
Dinikahi Guru Bk
Bab 3
"Pak Bapak jangan galak-galak kenapa? nanti gantengnya luntur loh!" ucap Anggun dengan santainya kepada guru BK di hadapannya tersebut.
"Nggak papa luntur wong saya udah punya calon istri kok," balas Arjuna dengan tatapan tak terbaca.
"Hahahaha... Bapak ngigau deh! Selama satu tahun ke luar masuk ruangan Bapak, nggak ada tuh satu pun guru yang bilang Bapak udah punya calon istri," cibir Anggun tak percaya dengan ucapan guru BK yang berjuluk malaikat pencatat amal tersebut.
"Jadi penasaran, siapa Pak?" Kembali Anggun melayangkan pertanyaan. Sejujurnya Anggun sengaja ingin mengalihkan fokus Arjuna yang sejak satu jam lalu tanpa henti memberikan tausiyah padanya.
"Ya siswi yang paling sering masuk ke ruangan saya."
Mendengar jawaban Arjuna seketika jemari Anggun yang tengah memegang pena terlepas karena terkejut. Anggun tak menyangka jika diam-diam guru BK yang menjadi idola para siswi sejagad SMA Tunas Bangsa itu telah sold out. Senyuman di bibir Anggun seketika merekah saat membayangkan kabar ini beredar luas di lingkungan sekolah. Anggun sudah tak sabar ingin menyaksikan bagaimana reaksi para siswi yang patah hati.
Melihat senyuman penuh arti Anggun membuat Arjuna menggelengkan kepala. Memang dirinya tak tahu persis apa isi kepala gadis itu. Tapi ia bisa menebak jika hal yang sedang dipikirkan Anggun pasti bukanlah sesuatu yang baik.
"Cepat selesaikan hukuman kamu klo tidak ingin kita menginap di sekolah!" titah Arjuna yang seketika membuat Anggun terkesiap.
Anggun melayangkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan BK yang memang sepi. Sudah satu jam yang lalu seluruh penghuni sekolah pulang kecuali tukang kebun yang bertugas hingga pukul empat sore. Dan kini dirinya harus menyelesaikan hukumannya dengan cepat. Kembali Anggun menghitung baris tulisan di kertas folio di hadapannya untuk kembali memastikan jumlah kalimat istighfar yang telah ditulisnya.
"893," gumam Anggun dengan frustasi. Masih kurang 107 lagi yang harus ditulisnya jika ingin terbebas dari hukuman.
"Pak!" ucap Anggun dengan memasang wajah memelas. Berharap mendapatkan keringanan hukuman.
"Hmmm...," gumam Arjuna yang tengah merekap absen para siswa.
"Pak ini dilanjutkan besok aja gimana? Sudah jam 2 ini. Nanti papa khawatir karena anak perawannya belum pulang," bujuk Anggun masih berusaha meluluhkan hati Arjuna.
"Tidak. Hukuman itu harus kamu selesaikan sekarang juga. Saya juga sudah mengirim pesan WhatsApp kepada papa kamu. Jadi sekarang lanjutan hukuman kamu dengan cepat!" jawab Arjuna dengan santai tanpa sedikit pun mengalihkan fokus dari pekerjaannya.
"Sumpah ini orang bikin darting. Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba. Hamba janji deh nggak bakal nakal lagi asalnya orang ini menghilang dari kehidupan hamba untuk selamanya," gaung Anggun dalam hati menyesali pelanggaran yang telah dilakukannya.
"Udah nggak perlu repot-repot doain saya!" Tiba-tiba saja Arjuna menyahut seolah bisa mendengar apa yang sedang diucapkan oleh Anggun dalam hati.
Tanpa ingin membalas, Anggun kembali melanjutkan hukumannnya tanpa menghiraukan jemarinya yang sejak tadi sudah protes ingin diistirahatkan.
Tepat pukul 15.10 WIB Anggun menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Arjuna lalu bergegas memakai tas ranselnya. Pun dengan Arjuna yang juga menenteng tasnya.
"Saya sudah berjanji akan mengantarkan kamu pulang dengan selamat sampai rumah," ujar Arjuna seraya mematikan AC kantor BK sedangkan Anggun yang baru saja hendak menekan kenop pintu seketika berbalik badan. Menatap Arjun tajam.
"Ayo!" Arjuna melewati Anggun begitu saja lalu membuka pintu untuk gadis itu.
"Ya Allah, ampuni hamba!" ucap Anggun bagai desis angin seraya berjalan meninggalkan Arjuna yang masih mengunci pintu ruang BK.
Tak henti Anggun mengumpat dalam hati seraya berdiri menunggu di samping mobil milik Arjuna. Melihat wajah kesal Anggun Arjuna mengulas senyuman tipis. Sangat tipis sampai Anggun tak menyadarinya.
"Cepetan masuk!" Perintah Arjuna karena Anggun masih saja terdiam di tempatnya padahal sudah jelas-jelas kunci mobil telah terbuka.
Arjuna membuka pintu mobil, duduk di kursi kemudi sedangkan Anggun duduk di kursi penumpang bagian belakang. Menyadari Arjuna yang tak kunjung melajukan mobilnya lantas Anggun melayangkan protes.
"Pak kok nggak jalan-jalan sih mobilnya? Jangan bilang mogok!" kesal Anggun dengan emosinya yang semakin memuncak. Anggun sudah capek dan tentu saja sangat lapar karena gara-gara mengerjakan hukuman dari Arjuna, Anggun melewatkan jam makan siangnya begitu saja.
"Saya tidak akan menjalankan mobil jika kamu tidak pindah ke depan," jawab Arjuna lalu kembali berkata-kata sebelum Anggun sempat membalasnya, "Saya bukan supir kamu!"
"Allahu Akbar!" ucap Anggun dengan kesabaran di ambang batas.
Gegas Anggun turun dari mobil lalu menutup pintu dengan keras sebagai bentuk protesnya. Kini Anggun sudah duduk manis di kursi sebelah Arjuna dengan wajah memerah. Sumpah serapah dalam hati Anggun pun tak berhenti di sepanjang jalan dari sekolahan menuju rumahnya. Tapi hukuman Anggun ternyata belum usai saat mobil Arjuna berhenti di depan sebuah rumah makan.
"Kita makan dulu. Saya tidak ingin dimarahi papa kamu karena membiarkanmu kelaparan," ucap Arjuna lalu turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Anggun.
Anggun memejamkan mata sebelum turun dari mobil lalu menyusul Arjuna yang telah lebih dulu memasuki rumah makan. Seperti kerbau dicocok hidungnya Anggun menuruti semua perintah guru BK-nya tersebut. Menolak atau mendebat tidak ada gunanya lagi.
Arjuna menyerahkan buku menu kepada Anggun agar gadis itu memilih makanan sesuai seleranya.
"Bebek goreng dan es jeruk manis Mas," ucap Anggun kepada pramusaji yang saat ini berdiri di samping meja mereka dengan membawa buku.
"Sama aja Mas," sambung Arjuna ketika pramusaji tersebut menuliskan pesanan makanan Anggun.
Sembari menunggu pesanan makanan mereka datang Anggun memainkan ponselnya. Mencoba meredam emosinya yang telah berada di ujung kepala sedangkan Arjuna justru memperhatikan setiap detail pergerakan Anggun dengan sesekali tersenyum tipis. Tak lama pesanan mereka datang dan tanpa malu-malu Anggun menyantap makanannya dengan lahap.
"Anggun klo makan pelan-pelan! Namanya Anggun tapi kelakuan, ya ampun...," tegur Arjuna seraya menyerahkan es jeruknya kepada Anggun yang tersegak karena kepedasan.
Anggun menatap Arjuna tajam sembari menerima es jeruk tersebut lalu meneguknya dengan cepat. Kali ini Anggun diam, semakin ia protes maka bisa dipastikan Arjuna tidak akan melepaskannya.
"Saya pesankan minuman lagi ya Pak?" tawar Anggun karena minuman Arjuna hampir habis diminumnya. Pun dengan minumannya sendiri yang hanya tersisa separuh.
"Tidak perlu. Saya minum air mineral saja," jawab Arjuna seraya mengambil satu botol minuman air mineral yang tersedia di atas meja.
Setelah membayar tagihan makanan mereka Arjuna segera menyusul Anggun yang telah ke luar dari rumah makan terlebih dahulu. Tanpa menunggu perintah, Anggun telah duduk manis di kursi samping kemudi.
Sebelum menjalankan mobil Arjuna melepaskan kacamata dan memasukkan ke dalam saku atasan seragam batik yang dikenakannya. Tak satu pun dari mereka yang berniat membuka kata. Jika Anggun mengumpat dalam hati karena saking kesalnya, Arjuna sebaliknya. Laki-laki itu justru menahan tawa karena merasa lucu dengan tingkah laku gadis di sebelahnya. Arjuna yakin jika lama bergaul dengan remaja seperti Anggun dirinya bakal awet muda.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah Anggun. Sebelum turun dari mobil Anggun mengucapkan terima kasih karena Arjuna karena mau mentraktir makan siang dan memberikan tumpangan untuk pulang. Namun saat Anggun membuka pintu ternyata pintu mobil masih terkunci.
"Save nomor kamu di sini!" Arjuna menyerahkan ponselnya agar Anggun menuliskan nomor WhatsApp-nya di sana.
Anggun menatap Arjuna dengan kesal. Ternyata hukumannya tidak juga berakhir. Justru sepertinya inilah hukuman terberatnya setelah ini. Dengan memberikan nomor WhatsApp berarti Arjuna akan dengan mudah mengontrolnya.
"Tulis, atau saya bawa pulang kamu?" ancam Arjuna yang langsung membuat Anggun meraih ponsel itu dan menuliskan nomornya di sana dengan cepat.
"Sudah!" Anggun mengembalikan ponsel Arjuna tapi laki-laki itu tak juga membuka kunci mobilnya.
"Save nomor saya juga!" titah Arjuna sembari melakukan miss call ke nomor WhatsApp milik Anggun.
Setelah memastikan Anggun telah menyimpan nomornya Arjuna baru menekan kunci mobil yang berada di sampingnya. Arjuna menatap punggung Anggun yang menjauh dengan senyuman penuh arti.
Setibanya di dalam rumah, Anggun langsung disambut oleh perempuan cantik berhijab yang baru setahun lalu dinikahi oleh papanya. Tapi seperti biasa Anggun mengacuhkan perempuan itu dan melenggang masuk ke dalam kamarnya. Perempuan bernama Intan itu hanya menghela napas panjang dengan sikap putri tirinya yang tidak pernah menganggap kehadirannya. Bahkan sudah lebih dari setahun gadis itu tetap saja tidak mau menerima kehadiran dirinya sebagai ibu sambung.
Akmal yang baru saja pulang dan melihat wajah istrinya yang murung di ambang pintu seketika mendekat. Tentu saja Akmal mengerti alasan istrinya terlihat murung.
"Sudahlah Sayang, tidak perlu dipikirkan. Nanti juga dia mengerti sendiri," ucap Akmal lalu merangkul bahu Intan untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas, aku itu tulus menyayangi Anggun tapi dia masih saja cuekin aku," adu Intan saat mereka sudah berada di kamar.
"Sudah nggak perlu dipikirkan. Namanya juga remaja. Dia masih labil," balas Akmal mencoba menenangkan sang istri.
Intan mengulas senyuman lalu meraih tas kerja Akmal untuk diletakkannya di atas meja. Melihat wajah sendu Intan lantas membuat Akmal kembali berbicara.
"Bersabarlah! Anggun itu hanya belum menerima perpisahanku dan Zulia. Nanti juga dia akan luluh dengan sendirinya." Intan mengangguk lalu mengulas senyuman demi menutupi rasa sakit di hatinya karena diacuhkan Anggun begitu lama.
Anda Mungkin Juga Suka





