
Dimanja Suami Psikopat
Bab 3
Ibu mertuaku sontak menginjak pahaku dengan kuat. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku membuatku tak kuasa berteriak kesakitan.
Ibu mertuaku memaki, "Dasar jalang! Wanita murahan sepertimu hanya pintar berpura-pura lemah! Aku cuma menginjakmu dengan ringan. Ngapain kamu teriak sekuat ini? Kamu teriak untuk siapa dengar?"
Aku menatapnya dengan dingin. "Rita, kamu pasti akan menyesali tindakanmu hari ini."
"Kamu masih berani melawanku? Hari ini, aku akan mengajarimu cara menjadi menantu yang baik!" pekiknya.
Sejak hari pertama aku menjadi istri Axel, ibu mertuaku memang ingin mengajariku banyak hal. Dia menuliskan daftar pekerjaan yang sangat banyak, termasuk mencuci kaki dan mencuci pakaian dalamnya.
Dengar-dengar, nenek Axel juga melakukan hal yang sama dulu. Makanya, ibu mertuaku ingin aku merasakan penderitaannya pada tahun itu. Sejak zaman dulu, hanya wanita yang paling tahu cara menyiksa sesama wanita.
Namun, dia lupa bahwa aku punya suami yang mengidap sindrom XYY. Sebelum daftar itu diserahkan kepadaku, Axel langsung merobeknya dan memakinya.
Ibu mertuaku tidak berani berkutik. Dia hanya terus mencari kesempatan untuk melampiaskan amarahnya kepadaku. Hari ini, kesempatan itu akhirnya datang.
Ibu mertuaku menyuruh teman-temannya mengambil air dari kamar mandi. Dia menjambak rambutku sambil berkata, "Di zaman dulu, wanita yang selingkuh bakal ditenggelamkan. Hari ini, kamu harus merasakannya."
Usai berbicara, kepalaku ditekan masuk ke baskom. Air yang dingin mengenai seluruh wajahku. Aku merasa sesak napas.
Tubuhku terus meronta-ronta. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Ketika aku sudah mencapai limitku, ibu mertuaku tiba-tiba menarik rambutku supaya wajahku keluar dari baskom.
Aku langsung menarik napas dalam-dalam. Wajah dan pakaianku basah. Penampilanku terlihat sangat menyedihkan.
"Kamu masih berani bertingkah sombong sekarang? Aku membesarkan putraku dengan susah payah. Kamu malah menjadikannya babumu? Kamu mau menghinaku ya?" bentak ibu mertuaku.
Setelah napasku teratur, aku melirik dengan tatapan penuh kebencian. "Kalau kamu memang hebat, bunuh saja aku. Kalau nggak, kamu bakal menyesal."
Saat ini, kebencianku terhadap Axel juga memuncak. Siapa suruh Axel memaksaku menikah dengannya? Gara-gara dia, aku mendapat perlakuan buruk seperti ini.
Rita menamparku lagi. Darah mengalir di sudut bibirku. "Kamu masih berani melawanku? Hari ini, aku bakal membuatmu kapok!"
Usai berbicara, ibu mertuaku menekan kepalaku ke dalam baskom lagi. Kali ini, waktunya lebih lama. Aku pun mulai kehilangan tenagaku.
Saat ini, seorang wanita tua yang melihat wajah pucatku mulai membujuk, "Rita, jangan terlalu kejam. Jangan sampai dia mati. Di zaman sekarang, kamu bisa dipenjara kalau membunuh menantumu. Nanti kami juga bakal terkena imbasnya."
Begitu mendengarnya, mereka mulai membujuk ibu mertuaku. Ibu mertuaku mengempaskanku. Aku sontak terbaring di lantai. Dia mencela, "Hari ini aku bakal melepaskanmu dulu. Biar putraku yang memberimu pelajaran nanti!"
Aku bersumpah dalam hati, kalau nanti ibu mertuaku berlutut dan memohon ampun saat Axel memberinya pelajaran, aku tidak akan membelanya sedikit pun.
Saat ini, seorang wanita tua berjalan keluar dari kamar mandi. Dia menyerahkan tespekku kepada ibu mertuaku. Begitu melihatnya, ibu mertuaku sontak terbelalak dan menendangku. "Kurang ajar! Ternyata kamu hamil anak haram!"
Aku meringkukkan tubuhku, tanpa sadar melindungi perutku. Ibu mertuaku ingin menendangku lagi. Aku yang cemas pun berseru, "Ini anak Axel!"
Ibu mertuaku menyergah, "Kamu kira aku bisa ditipu? Kamu kira aku nggak tahu Axel melakukan vasektomi karena keinginanmu?"
Ibu mertuaku menunjukku dan meneruskan, "Kamu pasti ingin membuat keluargaku nggak punya keturunan, 'kan?"
Ketika aku baru menikah dengan Axel, Axel tidak ingin menggunakan kondom. Dia mengatakan ingin benar-benar bersatu denganku.
Aku pun membeli banyak obat kontrasepsi dan memberitahunya akan mengonsumsinya setiap kali berhubungan badan. Aku tidak akan mengandung anak dengan kelainan genetik.
Axel khawatir obat-obatan itu akan berdampak buruk pada tubuhku. Jadi, dia melakukan vasektomi.
Para wanita tua itu sungguh murka mendengarnya. Bagaimanapun, di usia mereka yang sekarang, tidak punya keturunan adalah hal yang sangat fatal.
"Wanita ini kejam sekali. Dia bukan cuma nggak ingin melahirkan keturunan suaminya, tapi juga ingin suaminya menjadi ayah dari anak orang lain."
"Ya ampun! Sekarang kejahatannya sudah terbongkar! Mantan menantuku juga pernah selingkuh. Dia melahirkan anak pria lain. Aku menjaga anak itu sampai tiga tahun sebelum ketahuan. Kalau tahu itu bukan cucuku, pasti sudah kubunuh sejak awal."
Ketika mendengar provokasi teman-temannya, ibu mertuaku menatapku dengan tatapan penuh kebencian. "Hari ini aku akan membuatmu keguguran! Aku nggak ingin anak haram itu mengotori masyarakat!"
Seketika, aku merasa sangat panik. Aku menatapnya sambil menjelaskan, "Dia bukan anak haram. Axel mengembangkan teknologi terbaru supaya aku bisa mengandung bayi yang sehat. Kalau nggak percaya, kamu tanya Axel saja."
"Kamu kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu? Axel sangat terobsesi padamu. Kalaupun tahu kamu selingkuh, dia nggak bakal tega menyakitimu. Tapi, sebagai ibunya, aku nggak bisa menahan hinaan ini!"
Usai berbicara, dia mengangkat kakinya untuk menendang perutku. Rasa sakit yang menusuk sontak menjalar ke seluruh tubuhku.
Anda Mungkin Juga Suka





