihkan pandangan ke kaca spion tengah, menatap wajah sang papa, Adhitama.

Namun, pria itu hanya diam, ekspresinya dingin.

Sejak dua hari lalu, sikap papanya terasa berbeda.

Lily tidak tahu apakah itu hanya perasaannya saja, atau mungkin… papanya tahu sesuatu?

Tidak mungkin, ‘kan?

Tidak mungkin papanya tahu apa yang sudah dia lakukan.

Lily menelan ludah dan membuang pandangan ke luar jendela, memilih menikmati perjalanan tanpa berkata apa-apa lagi.

Begitu sampai di kediaman keluarga Bryan, sosok sang tunangan terlihat sudah menunggu Lily di depan pintu masuk dengan senyuman palsu di wajahnya.

Seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Seolah dia bukan pria brengsek yang sudah mengkhianatinya.

Lily mual.

Tanpa menoleh, dia melangkah masuk bersama papa dan ibunya.

Namun, tangan Bryan mencekal lengannya, menghentikan langkahnya.

“Apa lagi maumu?” desis Lily, menepis cengkraman Bryan dengan kasar.

Wajah Bryan mengencang, senyum manisnya lenyap.

"Kenapa tidak menjawab panggilan dan membalas pesanku?"

Lily mendengus dingin. "Apa perlu aku jelaskan?"

Bryan tampak gelisah. Dia melirik ke sekitar, memastikan tak ada yang memperhatikan.

“Lily, lebih baik jangan membahas kejadian tempo hari pada orang tuaku atau orang tuamu.”

Nada suaranya penuh ancaman.

Lily menyipitkan mata, menatap Bryan dengan kebencian yang selama ini tidak pernah dia rasakan.

Beraninya pria ini meminta hal semacam itu darinya!? Apa dia tidak punya malu!?

Baru saja Lily hendak membalas kalimat Bryan, tiba-tiba Arya—ayah Bryan—mendekat. “Kenapa kalian masih di sini?” tanyanya.

Di saat itu, Lily memaksakan sebuah senyuman dan berkata, “Hanya bicara sebentar, Paman.”

“Sudah, bicara di dalam saja. Paman mau kenalkan kamu ke pamannya Bryan!” ujar Arya, membuat Lily tersenyum dan hanya bisa mengikuti ayah tunangannya itu masuk ke dalam kediaman.

Begitu masuk ke dalam aula pesta, Lily melihat beberapa tamu undangan sudah berkumpul.

Matanya menangkap sosok pria bertubuh tegap yang berdiri di antara mereka, berbincang dengan orang tua Bryan.

Dia tidak mengenali pria itu.

"Kemarilah, biar Papa perkenalkan dengan Paman Arsen," ucap Arya kepada Bryan dan Lily.

Lily berjalan mendekat bersama Bryan, menghampiri sang pria bertubuh tinggi tegap yang begitu menarik perhatian tersebut.

Dan saat pria itu berbalik…

Jantung Lily berhenti berdetak.

Wajahnya langsung memucat.

Mata mereka bertemu.

Dia?!

Lily ingin berbalik dan lari sejauh mungkin.

Tapi sudah terlambat.

Laki-laki itu juga terkejut melihatnya, meskipun ekspresinya hanya berubah sesaat sebelum kembali dingin.

Arsen mengamati Lily dengan tajam, tapi detik berikutnya, dia memasang wajah santai, seolah tidak pernah bertemu sebelumnya.

"Arsen, perkenalkan ini Lily, calon menantu kami," ucap Monica, ibu Bryan, dengan senyum bangga.

Lily tidak bisa bernapas.

Pria yang merenggut kesuciannya, yang menghina dirinya sebagai wanita bayaran, ternyata adalah paman Bryan?!

Tangan Lily gemetar hebat. Akan tetapi, dia berusaha menenangkan diri seiring tangannya terulur untuk menjabat tangan Arsen.

Hanya saja, saat tangan besar itu menyentuh tangannya, Lily merasa bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya mengingat apa saja yang sudah tangan itu lakukan padanya.

“Aku benar-benar masih tidak menyangka kalau kamu punya saudara yang lama tinggal di Amerika.”

Suara sang papa menyadarkan Lily, membuatnya langsung menarik tangannya dan menjauh dari Arsen.

"Sebenarnya dia ini anak dari istri kedua papaku," jawab Arya sambil tertawa kecil dan menepuk pundak Arsen. “Dia hanya berkunjung sesaat ke sini sebelum kembali lagi ke luar negeri.”

Arsen, yang sedari tadi diam dan sibuk memerhatikan Lily, berakhir hanya menarik sudut bibirnya tipis, lalu menenggak minuman dalam gelasnya tanpa ekspresi.

“Kebetulan sekali, bagaimana kalau sebelum Arsen kembali ke luar negeri, kita nikahkan Bryan dan Lily?” ucap ibu Bryan dengan senyum manis.

“Itu ide bagus!” sahut Arya, tak kalah bersemangat.

Mendengar hal itu, jantung Lily mencelos. Setelah tahu perselingkuhan Bryan dan Sonia, juga bagaimana pria itu hanya ingin memanfaatkannya, apa Lily harus tinggal diam?

Tidak! Dia tidak bisa membiarkan ini berlanjut!

“Maaf, Bibi, Paman, tapi aku tidak bisa menikah dengan Bryan. Aku ingin membatalkan pertunangan kami.”

3. Mempermalukan Keluarga

Semua orang membeku.

Monica menatap Lily dengan kaget. "Lily, Sayang, kamu bercanda, ‘kan?" Dia mencoba tetap tenang meski jelas keterkejutan tergambar di wajahnya.

“Tidak. Aku serius.” Mata Lily tajam, suaranya tenang, tetapi ada getaran dalam nada bicaranya. “Aku tidak ingin menikah dengan Bryan.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Tatapan tamu undangan tertuju pada Lily, sebagian besar penuh keterkejutan, sementara sisanya mengandung ketidakpercayaan.

Bryan, yang berdiri di sampingnya, menegang. Ekspresinya berubah drastis, panik dan waspada. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebelum sempat berbicara, Adhitama—sang ayah—sudah lebih dulu menarik tangan Lily dengan erat.

“Maaf, Arya. Aku dan keluargaku pamit terlebih dahulu,” ujar Adhitama singkat, suaranya datar tetapi sarat dengan ketegangan.

Tanpa menunggu tanggapan, pria itu menyeret putrinya keluar dari aula pesta, melewati tatapan tamu yang berbisik penuh rasa ingin tahu.

Melihat ini, Arsen mengangkat alis.

Menarik.

Tatapannya mengikuti Lily yang dipaksa pergi oleh sang ayah. Dengan tenang, ia menyesap winenya, sudut bibirnya terangkat samar.

“Mungkin Lily sedang kurang sehat, jadi bicaranya agak aneh.” Arya, ayah Bryan, tertawa sumbang, berusaha meredam ketegangan di dalam ruangan. “Kamu nikmati saja pestanya, ya.”

Arsen mengangguk kecil, tetapi tidak berkata apa-apa. Dia melihat kecemasan dalam mata Arya dan Monica, tetapi memilih untuk tidak bereaksi.

Thomas—asisten pribadinya—mendekat dan berbisik, “Tuan, apa rencananya gagal?”

Arsen tidak segera menjawab. Dia hanya menghabiskan winenya dalam satu tegukan, kemudian melangkah perlahan mendekati Arya, Monica, dan Bryan.

Saat itu, telinganya menangkap percakapan antara Bryan dan ayahnya.

“Apa yang kamu lakukan sampai Lily berani membatalkan pertunangan kalian di depan semua orang?”

Bryan menunduk, tampak gelisah. “Begini, Pa…” suaranya melemah. “Sebenarnya… Lily memergokiku sedang bersama wanita lain di apartemennya.”

Arsen berhenti.

Mata elangnya menyipit.

Begitu rupanya.

**

Di kediaman keluarga Mahesa…

“Bagaimana bisa kamu membatalkan pertunanganmu dengan Bryan secara tiba-tiba?!” suara Adhitama menggelegar di ruang keluarga.

Dada Lily terasa sesak. Ia tahu keputusannya mengguncang hubungan dua keluarga, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Bryan bukan pria baik-baik seperti yang Papa kira. Jadi, aku tidak akan pernah menikahinya!”

“Tidak baik?” Adhitama menyipitkan matanya. “Lalu bagaimana denganmu?”

Lily terdiam.

Apa maksud papanya?

“Aku? Aku kenapa?” tanyanya, berusaha memahami arah pembicaraan ini.

Adhitama merogoh ponselnya, lalu memperlihatkan layar yang menampilkan beberapa foto.

Lily menahan napas.

Foto dirinya di bar.

Saat dia duduk dengan gelas alkohol di tangannya, saat dia mabuk, saat dia…

Darahnya berdesir cepat.

Jadi, inilah alasan papanya beberapa hari ini begitu dingin padanya?

“Apa maksudmu pergi ke klub malam?” suara Adhitama semakin rendah, tetapi ada kemarahan yang tersirat jelas. “Kamu pikir Papa tidak tahu?”

Lily mengepalkan tangan.

“Aku memang salah karena pergi ke sana, Pa, tapi itu semua karena—”

“Apa pun alasannya, cukup kuatkah sampai kamu tega mempermalukan keluarga kita?!” Adhitama memotong tajam. “Kamu pikir kelakuanmu ini bisa diterima?”

Lily terperangah. Sang papa sama sekali tidak berniat mendengarkannya!

“Kalau begitu, apa Papa lebih memilih membiarkan aku menikah dengan pria yang tidak setia?” suaranya bergetar karena emosi.

Adhitama tampak terkejut, tapi pria itu kembali keras. “Kalau memang itu harus dilakukan untuk mempertahankan reputasi keluarga, maka ya!”

Hening.

Lily merasa hatinya hancur kala mendengar jawaban sang ayah. Sulit untuk dia percaya pria yang selama ini adalah pegangan hidupnya … ternyata rela mengorbankannya demi reputasi semata!

Lily kecewa, Lily marah!

“Kalau memang iya, maka lebih baik buang saja aku dari keluarga Mahesa! Aku lebih sudi hidup sendiri daripada mengorbankan masa depanku untuk pria seperti Bryan!”

Adhitama terkejut mendengar kata-kata putrinya.

Ruangan terasa semakin tegang.

Sejenak, pria itu hanya menatap Lily tanpa berkata apa-apa.

Lalu, dengan ekspresi yang sulit ditebak, Adhitama akhirnya berbicara dengan nada penuh amarah.

“Seharusnya kamu berpikir sebelum berbicara di depan semua orang.”

Lily menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.

Dia sadar, malam ini papanya tidak akan mendengarkannya.

Sebaliknya, dia juga tidak berniat untuk mengalah.

“Aku tahu keputusan dan sikapku mungkin dianggap memalukan oleh orang lain.” Suaranya kembali stabil. “Tapi aku tidak peduli. Jika Papa dan Bunda tidak mau mendukungku, maka aku akan menemukan jalanku sendiri.”

Risha terkejut. Dia tidak pernah membayangkan putrinya akan bersikap seperti ini. Tetapi sebagai seorang ibu, dia juga bisa merasakan Lily sedang tertekan.

Alhasil, Risha berusaha menenangkan keduanya. “Sudah, jangan seperti ini. Nanti kita bicarakan lagi, ya.”

Lily menatap ibunya, lalu menoleh ke arah Adhitama yang menghela napas kasar sebelum pergi dengan wajah kesal.

Sakit.

Rasanya seperti ditikam dari dua arah—oleh Bryan dan oleh ayahnya sendiri.

**

Keesokan Harinya…

Lily berjalan masuk ke gedung perusahaan dengan langkah kosong.

Setelah pertengkarannya dengan papanya, mereka sama-sama memilih diam dan tidak menyelesaikan masalah.

Dia pikir kembali bekerja bisa mengalihkan pikirannya, tetapi sebelum sempat masuk ke ruangannya, seorang staf HRD menghampirinya.

“Maaf, Nona Lily…” wanita itu tampak canggung. “Sesuai perintah Pak Adhitama, mulai hari ini Anda dipecat dari perusahaan.”

Dunia Lily seperti runtuh.

Dia menatap surat pemecatan yang diberikan kepadanya. Tangannya sedikit gemetar saat menerimanya.

Dipecat?

Tidak ada diskusi?

Tidak ada kesempatan menjelaskan?

Papanya… benar-benar tega membuangnya begitu saja?

Lily menatap surat itu, menahan perasaan terluka yang mengoyak hatinya. Tetapi, dia tetap menunjukkan ketenangan, mengangguk kecil, dan berkata, “Terima kasih.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah keluar dari gedung dengan kepala tegak.

Kalau memang ini bayarannya untuk sebuah kebebasan, maka … Lily bersedia membayarnya.

Hanya saja … apa ini berarti dia masih bisa kembali juga ke rumah?

Langkah Lily melambat.

Pikirannya kosong, tubuhnya terasa ringan—seakan melayang tanpa arah.

Satu per satu kejadian yang menimpanya terputar ulang dalam benaknya.

Bryan. Pengkhianatannya.

Papanya. Ketidakpercayaannya.

Sekarang, dia bahkan tidak memiliki pekerjaan.

Tanpa sadar, air matanya jatuh.

Dia terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar.

Sampai—

TIIIN!

Suara klakson memekakkan telinga.

Lily menoleh, tetapi terlambat.

Mobil hitam melaju ke arahnya.

Dia membeku.

Namun, dalam sekejap, sebuah tangan kuat menariknya ke belakang.

Tubuhnya tersentak, dadanya menghantam sesuatu yang keras.

“Mati di bawah mobil bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalahmu, Nona!”

Mendengar suara itu, Lily mendongak.

Matanya membulat kaget.

“Ka-kamu…?”

4. Kehilangan Segalanya

Lily menatap pria di hadapannya.

Wajahnya tampak familier, seolah dia pernah melihatnya di suatu tempat.

Namun, pikirannya masih terlalu kacau untuk mengingat dengan jelas. Jantungnya yang berdetak kencang karena nyaris tertabrak mobil pun belum kembali normal.

“Anda baik-baik saja, Nona?” Suara pria yang khawatir itu menyadarkan Lily dari lamunannya.

“Oh… ya. Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat.

Dia berusaha berdiri, tetapi begitu sedikit menggerakkan kakinya, rasa nyeri langsung menjalar dari lututnya. Lily mengerutkan dahi, lalu menurunkan pandangan ke arah kaki.

“Lutut Anda berdarah,” ucap sang pria, terdengar semakin prihatin.

Sepertinya, tarikan sang pria tidak cukup cepat dan mobil tadi sempat menyerempet kaki Lily.

Namun, anehnya, rasa sakit dari luka itu tidak terasa. Mungkin … karena luka di hati Lily lebih besar.

Dikhianati tunangannya.

Diusir oleh ayahnya sendiri.

Dikeluarkan dari perusahaan keluarganya.

Dibandingkan itu semua, luka di lututnya sama sekali bukan apa-apa.

Lily mengangkat kepalanya, melihat pria itu memperhatikan kondisinya dengan sorot mata kasihan.

Dia tersenyum tipis, meski terasa dipaksakan. “Terima kasih sudah membantuku, Tuan. Aku bisa mengurusnya sendiri. Maaf sudah merepotkan.”

Tanpa menunggu balasan, Lily membungkuk sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasih, lalu berjalan pergi dengan langkah pincang.

Pria itu hanya menatap dalam diam, memperhatikan hingga sosok gadis itu benar-benar menghilang di ujung jalan.

Kemudian, dia menghela napas, berbalik, lalu melangkah menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

Begitu masuk ke dalam, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Tuan, sepertinya ada masalah dengan Nona Mahesa.”

**

“Papamu memecatmu?”

Haris—paman Lily sekaligus orang terdekat yang masih bisa dia percaya—menatapnya dengan ekspresi terkejut dan marah.

“Tega sekali pria itu!”

Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.

Haris meraih ponselnya, tampak bersiap menelepon Adhitama.

“Aku akan bicara padanya. Apa pun masalahnya, caranya memperlakukanmu ini sudah keterlaluan!”

Namun, Lily buru-buru menahan tangan pamannya.

“Paman, jangan.”

Haris menatapnya tajam. “Kenapa? Kamu masih mau membela pria yang bahkan tidak berpikir dua kali sebelum membuangmu dari keluarganya itu?”

Lily menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang begitu menyakitkan dalam ucapan pamannya, tetapi dia tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.

“Papa tidak salah kalau marah,” kata Lily pelan. “Aku memang salah karena pergi ke bar malam itu… aku juga salah karena bicara tanpa berpikir di depan banyak orang. Aku tidak akan mencari alasan untuk membenarkan diriku.”

Haris menghela napas panjang.

Dia menatap Lily lama, sebelum akhirnya bertanya, “Lalu, sekarang apa rencanamu?”

Lily terdiam sesaat.

Dia tahu sang ayah pasti telah menutup semua fasilitasnya. Mobilnya pun ditinggalkan di kantor Mahesa Group. Hari ini saja, dia harus datang ke rumah pamannya dengan taksi.

Setelah berpikir sejenak, Lily mendongak.

“Paman, apa Paman punya kenalan yang perusahaannya sedang butuh karyawan? Aku ingin mencari pekerjaan.”

Haris mengangkat alisnya, memerhatikan Lily dengan seksama.

“Kamu tidak mau mencoba bicara pada papamu dulu?” tanyanya. “Siapa tahu dia bisa mempertimbangkan kembali.”

Lily menggeleng.

“Masalah ini tidak sesederhana itu.” Suaranya penuh tekad. “Dan kali ini… aku ingin membuktikan ke Papa kalau aku bisa mandiri.”

Haris menghela napas lagi.

Melihat keponakannya yang biasanya manja tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang penuh tekad membuatnya tak punya pilihan selain membantu.

Akhirnya, dia berkata, “Cobalah melamar ke sini.”

Haris menyebutkan nama perusahaan yang dimaksud, lalu memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan yang diketahuinya.

Lily mengangguk, menerima informasi itu dengan mata berbinar penuh harapan.

“Terima kasih, Paman.”

Usai pertemuan dengan Haris, Lily tidak membuang waktu dan langsung melamar keesokan harinya ke perusahaan yang diberi tahu sang paman.

Dia membawa segala berkas penting yang dibutuhkan dari perusahaan ini untuk melamar pekerjaan.

Namun, begitu sampai di depan gedung, Lily sempat terpana.

ARS Company.

Sebuah perusahaan multinasional yang berpengaruh di negara ini.

Gedungnya megah, lobby-nya luas dengan interior yang mewah dan modern.

Keraguan sempat menghinggapi benaknya. Apakah dia benar-benar pantas bekerja di sini?

Lily menelan ludah, lalu melangkah masuk.

Namun, belum sempat dia bertanya ke resepsionis, suara yang sangat dikenal membuatnya membeku.

“Lihat siapa yang terdampar di sini?”

Lily menoleh, dan matanya langsung menyipit.

Sonia.

Wanita itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, menatapnya dengan sinis.

Lily menekan rahangnya. Dari sekian banyak tempat di dunia ini, mengapa dia harus bertemu wanita ini lagi?

Sonia menyeringai, lalu melirik berkas yang Lily peluk. “Apa ini? Kamu mau melamar kerja di sini?”

Lily tetap memasang ekspresi datar. “Bukan urusanmu.”

Namun, kedua alisnya bertaut ketika melihat ekspresi meremehkan di wajah Sonia.

Wanita itu tertawa pelan. “Kusarankan lebih baik kamu mundur sebelum menyesal karena melamar bekerja di sini.”

Nada suaranya terdengar penuh ancaman.

“Asal kamu tahu saja, posisiku di sini cukup tinggi.” Dia menyeringai. “Jadi, kalau kamu bergabung di sini, aku bisa memastikan kamu akan menderita.”

Lily menepis telunjuk Sonia yang menusuk bahunya dengan kasar.

“Singkirkan tanganmu dariku.”

Nada suaranya terdengar dingin.

Sonia mendelik. “Kamu pikir kamu siapa, huh? Sudah kubilang–”

“Apa yang terjadi di sini?”

Suara dingin dan berat itu terdengar di antara mereka.

Lily tersentak. Dia segera menoleh ke sumber suara dan tubuhnya pun membeku.

Arsen.

Pria itu berdiri di sana dengan ekspresi dingin dan mata tajam yang menusuk.

Kenapa pria ini ada di sini?

Namun, kemudian kalimat Sonia membuat Lily semakin terkejut.

“P-Pak CEO….”

CEO?!

ARS Company. Arsen.

Jantung Lily langsung mencelos.

Perusahaan ini milik Arsen?!

5. Pria Pertama Yang Tidur Denganmu

Beberapa karyawan di lobi yang sejak tadi diam-diam mengamati pertengkaran Lily dan Sonia langsung menoleh bersamaan ketika sosok Arsen muncul. Thomas, sang asisten pribadi, ada di belakangnya.

Mereka menyapa pemimpin perusahaan mereka dengan penuh hormat, tetapi sebagian besar karyawati tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka.

CEO mereka, yang jarang terlihat di kantor, kini berdiri di tengah lobi—tinggi, berkarisma, dan memancarkan aura dominasi yang mengintimidasi.

Sonia, yang menyadari keberadaan Arsen, segera mengubah ekspresinya. Senyumnya melebar, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud membuat keributan, hanya saja saya sedang memperingatkannya karena sepertinya dia tidak tahu aturan saat masuk ke sini,” ucap Sonia dengan nada manis, tetapi matanya melirik Lily dengan penuh penghinaan.

Arsen tidak memberikan reaksi.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di lobi, tatapannya hanya terfokus pada satu orang—Lily.

Mata pria itu mengamati Lily dengan dalam, seakan membaca pikirannya.

Sadar diperhatikan seperti itu, Lily merasa salah tingkah.

Mengapa pria ini menatapnya dengan cara seperti itu?

Senyum tipis terangkat di bibir Arsen. "Apa yang membuatmu kemari?"

Nada suaranya terdengar lebih lembut dibandingkan saat berbicara dengan orang lain.

Sonia terperangah.

Seumur-umur bekerja di perusahaan ini, dia hampir tidak pernah bertemu Arsen secara langsung, kecuali dalam urusan bisnis. Namun, kini pria itu justru menatap Lily dengan sorot mata yang membuat semua wanita di sana iri.

Bagaimana bisa Lily mengenal Arsen?

Sonia tidak bisa menerima ini.

Sementara itu, Lily sendiri tertegun.

Namun, sebelum dia bisa merespons, tubuhnya terkesiap saat Arsen merengkuh bahunya dengan santai dan membawanya pergi dari sana.

“Bereskan kekacauan di sini,” perintah Arsen pada Thomas sebelum melangkah menuju lift.

Lily tersentak.

Saat pria bernama Thomas menunduk hormat dan menjawab perintah itu, Lily baru menyadari sesuatu.

Thomas… pria itu…

Bukankah dia pria yang menolongnya tadi pagi, saat hampir tertabrak mobil!?

Lily meliriknya dengan tatapan penuh keterkejutan, tetapi Thomas tetap bersikap professional dan hanya tersenyum tipis.

Lily ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, Arsen sudah membawanya masuk ke dalam lift.

**

Di ruang CEO…

Lily masih diam, mencoba mencerna situasi yang terjadi.

Mengapa Arsen membawanya ke sini?

Pria itu berjalan menuju meja kerjanya, lalu menatap Lily dengan santai.

“Duduk.”

Lily tanpa sadar menuruti perintah itu.

Sebenarnya, dia ingin bertanya mengapa pria ini tiba-tiba menariknya dari lobi, tetapi sesuatu dalam ekspresi Arsen membuatnya memilih diam.

Sebuah firasat buruk muncul dalam benaknya.

Apakah pria ini ingin membahas malam itu?

Malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Lily menunduk, tangannya mengepal di atas pahanya.

Jika Arsen membongkar rahasia itu… keluarganya pasti akan hancur.

Namun, suara pria itu membuyarkan pikirannya.

"Bagaimana dengan lututmu? Masih sakit?"

Lily tersentak.

Dia mendongak, menatap Arsen dengan bingung.

Bagaimana pria ini tahu kalau lututnya terluka?

Seolah membaca pikirannya, Arsen menjawab santai, "Thomas memberitahuku."

Lily mengerjapkan mata.

Thomas adalah asisten pribadi Arsen… tentu saja pria itu melaporkan semua hal kepadanya.

Namun, kenapa?

Mengapa mereka begitu memperhatikannya?

Lily menarik napas, berusaha tenang.

“Lututku baik-baik saja.”

Setelah beberapa detik, dia melanjutkan, “Terima kasih karena sudah membantuku keluar dari situasi tadi.”

Arsen mengangguk.

Namun, detik berikutnya, pria itu menajamkan tatapan.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kemari?"

Nada suaranya terdengar lebih dalam.

Mata pria itu memindai berkas yang dibawa Lily.

Lily ragu sejenak, tetapi akhirnya menjawab, “Aku mendapat informasi bahwa perusahaan ini sedang membuka lowongan pekerjaan, jadi aku berniat melamar.”

Arsen menautkan alisnya.

Melamar pekerjaan?

Putri dari keluarga Mahesa yang ternama… datang ke perusahaannya untuk mencari pekerjaan?

Lily menambahkan cepat, “Tapi aku tidak menyangka Anda pemiliknya….”

Alis kanan Arsen meninggi. “Kalau aku pemiliknya, apa itu masalah bagimu?”

Lily mendelik ke arah pria itu.

Masalah?

Pria ini serius baru menanyakan hal itu!?

Pertikaiannya dengan Bryan, hubungan buruknya dengan sang ayah, dan juga… hilangnya keperawanannya…

Semua itu jelas ada hubungannya dengan Arsen!

Tapi, pria ini bertanya seakan tidak tahu apa-apa!?

Lily menggeleng cepat.

Tidak.

Arsen memang terlibat, tetapi ini bukan sepenuhnya salahnya.

“Aku tidak masalah,” katanya akhirnya. “Tapi seperti yang Anda lihat, saya memiliki hubungan buruk dengan salah satu karyawan Anda. Jadi, saya akan mencari perusahaan lain. Permisi.”

Lily membungkuk hormat, lalu berbalik untuk pergi.

Namun—

"Menikahlah denganku."

Langkah Lily terhenti.

Perlahan, dia menoleh.

“Apa?”

Arsen menyandarkan tubuhnya ke sofa, menyilangkan tangan di depan dada.

"Menikahlah denganku, dan bukan hanya pekerjaan, aku bisa memberikan apa pun untukmu.

Termasuk pembalasan dendam kepada mantan tunanganmu yang berkhianat itu.”

Lily membeku.

Arsen … sudah tahu semuanya?

“Jika kamu keberatan, kita bisa menikah kontrak selama tiga tahun. Setelah itu, kamu bebas bercerai dariku.”

Pernikahan kontrak?

Tangan Lily mengepal.

“Setelah tahu mengenai bagaimana Bryan menghinaku dengan pengkhianatannya, juga bagaimana aku menolak pernikahan dengan pria yang tidak setia, kamu malah menawarkan pernikahan kontrak padaku? Apa kamu sengaja ingin menghinaku?!”

Namun, Arsen tetap tenang.

Dengan gerakan perlahan, dia bangkit dari duduknya.

Lily bergerak mundur.

Namun, punggungnya kini menempel di pintu.

Arsen berdiri tepat di hadapannya—lebih dekat dari yang Lily inginkan.

“Kamu yakin tidak ingin menikah?”

Suara pria itu lebih pelan, lebih rendah.

“Bukankah aku pria pertama yang tidur denganmu?”

Jantung Lily mencelos.

Tangan pria itu menangkap pergelangan tangannya, mengangkatnya ke atas kepalanya.

“Lepaskan aku! Lepaskan atau aku akan—"

“Aku tidak mengenakan pengaman di malam itu.”

Lily membeku. Dia langsung membuka mata dan menatap Arsen lurus.

Pria ini bilang apa?

Reaksi Lily membuat Arsen tersenyum, dan dia pun melanjutkan, “Oleh karena itu, menikahlah denganku, Lily Mahesa. Hanya dengan itu aku bisa membantumu menjaga reputasimu… dan membalaskan dendammu."

Arsen menyetarakan pandangannya dan kembali bertanya, “Bagaimana?”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B18394" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B18394
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant Husband
8.4
Demi menyelamatkan aset berharga peninggalan sang ibu dari kebangkrutan total akibat utang miliaran, Alexa terpaksa menghadapi tawaran gila Damian. Pria arogan yang membenci wanita itu menuntut seorang anak sebagai syarat bantuan finansialnya. Meskipun saling membenci, Damian tidak bisa menepis obsesi gelapnya pada Alexa. Kini, Alexa yang keras kepala harus terjebak dalam dinamika panas bersama pria temperamental tersebut. Akankah hubungan penuh paksaan ini berakhir sesuai rencana?
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy hancur saat Janessa, kekasihnya, tewas menjelang pernikahan mereka. Dendam membara pun ia tujukan kepada Aluna Jaylee Morris yang dituduh sebagai penyebab kecelakaan itu. Murka melihat Luna masih bebas, Saga nekat menjadikannya pengantin pengganti demi menyiksa hidup gadis itu secara langsung. Luna pasrah menerima penderitaan asalkan orang terdekatnya aman. Namun, mampukah kebencian Saga bertahan saat kebenaran di balik tragedi Jane mulai terungkap?
Sampul Novel En-PD181
7.9
Sebagai agen papan atas, karier saya terancam saat model pendatang baru Lucas menuntut pemecatan saya hanya karena masalah jaket. Dengan sombongnya, ia memamerkan hubungan spesialnya dengan pemilik perusahaan di tengah pesta. Namun, ia tidak menyadari siapa lawan bicaranya. Tanpa ragu, saya langsung menghubungi pria terkaya di negeri ini untuk mundur dari proyek film besarnya. Kini, nasib investasi mereka berada di ujung tanduk akibat keangkuhan tersebut.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Menikah dengan Miliarder Rahasia
8.9
Dikhianati calon tunangannya yang kabur, Livia nekat mengajak pria asing menikah secara spontan. Tanpa diduga, sosok itu adalah Kiran, pria yang dikenal punya reputasi buruk. Meski publik mencemooh dan sang mantan memintanya kembali, Livia tetap bertahan membela martabat pernikahannya. Segalanya berubah saat identitas asli Kiran sebagai triliuner dunia terungkap. Di hadapan semua orang, Kiran berlutut mempersembahkan berlian demi membuktikan cinta tulusnya.
Sampul Novel MY HUSBAND'S A HANDSOME CEO
9.7
Mempunyai suami seorang CEO yang rupawan dan kaya raya memang menjadi impian banyak orang. Namun, di balik keberuntungan itu, tersimpan tantangan besar untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Ada banyak wanita di luar sana yang terobsesi dan siap melakukan segala cara demi merebut posisi sang istri sah. Anda harus ekstra waspada menghadapi berbagai godaan serta rencana licik yang mengincar kebahagiaan pernikahan Anda dengan sang pria idaman.