
Dilema Hati
Bab 3
Malam itu, ketegangan yang menggantung di udara masih belum mereda. Setelah perdebatan sengit dengan Gustavo, Leonard memilih untuk menghindari kontak dengan Evelyn selama beberapa hari. Namun, ia tahu itu tidak akan bertahan lama. Setiap sudut rumah ini mengingatkannya pada gadis itu-senyumnya, suara tawanya, dan tatapan matanya yang begitu terang namun penuh keraguan.
Di sisi lain, Evelyn merasa hampa. Ia tahu ayahnya tidak akan pernah setuju, tapi hatinya berkata lain. Ia ingin membenci Leonard karena menjauh, tapi ia juga tahu bahwa pria itu hanya mencoba melindunginya. Namun, apakah itu yang benar-benar ia inginkan?
Suatu malam, Leonard baru saja selesai mandi ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya berjalan dan membukanya. Di depannya, berdiri Evelyn, mengenakan sweater kebesaran dan celana pendek, rambutnya sedikit berantakan.
"Evelyn?" Suaranya terdengar rendah, hampir bergetar.
Evelyn menggigit bibirnya, seolah ragu untuk melanjutkan. "Aku tahu seharusnya aku nggak ada di sini, tapi aku nggak tahan lagi, Om."
Leonard menatap gadis itu lama. "Evelyn, ini bukan ide yang bagus."
"Tapi aku butuh jawaban, Om," suara Evelyn terdengar penuh emosi. "Kamu bilang aku harus melupakan perasaanku, tapi bagaimana dengan kamu? Apa kamu benar-benar nggak merasa apa-apa?"
Leonard menghela napas berat. "Bukan itu masalahnya."
"Lalu apa? Umur? Status? Om takut dengan Papa?" Evelyn mendekat, tatapannya tajam. "Atau Om takut dengan perasaan Om sendiri?"
Leonard menggeram pelan, berusaha menahan dirinya. "Evelyn, aku lebih tua dari kamu. Aku teman ayahmu. Ini salah."
Evelyn tertawa kecil, pahit. "Kenapa cinta harus selalu ada aturannya?"
Ia melangkah lebih dekat, dan Leonard bisa mencium wangi lembut dari tubuhnya, aroma yang selama ini tak pernah ia sadari bisa membuatnya kehilangan kendali.
"Evelyn, jangan," Leonard berbisik, seolah memperingatkan dirinya sendiri lebih dari gadis itu.
Evelyn menatapnya, penuh keputusasaan. "Aku hanya ingin tahu... kalau aku ini hanya seorang anak kecil di matamu, atau ada sesuatu yang lebih."
Jantung Leonard berdetak cepat. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia seharusnya menghentikan semuanya saat ini juga. Tapi saat ia menatap mata Evelyn, ia sadar bahwa garis batas yang seharusnya ia pertahankan mulai kabur.
Dan sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, Evelyn sudah berjinjit, menempelkan bibirnya dengan lembut di pipi Leonard.
Suara pintu yang tertutup membuyarkan segalanya. Leonard berdiri diam di kamarnya, masih merasakan kehangatan yang ditinggalkan oleh gadis itu. Ini gila. Ia harus menghentikannya. Tapi bagaimana caranya, ketika ia sendiri tidak yakin ingin berhenti?
Satu hal yang ia tahu, setelah malam ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





