Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilema Sang Sekretaris

Dilema Sang Sekretaris

Grace adalah sekretaris berdedikasi yang dunianya jungkir balik saat kakak sang bos mulai mendekatinya secara intens. Meski semula bersikap acuh, satu malam tak terduga mengubah segalanya hingga ia sulit menampik pesona pria itu. Kini, Grace terjebak dalam dilema besar antara menjaga profesionalisme atau mengikuti kata hati yang membara. Di balik kemewahan hidup penuh rahasia, ia harus memilih arah masa depannya dalam pusaran cinta yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di tengah keheningan, tiba-tiba ponsel Grace berdering, sedangkan di sampingnya, Mario langsung melirik padanya, seolah pria itu sedikit terusik atau mungkin penasaran dengan sosok yang tengah menghubunginya pagi ini.

Grace merogoh ponsel di dalam handbag-nya dan membawa benda pipih itu ke depan wajah.

Daniz is calling...

Grace mengulas senyum ketika melihat nama kontak salah satu rekan kerjanya yang cukup akrab dengannya. Dengan segera, Grace menekan tombol berwarna hijau di sana dan membawa dekat ke telinga kanan.

"Ya, halo, Daniz," jawab Grace setelah panggilan terhubung.

Di tengah fokus Mario mengemudi, ia kembali melirik Grace saat wanita itu menyebut nama Daniz. Dalam hati, Mario berdecak kesal.

"Daniz menyebalkan sekali. Buat apa sih dia menghubungi Grace pagi-pagi begini. Sudah seperti debt collector saja!" gerutu Mario dalam hati.

Tiba-tiba saja rasa kesal berkecamuk dalam hatinya. Ditambah lagi, sapaan Grace terhadap Daniz terdengar begitu lembut di telinga Mario, sangat berbeda ketika wanita itu menyapanya atau berhadapan dengannya. Grace selalu bersikap ketus.

"Hai, good morning!" seru Daniz di telepon.

Grace terkekeh pelan. "Morning," balasnya.

"Kau masih di apartemen?" tanya Daniz.

"Aku sudah di jalan menuju kantor. Kenapa?" tanya Grace penasaran.

"Ah, tidak. Aku pikir kau belum berangkat. Aku berencana menjemputmu tadi. Tapi, it's okay, baguslah kalau kamu sudah berangkat," kata Daniz panjang lebar.

"Hmm, sayang sekali," keluh Grace. "Oh iya, Dan, nanti sore setelah pulang kantor apakah kamu ada kesibukan?" tanya Grace kemudian.

"Tidak ada. Kenapa?"

"Boleh dong temani aku ke bengkel? Mau cek mobilku, mungkin saja sudah selesai," jawab Grace.

"Oh, oke. Boleh saja. Nanti sore ke kita kesana. Hem, aku pikir mobilmu sudah selesai dari kemarin-kemarin," ucap Daniz.

Grace berdecak pelan, mencerminkan kekesalan di wajahnya. "Aku pun heran mengapa bisa lama seperti ini," keluhnya.

"Ya, sudah tidak mengapa. Semoga setelah ini mobilmu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Nanti sore kita kesana, hem?" ujar Daniz.

"Okay, Dan. Thanks ya. Kamu memang terbaik!" balas Grace, dan Daniz tertawa pelan di seberang sana.

"Ck, apaan yang terbaik. Aku rasa wanita ini buta!" gumam Mario menggerutu kesal.

Grace menyudahi panggilan telepon dengan Daniz dan langsung menoleh pada Mario.

"Kamu bilang apa?" tanya Grace sembari memicingkan kedua mata. "Kamu mengataiku buta?!"

"Kau terlalu percaya diri sekali, Grace," balas Mario.

Grace mendengus. "Benar kata Grandpa Marius, kamu memang menyebalkan!"

Mario melirik Grace sebentar dan kembali fokus pada jalan. "Pria baik hati begini, kau anggap menyebalkan? Really?"

"Ya! Kamu memang semenyebalkan itu! Tukang paksa! Tukang fitnah! Tukang segalanya!" kesal Grace dan dibalas tawa oleh Mario.

Setelah perdebatan manis keduanya, Grace menarik pandangan dari Mario dan menatap ke luar jendela, sementara Mario kembali fokus pada jalan di depan. Tak lama kemudian, mereka tiba di kantor.

Beberapa menit kemudian, mobil Mario memasuki area gedung pencakar milik Addison Corporation dan berhenti tepat di depan lobby yang luas.

Grace melepas seatbelt, membuka pintu, dan turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Mario, walau sekedar ucapan terima kasih karena pria itu sudah memberikan tumpangan padanya.

Melihat Grace melangkah masuk ke dalam kantor, Mario hanya menghela nafas panjang. Ia menyambar ponsel di tempat khusus di dalam mobilnya dan membawanya ke depan wajahnya.

Mario mengotak-atik layar yang menyala terang di depannya, mencari kontak seseorang, dan setelah menemukannya, ia pun menghubungi.

“Halo, selamat pagi Tuan Mario,” jawab seorang pria di seberang telepon setelah panggilan terhubung.

“Iya, selamat pagi. Aku hanya ingin tahu bagaimana perkembangan mobil Grace, apakah sudah selesai?” tanya Mario sambil terus menatap ke dalam sana dan tidak melihat Grace lagi. Sepertinya wanita itu sudah masuk ke dalam lift.

“Mobil Nona Grace sudah selesai, Tuan,” jawab pria itu.

“Kalau begitu, rusakkan lagi. Kau dengar?” perintah Mario terdengar ambigu.

“Di-rusakkan lagi, maksud Anda bagaimana, Tuan?” tanya pria di sana dengan nada heran.

“Aku tidak mau Grace sampai membawa pulang mobilnya. Jadi lakukan saja yang menurutmu yang terbaik,” kata Mario sebelum mengakhiri panggilan.

Sejenak Mario memandangi layar ponsel, kemudian terkekeh pelan. Membayangkan jika Grace tahu kelicikannya ini, wanita itu pasti sangat murka.

Sudah hampir dua pekan mobil Grace di bengkel. Setiap kali wanita itu hendak membawa kendaraannya dari sana, selalu ada bagian yang rusak lagi dan lagi, membuatnya kesal namun tanpa curiga bahwa yang menjadi dalang kerusakan kendaraannya adalah Mario.

Setelah masuk ke dalam lift, Mario menekan tombol, lift tertutup rapat, dan mulai bergerak naik menuju lantai tempat ruang kerjanya berada, sebagai direktur keuangan Addison Corporation.

Sementara di ruang kerja Axel, atasan dari Grace, wanita itu terlihat sedang melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris, membaca agenda untuk Tuannya hari ini.

“Kau terlalu galak dan tidak peka, Grace. Jadi terima saja hukuman dariku. Hidupmu tidak akan bisa tenang selama kau terus bersikap dingin padaku,” batin Mario dalam hati.

Mario menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu membuka seatbelt, pintu, dan turun dari mobil, meninggalkan kendaraannya dengan mesin yang masih menyala.

Dia membawa langkah masuk ke dalam kantor, sementara kendaraannya diambil alih oleh salah satu petugas di lobby.

“Selamat pagi, Tuan Mario,” sapa staf di sana, memberi salam hormat.

“Selamat pagi,” balas Mario, tanpa senyum di wajahnya yang tampan, dan terus menuju lift eksklusif.

"Aku tidak akan pergi ke Angelic Global. Aku akan meminta Mario untuk mewakiliku," ucap Axel kepada Grace.

Grace mengangguk pelan. Dia tidak banyak bertanya karena sudah mengerti alasan Tuannya menolak pergi ke salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan mereka.

"Kau sudah menyiapkan berkas-berkas untuk keperluan meeting di sana?" tanya Axel.

"Sudah, Tuan. Saya sudah merekap ulang dan memeriksanya beberapa kali," jawab Grace.

"Dimana berkas itu?" tanya Axel.

"Ada di meja kerja saya. Jika Anda menginginkannya, saya akan mengambilkannya sebentar," kata Grace.

Axel mengangguk pelan sambil berdiri dari duduknya. "Aku akan ke ruangan Mario sebentar dan membawa berkas itu ke sana," ucapnya sambil menggeser tubuh dan menjauh dari kursi kebesarannya.

"Baik, saya akan mengambilkannya untuk Anda," sahut Grace, lalu segera pergi ke meja kerjanya yang berada di depan ruangan tersebut.

Axel mengikuti dari belakang dan keluar dari ruangannya. Dia berdiri di depan pintu menunggu Grace mengambil berkas yang dia inginkan. Tak berselang lama, wanita itu kembali sambil menyerahkan berkas tersebut kepadanya.

"Terima kasih, Grace," ucap Axel.

"Sama-sama, Tuan," balas Grace, lalu membiarkan sang Tuan pergi menuju ruang kerja Mario yang berada di lantai yang sama dengan tempat mereka bekerja.

°

"Wakili aku ke sana karena aku tidak ingin bertemu dengan Jessie," ucap Axel kepada kakaknya Mario. Dia duduk di atas salah satu kursi di depan meja kerja pria itu sambil menatap lurus kepadanya.

Mario mengangguk pelan sambil membawa tangan dan mengambil berkas yang baru saja diletakkan oleh Axel di atas meja. Menarik dan membawa ke depan wajahnya, Mario membuka berkas tersebut sambil mengamatinya beberapa saat.

"Baiklah, tidak mengapa. Biar aku saja yang mewakili mu ke sana, tapi aku tidak bisa pergi sendiri, Axel. Aku membutuhkan orang yang mendampingiku," kata Mario, kemudian menatap Axel.

"Jangan bilang kau memanfaatkan kesempatan, Mario," tebak Axel sambil menatap curiga pada kakaknya itu. 

Mario mengedikkan bahu. "Terserah kau mau menuduhku seperti apa, yang jelas aku tidak akan pergi kalau kau tidak mengizinkan Grace menemaniku," ujarnya membuat Axel langsung mengumpat, namun Mario tidak membalas.

"Apa kau tidak berpikir kalau aku juga membutuhkan Grace di sini? Kalau dia pergi bersamamu, lantas siapa yang akan membantu pekerjaanku, Rio?" kata Axel dengan suara kesal.

"Oh, Ayolah Axel. Ada Daniz yang bisa membantumu. Tapi terserah kau saja, yang jelas aku tidak akan pergi tanpa Grace," balas Mario.

Kesal, Axel meraih sebuah pulpen di atas meja kerja Mario lalu melemparkannya pada pria itu, namun sang empu berhasil menghindar dari benda kecil tersebut.

"Dasar Keparat, kau memang tidak pernah tulus membantuku," kesal Axel sambil berdiri dari duduknya. Dia memutar tubuh lalu membawa langkah keluar dari ruang Mario dengan perasaan dongkol.

Mario tertawa pelan ketika Axel menutup pintu ruangannya dengan kasar.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Demi Jabatan, Dicintai oleh Atasan
9.2
Pernikahan lima tahun Emma hancur saat Rowan, suaminya, tega menjadikannya alat transaksi demi ambisi karier. Rowan meminta Emma menemani atasannya minum demi proyek, tidur bersama untuk melunasi utang, hingga melahirkan anak sang atasan agar ia naik jabatan menjadi manajer umum. Muak dengan pengkhianatan tanpa henti ini, Emma mengambil keputusan besar. Pada hari Rowan resmi dipromosikan, Emma menceraikannya dan langsung menikah dengan atasan suaminya.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Kekasih yang Dicemooh
9.1
Johanna terpaksa menjadi simpanan Carson demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Meski awalnya dimanja, ia hancur saat tahu dirinya hanya pion dalam rencana licik Carson. Johanna pun pergi untuk memulai hidup baru yang mandiri. Saat bertemu kembali, ia telah berubah menjadi wanita tangguh yang dikerumuni banyak pria. Carson yang menyesal memohon kesempatan kedua, namun Johanna justru mengaku sudah menikah dan menolaknya dengan dingin.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Keysa adalah istri dari seorang abdi negara yang juga berprofesi sebagai dosen serta influencer. Namun, kehidupannya terusik saat ia harus berhadapan dengan Risa, seorang wanita kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Meski Risa sangat sombong dengan kekayaannya, Keysa justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan ini? Simak perjuangan Keysa yang penuh emosi.