
Dinikahi Guru Bk
Bab 2
Tiga bulan lalu....
Tok... Tok... Tok....
"Assalamualiakum!" ucap seorang siswa berseragam olahraga di ambang pintu kelas 12 IPA-A yang berhasil memecah konsentrasi semua siswa yang tengah serius memperhatikan guru menerangkan pelajaran matematika di papan tulis.
"Waalaikumsalam," balas guru dan sebagian siswa di dalam kelas.
"Maaf Bu saya diperintahkan oleh Pak Arjuna untuk memanggil Kak Anggun Citra Lestari," ucap siswa tersebut dengan sopan.
"Mampus kamu Gun! Kan udah aku bilangin jangan melakukan itu di sekolah!" bisik siswi di samping Anggun. Dia adalah Jessica, salah satu sahabat yang dimiliki Anggun.
"Kalian tenang aja guys. Aku tuh mau ketemu Pak Arjuna, guru paling ganteng di sekolah ini, kalian jangan jealous ya!" balas Anggun dengan santai pada kedua sahabatnya. Tak ada sedikit pun rasa penyesalan atau takut yang tersirat di wajah cantik Anggun.
Gegas Anggun bangkit dari tempat duduknya lalu berpamitan dengan Bu Sari, guru matematika di kelasnya dengan sopan. Selama ini Anggun memang terkenal bandel tapi sekali pun Anggun tidak pernah membantah perintah semua guru yang ada di sekolah. Anggun tetap bersikap santun. Bahkan Anggun tidak pernah berbicara sebelum gurunya memberikan kesempatan untuknya menjawab.
Dengan santai Anggun ke luar dari kelas. Anggun dan guru BK adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan itulah slogan teman sekelas Anggun karena sudah saking hapalnya dengan sepak terjang Anggun selama ini. Di kelas 12 IPA-A ada tiga siswa yang rajin berkunjung ke ruang BK. Antok, Gio, dan Anggun. Jadi jika ada panggilan BK untuk ketiga siswa tersebut kelas tidak pernah gaduh. Itu adalah hal yang sangat biasa bagi mereka semua.
Sepasang kaki Anggun berayun secara bergantian menyusuri koridor kelas dengan santai. Antara kelas Anggun dengan kantor BK memang berjarak lumayan jauh. Anggun harus melewati kelas 10 dan 11 IPA. Jadi SMA Tunas Bangsa tempat Anggun bersekolah ini memiliki tiga jurusan yaitu IPA, IPS, dan Bahasa. Setiap jurusan berada dalam satu gedung. Setiap jenjangnya terdiri dari 12 rombel atau rombongan belajar yang terbagi menjadi 3 jurusan. Kelas pun terpilih dari hasil tes seleksi masuk sekolah dan Anggun masuk di kelas A. Artinya Anggun bukanlah siswi yang tidak pandai. Anggun sendiri tidak pernah mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Hanya saja sejak naik di kelas 11 nilai pelajaran Anggun mulai menurun bersamaan dengan minat belajarnya yang sering moody. Sejak itu pula Anggun tak jarang membuat ulah dan masalah di sekolah.
Anggun menghentikan langkah kakinya sejenak di depan pintu berwarna hitam di hadapannya. Sedikit mengangkat wajahnya Anggun kembali mengeja nama ruangan yang tentu saja sangat dihapalnya. Di dalam sana ada 5 guru BK yang selalu sabar menghadapi para siswa bermasalah. Nahasnya Anggun berada dalam pengawasan guru BK paling ditakuti semua siswa di SMA Tunas Bangsa.
Anggun mengucap basmallah dalam hati sebelum mengetuk pintu di hadapannya. Ketukan ketiga barulah seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun membuka pintu untuknya.
"Assalamualiakum," ucap Anggun seraya meraih tangan perempuan bernama Zahra tersebut. Zahra adalah guru BK paling ramah dan sabar yang menjadi idola para siswa.
"Waalaikumsalam, pasti mencari Pak Arjuna ya?" balas Zahra dengan tersenyum lembut.
"I iya Bu," jawab Anggun dengan sopan.
"Ya udah tunggu saja di sana, beliau sepertinya masih ke kamar mandi," balas Bu Zahra lalu ke luar dari ruangan tersebut.
Udara dingin seketika menyergap kulit tubuh Anggun. Ruangan terangker sekaligus terpanas yang sering dirasakannya. Anggun menyapa guru BK lain yang berada di ruangan tersebut lalu duduk di kursi seberang meja yang terdapat name tag Arjuna Fusena Cakrawangsa. Sebenarnya Anggun tidak takut pada laki-laki berkacamata berparas tampan tersebut. Anggun hanya merasa tidak nyaman jika orang lain mengusik masalah pribadinya. Terutama masalah dalam keluarganya. Mungkin di mata sebagian orang penyebab kenakalannya terdengar berlebihan. Tapi bagi Anggun perpisahan kedua orang tuanya benar-benar menghancurkan hidupnya. Mereka egois dan lebih mementingkan kebahagiaan masing-masing tanpa memikirkan perasaan dirinya sebagai anak.
Demi menghibur diri sendiri seperti yang biasa dilakukannya Anggun mengeluarkan ponsel dari dalam saku seragam putihnya. Namun belum sampai hatinya terhibur suara decit kursi menginterupsinya. Perlahan Anggun mengangkat kepala. Menyapa laki-laki dewasa di hadapannya dengan senyuman terpaksa.
"Sudah datang dari tadi?" ujar Arjuna seraya mendaratkan tubuhnya di atas kursi.
"Tidak Pak, baru saja saya datang," jawab Anggun merasa garing. Padahal dirinya sudah memberikan senyuman termanisnya tapi laki-laki dewasa itu tetap saja memasang wajah datar dan dingin. Lebih tepatnya, kecut.
Arjuna mengeringkan kedua tangannya dengan tisu lalu membuang ke dalam tong sampah. Anggun terdiam dengan ekor mata terus mengikuti gerak-gerik Arjuna. Dilihat dari sisi manapun Arjuna tetaplah tampan dan menarik apalagi saat kacamata berframe hitam itu bertengger mesra di hidung bangirnya. Kadar ketampanan Arjuna bertambah berkali-kali lipat. Namun itu tidak berlaku di mata Anggun, baginya Arjuna hanyalah guru BK menyebalkan dan usil yang hobi ikut campur urusan pribadinya.
Arjuna bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju bilik di tempat biasa guru BK menginterogasi siswanya. Tempat yang Anggun sebut sebagai bilik pengakuan dosa. Anggun yang sudah hapal dengan alur di ruangan ini lantas turut beranjak dan menyusul langkah lebar Arjuna yang lebih dulu sampai. Rungan sempit yang hanya disekat oleh tembok kayu itu hanya memiliki luas 1,5 m persegi. Hanya terdiri dari dua kursi berhadapan dan satu meja sebagai pemisah antara sang hakim dan tersangka.
"Anggun Citra Lestari," eja Arjuna pada buku di hadapannya seolah baru pertama kali bertemu dengan Anggun.
Anggun mengulas senyuman lebar dengan ekspresi tak berdosa sama sekali. Ekspresi menyebalkan para siswa bermasalah yang ditanganinya. Ekspresi yang dijadikan topeng untuk menutupi semua masalah mereka. Menyembunyikan luka dan kecewa yang terus menggerus harapan mereka. Sejatinya remaja seperti mereka tidaklah berdosa. Mereka hanyalah korban yang terperangkap dalam problematika orang dewasa yang lebih memenangkan ego daripada sebuah cinta. Mereka hanyalah anak-anak kurang kasih sayang dari kedua orang tua. Kurangnya dukungan dari anggota keluarga. Padahal keluargalah yang menjadi tombak dari terbentuknya sebuah karakter seseorang. Orang tualah pendidikan pertama bagi anak-anaknya.
"Sebenarnya apa untungnya semua ini?" Arjuna mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja di hadapannya.
"Tidak ada Pak. Tapi saya suka," jawab Anggun dengan enteng saat melihat barang berbentuk kotak persegi berwarna putih yang disodorkan oleh Arjuna.
"Kamu tahu apa saja efek dari barang ini?" ujar Arjuna lagi dengan tatapan penuh selidik.
"Akibat merokok bagi kesehatan diantaranya dapat menyebabkan penyakit asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impoten), dan sebagainya," jawab Anggun secara lengkap yang sukses membuat Arjuna tercengang.
Gigi geraham Arjuna saling menekan di dalam sana hingga berhasil memamerkan rahang tegasnya di hadapan Anggun. Siswi di hadapannya selalu memiliki jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukannya.
"Klo kamu sudah tahu, lalu untuk apa kamu mengonsumsinya?" Pertanyaan kedua Arjuna lontarkan begitu saja.
"Entah Pak, tapi saya suka," jawab Anggun dengan entengnya. Melihat ekspresi kelam Arjuna, Anggun menundukkan wajahnya sembari kembali berkata-kata, "Mungkin karena bahan rokok yang mengandung nikotin di dalamnya yang membuat saya kecanduan Pak."
Arjuna menghela napas panjang seraya menelisik detail siswi di hadapannya yang tengah menyembunyikan wajahnya. Dari sekian siswi, Anggun adalah siswi yang selalu berpenampilan sederhana. Tidak pernah neko-neko. Anggun biasa hanya mengikat rambut panjangnya dengan asal. Tanpa make up sebagai pemanis wajahnya yang memang sudah cantik sejak lahir.
"Anggun!" panggil Arjuna dengan lembut. Anggun mengangkat wajahnya. Memberanikan diri menatap Arjuna. Anggun bisa merasakan perubahan tatapan Arjuna padanya. Bukan marah atau benci padanya melainkan rasa iba yang tersirat di dalam sana dan Anggun tidak suka akan hal itu. Anggun benci dengan tatapan iba yang semakin membuatnya merasa tak berguna. Merasa tak diinginkan.
"Saya tahu bagaimana perasaan kamu. Tapi bukan seperti ini caranya. Apa yang kamu lakukan ini salah. Dengan alasan apapun ini tetap tidak bisa dibenarkan," sambung Arjuna yang berhasil membungkam bibir Anggun dengan rapat.
"Bahagia itu bukan hanya sekedar bersama. Tapi melihat orang-orang yang kita cintai bahagia dengan cara mereka masing-masing itulah sejatinya bahagia Nak."
Kedua mata Anggun mulai terasa panas. Jari jemari Anggun mulai saling meremas di atas pangkuannya yang mulai terlihat mengabur. Hatinya tersayat mendengar penuturan Arjuna. Salahkah jika dirinya ingin memiliki keluarga yang sempurna seperti teman-temannya yang lain? Salahkah jika dirinya menginginkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya?
"Dengar, apapun yang terjadi di antara kedua orang tua kamu seharusnya itu bisa menjadi pelajaran berharga untuk kamu meraih masa depan. Kamu itu pandai dan cantik. Kamu sempurna Anggun. Jangan sampai kamu merusak masa depan kamu sendiri. Apalagi sebentar lagi kamu lulus SMA. Perjalanan kamu masih panjang. Raih cita-cita kamu. Tunjukkan pada semua orang bahwa kamu kuat. Kamu yang terbaik," ujar Arjuna tanpa melepaskan tatapan dari siswi di hadapannya yang kini mulai terisak.
Arjuna mengambil tisu di sampingnya lalu memberikan pada Anggun. Gegas Anggun menerima dan mengusap air mata sekaligus ingus yang ke luar dari hidungnya.
"Terima kasih atas nasihat Bapak," jawab Anggun dengan mengulas senyuman.
Anggun mengangkat wajahnya seraya memasang ekspresi yang tentu sudah dihapal oleh Arjuna. Innocent.
"Kali ini hukuman apa yang harus saya terima Pak?" tanya Anggun. "Klo bisa jangan bersihin kamar mandi ya Pak, bau soalnya hehehehe," sahut Anggun dengan terkekeh, memamerkan deretan giginya yang putih dan bersih.
Arjuna menghela napas seraya menggelengkan kepala. Dari sekian siswi bermasalah yang ditanganinya Anggun lah yang paling sulit dan keras kepala. Setahun yang lalu saat Arjuna belum mengetahui kondisi keluarga Anggun yang sebenarnya ia selalu memperlakukan Anggun dengan keras dan tegas. Namun Anggun bukannya luluh, gadis itu justru sering membuat masalah di sekolah. Surat panggilan untuk orang tuanya pun tidak pernah sampai di tangan kedua orang tuanya. Akhirnya Arjuna sendiri yang datang ke rumah Anggun untuk menemui orang tuanya. Setelah bertemu dan berbicara bersama papanya Arjuna pun mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Anggun. Sejak saat itu Arjuna mencoba mengubah cara untuk menangani gadis itu.
"Kamu mau hukuman apa?" Arjuna balik bertanya. Memberikan penawaran palsu kepada Anggun yang tampak berpikir keras.
"Mmmm apa ya?" gumam Anggun seraya terus memikirkan hukuman yang cocoknya untuknya. "Pokoknya jangan membersihkan kamar mandi atau berdiri di tengah lapangan ya Pak," pinta Anggun dengan tersenyum penuh harap jika Arjuna memberikan keringanan hukuman untuknya kali ini.
"Ok, silahkan tulis istighfar sebanyak seribu kali," titah Arjuna dengan serius. "Satu lagi, dikumpulkan sebelum jam pelajaran berakhir!"
Bibir Anggun seketika terbuka lebar. Membayangkan menulis kalimat istighfar sebanyak 1000x tentu bukanlah hukuman yang ringan. Bisa-bisa setelah menulis tangannya mendadak terserang stroke.
"Pak bisa nego nggak?" sela Anggun dengan memasang wajah memelas. Memohon keringanan hukuman untuknya.
"Tentu saja...," jawab Arjuna menggantungkan kalimatnya, "tidak bisa! Sekarang silahkan ke luar dari sini dan kerjakan hukuman kamu sekarang juga!"
Anda Mungkin Juga Suka





