Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilema Hati

Dilema Hati

Leonard Mahendra, pria mapan berusia 38 tahun, terbiasa hidup sendiri hingga Evelyn hadir. Putri sahabatnya itu menumpang tinggal karena ayahnya bertugas di luar negeri. Sifat Evelyn yang ceria mengubah rutinitas Leonard menjadi lebih berwarna. Namun, rasa peduli Leonard perlahan berubah menjadi cinta terlarang. Evelyn pun terjebak dilema karena menyukai teman ayahnya. Rahasia ini menjadi ancaman besar saat ayah Evelyn kembali dan mengetahui semuanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak pertemuan pagi itu, suasana antara Leonard dan Evelyn tidak lagi seperti biasa. Meski keduanya berusaha menjaga sikap profesional dan menjaga jarak, ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Setiap kali mereka bertemu, percakapan terasa canggung, seakan ada sebuah rahasia yang tidak diucapkan, yang menggantung di antara mereka. Evelyn berusaha untuk tidak memikirkannya, namun hatinya tak bisa bohong. Perasaan yang ia coba sembunyikan kini semakin kuat, semakin mendalam.

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan keduanya kembali berusaha berperan sesuai dengan apa yang diharapkan dunia mereka-Leonard sebagai teman ayah Evelyn, dan Evelyn sebagai gadis yang tinggal sementara di rumahnya. Namun, malam itu, sesuatu yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi.

Leonard sedang duduk di ruang makan, menyelesaikan pekerjaan kantornya, saat ia mendengar suara langkah kaki dari luar. Evelyn muncul di pintu, mengenakan gaun kasual berwarna biru yang menonjolkan kecantikannya. Wajahnya sedikit pucat, matanya tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda. Evelyn berjalan dengan langkah ragu, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Om Leonard," suara Evelyn terdengar lembut, penuh ketegangan.

Leonard menoleh dan tersenyum tipis. "Evelyn, ada apa? Kamu kelihatan cemas."

Evelyn menelan ludah, ragu sejenak sebelum akhirnya dia melangkah mendekat. "Aku nggak bisa menahan ini lebih lama, Om. Aku harus bicara sama kamu."

Leonard merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Perasaan cemas menyergapnya. "Apa ada yang salah?" tanya Leonard, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

Evelyn duduk di kursi yang ada di sebelahnya, jaraknya begitu dekat, tetapi keduanya tetap terpisah oleh sebuah ruang yang tak kasat mata. "Aku nggak tahu bagaimana harus memulainya. Aku tahu kamu mungkin merasa ini aneh, atau bahkan salah, tapi aku nggak bisa menghindari perasaanku lagi," Evelyn berkata, suaranya bergetar. "Aku... aku suka kamu, Om Leonard. Aku nggak bisa mengontrol ini. Dan aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan."

Leonard terdiam, mulutnya terasa kering. Hatinya berdegup kencang. Ini bukan percakapan yang dia bayangkan terjadi, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa perasaan itu ada, meski ia berusaha menahan diri untuk tidak mengakuinya. "Evelyn," suara Leonard rendah dan tegas, mencoba menenangkan dirinya. "Kita tidak bisa seperti ini. Aku tahu perasaanmu, tapi kita harus berhati-hati. Aku sudah seperti keluarga buatmu, dan ini bisa merusak semuanya. Kamu tahu itu, kan?"

Evelyn menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu, Om. Aku tahu ini salah. Tapi aku nggak bisa berhenti merasa seperti ini. Rasanya seperti... seperti ada sesuatu yang mengikat kita berdua, dan aku nggak tahu harus bagaimana."

Leonard merasakan hatinya terhimpit, melihat gadis muda itu menderita. Bagaimana bisa ia menyakiti Evelyn? Namun di sisi lain, ia tahu bahwa ini adalah jalan yang harus diambil, demi kebaikan mereka berdua. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Evelyn dengan penuh kehangatan, mencoba memberikan rasa aman meskipun hatinya kacau. "Evelyn, percayalah, perasaan itu akan hilang seiring waktu. Kita bisa tetap dekat tanpa melangkah lebih jauh."

Namun, Evelyn menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku nggak bisa, Om. Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka kamu, dan aku nggak bisa menahan perasaan itu lebih lama."

Leonard merasa dunia seakan berputar cepat. Ia mengangkat tangannya, ingin mengelus rambut Evelyn, namun ia menarik kembali tangannya, takut akan kesalahan yang lebih besar lagi. "Evelyn, aku..."

Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan keras, membuat keduanya terkejut. Gustavo muncul di ambang pintu, wajahnya serius, meski ada kegelisahan yang tersembunyi. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Gustavo dengan nada yang lebih berat daripada biasanya.

Evelyn terkejut, buru-buru menghapus air matanya, berusaha untuk terlihat biasa. "Nggak, Pa. Cuma ngobrol biasa. Gak ada apa-apa."

Tapi Gustavo tahu ada yang tidak beres. Ia melihat ekspresi cemas di wajah anaknya, dan melihat ketegangan yang jelas terjaga antara Evelyn dan Leonard. "Evelyn," suara Gustavo lebih lembut, namun tajam, "apa yang kamu sembunyikan?"

Leonard mencoba menenangkan situasi. "Gustavo, kita baru saja... kita sedang berbicara tentang masa depan Evelyn, dan bagaimana dia harus fokus pada karirnya setelah lulus kuliah."

Namun, Gustavo tidak mudah dibohongi. "Aku tahu ada yang lebih dari itu. Evelyn, kamu bisa jujur sama Pa. Apa yang terjadi?"

Evelyn terdiam, menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebingungannya. Ia tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, dengan suara yang sangat pelan, ia mengungkapkan, "Pa, aku... aku suka Om Leonard."

Gustavo terkejut, seolah dunia runtuh di sekitarnya. Ia menatap Evelyn dengan mata yang lebar, tak percaya. "Apa yang kamu katakan, Evelyn? Kamu tahu itu tidak bisa terjadi, kan?"

Evelyn menunduk, air matanya mengalir lagi. "Aku nggak bisa berhenti merasakannya, Pa. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku memang suka dia."

Leonard merasakan ketegangan itu semakin menekan, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kecemasan yang mendalam tentang perasaannya sendiri. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa melangkah mundur, sementara perasaan yang terpendam begitu kuat?

Gustavo berdiri diam, menatap Leonard dengan tatapan penuh kemarahan yang tertahan. "Leonard, kamu harus bertanggung jawab atas ini. Kamu yang memulai semua ini. Kamu yang memengaruhi perasaan anakku!"

Leonard terkejut, tapi ia tahu bahwa apa yang Gustavo katakan ada benarnya. "Gustavo, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah bermaksud membuat Evelyn merasa seperti ini. Tapi aku tahu kita harus berhati-hati."

Tapi Gustavo tak bisa menahan amarahnya lebih lama. "Kamu harus menjauh dari anakku, Leonard. Aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut. Kalau kamu tidak bisa mengendalikannya, aku yang akan mengakhirinya."

Suasana di ruangan itu semakin memanas, dan satu hal yang pasti-semua yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya terungkap, dan semuanya mulai berubah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ambil Kembali Hatiku
9.4
Kehidupan Sena hancur seketika ketika sang ibu mengembuskan napas terakhir tepat di hari ulang tahunnya. Namun, kemalangan Sena tidak berhenti di situ. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan, suaminya justru bersikap dingin. Sang suami tidak hanya mengabaikan hari lahir Sena dan enggan menghadiri upacara pemakaman ibu mertunya, tetapi ia juga memilih pergi ke bandara demi menjemput wanita lain yang selama ini menjadi dambaan hatinya.
Sampul Novel Bastard My Stepfather
7.9
Dave Eshan Mahendra akhirnya menyerah pada pernikahan enam tahunnya dengan Dara Caroline. Di balik perselingkuhan istrinya, Dave ternyata memendam rasa pada putri tirinya, Clara. Kabar perceraian ini mengejutkan Clara yang ceria hingga ia mendatangi kantor Dave. Tak disangka, Dave justru menyatakan cinta padanya. Setelah bimbang cukup lama, Clara menerima perasaan itu. Namun, hubungan rahasia ini membawa Clara pada fakta tersembunyi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Love And Mystery
7.8
Harry Borison, CEO Rank Group yang dingin dan perfeksionis, tak sengaja terikat takdir dengan karyawannya sendiri, Han Yura. Di balik sosoknya, Yura menyimpan trauma mendalam dan gangguan PTSD. Demi melindungi nyawa dari ancaman wanita psikopat yang terobsesi pada Harry, keduanya terpaksa merahasiakan pernikahan mereka. Kini, Yura harus berjuang meluluhkan hati Harry yang keras sambil bertahan hidup dari incaran maut sang penguntit berbahaya.
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati harus menghadapi kenyataan pahit saat bos di kantor suaminya melamar Dedy. Tergiur janji kehidupan yang lebih layak, Wati pun sepakat untuk dimadu. Namun, setelah Dedy memboyongnya ke rumah istri kedua, sebuah rahasia kelam mulai terungkap. Ternyata, Dedy memiliki agenda tersembunyi yang jauh lebih licik di balik pernikahan tersebut. Di sinilah perjuangan Wati dimulai saat ia menyadari bahwa dirinya hanyalah alat dalam rencana besar sang suami.
Sampul Novel Obsession In Love
9.5
Arinika adalah seorang mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya, namun ia terus terjebak dalam masalah dengan dosen pembimbingnya sendiri. Samuel Xalvandor, sang dosen yang dikenal sangat kejam, secara mengejutkan memaksa Arin untuk menjalin ikatan pernikahan. Meski sempat mencoba menolak, Arin tidak berdaya melawan kuasa sang dosen hingga pernikahan mereka akhirnya terwujud. Ikuti kisah rumit mereka dalam drama romansa modern ini.