Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dimanja Tiga Majikan Cantik

Dimanja Tiga Majikan Cantik

Rafli tidak pernah menduga tugas barunya adalah menemani tiga putri majikannya yang menawan. Sebagai pelayan biasa, ia kerap dipandang sebelah mata dan direndahkan oleh mereka. Namun, situasi berbalik sepenuhnya saat identitas asli Rafli yang sebenarnya mulai terungkap ke permukaan. Mengetahui kebenaran tersebut, ketiga wanita itu justru berbalik memohon untuk menjadi pasangannya. Kisah asmara modern yang penuh intrik status sosial ini menanti untuk Anda ikuti.
Bab
Bagikan

Bab 3

Nona Sora, si bungsu yang katanya manja itu, kini kakinya melilit kakiku dengan simpul mati, membuat area paling sensitif di kedua dadanya menekan telak ke perut bawahku.

Setiap kali dia terisak pelan karena sisa ketakutan, tubuhnya bergetar, menciptakan gesekan-gesekan kecil yang mahadahsyat di area terlarang.

"Mas Rafli, jangan dilepas, nggak mauuu! Sora takut gelap, Sora nggak mau lepas sama Mas Rafli, huhuhu!"

Si Gatot yang masih terjepit , kini memberontak semakin brutal. Mungkin ukuran angka milik Nona Sora tidak sebesar kedua kakaknya, tapi lingkarnya dia besar, sehingga terasa penuh-sesak saat menekanku.

Otak udangku mendadak membayangkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana jika Nona Sora sadar ada pentungan yang mengganjal di mainan squishy itu?

"A-anu, Non-Nona Sora," panggilku terbata-bata, tangan kiriku masih menopang bagian belakangnya yang sintal dan luar biasa empuk itu agar dia tidak jatuh.

Sumpah mati, tanganku gemetar bukan main merasakan tekstur daging yang kenyal dan padat di balik kain tipis itu. "Sumpah, Non, ini berat banget, Nona juga ngerangkulnya kuat banget. Lilinnya mau mati kalau Nona napasnya kencang begitu di dekat api."

"Nggak mau!" tolaknya tegas.

Saat si Gatot sudah hampir maksimal, aku baru sadar sesuatu.

Astaga, apakah dia tidak pakai kacamata? Rasanya seperti ada dua titik kecil yang menonjol menekan otot helm si Gatot, serasa geli-geli aneh.

“Gusti, lindungi iman hamba yang setipis kulit bawang ini, jangan dianggap dosa ya, Gusti, ini di luar kehendak hamba yang baik hati dan rajin menabung ini," batinku merana.

Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Dan seindah-indahnya momen ini, pasti akan berakhir dengan bencana.

LHAP!

Lampu ruang tengah tiba-tiba menyala terang benderang, menyilaukan mata kami yang sudah terbiasa dengan kegelapan.

Aku mengerjap-ngerjap kaget, tapi belum sempat aku menurunkan Nona Sora dari gendongan darurat ini, sebuah teriakan melengking yang penuh amarah sudah lebih dulu memecahkan gendang telingaku.

"HEH, Rafli! Apa-apaan kalian berdua?!"

Aku menoleh kaku ke pintu yang mengarah ke tangga lantai dua.

Di sana, berdiri Nona Shella dengan wajah yang lebih menyeramkan daripada kuntilanak di film horor. Tangannya berkacak pinggang dan matanya melotot tajam seolah ingin menguliti aku hidup-hidup.

Nona Sora yang kaget langsung melepaskan pelukannya dan meluncur turun dari tubuhku. Dia berdiri canggung di sampingku sambil merapikan kaus oblongnya yang kusut.

Nona Shella menuruni tangga dengan langkah lebar dan cepat, suara hentakan kakinya di lantai marmer terdengar mengintimidasi. Dia langsung berdiri tepat di depan wajahku, menunjuk hidungku dengan telunjuknya yang lentik namun tajam.

"Dasar sopir kampung nggak tahu diri! Ngapain kamu peluk-peluk adikku?! Kamu mau manfaatin keadaan, Hah? Mentang-mentang Sora takut gelap, kamu ga bisa seenaknya kayak gitu!"

Aku mundur selangkah, mengangkat kedua tangan dengan pose menyerah. "Sumpah, Non Shella! Saya nggak peluk-peluk! Saya tadi cuma lari bawa lilin karena Nona Sora teriak, eh tiba-tiba Nona Sora loncat jadi koala di badan saya!"

"Alasan!" potong Nona Shella. "Kamu pasti sengaja kan? Kamu pasti senang kan ada kesempatan buat grepe-grepe adikku di tempat gelap? Ngaku kamu, Rafli!"

"Ya Allah, Non, sumpah, boro-boro grepe, tangan saya sibuk megang lilin sama nahan... nahan beban…” Hampir saja aku keceplosan kalau tangan kiriku tadi sempat meremas bagian belakang adiknya, ya walau tiga remasan aja.

"Lagian saya mana berani sama Nona Sora, dia kan adik Nona Shella, pasti sama-sama galak."

"Kurang ajar! Kamu nyamain aku sama dia?" Nona Shella semakin murka. Dia maju selangkah lagi, mendesakku hingga punggungku menabrak dinding.

"Maaf, Non, saya tahu diri kok. Saya sadar saya cuma butiran debu di rumah ini. Saya berani sumpah, itu tadi murni kecelakaan, Non. Nona Sora takut petir terus ngerangkul saya."

"Halah, basi! Kamu itu laki-laki, pasti otaknya ngeres semua! Liat tuh celana kamu! Masih berani bilang nggak mikir jorok?"

Mampus.

Aku refleks menutupi area si Gatot dengan ember yang ada di dekatku. Wajahku panas bukan main, rasanya ingin menghilang ditelan bumi sekarang juga.

Nona Shella sudah mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tamparan kedua malam ini ke pipiku yang satunya. Aku memejamkan mata pasrah, siap menerima nasib kalau malam ini aku ditampar dua kali.

Tapi tiba-tiba…

"Kak, udahlah, jangan marah-marah mulu, Sora bosen liat Kakak marah!"

Suara Nona Sora menghentikan gerakan tangan kakaknya di udara. Gadis bungsu itu maju, berdiri di antara aku dan Nona Shella.

"Mas Rafli nggak salah, Kak! Aku yang lompat ke dia. Aku takut banget tadi, gelap, terus ada petir. Kalau nggak ada dia, aku mungkin udah pingsan di lantai!" bela Nona Sora dengan suara serak.

Nona Shella menurunkan tangannya perlahan, menatap adiknya dengan tatapan tak percaya. "Kamu belain sopir dekil ini, Sora? Sadar, pliss, dia itu pasti manfaatin kesempatan buat bisa ambil keuntungan dari kamu. Liat mukanya yang sok polos itu, aslinya dia itu mesum!"

"Terserah Kakak mau ngomong apa, yang jelas dia nolongin aku! Ah udahlah, Kakak ini mesti berpikiran buruk terus ke orang lain, pantes gonta-ganti pacar, diputusin terus. Hari-hari kayak singa, sih!" Nona Sora kemudian menggandeng tanganku dan memintaku kembali.

Saat itu, Nona Sora menoleh ke arahku sekilas, pipinya merona merah saat melihatku, atau mungkin melihat ember yang menutupi Gatot.

Tanpa menunggu balasan dari Nona Shella yang terlihat siap meledak lagi, aku langsung melipir cepat menuju pintu belakang. Samar-samar, aku masih mendengar omelan Nona Shella di belakangku.

"Kamu tuh ya, Sora, jangan terlalu baik sama bawahan. Meskipun dia udah jadi sopir selama 6 bulan, tapi ingat, dia baru aja tinggal di sini. Kalau nanti dia ngelunjak, gimana? Lihat tuh, hari pertama aja dia udah kayak gini. Dia pasti lagi ngebayangin badan kamu di kamarnya sekarang!"

"Biarin aja! Kakak sendiri kenapa bajunya acak-acakan gitu? Terus, kenapa kancing atas kemeja Kakak hilang satu?” Nona Sora sepertinya muak dirinya disalahkan terus-menerus.

“Ah, serah kamu aja! Cepat, masuk kamar, tidur. Besok kamu kuliah daring pagi jam 8!”

Aku menutup pintu kamar pelayan dengan napas lega, lalu bersandar di baliknya sambil memegangi dada. Gila.

Benar-benar gila keluarga ini!

Yang satu habis main kuda-kudaan di mobil tapi sok suci, yang satu manja tapi meluknya kencang banget sampai bikin sesak napas dan sesak yang lain.

Tanganku meraba celana, merasakan si Gatot yang masih berdenyut nyeri. Aku kemudian menepuk-nepuknya pelan, seraya berujar, "Sabar ya, Tot. Belum rezeki kita malam ini. Kamu sabar dulu, jangan gampang bangun. Iya kalau dirimu kecil kayak cabai keriting, ga apa bangun aja. Masalahnya, gedemu itu kayak Tugu Pancoran dan ngecap banget kalau bangun!”

Baru saja aku hendak melepas baju seragam yang lengket oleh keringat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarku.

Tok!

Tok!

Suara ketukan itu sangat pelan dan membuat jantungku kembali berpacu.

Aku berjalan mendekati pintu dan membukanya sedikit.

Di sana, berdiri Nona Sora.

Dia sudah berganti pakaian, memakai piyama sutra tipis berwarna merah muda. Tangannya memegang sikat gigi, tapi matanya menatapku dengan sorot yang sulit diartikan.

"Mas Rafli," panggilnya lirih, suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Boleh minta tolong ambilin air panas di dispenser? Aku, aku masih gemetaran, nggak kuat angkat gelas buat air panas."

Aku menatapnya bingung.

Dispenser air ada di dapur, tinggal pencet. Terus, masa angkat gelas aja nggak kuat?

Tapi melihat bibirnya yang sedikit terbuka dan matanya yang melirik ke arah dadaku yang terekspos karena kancing seragamku sudah kubuka setengah, insting laki-lakiku mengatakan ini bukan sekadar soal air panas, apalagi ini sudah pukul satu pagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.4
Setelah menyadari bahwa Samuel Gusmawan hanya mencintai adiknya selama dua puluh tahun pernikahan mereka di kehidupan lalu, sang protagonis mengambil langkah ekstrem saat diberi pilihan pernikahan politik. Alih-alih memilih Samuel lagi, ia menyerahkan foto Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus pemimpin tertinggi keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini membalikkan keadaan. Namun, saat cincin pernikahan diserahkan kepada Jeffrey di hari sakral tersebut, Samuel justru kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Bertukar Peran Dipelaminan
8.1
Eveline terjebak dalam nasib kelam karena kemiripan wajah dengan kakaknya, Mariana. Di hari pernikahan, ia dipaksa menggantikan Mariana yang hamil akibat hubungan gelap demi menjaga nama baik keluarga. Eveline setuju menyamar hanya satu malam dengan rencana memberi obat tidur kepada Viktor, sang mempelai pria. Namun, janji Mariana untuk bertukar posisi kembali esok hari justru memicu komplikasi besar yang membongkar rahasia kelam keluarga mereka.
Sampul Novel Bunga itu Mekar Setelah Aku Tiada
9.5
Kematian tragis menjemput sang protagonis akibat serangan asma parah di saat Reza, pria yang memegang obat penyelamatnya, justru sibuk mengantar wanita lain melakukan pemeriksaan kehamilan. Kepergian ini meninggalkan penyesalan mendalam. Setelah menyadari fakta bahwa wanita yang ditinggalkannya juga tengah mengandung anaknya, Reza didera kepanikan luar biasa dan mencarinya ke mana-mana tanpa hasil. Kini, sebuah misteri baru muncul saat sesosok asing mulai setia menjaga makamnya yang sepi.
Sampul Novel Cinta yang Tersulut Kembali
8.0
Pasca persalinan tragis yang hampir merenggut nyawanya, Selina memilih menghilang demi melindungi anak-anaknya dari Raditia yang menuntut hak asuh. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Raditia yang hancur oleh kabar kematian palsu Selina di masa lalu, kini berupaya keras mengejarnya meski Selina telah memiliki kehidupan baru. Di tengah luka lama dan keributan yang dipicu Raditia, Selina harus memilih antara memaafkan atau terus melangkah.
Sampul Novel Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
9.2
Baskara menukar perselingkuhannya dengan buku langka. Empat puluh sembilan kali ia berkhianat, dan sebanyak itu pula aku bungkam. Namun, saat ia mengabaikan ayahku demi membelikan Jelita apartemen dan membiarkan selingkuhannya menodai taman kenangan ibuku, segalanya berakhir. Baskara bahkan membocorkan duka keguguranku pada wanita itu. Kini, sebagai ahli strategi politik, aku memasang penyadap. Buku kelima puluh bukan lagi permintaan maaf, melainkan kehancuran kariernya.
Sampul Novel Heart Stealing (Mencuri Hati)
8.5
Dunia Dakota Spencer hancur saat memergoki kekasihnya berselingkuh. Prinsipnya tentang cinta pertama yang abadi pun sirna seketika. Di tengah keterpurukannya, hadir Dylan, pria petualang yang lama memendam kagum padanya meski gemar bermain wanita. Saat Dakota melajang, Dylan gigih mengejar hingga hati sang wanita luluh. Namun, badai besar justru menerjang hubungan mereka. Dakota kini harus memilih: bertahan menghadapi kenyataan pahit atau kembali hancur seperti sebelumnya.