
Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
Bab 2
Pagi itu udara kota Texas masih terasa dingin, Alexa berdiri di depan mobil hitam mewahnya sembari berkacak pinggang dengan wajah masam.
"Hei, bisa lebih cepat nggak? Aku nggak punya waktu buat nunggu orang lelet," ujarnya tajam.
Rafael, hanya menatap dingin sementara kacamata hitamnya menutupi pandangan dan kekesalan, ia hanya mendengus pelan. Seumur hidupnya melindungi para pejabat, belum pernah ada satu pun yang membuatnya ingin menarik napas panjang sesering ini.
Tanpa menatap Alexa, pria itu langsung membuka pintu sisi kemudi, masuk, lalu menyalakan mesin. Suara mesin yang menggeram pelan memenuhi suasana.
Alexa terbelalak. "Tunggu dulu-dia nggak membukakan pintu untukku?" gumamnya tak percaya.
Rafael menoleh sedikit, menurunkan kacanya, lalu berkata datar, "Cepat naik! Aku di sini cuma untuk jaga nyawa kamu, bukan jadi pembantumu."
Alexa mengerjap, separuh kaget, separuh terpesona pada nada berat yang keluar dari bibir pria itu.
"Kurang ajar," bisiknya pelan, sebelum akhirnya membuka pintu sendiri dan duduk di kursi penumpang, matanya masih melirik tajam ke arah Rafael.
Namun, Rafael tak bereaksi. Hanya tangan kasarnya yang menggenggam setir kuat, sementara matanya lurus menatap jalan, seolah gadis di sampingnya tak lebih dari beban yang harus dia jaga.
Alexa melirik dari sudut mata. Dagu Rafael yang tegas, kulit putih dengan sedikit bayangan janggut tipis di rahangnya, terlalu rapi untuk disebut liar, tapi juga terlalu berbahaya untuk disebut jinak.
"Tampan sih," gumamnya pelan, sambil menyandarkan tubuh ke jok mobil. "Tapi sayang ... pria ini sepertinya nggak punya gairah hidup. Kayak patung hidup yang cuma tahunya marah."
Rafael melirik sekilas lewat kaca spion. "Jika Nona ingin selamat, patuhi semua aturan dari saya."
Alexa mengangkat alis, separuh tersenyum. "Kenapa harus patuh pada Anda?"
"Jika Anda masih ingin hidup patuhi aturan saya, kecuali jika sudah bosan untuk hidup, silakan ... semua tergantung pada Anda."
"Sial! Kenapa ayah kirimkan pria aneh seperti orang ini?" gerutunya kesal.
Hening kembali memenuhi mobil, hanya suara mesin dan alunan pelan lagu dari radio yang memecah suasana. Alexa menatap jendela, namun dalam bayangan kaca, ia bisa melihat wajah Rafael yang fokus. Tatapan dingin itu ... membuatnya penasaran.
Untuk pertama kalinya, Alexa mengerti kenapa ayahnya begitu percaya pada pria ini, meski dari sisi lain, sesuatu dalam dirinya mulai terusik.
Setibanya di kampus, Rafael memarkir mobil hitamnya di sisi jalan, tak jauh dari gerbang utama. Ia perlahan turun, lalu membuka pintu perlahan.
"Silakan turun, Nona muda!" titah Rafael.
Alexa keluar dari mobil, menatap sekeliling dengan angkuh. Mahasiswi lain sudah mulai memperhatikan, beberapa bahkan berbisik-bisik melihat mobil mahal dan pengawal gagah yang berdiri di dekatnya.
Rafael menatapnya sekilas, lalu memberi instruksi. "Jangan keluar dari area kampus. Saya akan menunggu di sekitar sini."
Alexa menghela napas kesal, melipat tangan di dada. "Kau serius mau tunggu di sini seharian? Pulang saja, aku ada kelas sampai sore."
Rafael menatapnya dari balik kacamata hitam, suaranya dalam, memperingati. "Saya akan tetap menunggu, Nona. Ingat pesan saya, jika Anda ingin selamat, jangan terlalu jauh dari pandangan saya."
Alexa menahan tawa kecil. "Kau ini pengawal atau hantu?"
"Terserah Anda, Nona!" jawab Rafael tenang, lalu menutup pintu mobilnya dan bersandar di sisi kendaraan.
Alexa mendengus. "Kau sungguh menyebalkan, Rafael."
Sambil melangkah masuk ke kampus, Alexa sempat menoleh sekilas. Rafael masih berdiri di sana, tegap, tenang, dan ... membuat Alexa penasaran pada sosok pria tampan itu, apalagi saat melihat tubuhnya yang kekar.
"Apaan sih Alexa ... kau membayangkan tidur dengan bodyguardmu? Oh my good! Kau benar-benar gila!" pekik Alexa.
Anda Mungkin Juga Suka





