
Dilema Hati
Bab 2
Sejak pertemuan pagi itu, suasana antara Leonard dan Evelyn tidak lagi seperti biasa. Meski keduanya berusaha menjaga sikap profesional dan menjaga jarak, ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Setiap kali mereka bertemu, percakapan terasa canggung, seakan ada sebuah rahasia yang tidak diucapkan, yang menggantung di antara mereka. Evelyn berusaha untuk tidak memikirkannya, namun hatinya tak bisa bohong. Perasaan yang ia coba sembunyikan kini semakin kuat, semakin mendalam.
Hari-hari berlalu dengan cepat, dan keduanya kembali berusaha berperan sesuai dengan apa yang diharapkan dunia mereka-Leonard sebagai teman ayah Evelyn, dan Evelyn sebagai gadis yang tinggal sementara di rumahnya. Namun, malam itu, sesuatu yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi.
Leonard sedang duduk di ruang makan, menyelesaikan pekerjaan kantornya, saat ia mendengar suara langkah kaki dari luar. Evelyn muncul di pintu, mengenakan gaun kasual berwarna biru yang menonjolkan kecantikannya. Wajahnya sedikit pucat, matanya tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Evelyn berjalan dengan langkah ragu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Om Leonard," suara Evelyn terdengar lembut, penuh ketegangan.
Leonard menoleh dan tersenyum tipis. "Evelyn, ada apa? Kamu kelihatan cemas."
Evelyn menelan ludah, ragu sejenak sebelum akhirnya dia melangkah mendekat. "Aku nggak bisa menahan ini lebih lama, Om. Aku harus bicara sama kamu."
Leonard merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Perasaan cemas menyergapnya. "Apa ada yang salah?" tanya Leonard, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
Evelyn duduk di kursi yang ada di sebelahnya, jaraknya begitu dekat, tetapi keduanya tetap terpisah oleh sebuah ruang yang tak kasat mata. "Aku nggak tahu bagaimana harus memulainya. Aku tahu kamu mungkin merasa ini aneh, atau bahkan salah, tapi aku nggak bisa menghindari perasaanku lagi," Evelyn berkata, suaranya bergetar. "Aku... aku suka kamu, Om Leonard. Aku nggak bisa mengontrol ini. Dan aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan."
Leonard terdiam, mulutnya terasa kering. Hatinya berdegup kencang. Ini bukan percakapan yang dia bayangkan terjadi, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa perasaan itu ada, meski ia berusaha menahan diri untuk tidak mengakuinya. "Evelyn," suara Leonard rendah dan tegas, mencoba menenangkan dirinya. "Kita tidak bisa seperti ini. Aku tahu perasaanmu, tapi kita harus berhati-hati. Aku sudah seperti keluarga buatmu, dan ini bisa merusak semuanya. Kamu tahu itu, kan?"
Evelyn menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu, Om. Aku tahu ini salah. Tapi aku nggak bisa berhenti merasa seperti ini. Rasanya seperti... seperti ada sesuatu yang mengikat kita berdua, dan aku nggak tahu harus bagaimana."
Leonard merasakan hatinya terhimpit, melihat gadis muda itu menderita. Bagaimana bisa ia menyakiti Evelyn? Namun di sisi lain, ia tahu bahwa ini adalah jalan yang harus diambil, demi kebaikan mereka berdua. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Evelyn dengan penuh kehangatan, mencoba memberikan rasa aman meskipun hatinya kacau. "Evelyn, percayalah, perasaan itu akan hilang seiring waktu. Kita bisa tetap dekat tanpa melangkah lebih jauh."
Namun, Evelyn menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku nggak bisa, Om. Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka kamu, dan aku nggak bisa menahan perasaan itu lebih lama."
Leonard merasa dunia seakan berputar cepat. Ia mengangkat tangannya, ingin mengelus rambut Evelyn, namun ia menarik kembali tangannya, takut akan kesalahan yang lebih besar lagi. "Evelyn, aku..."
Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan keras, membuat keduanya terkejut. Gustavo muncul di ambang pintu, wajahnya serius, meski ada kegelisahan yang tersembunyi. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Gustavo dengan nada yang lebih berat daripada biasanya.
Evelyn terkejut, buru-buru menghapus air matanya, berusaha untuk terlihat biasa. "Nggak, Pa. Cuma ngobrol biasa. Gak ada apa-apa."
Tapi Gustavo tahu ada yang tidak beres. Ia melihat ekspresi cemas di wajah anaknya, dan melihat ketegangan yang jelas terjaga antara Evelyn dan Leonard. "Evelyn," suara Gustavo lebih lembut, namun tajam, "apa yang kamu sembunyikan?"
Leonard mencoba menenangkan situasi. "Gustavo, kita baru saja... kita sedang berbicara tentang masa depan Evelyn, dan bagaimana dia harus fokus pada karirnya setelah lulus kuliah."
Namun, Gustavo tidak mudah dibohongi. "Aku tahu ada yang lebih dari itu. Evelyn, kamu bisa jujur sama Pa. Apa yang terjadi?"
Evelyn terdiam, menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebingungannya. Ia tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, dengan suara yang sangat pelan, ia mengungkapkan, "Pa, aku... aku suka Om Leonard."
Gustavo terkejut, seolah dunia runtuh di sekitarnya. Ia menatap Evelyn dengan mata yang lebar, tak percaya. "Apa yang kamu katakan, Evelyn? Kamu tahu itu tidak bisa terjadi, kan?"
Evelyn menunduk, air matanya mengalir lagi. "Aku nggak bisa berhenti merasakannya, Pa. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memang suka dia."
Leonard merasakan ketegangan itu semakin menekan, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kecemasan yang mendalam tentang perasaannya sendiri. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa melangkah mundur, sementara perasaan yang terpendam begitu kuat?
Gustavo berdiri diam, menatap Leonard dengan tatapan penuh kemarahan yang tertahan. "Leonard, kamu harus bertanggung jawab atas ini. Kamu yang memulai semua ini. Kamu yang memengaruhi perasaan anakku!"
Leonard terkejut, tapi ia tahu bahwa apa yang Gustavo katakan ada benarnya. "Gustavo, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah bermaksud membuat Evelyn merasa seperti ini. Tapi aku tahu kita harus berhati-hati."
Tapi Gustavo tak bisa menahan amarahnya lebih lama. "Kamu harus menjauh dari anakku, Leonard. Aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut. Kalau kamu tidak bisa mengendalikannya, aku yang akan mengakhirinya."
Suasana di ruangan itu semakin memanas, dan satu hal yang pasti-semua yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya terungkap, dan semuanya mulai berubah.
Anda Mungkin Juga Suka





