
Dikhianati di Ranjang Pengantin
Bab 3
Aurora tiba di London dengan sisa uang yang menyedihkan dan paspor baru dengan nama yang sedikit dimodifikasi. Udara dingin khas Inggris langsung menyambutnya, sangat kontras dengan hawa panas Jakarta. Hawa dingin itu seolah mengingatkannya bahwa dia sekarang sendirian, terputus dari segala kemewahan dan masa lalunya yang kelam.
Dia menyewa sebuah kamar kecil di area pinggiran kota, jauh dari keramaian dan biaya sewa yang mencekik. Kamar itu bukan kamar kost mewah; ini adalah ruangan di atap sebuah rumah tua yang lembap, dengan jendela kecil yang menghadap ke atap-atap merah yang membentang.
Minggu-minggu pertama adalah cobaan. Aurora harus berbohong tentang usia kehamilannya untuk mendapatkan pekerjaan, tapi perutnya yang mulai membesar adalah penghalang terbesar. Dia tidak punya pengalaman kerja formal, hanya tahu bagaimana menjadi 'putri Jenderal' yang anggun dan pintar mengatur pesta sosial.
Setelah ditolak dari belasan tempat, dari kafe hingga toko buku, Aurora akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten cuci piring dan pelayan paruh waktu di sebuah restoran Italia kecil yang ramai, jauh di sudut kota. Gaji yang dia terima hanya cukup untuk membayar sewa kamar dan membeli makanan paling dasar.
Setiap hari adalah perjuangan fisik. Berdiri berjam-jam, mengangkat piring-piring kotor, dan mencium bau masakan yang semakin membuatnya mual. Dia menyembunyikan kehamilannya dari bosnya yang cerewet, Tuan Enzo, dengan memakai celemek tebal dan jaket longgar.
Dia sering kelelahan, bahkan sampai menangis dalam perjalanan pulang di malam hari. Tapi setiap kali dia ingin menyerah, tangannya refleks menyentuh perutnya.
"Kalian harus kuat, Sayang. Mama akan kuat demi kalian," bisiknya.
Ya, kalian.
Kejutan terbesar datang saat Aurora memeriksakan diri ke klinik kesehatan umum. Dokter yang menanganinya, seorang wanita kulit hitam yang lembut bernama Dr. Adé, melakukan pemeriksaan rutin.
"Nona, detak jantungnya luar biasa kuat," kata Dr. Adé sambil tersenyum.
Aurora tersenyum lega. "Syukurlah, Dok."
"Tapi," Dr. Adé menghentikan senyumnya, menatap monitor ultrasound dengan serius, "sepertinya ini bukan cuma satu detak jantung."
Aurora mengerjap. "Maksud Dokter?"
Dr. Adé memutar monitor ke arah Aurora. Di layar buram itu, ada dua titik kecil yang berdenyut, bergerak sedikit, bersebelahan.
"Selamat, Nona. Kamu hamil kembar. Kamu akan punya dua bayi," ucap Dr. Adé, kali ini senyumnya kembali, lebih lebar.
Aurora terpaku. Air mata panas mengalir deras. Bukan air mata sedih, tapi air mata keputusasaan yang bercampur haru.
Dua anak. Dua nyawa. Dua alasan untuk hidup. Tapi juga, dua beban yang harus dia tanggung sendirian. Bagaimana mungkin dia bisa membesarkan sepasang anak di negeri asing, tanpa dukungan siapa pun, tanpa pekerjaan yang layak?
Dia meninggalkan klinik dengan pikiran campur aduk. Di satu sisi, ada rasa takut yang menghancurkan. Di sisi lain, ada kekuatan baru yang membakar. Dua anak kembar. Ini pasti takdir yang sedang mengujinya.
Dia harus lebih kuat. Tidak ada lagi waktu untuk meratapi Sabrina atau Tuan David. Dia harus mencari cara yang lebih baik untuk bertahan.
Perut Aurora semakin membesar, dan Tuan Enzo, bosnya, mulai curiga. Suatu sore, Tuan Enzo memanggilnya ke kantor kecil di belakang restoran.
"Aurora, duduk," kata Tuan Enzo, suaranya lelah. "Aku ini kakek-kakek yang sudah punya delapan cucu. Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu hamil?"
Aurora menunduk, siap dipecat. "Maaf, Tuan Enzo. Saya butuh uangnya. Saya janji, saya akan tetap bekerja keras."
Tuan Enzo menatapnya dalam-dalam. "Kamu pasti punya cerita, tapi aku nggak perlu dengar. Kamu kerja bagus, tapi aku nggak bisa ambil risiko di dapur. Kamu bisa melahirkan di tengah tumpukan piring kotor. Kamu dipecat dari dapur."
Wajah Aurora pucat pasi. "Tapi, Tuan Enzo..."
Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari sudut ruangan. Dia berpakaian sangat rapi, dengan setelan blus sutra berwarna burgundy yang elegan, dan rambut abu-abu yang ditata sempurna. Wajahnya tegas, matanya tajam, memancarkan aura kekuasaan yang membuat Aurora teringat pada mantan Ibu Tirinya-tapi wanita ini memiliki kehangatan yang jauh berbeda.
"Dipecat dari dapur, ya, Enzo? Bagus," kata wanita itu, melipat tangan di dada. "Aku butuh seseorang di kantor, dan dia pasti lebih pintar dari kelihatannya."
Dia menghampiri Aurora. "Aku Elara Vance. Aku adalah pemilik gedung ini, dan aku bos dari Tuan Enzo, kalau kamu mau tahu. Aku melihat kamu bekerja selama sebulan terakhir. Kamu tidak pernah mengeluh, kamu bekerja paling cepat, dan kamu selalu tersenyum pada pelanggan, meskipun wajahmu pucat kayak hantu."
Aurora bingung. "Maksud, Nyonya?"
"Aku lihat potensi, dear. Aku punya kantor konsultasi kecil di lantai atas. Aku butuh asisten administrasi yang bisa mengurus berkas, menjawab telepon, dan yang paling penting, jujur. Apakah kamu punya ijazah?" tanya Elara, suaranya lugas.
"Saya lulusan terbaik dari universitas ternama di Indonesia, Nyonya. Tapi ijazah saya... ada di rumah," jawab Aurora, menahan air mata.
Elara Vance tersenyum kecil. "Aku nggak butuh ijazah. Aku butuh kecerdasan. Gajimu akan tiga kali lipat dari gajimu di dapur ini, dan kamu akan bekerja di ruangan ber-AC. Tapi sebagai gantinya, kamu harus belajar, bekerja keras, dan kamu harus berjanji untuk tidak pernah lagi mengasihani diri sendiri."
Ini adalah kesempatan emas. Atau mungkin, ini adalah takdir yang akhirnya berpihak padanya.
"Saya bersedia, Nyonya Vance," jawab Aurora, matanya berkaca-kaca.
Mulai hari itu, hidup Aurora berubah. Dia bekerja untuk Elara Vance, seorang konsultan keuangan dan brand yang ternyata sangat terkenal di London.
Pekerjaan itu jauh lebih mudah secara fisik. Dia hanya duduk, bekerja dengan komputer, dan mengatur jadwal Elara. Tapi secara mental, pekerjaan itu menguras energi. Elara adalah mentor yang keras dan cerdas. Dia tidak memberi ruang bagi kesalahan atau alasan.
"Di dunia bisnis, Aurora, tidak ada yang peduli pada cerita sedihmu. Mereka hanya peduli pada hasil. Kamu harus terlihat kuat. Kamu harus pintar. Dan yang paling penting, kamu harus tahu nilai dirimu," Elara sering berkata.
Di kantor kecil yang elegan itu, Aurora mulai belajar. Dia belajar tentang analisis keuangan, strategi branding, dan seni negosiasi. Dia membaca semua buku yang direkomendasikan Elara, belajar larut malam setelah pulang kerja. Dia menyerap ilmu Elara seperti spons.
Elara, yang tidak pernah bertanya tentang masa lalu Aurora-dia hanya tahu Aurora melarikan diri dari keluarga kaya di Asia-memberinya dorongan yang sangat dibutuhkan. Dia mengajari Aurora bagaimana mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
Aurora mulai menabung. Dia memastikan dia punya dana darurat untuk biaya melahirkan di London. Dia membeli pakaian yang lebih layak dan nutrisi yang lebih baik untuk si kembar.
Hubungan antara Aurora dan Elara berkembang melampaui atasan-bawahan. Elara, yang ternyata tidak memiliki anak, mulai melihat Aurora seperti putrinya sendiri.
Suatu sore, Elara melihat Aurora sedang menatap foto ultrasound si kembar di mejanya.
"Mereka laki-laki atau perempuan?" tanya Elara lembut, tidak seperti biasanya.
"Belum tahu, Nyonya Vance," jawab Aurora, tersenyum. "Tapi saya akan namai mereka dengan nama yang kuat."
"Kamu harus kuat, Nak. Mereka adalah alasan kamu hidup, bukan beban," kata Elara, menyentuh pundak Aurora. "Aku nggak tahu siapa ayah mereka, dan aku nggak perlu tahu. Tapi kamu harus berjanji padaku, saat kamu siap, kamu harus kembali ke negaramu, bukan untuk membalas dendam yang membabi buta, tapi untuk membuktikan bahwa kamu lebih baik dari mereka semua."
Kata-kata Elara itu mengukir janji baru di hati Aurora. Bukan lagi dendam membabi buta, tapi balas dendam yang cerdas, yang berbasis pada kekuatan dan kesuksesan. Dia harus menjadi wanita yang tidak bisa lagi diinjak-injak oleh siapa pun.
Waktu berlalu cepat. Kehamilan Aurora memasuki usia delapan bulan. Dia sudah berhenti bekerja di bawah paksaan Elara yang khawatir.
Dia sudah menyiapkan kamar kecil di apartemennya, dua ranjang bayi kecil, dan semua perlengkapan dasar. Dia sudah melupakan aroma parfum Tuan David, melupakan wajah Jenderal Wirya, dan melupakan tawa keji Sabrina. Fokusnya kini hanya pada dua nyawa yang sedang tumbuh di perutnya.
Suatu malam, saat London diselimuti salju pertama, rasa sakit yang hebat menyerang perut Aurora. Ini terlalu cepat, belum waktunya. Panik, Aurora menelepon Elara Vance.
Elara datang dalam hitungan menit, membawanya ke rumah sakit swasta terbaik di London. Aurora berkeras ingin menggunakan rumah sakit umum, tapi Elara bersikeras.
"Anggap saja ini bonus karena kamu sudah memberiku tiga bulan kerja yang luar biasa. Anak-anakmu pantas mendapatkan yang terbaik, Aurora," kata Elara tegas.
Di ruang persalinan yang steril dan hangat, di tengah rasa sakit yang luar biasa, Aurora tidak sendirian. Elara Vance menggenggam tangannya erat-erat, menjadi keluarga yang dia butuhkan.
Setelah perjuangan yang panjang, dua tangisan bayi memecah keheningan. Pertama, si sulung. Kemudian, hanya berselang beberapa menit, si bungsu.
Dokter meletakkan keduanya di dada Aurora. Dua bayi mungil, sehat, dan tampan. Keduanya laki-laki.
Air mata kebahagiaan sejati membanjiri wajah Aurora. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dia merasakan kedamaian dan tujuan hidup.
"Siapa nama mereka?" tanya Elara, matanya berkaca-kaca.
Aurora tersenyum lelah, menatap dua putranya. Mereka adalah permata, kekuatannya, dan rahasianya.
"Yang pertama, aku namai Nathaniel," kata Aurora lembut, "artinya karunia Tuhan. Dan yang kedua, Rafael-Tuhan telah menyembuhkan."
Nathaniel dan Rafael. Dua pahlawan kecil yang akan menjadi benteng hidupnya. Di pelukan mereka, kebencian dan trauma seolah mencair, digantikan oleh janji: dia akan memastikan mereka kembali ke Jakarta, bukan sebagai anak haram, tapi sebagai pewaris sejati.
Anda Mungkin Juga Suka





