
Dimanja Suami Psikopat
Bab 4
Demi anak di perutku, aku mengalah dan memohon kepada Rita, "Ibu, ini cucumu. Tolong jangan sakiti dia ...."
Ini pertama kalinya aku memanggilnya ibu sejak menikah. Semua ini supaya dia melepaskan anakku.
Rita berkata, "Wanita murahan sepertimu sebaiknya nggak memanggilku ibu. Apa salah putraku? Kamu sampai tega berselingkuh darinya dan hamil anak pria lain!"
"Aku nggak selingkuh! Video itu editan!" Aku menggeleng.
Rita meludahiku. "Cih! Jangan mengelabuiku! Nggak ada editan senyata ini! Lagi pula, video ini dari putriku! Dia nggak mungkin bohong!"
Aku teringat pada Axel yang mengusir kakaknya karena keponakannya mengganggu tidur siangku. Bahkan, demi putus hubungan dengan mereka, Axel memecat kakak iparnya dari perusahaan.
"Kak Jean pasti melakukan ini untuk balas dendam. Dia sengaja mengedit video itu ...." Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, ibu mertuaku menendangku lagi.
"Wanita sialan! Kamu bukan cuma selingkuh dari putraku, tapi juga memfitnah putriku! Sejak kamu masuk ke keluarga kami, yang ada di pikiran Axel cuma kamu. Dia sampai mencampakkan ibu dan kakaknya!" maki Rita sambil menendang.
Aku meringkuk sambil melindungi perutku. Aku tidak peduli pada makian tidak jelas itu. Saat ini, aku yang tidak religius tiba-tiba berdoa untuk keselamatan anakku.
Namun, ucapan Rita yang selanjutnya menghancurkan seluruh harapanku. Dia menginstruksi teman-temannya, "Tahan kaki dan tangannya. Aku mau buat dia keguguran!"
Saat berikutnya, empat wanita tua berdiri di sisiku dan menarik kaki serta tanganku. Air mataku tak terbendung lagi. Aku menatap mereka dengan tatapan memohon. "Jangan ... kumohon ...."
Rita tersenyum dingin. Kemudian, dia menginjak perutku dengan sekuat tenaga. Aku berteriak kesakitan, "Argh!"
Rita tidak peduli dan terus menginjak serta menendangku. Sekujur tubuhku sakit hingga mati rasa. Tidak berselang lama, aku merasakan cairan hangat mengalir di kakiku.
Orang-orang di sekitar berteriak, "Darah! Ada darah!"
Darah menodai rokku yang putih. Tubuhku terasa makin lemas.
Setelah melihat darah, mereka pun melepaskanku. Aku memegang perutku dengan tak berdaya. Air mata terus mengalir.
Anakku, maafkan Ibu. Ibu gagal melindungimu. Mataku memerah. Yang tertulis di mataku hanya kebencian. Aku tidak akan pernah melupakan sosok orang-orang yang telah menjahatiku ini.
Aku berkata dengan lantang, "Rita, kamu pasti akan mendapat balasan yang setimpal! Kamu akan tersiksa setengah mati!"
"Kamu seharusnya pikirin cara untuk menjelaskan perselingkuhanmu kepada putraku," ujar Rita menggoyangkan ponselnya. Dia menghubungi suamiku.
Saat berikutnya, bel tiba-tiba berbunyi. Axel masuk dengan mendorong koper. Dia tampak terburu-buru. Jelas sekali, ini karena dia melihat hasil tespekku.
Rita langsung mengakhiri panggilan. "Axel, akhirnya kamu pulang!"
Setelah Rita menyingkir, Axel langsung melihatku yang terkapar di lantai dengan wajah bengkak dan kaki berdarah.
Seketika, Axel mendorong ibunya dan berlari ke arahku. Karena terlalu tergesa-gesa, dia hampir terjatuh.
Anda Mungkin Juga Suka





