
Dinara - Ganti Suami
Bab 2
“Udah nggak waras lo, Mbak!”
Tidak terhitung berapa kali banyaknya Violeva mengata-ngatai dia seperti itu. Seingat Dinara, tidak ada yang berani mengatakan hal itu padanya, bahkan ibu kandungnya sendiri. Entah karena dia tidak punya teman dekat, atau Violeva yang terlalu nekat. Anehnya, dia senang diumpat. Dinara merasa memiliki teman, dan meski Violeva hanya rekan bisnis ibunya juga orang yang menyediakan jasa paket pernikahan, tapi mungkin hubungan mereka setelah ini bisa lebih dekat.
Dia melangkah keluar butik dan merasakan sengatan panas matahari siang itu lagi. Semakin panas membara kala mengingat dirinya baru saja ditolak oleh orang asing. Dinara sepertinya harus mandi ke tujuh sumur dan tiga danau untuk membuang sial. Dia sudah ditinggal oleh Haikal, ditipu, dan sekarang ditolak oleh seseorang.
“Mas boleh pikir-pikir dulu,” ujarnya tenang kala berhadapan dengan sosok asing itu.
“Maaf, Mbak, sepertinya langsung saja, saya nggak bisa. Mohon maaf sekali lagi.”
Mau dia pakai bahasa dari surga sekalipun, yang namanya penolakan tetap saja penolakan. Dan meski Dinara tidak menaruh hati atau apa, dia tetap merasa terluka atas hal barusan, penolakan tidak ada dalam kamusnya sama sekali. Harusnya tadi dia paksa sekalian.
“Hai... M-mbak.”
Dinara menghentikan langkah, seketika pikiran-pikiran itu pun menguar di udara, tatapannya beralih ke asal suara, di sebelah kanannya pria berkemeja hijau tadi duduk menyamping dengan pintu mobil yang terbuka, kemudian buru-buru turun dari sana untuk menuju ke arahnya.
Dia menyunggingkan senyum. “Mas berubah pikiran?”
“Ya,” jawabnya tenang tanpa sedikit pun keraguan.
Dinara maju, merasa senang atas ucapan itu. “Dinara, 29 tahun.”
“Saya Arya, 30 tahun.”
“Saya yang panggil Mas Arya, kalau begitu.”
“Oke.” Pria itu mengangguk. “Saya nggak mungkin panggil kamu mas karena kamu perempuan.”
Dinara tersenyum—hampir tertawa sebenarnya, dia suka candaan pria 30 tahun yang agak krispi itu. Namun tidak apa-apa, kesan pertama adalah segalanya, jadi jangan terlalu membuat image berpura-pura. Kalau mereka sepakat, keduanya akan menikah, jadi suami istri, tidak boleh terlalu banyak drama.
Keduanya berjabat tangan, melakukan hal umum sebagaimana orang baru pertama bertemu dan berkenalan. Siapa sangka setelahnya mereka duduk bersebelahan, membelah jalanan untuk mencari tempat mengobrol yang lebih nyaman. Dinara melirik ke sebelah kanan, pria di sampingnya begitu menawan, dan awalnya bahkan dia tidak sadar. Dia hanya bertindak impulsif tanpa menilai apa pun sebelumnya. Dinara hanya ingin menikah, itu saja.
Mereka sampai di tempat makan acak tanpa perencanaan sebelumnya, duduk berseberangan, saling melempar senyum, bukankah ini seperti sedang ikut acara kencan buta? Atau Take Me Out Indonesia?
“Saya boleh pesan minum, Mas? Nanti biar saya yang bayar.”
“Oh, No. Sorry for bad attitude. Saya nggak nawarin kamu dulu, silakan pesan. Apa kita makan siang sekalian?”
Dinara menaikkan alis dan tersenyum. “Boleh.”
“Biar saya yang bayar semuanya.”
Setelah setuju dan sama-sama memesan menu makan siang, Dinara dan Arya fokus menikmati hidangan tanpa bicara. Perlu perut kenyang serta kewarasan penuh untuk melanjutkan diskusi mereka yang sedang ditunda. Kalau tidak begitu, bisa saja mereka membuat keputusan gegabah yang akan disesali di kemudian hari. Dinara tidak mau. Meski aneh karena harus makan semeja dengan orang asing pertama kali, tapi itu tidak lebih aneh dibanding mengajak orang itu menikah di hari pertama berjumpa kemudian sama-sama sepakat untuk menyetujuinya.
“Apa yang membuat Mas Arya berubah pikiran?” tanyanya tanpa aba-aba, saat piring-piring mereka di kesampingkan.
“Pernikahan saya bulan depan.” Arya menaruh kedua tangannya di atas meja dan serius menatapnya. “Terlalu memalukan untuk keluarga saya kalau itu dibatalkan sebenarnya, tapi saya nggak punya pilihan lain.”
“Sekarang Mas punya pilihan lain.” Dinara tersenyum jumawa. “Karena penyelamat Mas Arya ada di hadapan Mas sekarang.”
Arya tertawa, mengangguk untuk menyetujuinya. “Kamu benar.”
“Calon istri Mas, ke mana?”
“Hilang udah tiga bulan, pergi begitu aja tanpa bilang.” Dia menjawabnya dengan mimik datar, kesan ramah dan menyenangkan dari sorot matanya tadi mendadak binasa. “Entah dia punya orang lain, atau dia memang seperti yang digosipkan orang-orang.”
“Apa?” tanya Dinara penasaran.
“Dia nggak mau diajak berjuang dan takut hidup susah sama saya.”
Wanita itu memiringkan kepala. Hidup susah macam apa maksudnya? Dinara tahu betul kendaraan yang baru saja mereka naiki berharga miliaran rupiah, kemeja, bau parfum mahal, serta penampilan Arya secara keseluruhan tidak menunjukkan indikasi demikian. Arya jelas berasal dari keluarga berkecukupan kalau tidak bisa dikatakan kaya, Dinara tahu bahkan hanya dengan sekali lihat.
“Gimana dengan kamu... Di?”
Di? Dinara mengangkat wajah, orang-orang biasa memanggilnya Dinar, mata uang dari negara timur tengah sana. Dinara yang artinya emas berharga. Di? Panggilan macam apa itu? Anehnya, dia suka, terutama aksen Arya dan penekanan di ujungnya.
“Mantan tunangan saya kabur dan bawa uang tabungan kami, sampai sekarang saya dan dia belum ketemu lagi. Tapi saya tahu kalau kami udah nggak bisa sama-sama, saya dan dia nggak punya masa depan. Jadi hari ini, saya datang ke butik Violeva buat membatalkan rencana pernikahan.”
Dinara tidak tahu bagaimana kabar Haikal, terlebih setelah Danish menghajarnya hingga babak belur, dia tidak ingin tahu. Dinara mengambil semua keputusan sendiri, dia merencanakan pernikahan sendiri, dan membatalkannya sendirian pula. Sejak awal, dia yang selalu berjuang sendiri, Haikal tidak pernah memberi sumbangsih apa-apa.
“Udah lapor polisi?” tanya Arya di luar ekspektasi. “Atau mau saya bantu?”
“Mas Arya pengacara, ya?”
“Bukan.” Dia menggeleng. “Saya cuma bantu orangtua menjalankan bisnis keluarga, tapi punya niat buat berhenti, saya sedang mencari jati diri.”
Dinara terkekeh geli. Dia tidak banyak bertemu laki-laki dalam hidupnya, dia juga bukan orang yang gampang terpesona, tapi Arya berbeda, entah itu karena mindset-nya sudah mengatur bahwa Arya adalah calon suami baru, sehingga Dinara mulai membuka pikiran untuk pelan-pelan menyukainya.
“Hm... jadi, saya memutuskan buat nggak lapor polisi. Kebetulan adik saya laki-laki, agak badung juga, jadi dia yang urus mantan tunangan saya.”
Arya memiringkan kepala, kemudian mengangguk-angguk setelahnya.
“Tapi masih ada kemungkinan mantan pacarnya Mas Arya kembali dalam waktu satu bulan ini, kenapa nggak nunggu dulu aja?”
“Saya harap juga begitu,” ujarnya murung. “Saya harap dia tiba-tiba datang dan kasih saya kejutan. Saya harap cuma lagi di-prank aja.”
“Tapi?”
Arya tersenyum dan menatap Dinara sendu, menularkan sakit hatinya. “Tapi saya tahu semua pembenaran itu cuma usaha untuk membohongi diri saya sendiri.” Pria itu membuang pandang dan menghela napasnya pelan. “Kalaupun dia kembali, saya nggak akan sama dia lagi.”
Dinara bisa merasakan getar di suaranya, juga ledakan emosi yang meletup serta gema patah hati dari cara Arya bicara. Sehebat itu ternyata, sampai dia tidak mau kembali pada wanita itu meski mereka bertemu lagi.
“Kalau kamu, Di?”
“Apa?” Dinara mengangkat kepala.
“Kalau mantan tunangan kamu datang, minta maaf, minta kesempatan, dan kembalikan seluruh uang tabungan kalian, apa kamu mau balikan lagi sama dia?”
Alis Dinara berkerut. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya, atau memang memungkiri hal itu karena tidak akan pernah terjadi. Dia kenal siapa Haikal, pria itu hanya akan datang dan tidak akan melakukan pertanggungjawaban.
“Saya nggak pernah kepikiran ke sana,” jawabnya jujur. Dinara berusaha keras untuk tidak mengatakan kebohongan apa pun hari ini, setidaknya di hadapan kandidat calon suami. “Saya udah selesai sama dia, dan sama diri saya sendiri.”
“Pantas kamu nggak kelihatan kayak orang patah hati.”
Keduanya tertawa. Memang berbeda, Dinara dan Arya tidak mengambil sikap yang sama untuk menghadapi persoalan ini.
“Saya juga memutuskan untuk selesai sama dia hari ini,” sambung Arya lagi. “Itu yang kita perlukan untuk membuka lembaran baru.”
“Termasuk cari calon istri baru?” Dinara tersenyum menggoda, dia suka cara Arya menatapnya sekarang, Arya begitu dewasa. Cara bicaranya lugas dan bisa mengimbanginya.
“Termasuk memutuskan untuk menikah dengan kamu, itu yang kita perlu.” Mereka saling menatap serius. “Selesai sama diri sendiri, sama masa lalu, dan bertekad untuk nggak kembali meski mereka memohon-mohon waktu datang lagi.”
“Setuju.”
Dinara dan Arya saling melempar senyum saat tangan mereka berjabat untuk kali kedua hari ini. Ya, benar begitu. Lebih dari apa pun, mereka hanya harus selesai dengan urusan masing-masing, terutama mengubur niat untuk kembali pada jajaran para mantan, agar keputusan untuk menikah tidak setengah-setengah.
“Mungkin kita nanti menikah nggak seperti orang kebanyakan, tapi ayo berjanji buat nggak saling menyakiti, Di. Saya mau menjalin hubungan baik dengan kamu.”
“Saya juga begitu.” Dinara mengangguk.
Hatinya lega, dia mendapatkan calon suami baru, dan gaun impiannya tidak akan menganggur di etalase butik itu. Dinara akan memakainya tak lama lagi, meski dengan mempelai pengganti.
“Saya punya kakak laki-laki, dua adik sepupu kembar yang dekat dengan kami karena diurus sama ibu saya sejak bayi. Mereka semua tinggal di Surabaya, saya sendiri di sini.”
Oh, apakah ini mulai memasuki fase pengenalan keluarga?
“Saya sulung dari dua bersaudara,” ucap Dinara canggung. Entah kenapa bagian ini membuatnya agak ragu. “Ayah saya udah nggak ada, ibu saya janda, punya usaha cuci pakaian. Dan saya... saya pengangguran sekarang, tapi saya pasti cari kerja sebentar lagi, Mas. Jangan khawatir, saya juga nggak keberatan diajak hidup susah.”
“Saya bukan trigonometri, kamu nggak perlu susah-susah setelah nikah sama saya nanti.”
Mereka terkekeh, dan Dinara senang. Setidaknya Arya tidak menyuruh dia untuk cari makan sendiri setelah mereka menikah dan tinggal bersama kelak.
“Jadi nanti wali nikah kita adik kamu, Di?” Dinara mengangguk. Arya merekam ucapannya dengan baik, dia ingat kalau adiknya adalah seorang laki-laki. “Usianya berapa?”
“17 tahun, cukup umur untuk seorang wali.”
Arya tertawa renyah. “Oke.” Dia mengangguk lalu berhenti. “Banyak yang harus kita bahas. Dan saya ada ide, gimana kalau kita saling bertukar informasi dalam bentuk file lalu kita pelajari sendiri-sendiri? Kamu pasti trauma sama kasus penipuan yang dilakukan sama mantan tunangan kamu, saya akan kirim semua dokumen pribadi saya yang asli untuk kamu selidiki. Kita harus tahu latar belakang masing-masing, kan? Atau kamu keberatan?”
“Saya nggak keberatan sama sekali.” Dinara tersenyum puas, justru suka sekali pada ide-ide Arya yang terdengar cerdas. “Makasih karena mempersingkat waktu pengenalan kita, Mas.”
“Iya.” Arya ikut membalas senyumnya. “Bikin yang menarik, ya. Kayak surat lamaran kerja, tapi isinya kamu melamar saya.”
Dinara tertawa, meski gengsi melakukannya, tapi dia setuju saja, di mana lagi dia bisa dapat calon suami instan seperti Arya? Jadi membuat surat lamaran seperti itu bukan hal yang sulit seharusnya.
“Nanti saya juga bikin buat kamu, terus kita nilai bagusan punya siapa lamarannya.”
“Konyol banget sih, Mas.” Dinara menggelengkan kepala. “Terus yang menang artinya apa?”
“Yang surat lamarannya menang berarti akan dihadiahi label sebagai pelamar yang berhasil lolos.” Pria menawan di hadapan Dinara itu memainkan alisnya. “Kalau pencari kerja, ya dia dapat kerja. Berhubung ini cari istri, ya dapatnya kamu.”
Lagi-lagi tawa Dinara meledak. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, tapi obrolan hari ini benar-benar bagus sebagai perkenalan, sebagai kesan pertama yang mengesankan. “Kalau gitu saya biarin Mas Arya yang menang.”
“Harus.” Arya menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu berusaha terlalu keras.”
Berlebihan tidak, kalau saat ini hati Dinara berbunga-bunga?
“Oke.” Dinara menarik napas lega, pipinya pegal karena terus-terusan tersenyum di depan Arya. “Boleh minta nomornya Mas Arya?”
“Kalau kamu minta, saya pakai apa?” Dia mengerutkan alis. Percayalah, itu candaan garing asal pria berkepala tiga, jadi tertawakan saja daripada dia tersinggung dan suasana di antara mereka berubah kurang nyaman. “Saya bercanda, Di. Mana HP kamu, biar saya ketik sendiri.”
“Ini, Mas.”
Dinara menyerahkan benda kotak itu lalu tertawa geli ketika melihat kontak Arya yang disimpan dalam ponselnya dan diberi nama Calon Suami oleh orangnya sendiri. Agak menggelikan, tapi tidak apa-apa. Dinara menyukainya.
“Kalau saya save sebagai Arya, takutnya ketuker sama Arya-arya yang lain.”
“Iya, Mas.” Dinara tertawa saja. Wajahnya pasti sudah merah sekali.
“Saya save kontak kamu dengan nama yang mirip.” Arya menunjukkan layarnya, nama kontak Dinara adalah Calon Istri. Atau harusnya calon istri nomor dua, sebab dia punya calon istri pertama. Uh, Dinara juga.
“Mas ini benar makanan saya dibayarin sama Mas Arya hari ini?” tanyanya sungkan. Normalnya mereka membayar masing-masing, apalagi untuk pertemuan pertama.
“Nggak papa, biar saya yang bayar makanan kamu hari ini. Next, kamu yang masakin saya makanan setiap hari.”
Dinara terpaku. Terkutuklah skill memasaknya yang mengerikan ini.
“Saya hubungi pihak Beauty Gown segera dan tarik pembatalan acara resepsi.” Arya terpaku sesaat. “Kamu ambil resepsi di tanggal berapa, Di?”
“Masih beberapa bulan lagi kok, Mas.”
“Kamu setuju ngikut tanggal pernikahan saya aja?”
“Iya.” Dinara mengangguk enteng. “Mas atur aja, saya ngikut.”
Arya terkekeh senang. “Bagus ya, mulai latihan untuk nurut dan manut apa kata calon suami.”
“Cuma males ribet aja sebenarnya.”
“Iya tahu, nggak usah dijelasin juga, Di. Bikin calon suaminya senang sedikit lho.”
Dinara tertawa lagi, Arya pura-pura cemberut, tidak terhitung banyaknya dia tertawa dengan pria itu hari ini. “Oke, Mas. Maaf.”
“Hm... sampai jumpa lagi nanti kalau gitu, jangan lupa bawa surat lamaran kamu.”
“Boleh melampirkan piagam-piagam prestasi?” candanya sengaja agar Dinara bisa mengimbangi Arya.
“Boleh dong, boleh banget. Saya jadi ingat piagam penghargaan untuk lomba main bola pakai sarung pas SMA, kamu harus baca. Ini sebagai penunjang buat bikin kamu yakin kalau pasangan kamu nanti adalah bibit unggul.”
“Mas, udah ah!” Lelah tertawa, Dinara meminta Arya menghentikan banyolannya. Jam makan siang hampir usai, siapa tahu Arya harus kembali bekerja, mereka tidak bisa lama-lama. “Nanti kita atur lagi kapan harus ketemu, saya boleh hubungi Mas Arya lebih dulu, kan?”
Pria di hadapannya melemaskan bahu. “Sejak kapan sih ada pasal yang bilang kalau perempuan nggak boleh menghubungi duluan, Di?”
“Saya cuma tanya, Mas.”
“Kamu tanya hal sepele gitu setelah ngajak saya nikah di pertemuan pertama kita hari ini?”
Dinara terkikik dan mengangkat sebelah tangan tanda menyerah. “Oke, maaf,” akunya pasrah. “Makasih untuk makan siangnya.”
“Sama-sama.” Arya membalasnya tenang.
“Makasih juga untuk waktunya dan untuk bersedia dilamar sama saya.”
Pria itu mengangguk pelan dengan cengiran kecil menghias bibirnya. “Sama-sama, Dinara. Saya juga berterima kasih atas hal yang sama ke kamu.”
“Oke.” Dinara bangkit lebih dulu, dia akan pulang sendiri dan tidak menyusahkan Arya untuk mengantarnya pergi. “Saya yang bayar makanan kita lain hari, sampai ketemu lagi ya, Mas.”
“Iya.” Arya juga ikut berdiri. Dia menarik napas dalam dan mengembuskannya, terlihat menahan kata lalu berakhir dengan memasukkan sebelah tangan ke saku celana. “Sampai ketemu lagi, Di.”
“Oke, saya permisi.” Dinara mendorong kursinya mundur, bersiap untuk pergi.
“Di...” Dinara yang sudah berbalik, menolehkan kepalanya lagi. “Kamu akan jadi istri yang baik, itu alasan saya menerima tawaran kamu hari ini.”
*****
Anda Mungkin Juga Suka





