
Dinara - Ganti Suami
Bab 3
Dinara to Haikal
Mas, ganti nomor ya? Aku hubungi kok nggak aktif?
Ada apa ini? Dinara memiliki firasat tidak enak tapi dia mati-matian berusaha menyangkalnya. Nomor ponsel tunangannya tidak aktif. Dan jujur saja selama berbulan-bulan ini saldo tabungan bersama milik mereka semakin menyusut. Maksudnya, Haikal mungkin butuh uang dan menarik beberapa dari sana. Dinara tidak apa-apa, tapi yang terjadi setelahnya justru lebih mengherankan lagi.
Dinara: Mas, kenapa mbanking kita nggak bisa diakses? Mas ganti PIN?
Seminggu yang lalu Dinara menanyakannya. Mereka membuka tabungan bersama dan terdaftar atas nama Haikal sebab pria itu tinggal di Indonesia sementara dirinya bekerja di Qatar. Sejauh ini 40% dari pendapatan bulanan mereka tersimpan di sana, dan Dinara sudah melakukannya selama dua tahun. Mereka tidak memiliki kartu untuk menarik uang-uang itu di mesin otomatis, Dinara hanya memantau dari jauh, tapi Haikal sangat mungkin bisa melakukan tarik tunai ke bank langsung.
Namun begitu aksesnya ke rekening tersebut ditutup, boleh kan dia merasa curiga dan menanyakannya pada Haikal?
Dinara : Mas marah ya karena aku tanya begitu kemarin? Maaf ya, Mas.
Dinara : Mas, kalau ada masalah kita bisa bicara baik-baik.
Namun setelahnya, nomor ponsel Haikal juga ikut tidak aktif. Dinara masih ingin menyangkal, ingin terus-terusan bersikap denial. Sampai akhirnya dia tahu bahwa itu tidak berguna. Bulan demi bulan berikutnya, Haikal benar-benar menghilang, dan satu-satunya cara agar dia bisa menemukan pria itu untuk meminta penjelasan hanyalah pulang ke Indonesia.
Butuh waktu lebih dari enam bulan untuk menyelesaikan pekerjaan, mengakhiri kontrak dan membayar penalti atas keputusannya. Dan selama itu pula, otaknya benar-benar bekerja. Dinara tahu sudah tidak ada gunanya menunggu, mencari atau memperjuangkan hubungan mereka lagi. Dia sudah ditipu dan dicampakkan, dua alasan yang lebih dari cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan. Dinara hanya harus pulang agar mengurus hal-hal yang tersisa. Membatalkan rencana pernikahan mereka salah satunya.
“Dek, mau ke mana?”
Siluet seorang pemuda dengan tampang tidak mengantuk sama sekali muncul di hadapannya saat ini. Danish—adik kandung Dinara membuat semua lamunan barusan buyar, ingatannya dari beberapa bulan yang lalu sebelum memutuskan untuk pulang.
“Nggak ke mana-mana.” Danish menjawab singkat.
Sepagi ini dia sudah wangi, terlalu rapi untuk ukuran anak laki-laki berandalan yang gemar ikut tawuran. Adik kandungnya ini mempunyai duality yang keren, entah dia sengaja menciptakan alter ego untuk dirinya sendiri atau apa.
“Kamu nggak sekolah? Udah lama banget bolos perasaan.”
“Nggak.” Dia menggeleng.
Tidak berniat sekolah, tapi bangun sangat pagi, sudah rapi, wangi dan ganteng sekali.
“Mau ke mana lagi habis ini?” tanyanya sungkan. Danish baru saja melakukan hal besar beberapa hari kemarin.
“Lanjut rebahan.” Anak remaja itu menjawabnya singkat. Mereka saling menatap untuk sesaat, Dinara bisa melihat luka di mata adik kecilnya yang sudah tidak kecil lagi itu. Danish tumbuh lebih tinggi dari dirinya sendiri meski usia mereka selisih 12 tahun.
Ada rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatinya melihat Danish berubah drastis seperti ini. Dia orang yang pertama kali tahu soal kandasnya hubungan asmara Dinara dan Haikal yang berujung dengan perilaku kriminal mantan tunangannya itu. Dan Danish, sebagai satu-satunya saudara sekaligus berperan seperti pelindung Dinara, tidak bisa tinggal diam. Dia berkeliling mencari keberadaan Haikal lalu menghajar pria itu hingga babak belur, kabarnya diopname dan berbuntut pada pertemuan keluarga untuk menyelesaikan pemicunya.
“Mbak punya kenalan dukun?” tanya Danish tiba-tiba, setelah menenggak habis susu hangat di gelasnya. “Aku nggak bisa bunuh dia karena takut dipenjara, kita santet aja gimana?”
Dinara meringis, tidak tahu kalau adiknya menaruh dendam sebanyak itu. “Udah sih, kan udah selesai. Uang mbak juga bakal diganti.”
“Tetep aja, Mbak. Dia tuh binatang yang lagi pura-pura jadi manusia, akhlaknya nggak ada. Yang gantiin uang Mbak kan ujung-ujungnya keluarga mereka, orangtuanya. Orang kayak gitu nggak pantas hidup, menuh-menuhin karbondioksida di bumi aja.”
Dinara terkekeh, adiknya benar, Haikal memang menyusahkan banyak orang. Beruntung Dinara segera tahu belangnya lelaki itu, sehingga dia tidak harus membuang lebih banyak waktu dengan orang yang salah. Dia harus move on, cari uang lebih banyak lagi dan bersenang-senang karena sudah punya calon suami baru. Hanya saja ibu dan adiknya belum tahu.
“Kenapa kamu nggak bunuh? Uang mbak masih cukup buat ngejamin kamu keluar dari penjara kok, Nish.”
“Mbak yang bener aja!” Danish membeliak. “Aku udah iket kakinya buat diseret keliling komplek itu pake motor sih, kalau aja nggak dilerai pasti dia udah mati.” Pemuda berusia 17 itu mengusap-usap dagu dengan wajah bengis, membuat kakaknya meringis.
Danish mungkin tidak tahu kalau diam-diam dia diawasi dari jauh. Dinara kenal betul adiknya adalah seorang berandalan yang hobi tawuran di sekolah, tapi sisi lain dari Danish, dia sangat baik. Hatinya lembut dan penyayang. Dia juga bersih, terlalu bersih malah untuk ukuran anak laki-laki, dia senang merawat diri, dan jika Dinara mengumumkan kebusukannya di luar sana, ibu mereka atau siapa pun itu tidak akan mudah percaya. Danish kelihatan seperti anak baik-baik.
Atau sebenarnya Melia sudah tahu, tapi memutuskan untuk diam selama anak bungsunya belum diciduk polisi dan terluka parah hingga harus dirawat intensif. Tidak mungkin ibu mereka tidak mengenal anaknya sendiri, tidak tahu sepak terjang Danish di luar rumah sebagai preman sekolah.
“Ya udahlah ya, belum takdirnya juga dia meninggal. Lagian mbak udah bilang, nggak apa-apa, nggak perlu diurusin juga. Mbak malah makasih sama dia, akhirnya mbak tahu kalau mbak harus berhenti menjalin hubungan sama orang yang salah.”
“Dan ditipu uang sebanyak itu?” Danish menyela tak terima.
“Itung-itung buat ngebersihin dosa, mungkin mbak kurang sedekah.”
“Oh, kalau gitu aku bakal nuntut mereka buat kembaliin semua uangnya terus aku sedekahin atas nama mbak Dinar ke panti-panti asuhan. Biar jelas sedekahnya, tepat sasaran! Kalau Mbak biarin kayak gini, dia keenakan, nggak lucu ya Mbak sedekahin uang buat dipake judi, foya-foya dan main perempuan!”
Danish begitu menggebu-gebu, karena dia baru tahu. Sementara bagi Dinara, itu sudah lama berlalu. Dia punya banyak waktu untuk menyembuhkan diri lebih dulu, untuk mengikhlaskan semua itu, sampai Arya saja tahu kalau Dinara tidak kelihatan sama sepertinya. Tidak tampak tengah patah hati atau baru saja ditipu.
“Kalau memang masih rejeki, uang itu akan kembali ke mbak nanti. Kamu jangan khawatir, kita tetap jadi beli mobil.”
“Nggak usah.” Danish mengibaskan tangan tanpa menatapnya. “Aku nggak papa naik motor aja, lebih praktis juga. Lagian uang Mbak memang mau dikembalikan meski dicicil, jadi mbak Dinar jangan ke mana-mana lagi, ya? Jangan ke luar negeri lagi, kerja aja di sini.”
Dinara tersenyum dan mengangguk. “Iya,” jawabnya terharu.
Berandalan ini sudah dewasa dibanding terakhir kali dia mengingatnya. Dinara berjanji untuk membelikannya mobil karena Danish sudah kelas 3 SMA, rata-rata temannya membawa kendaraan beroda empat, hanya dia yang belum. Dan ibu kandung mereka, meski tergolong pengusaha kaya, tidak akan membelikan barang sebesar itu cuma-cuma. Danish bahkan harus bekerja seminggu dua kali di laundry untuk mendapat uang jajan tambahan.
“Tapi mbak bakal tetap beliin kamu mobil, tenang aja.”
Meski berusaha menyanggah, tapi wajah Danish sudah merona merah. Dia tampak senang, tidak apa-apa, Dinara harus memberinya kompensasi karena sang adik maju dengan gagah berani untuk mencari Haikal dan meminta semua uang yang sudah dibawa lari.
*****
Bagi keluarga, kolega bisnis Melia, dan teman-teman alumni Dinara, bekerja di luar negeri dengan jenjang karier sebagus apa pun tetap saja dipandang rendah. Kalau TKI ya sudah, tidak perlu menyanggah. Sebenarnya tidak masalah, tapi bisakah mereka tidak terlalu banyak omong dan bertingkah? Sudahlah, Dinara memutuskan untuk menetap di Indonesia dan mencari pekerjaan baru segera.
“Kerja jauh-jauh ke luar negeri dapat apa? Sekarang udah invest apa aja? Udah punya apa aja nih?”
“Biasanya ya, rejeki yang dicari bukan di tanah sendiri memang kebanyakan begitu. Kayak kurang berkah, kelihatan banyak uang tapi nggak jadi apa-apa. Paling banter beli rumah atau tanah, tapi pas pulang lagi jadi susah dan semuanya dijual lagi dah. Udah paling bener di kampung aja, makan nggak makan ngumpul, cari suami yang baik dan buru-buru nikah.”
Makan nggak makan kumpul. Perumpaan sialan itu, buatan siapa sebenarnya? Banyak orang menafsirkannya berbeda. Untuk apa berkumpul tapi tidak bisa makan? Kebahagiaan tidak tercipta dari perut yang lapar dan kebodohan yang disengaja. Jadi daripada berkumpul lantas kelaparan, lebih baik pergi jauh dan cari uang sebanyak-banyaknya.
Dinara sering mendengar gunjingan itu di grup keluarga, grup arisan ibunya, juga grup-grup lain yang dia kenal. Saat kebanyakan para ibu membanggakan anak-anak mereka, Melia—ibu kandungnya, hanya diam dan mendengarkan. Beliau sangat menunjukkan ketidakbanggaan itu dengan cara yang amat jelas. Bahkan tetap diam saat pekerjaan, pilihan dan keputusan anaknya dikomentari nyinyir habis-habisan.
Dinara tidak bisa dibanggakan. Dia anak perempuan berusia 29 yang belum menikah—atau gagal menikah lebih tepatnya, sekarang pengangguran, dan terlalu kotor disebut perawan, bahkan perawan tua sekalipun.
“Om dan tantenya Haikal mau datang lagi.”
Akhirnya wanita itu buka suara setelah lebih dari setengah jam diam-diaman di samping putrinya.
“Mama harap kamu mau ketemu mereka sebentar aja, Mbak. Keluarganya Haikal nggak salah, mereka ada itikad baik.”
“Nggak.” Dinara menggeleng tegas. “Aku udah nggak mau tahu dan nggak mau terlibat sama orang itu, silakan Mama urus kalau Mama punya banyak waktu.”
“Mbak—”
“Nggak, Ma. Maaf.”
Melia pasti tidak tahu seperti apa hidup yang dijalaninya di luar sana. Dia bekerja keras sendirian di negeri orang, bertahan menjalin hubungan dengan Haikal yang sejak dulu pun hobi berbuat ulah. Dinara sudah sampai di titik muak, dia benci memaklumi orang lain lebih dari ini. Dia sudah banyak menahannya, bertahan dengan Haikal selama dua tahun adalah neraka. Sebab mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, Dinara juga mengenal keluarganya, dan dia bertahan agar tidak perlu mencari orang baru lagi.
Berkenalan, menghabiskan banyak waktu serta kesempatan, kembali melakukan pendekatan, bukankah itu melelahkan?
“Aku ke butik Violeva kemarin,” ujarnya hati-hati. Wanita di samping Dinara menatapnya nanar, jelas tahu kalau satu-satunya putri di keluarga ini akan gagal menikah... lagi. Dinara pernah akan menikah dengan Haikal tiga atau empat tahun sebelum ini, tapi sayang dia diterima bekerja di luar negeri hingga pernikahan mereka tertunda cukup lama.
“Iya, Mbak.”
“Aku gagal lagi, Ma.”
“Nggak apa-apa.” Melia menjawabnya cepat. “Semua orang pernah gagal dalam hidup, Mbak. Mama juga, kan? Tapi hidup tetap berjalan, Mama bangga ngeliat Mbak bisa bangkit sendirian, maaf karena mama nggak ada di sana waktu itu.”
“Nope.” Dinara menyunggingkan senyum samar, jarang sekali keduanya bisa mengobrol seperti sekarang.
“Kegagalan adalah hidup yang lagi ngajak bercanda,” sambungnya. Dinara dan Melia saling bertatapan. “Namanya bercanda ya, Mbak, jangan terlalu dibawa serius, ketawain aja.”
Wanita itu tersenyum kepadanya. Dinara tahu, ini adalah bentuk dukungan untuknya yang tengah terpuruk. Tapi Melia salah menempatkan, dia tidak benar-benar membuat Dinara merasa terhibur.
“Apa kegagalan pernikahan Mama juga bagian dari candaan itu?” tanyanya pelan. Senyum di wajah sang ibu memudar. “Atau aku hasil bercandaan Mama juga?”
“Mbak—”
“Aku nggak batal nikah,” potongnya buru-buru. “Aku cuma gagal sama Haikal, tapi aku udah dapat pengganti dan rencananya pernikahan aku bakal digelar bulan depan, aku harap Mama siap-siap buat ngasih restu.”
Sejak awal, Dinara memang ingin mengatakan hal itu. Tentang rencana pernikahannya dengan Arya, tapi tidak begini juga. Tidak dengan cara ini dia mengatakannya pada sang ibu, tidak dengan suasana hati seburuk ini.
Dinara masih saja kesal tiap terkenang masa lalu mereka, meski sudah sepuluh tahun berlalu. Hari di mana Melia benar-benar menyakitinya, dan dia tidak bisa melupakan itu.
“Mama bilang... mama bakal cerai sama dia kalau tahu kelakuannya nggak bener! Mama bilang bakal pisah sama laki-laki manapun yang melecehkan aku! Mama bilang nggak mau nasib aku kayak mbak Putri yang diperkosa sama pamannya sendiri! Kenapa Mama sekarang begini? Kenapa Mama nggak percaya? Kenapa Mama nggak cerai sama dia?! Aku hampir diperkosa, Ma!”
“Mbak... tenang dulu...” Tangan itu gemetar, mencoba menenangkannya. “Mama mohon maaf... maafin mama, ya? Mama butuh waktu, Sayang... Mama butuh uang. Kalau mama pisah, gimana hidup kita? Gimana nasib Danish, Mbak?”
Potongan dialog itu selalu terlintas kala Dinara tengah terluka. Rasa percayanya pada Melia hilang entah ke mana, dia tidak bisa mengandalkan ibu kandungnya. Bahkan ketika Melia adalah satu-satunya orangtua dia punya.
“Aku harus banyak uang, jadi model dan kontestan ajang putri-putrian itu nggak menjanjikan. Aku nggak mau kayak Mama yang setelah nikah malah terjebak dan tersiksa nggak bisa ngebelain anak sendiri hanya karena nggak punya uang kalau pisah sama suami. Padahal jelas-jelas anaknya hampir diperkosa sama suaminya sendiri.”
Kata-katanya bertahun yang lalu sebelum memutuskan pergi dari negara ini. Dinara dengan sombongnya merendahkan sang ibu karena luka di masa lalu. Meski pada akhirnya Melia bercerai dengan orang itu—ayah tirinya, tapi luka-lukanya tidak serta merta hilang dari kepala. Ingatan itu amat lekat, ingatan saat Melia menolak untuk membelanya.
“Padahal Mama dengar dari Danish, dia lihat pake mata kepalanya sendiri, aku ditindih sama suami baru Mama itu! Dia udah lepas celana, dan Danish dipukul sampai pingsan karena mergokin kelakuannya. Tapi Mama tetap nggak percaya, Mama tetap nggak cerai sama dia.”
“Mbak, maaf... mama salah, mama tahu mama salah...”
Air matanya meluncur turun, kenangan itu sulit sekali dilupakan. Hingga hubungan Dinara dan Melia memburuk, mereka tidak dekat sebagai ibu dan anak. Dinara yang pembangkang, tidak bisa diatasi dengan mudah oleh ibunya sejak saat itu... hingga sekarang.
“Mama! Dengerin aku! Mbak dijahatin sama bapak, aku lihat mbak nangis. Terus aku datang dan kepalaku dipukul. Bapak jahat, Ma! Jangan kasih bapak tinggal di sini lagi, aku nggak mau!”
Dan semakin menyakitkan saat dia ingat lagi adik kecilnya menyaksikan hal paling biadab itu. Danish yang masih berusia tujuh tahun, menyelamatkannya meski setelah itu dia dihajar hingga babak belur. Untung saja Dinara memilikinya, Danish selalu jadi penyelamat bahkan saat dia masih belia, saat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kehadirannya saja sudah sangat berguna. Dinara beruntung karena memilikinya.
“Mbak jangan takut lagi, ya. Aku sama Angga dan Aryan belajar pencak silat di sekolah, kalau ada yang jahatin Mbak bilang aja, aku bakal kasih dia pelajaran.”
Katanya waktu itu, kata-kata yang membuat Dinara akhirnya memutuskan bertahan dibanding mengakhiri hidup. Danish adiknya, adalah satu-satunya alasan. Kalau Dinara mati, bagaimana nasibnya nanti? Meski Melia tidak memihaknya, masih ada Danish yang berjuang untuk membelanya mati-matian.
“Mbak jangan nangis, ada aku. Aku tidur di kamar Mbak mulai sekarang, boleh nggak? Biar Mbak nggak takut lagi, aku bakal hadang bapak di depan pintu kalau nanti ada ke sini.”
Dinara sudah SMA waktu itu, sementara Danish masih duduk di bangku SD kelas satu. Jarak mereka cukup jauh, dan ayah kandung keduanya meninggal sejak Danish berusia delapan bulan, hingga Melia menikahi laki-laki kaya—seorang broker handal yang tampaknya seperti pengangguran namun membuat hidup mereka berkecukupan. Alasan Melia tidak bisa langsung menceraikan laki-laki itu meski sudah berniat menodai putrinya, hanya karena takut hidup mereka sengsara.
Namun meski akhirnya berhasil melepaskan diri dan bekerja mati-matian hingga punya usaha besar dan maju, Melia tidak pernah mendapatkan hati anaknya lagi. Sebab, bukan itu yang dia mau, bukan hidup seperti itu yang Dinara inginkan. Di sisi lain, Danish tumbuh jadi anak laki-laki yang pemberani, dia jago beladiri, dia senang berkelahi meski memakai kedok seperti anak baik hati. Minusnya, dia mencari pelampiasan dengan ikut tawuran dan memakan banyak korban.
Melia salah kalau berpikir hidup sejahtera itu adalah tinggal di rumah besar dengan mobil mewah di garasinya. Bukan itu. Bukan itu yang Dinara mau, entah itu Danish sekalipun.
“Mbak...”
Dinara menolehkan kepala, tidak menyangka jika ibunya masih belum menyerah mengajaknya bicara.
“Soal yang tadi—”
“Aku serius,” ujar Dinara buru-buru. “Dan Mama salah kalau berpikir aku mau minta izin, aku cuma mau ngasih tahu. Mama mau setuju atau enggak, itu nggak akan bikin aku terpengaruh.”
*****
Anda Mungkin Juga Suka





