
Dimanja Suami Psikopat
Bab 2
Setelah menikah, Axel menanamkan cip di tubuhku untuk mengetahui lokasiku. Jadi, Axel akan tahu jika aku bersama pria lain. Namun, ibu mertuaku malah memfitnahku berselingkuh. Konyol sekali!
Aku mengira ucapanku ini bisa memperingatkan ibu mertuaku. Siapa sangka, dia malah menamparku lagi. "Hentikan sandiwaramu ini! Kamu seharusnya jadi pemain sinetron saja! Kalau aku berani datang, berarti aku punya bukti kuat!"
Ibu mertuaku mengeluarkan ponselnya dan mengklik sebuah video. Di dalam video itu, seorang wanita berpakaian seksi sedang berciuman panas dengan seorang pria. Kemudian, wanita itu ditindih oleh pria itu.
Yang paling mengejutkan adalah wajah wanita di video itu punya wajah yang sama denganku. Teman-teman mertuaku mulai menghinaku.
"Dasar nggak tahu malu! Di zaman dulu, wanita yang nggak bisa menjaga kesuciannya seperti kamu bakal ditenggelamkan!"
"Kalau kamu menantuku, aku pasti sudah menghajarmu sampai mati!"
"Zaman memang sudah berubah. Kamu terlihat seperti wanita baik-baik, tapi malah melakukan hal sekotor ini!"
Aku benar-benar kesal mendengar hinaan para wanita tua ini. Sejak kecil sampai dewasa, aku tidak pernah dihina sekasar ini.
Hanya dengan melihat sekilas, aku sudah tahu itu adalah video editan. Namun, aku tahu para wanita tua ini tidak akan memercayaiku.
Aku langsung mengeluarkan ponselku untuk menelepon Axel. Bagaimanapun, ini adalah ibunya. Sudah seharusnya Axel yang menangani masalah ini.
Namun, ibu mertuaku langsung merebut ponselku dan membantingkannya. Seketika, layar ponselku retak. Aku terkejut dibuatnya. "Kalau Axel tahu apa yang kamu lakukan, aku sekalipun nggak bisa melindungimu!"
Ibu mertuaku terkekeh-kekeh, lalu menyahut dengan tidak acuh, "Kalau putraku tahu kamu selingkuh, kamu rasa dia masih akan membelamu?"
Aku menatap para wanita tua itu dan memberi peringatan, "Tindakan kalian ini sudah termasuk tindakan ilegal. Aku akan memberi kalian kesempatan terakhir. Segera pergi dari rumahku."
Teman-teman ibu mertuaku malah memakiku, "Benar-benar nggak tahu diri! Sudah selingkuh masih berani berbicara selantang ini!"
"Ya! Rita, hari ini kamu harus menunjukkan wibawamu sebagai seorang mertua. Kamu harus memberi jalang ini pelajaran!"
Ibu mertuaku terprovokasi mendengar ucapan mereka. Dia maju dan menendang kursi kayu rumahku. "Kamu hidup dengan mengandalkan putraku! Tanpa putraku, kamu cuma bisa tinggal di gubuk! Beraninya kamu menyuruhku pergi!"
Tindakan ibu mertuaku ini pun membuat teman-temannya bersorak. Mereka merasa ibu mertuaku sangat hebat.
Kemudian, teman-temannya itu ikut menendang kursi di rumahku. Itu adalah kursi kayu yang dibeli Axel untuk membuatku senang. Harganya sangat mahal.
Saat ini, salah satu wanita tua hendak membanting vas antik yang ada di atas meja. Dengan wajah suram, aku memperingatkan, "Harga vas itu 40 miliar."
Wajah wanita tua itu menjadi agak takut. Ibu mertuaku pun maju dan merebutnya untuk dibanting.
"Semua yang ada di sini adalah barang putraku. Sudah kubilang, kalian boleh menghancurkan apa saja. Kita harus memberi jalang ini pelajaran!" serunya.
Setelah mendengar ucapan ini, para wanita tua itu pun makin merajalela. Aku hanya menyaksikan dengan tatapan dingin. Semua ini akan menjadi bukti kuat untuk memenjarakan mereka.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu ibu mertuaku dan berkata, "Rita, lihat, dia memelototimu! Yang kamu hancurkan ini adalah barang-barang yang dibeli putramu. Mana mungkin dia merasa sayang? Kamu harus memberinya pelajaran besar supaya dia kapok!"
Setelah mendengarnya, ibu mertuaku pun mendongak menatapku. Tebersit kebencian pada tatapannya. Dia menghampiriku.
Jumlah mereka sangat banyak. Aku tidak mungkin bisa melawan mereka sendirian. Jadi, aku hendak melarikan diri.
Namun, ibu mertuaku tiba-tiba menarik lenganku dan menendang lututku dari belakang. Seketika, aku hanya bisa berlutut di lantai.
Anda Mungkin Juga Suka





