
Dilema Sang Sekretaris
Bab 3
"Grace…"
Grace, yang sejak tadi fokus pada layar komputernya, sontak mengangkat pandangan dan menoleh melihat pada sosok yang berdiri menjulang tak jauh dari meja kerjanya.
Rupanya, pria yang memanggilnya tadi adalah atasannya, Axel Addison.
"Ya, Tuan," sahut Grace.
"Temani Mario hari ini ke Angelic Global," kata pria itu melanjutkan.
Grace terdiam tanpa ekspresi, dan sepertinya Axel mengerti. "Dia tidak mau menggantikan ku kalau bukan kau yang menemaninya," lanjut Axel.
Grace kemudian menghela nafas lalu mengangguk pasrah. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh Grace selain menyanggupi?
Menolak? Tentu saja dia tidak sebodoh itu. Memangnya, Grace punya hak apa sehingga bisa menolak perintah dari Tuannya?
"Baik, Tuan," ia sambil mengulas senyum sopan kepada pria itu.
"Terima kasih, Grace," ucap Axel, dan Grace membalas sebagaimana seharusnya. "Bersiaplah dan temui dia di ruangannya," sambung Axel.
Sebelum Axel masuk ke dalam ruang kerjanya, Grace sempat bertanya apakah pria itu membutuhkan sesuatu atau tidak. Dan ternyata Axel tidak membutuhkan apapun.
Sehingga Grace lekas bersiap-siap, mematut wajah cantiknya sebentar pada cermin kecil yang disimpan di dalam handbag-nya. Grace menyempatkan diri memperbaiki riasan tipis di wajahnya.
Ingat, dia melakukan itu bukan karena akan bertemu Mario, tetapi karena dia akan keluar kantor untuk memenuhi undangan meeting dengan klien.
Grace mengerutkan kening, merasa heran pada diri sendiri, karena tiba-tiba dia harus menegaskan kalau dia berdandan bukan untuk Mario.
"Ish, Grace, dasar tidak jelas!" gerutunya dalam hati.
Kemudian, menyudahi touch up-nya dan merapikan meja kerjanya. Tidak lupa, Grace menonaktifkan komputernya. Lalu bangkit dari kursinya dan berdiri sejenak di sana.
Grace menyapu pandangan pada permukaan meja serta menyambar sebuah berkas yang akan diperlukan untuk meeting nanti.
Setelah dipastikan tak ada lagi yang tertinggal di sana, Grace pun membawa langkah meninggalkan meja kerjanya dan menuju ruang kerja Mario.
Tok! Tok! Tok!
Grace berdiri di depan pintu ruang kerja Mario dan mengetuk daun pintu tersebut beberapa kali. Ia menunggu perintah dari sang pemilik ruangan untuk memperbolehkannya masuk.
Tak berselang lama, terdengar suara Mario lewat speaker yang dirancang khusus di dekat pintu sehingga Grace dapat mendengar dengan mudah dan jelas suara dari dalam sana.
Grace menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Dia seperti sedang menyiapkan mentalnya sebelum bertemu dengan pria yang menurutnya sangatlah menyebalkan.
Grace membuka daun pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Ia memasuki ruangan yang luas dan mewah itu. Tidak lupa, Grace menutup pintu dan baru setelahnya membawa langkah menuju meja kerja Mario di sana.
“Kenapa harus saya yang menemani Anda meeting di Angelic Global? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana pekerjaan yang saya tinggalkan itu?” cerocos Grace setelah berdiri di sana dan menatap Mario.
Pria itu juga tengah berdiri. Sepertinya Mario habis ganti baju. Sebab di tangan pria itu terdapat sebuah dasi yang sepertinya akan dipakai.
“Apakah Axel tidak memberitahumu kalau aku kesana untuk mewakilinya?” tanya Mario terdengar santai, seolah tak ambil pusing dengan nada keberatan Grace tadi.
“Ya, saya tahu, tapi kenapa harus saya yang menemani Anda? Bukankah bisa saja Anda meminta orang lain untuk menemani Anda?”
“Tidak bisa, Grace. Hanya kau satu-satunya yang bisa mendampingiku. Kau tahu kenapa?” Kemudian, Mario mengedikkan bahu lalu melanjutkan. “Karena kau adalah sekretaris Axel. Jadi kau lebih paham dengan materi-materi yang akan diperlukan pada meeting kali ini,” lanjutnya.
Grace terdiam, sebab apa yang dikatakan oleh Mario memang benar adanya.
“Baiklah,” Grace bergumam pelan.
Mario melirik sebentar lalu terkekeh dalam hati. Kemudian Mario melangkah ke arah Grace dan menyodorkan dasi di tangannya pada wanita itu.
“Tolong bantu pasangkan untukku,” pinta Mario.
Grace menatap dasi itu sambil mengerutkan kening lalu beralih pada Mario. “Anda punya tangan kan? Bisa dipasang sendiri, kenapa Anda malah merepotkan saya?!” sarkas Grace menolak membantu pria itu.
“Aku tidak bisa memakainya. Aku tidak pandai seperti Ibuku, karena yang biasanya pembantuku adalah Ibuku dan adikku. Mereka tidak ada di sini. Yang ada hanya kau seorang. Tolong bantu pasangkan, Grace,” pinta Mario di akhir kalimat panjang dan lebarnya barusan.
Grace terdiam sejenak. Kemudian lekas menyambar dasi tersebut dari tangan Mario. Dengan wajah cemberut serta bibir mengerucut, Grace melingkarkan dasi tersebut di kerah kemeja Mario dan mulai memasang dengan rapi hingga benar-benar selesai.
Grace merapikan kedua sisi bahu sambil memperhatikan, memastikan kedua sisi tidak kusut lagi. Sedangkan Mario terus memperhatikan lekat wajah cantik itu tanpa berkedip.
“Cantik,” batin Mario. “Tapi galak,” lanjutnya masih di dalam hati.
“Kenapa Anda menatap saya seperti itu?!” tegur Grace saat memergoki Mario menatap wajahnya dengan tatapan berbeda.
Mario sempat tersentak kaget. “Karena kamu cantik,” jawab Mario.
Deg!
Grace tertegun dan menengadahkan wajah pada Mario.
“Sayangnya kau galak,” imbuh pria itu, sehingga membuat Grace seketika membelalak kedua mata dan Mario terkekeh pelan.
“Terima kasih, Grace,” ucapnya kemudian setelah wanita itu selesai memakaikan dasi di lehernya.
Grace tidak menyahut karena masih menatap kesal pada pria itu. Kemudian ia mendengus ketika Mario mengedipkan sebelah mata padanya.
“Ck, gatal sekali mata Anda!” ketusnya.
“Gatal saat menggodamu saja. Kalau sama yang lain, biasa saja,” sahut Mario, dan lagi-lagi membuat Grace melongo tak percaya, disertai bibir terbuka.
Mario terkekeh pelan sembari mengambil ponsel dan kunci mobil di atas meja, kemudian menghampiri Grace.
“Ayo, kita berangkat sekarang, takut terlambat,” ajak Mario.
Grace mengangguk pelan. Setelah itu, ia dan Mario keluar dari ruangan tersebut dan melangkah bersama menuju lift eksklusif di sana. Mereka turun ke lantai dasar. Setelah sampai di lantai dasar, rupanya mobil milik Mario sudah disiapkan di depan lobby.
Sehingga Mario dan Grace tidak perlu menuju parkir. Mereka langsung naik kendaraan di depan lobby dan tak berselang lama, mobil itu melesat meninggalkan depan lobby menuju Angelic Global.
Beberapa menit kemudian, kini Mario dan Grace tiba di gedung pencakar milik Angelic Global. Mobil mereka berhenti di depan lobby yang luas. Keduanya turun bersama dan membiarkan petugas mengurus kendaraan mereka.
Mario dan Grace disambut hangat oleh beberapa petinggi perusahaan tersebut. Kemudian mereka dipersilahkan menuju lift khusus di sana dan naik ke lantai tempat ruang meeting berada.
“Selamat siang,” seru Mario menyapa para anggota rapat yang tengah duduk di kursi masing-masing. “Maaf, kami sedikit terlambat,” tambah Mario sembari menatap mereka bergantian.
“Selamat siang, Tuan Mario. Anda tidak terlambat sama sekali. Mari, silahkan duduk,” kata seorang pria paruh baya di dalam ruangan tersebut.
Di kursi pemimpin di sana tengah diduduki oleh seorang wanita. Dia adalah CEO dari Angelic Global, namanya Jessie Eldar.
Mario melirik pada wanita itu dan ternyata Jessie tengah menatap lekat padanya.
Mario tak ingin peduli. Ia dan Grace lekas mengambil posisi duduk pada kursi kosong di sana.
Tak berselang lama, rapat pun dimulai dan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
••••
Setelah dua jam lamanya, akhirnya rapat pun usai. Satu persatu anggota mulai meninggalkan ruangan, dan perlahan ruangan pun sepi. Hanya beberapa orang yang masih asyik berbincang-bincang.
Sementara itu, Mario masih berada di ruangan, menunggu Grace sambil berbincang ringan dengan rekan bisnisnya. Sebelumnya, Grace telah meminta izin padanya untuk pergi ke toilet, yang kemudian dia izinkan.
Saat ini, di dalam toilet, Grace mencuci tangannya di wastafel yang tersedia. Setelah selesai, ia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan kedua tangannya.
Kemudian, dengan cepat, ia menyambar tasnya di pinggir wastafel dan melangkah keluar menuju lorong yang sepi, bermaksud kembali ke ruang rapat untuk bergabung dengan Mario yang menunggunya.
"Hey, kamu, tunggu!" teriak seseorang yang ingin menghentikan langkah Grace.
Dengan cepat, Grace berhenti. Dia berdiri di tempat, menoleh ke belakang, dan melihat pada sosok yang baru saja memanggilnya dengan nada yang agak kurang sopan menurut Grace. Namun, ketika melihat siapa sosok itu, Grace tidak terkejut. Dia hanya menghela napas lelah.
"Wanita itu adalah Jessie, sang CEO perusahaan ini. Dengan langkah mantap, Jessie mendekati Grace, berdiri di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Grace pada Jessie.
Jessie menatap Grace dengan ekspresi tidak suka. "Kenapa Mario mengganti Axel dari rapat hari ini? Atau jangan-jangan kamu yang melarang Axel untuk datang ke rapat ini, bukan?" tuduh Jessie.
Grace tampak mengerutkan kening. "Saya hanya seorang sekretaris. Saya tidak memiliki wewenang untuk melarang atasan saya pergi ke mana pun, Nona Jessie," sahut Grace.
Jessie mendengus sambil mengibaskan tangan dengan gerakan cepat, seolah-olah apa yang dikatakan oleh Grace tadi hanyalah omong kosong.
"Ingat ya, aku tidak akan pernah lupa bagaimana pertemuan pertama kita, dan aku melihat dengan mata kepala sendiri keberanianmu terhadap Axel," kata Jessie.
Dengan desahan pelan, Grace menyatakan, “Pikiran Anda sungguh sempit. Mengapa Anda malah menuduh saya melarang Tuan Axel datang ke sini? Mengapa Anda tidak mempertimbangkan bahwa mungkin Tuan Axel memang enggan datang karena dia muak melihat wajah mantan kekasihnya. Calon benalu!” ujarnya tegas di akhir kalimat.
Jessie seketika menatap marah pada Grace. "Kurang ajar!" serunya sambil melayangkan tamparan kuat di pipi kanan Grace.
Plak!
Wajah Grace terpaling ke samping, kemudian dengan kesabaran setipis tisu, Grace membalikkan diri dan memberikan tamparan balasan pada Jessie.
Plak!
Tamparan yang dilayangkan oleh Grace begitu kuat sehingga wajah Jessie tidak hanya terpaling, tetapi wanita itu nyaris tersungkur karena kehilangan keseimbangan.
Bug!
Tidak puas hanya dengan satu tamparan, Grace menambah dengan menghantam bahu Jessie menggunakan tas yang ada di tangannya, membuat wanita itu menekik kesakitan.
Sementara itu, di ujung sana, Mario melangkah lebar sambil kedua matanya terbelalak.
"Astaga, apa yang kalian lakukan, huh?!" seru Mario setelah melihat kekacauan di antara keduanya.
"Dasar jalang! Dia yang memulai duluan!" hina Grace pada wanita yang merupakan mantan kekasih atasannya, Axel Addison, sambil melirik pada Mario.
Meskipun Grace tahu bahwa Jessie adalah seorang CEO di perusahaan ini, dia tidak segan membalas perlakuan buruk wanita itu.
Mario menelan saliva dengan susah payah. Ini adalah kali pertama dia melihat sikap tegas dan pemberani dari Grace. Mario pikir Grace hanya sekadar berucap pedas padanya.
Tapi rupanya wanita ini juga pemberani dan tidak segan berhadapan dengan lawan.
“Luar biasa!” gumam Mario dalam hati. Ia mengagumi keberanian Grace.
Setelah itu, Mario membawa Grace pergi dari sana tanpa menghiraukan Jessie. Mereka langsung turun ke lantai dasar dan menuju ke lobby. Kemudian, mereka keluar dari gedung tersebut dan menuju mobil di tempat parkir.
Kini Mario dan Grace duduk di dalam mobil, sementara kendaraan tersebut masih berada di tempatnya. Mario belum menjalankan mobilnya.
“Coba lihat kemari,” pinta Mario pada Grace sambil meraih dagu wanita itu.
Grace menuruti dan membawa wajahnya ke hadapan Mario. Ketika pria itu melihat pipinya yang memerah akibat tamparan Jessie tadi, dia menggumam, “Merah. Nanti kita mampir di apotek untuk membeli obat sebentar,” katanya melanjutkan.
Grace menggeleng pelan. “Tidak usah. Paling sebentar lagi akan hilang. Saya tidak butuh obat,” tolak Grace.
Mario terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Itu artinya secara tidak langsung kau memintaku untuk mencium pipimu, ya kan?” ujarnya sambil memicingkan kedua matanya.
Grace seketika mengerutkan kening. “Anda ini bicara apa, sih?! Suka tidak jelas!” kesal Grace.
“Kau menolak diobati, ya sudah, kukecup saja bagaimana? Supaya merahnya hilang. Mau, Grace?” bisik Mario dengan suara menggoda.
Glek!
Seketika Grace menelan ludah dengan kasar, bersamaan dengan itu ia mulai gugup setengah mati. Dan pada saat yang bersamaan, ternyata Mario bersungguh-sungguh mengecup pipi Grace.
***
Anda Mungkin Juga Suka





