
Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
Bab 3
Alexa mengangkat bahunya pelan, geli sendiri dengan pikirannya yang konyol. Namun, saat ia menoleh, pria itu-Rafael, masih berdiri di samping mobil hitamnya. Tatapannya tajam, dalam, seperti sedang menembus pikirannya.
"Damn it!" bisiknya pelan, menekan dada yang berdebar tak karuan. "Kenapa jantungku malah berdebar."
Ia buru-buru melangkah, berusaha menjauh sebelum pikirannya makin gila. Tapi langkahnya justru berhenti mendadak ketika tubuhnya menabrak seseorang.
"Shit-! I'm sorry, Andrew!" katanya cepat, sedikit panik.
Andrew menoleh, senyumnya hangat tapi matanya meneliti. "Hey, easy. You okay?"
Alexa menelan ludah, mencoba menenangkan diri. "Yeah ... I'm fine," ujarnya, berusaha terdengar santai meski pipinya memanas. Ia tahu, pria di depannya ini adalah kapten basket yang cukup Populer.
Andrew menatap Alexa dengan senyum penuh arti. Ia tahu gadis di hadapannya bukan sembarang wanita, Alexa , si pewaris keluarga politik yang cantiknya mampu membuat siapa pun kehilangan logika.
Dan saat Alexa masih berada dalam pelukannya, Andrew sedikit menunduk, jaraknya hanya tinggal beberapa inci dari bibirnya. Tatapan matanya jelas, penuh rasa ingin memiliki, dan kemenangan.
Namun, sebelum bibir itu sempat menyentuh, suara berat dan dingin memotong udara.
"Ekhem. Nona Alexa, masuk ke dalam kelasmu. Sekarang."
Nada itu datar, tapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Alexa membeku, matanya melebar kaget. Rafael berdiri tak jauh di depan mereka, tegak, berbaju serba hitam, dengan tatapan yang cukup tajam untuk membelah keheningan.
"Bagaimana mungkin?" pikir Alexa panik. "Bukankah pria itu tadi masih di depan gerbang?"
Andrew refleks melepaskan pelukannya, namun tak bisa menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Sedangkan Rafael hanya menatap keduanya dengan pandangan yang dingin dan berbahaya, seolah cukup satu langkah salah, Andrew akan lenyap dari kampus itu detik ini juga.
"Dia ... siapa?" tanya Andrew dengan nada heran, matanya bergulir menilai Rafael dari ujung kepala sampai kaki.
"Supirku!" sahut Alexa cepat.
Sebuah senyum miring muncul di sudut bibir Rafael. Tenang, tak berekspresi, tapi ada sesuatu di balik tatapan matanya yang dingin, tajam, dan sulit dibaca.
Andrew terkekeh pelan. "Supir, huh?" ujarnya sambil menepuk bahu Rafael dengan angkuh. "Kau cuma supir, tapi berani ikut campur urusan majikanmu? Punya nyali juga, kau!"
Rafael tak bergeming. Tapi detik berikutnya, dengan gerakan pelan dan presisi, ia merogoh saku jasnya. Sapu tangan hitam keluar dari sana, lalu ia mengusap bagian bajunya yang baru saja disentuh Andrew-gerakannya lambat, seolah sedang membersihkan noda menjijikkan.
"Jangan pernah menyentuh saya lagi, kalau kau masih menginginkan tanganmu utuh," ucap Rafael datar.
Nada suaranya terlalu tenang untuk disebut marah-tapi cukup dingin untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.
Andrew hanya terkekeh, mencoba menutupi kegugupannya dengan arogansi. "Ancaman dari supir? Lucu juga," ejeknya sambil melangkah maju.
Namun, detik berikutnya, ia melemparkan tinju ke arah wajah Rafael. Gerakannya cepat-tapi pria di depannya jauh lebih cepat.
Dengan satu gerakan halus, Rafael menepis pukulan itu, lalu berbalik memelintir pergelangan tangan Andrew dengan presisi militer. Suara kecil crack terdengar, membuat Andrew menahan erangan.
"Rafael! Lepas!" suara Alexa memecah ketegangan, terdengar panik sekaligus marah.
Rafael menoleh perlahan ke arahnya, senyum tipis dan sinis muncul di sudut bibirnya, senyum yang lebih menakutkan dari ancaman mana pun.
Lalu tanpa berkata apa pun, ia melepaskan tangan Andrew begitu saja.
Andrew terhuyung mundur, menatapnya dengan amarah bercampur ketakutan. Sedangkan Rafael hanya berdiri tegap, membenarkan jaketnya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Pergilah! Dan jauhi Nona Alexa!"
Nada ancaman itu membuat bulu kuduk Alexa berdiri. Sementara Andrew segera pergi, dan tak ingin semua rencananya gagal untuk mendekati Alexa.
Setelah pria itu pergi, Rafael mendekat. "Masuklah Nona Alexa, saya akan menunggu Nona di depan!" katanya datar.
Anda Mungkin Juga Suka





