
Dikejar Mantan Suami
Bab 2
Ningsih menatap rumah kontrakan kecil di ujung gang. Rumah kontrakan berpintu warna hijau. Ningsih berjalan ke rumah itu lalu membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ia bawa.
Ningsih dengan cepat melepas sepatunya, untuk kemudian melepas lelah sejenak di kursi sederhana di ruang tamu.
Tak ada barang berharga di rumah ini. Rumah kontrakan yang terbilang kecil. Hanya ada satu kamar, yang kini menjadi kamarnya. Ada dapur dan kamar mandi. Ruang tamu pun hanya berukuran kecil. Hanya berisi kursi keluaran tahun lama, juga televisi berukuran kecil yang memang jarang dihidupkan Ningsih.
Pasca bercerai, hidup Ningsih memang kembali dari nol. Ningsih juga menolak kembali ke rumah orang tua, karena rumah orang tua sudah diisi Naning, adik satu-satunya yang kini sudah berkeluarga. Naning hidup bahagia di rumah orang tua mereka, dengan memiliki suami yang bekerja sebagai sopir, dan satu anak laki-laki berusia dua tahun. Naning jugalah yang turut andil tiga bulan lalu mencarikan kerja untuk Ningsih, dan merekomendasikan Faiz untuk memperkerjakan kakak perempuan kandungnya. Ya, kedua orang tua mereka sudah meninggal. Jadi, hanya tinggal mereka berdua yang harus hidup akur sebagai saudara.
Dulu, ketika memutuskan menikah dengan Haris. Ningsih juga tak punya tuntutan apa-apa. Mereka menikah juga karena atas dasar cinta. Sebelumnya mereka berpacaran, meski Ningsih tahu mertua perempuannya tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Haris, sampai akhirnya terjadi pernikahan.
Haris yang merupakan pria yang berasal dari kalangan menengah, akhirnya memboyong Ningsih ke rumah kontrakan yang lumayan besar.
Haris juga bekerja sebagai pegawai swasta, sehingga ia mampu mengontrak rumah yang cukup besar untuk mereka berdua tinggal. Namun, di samping itu juga Haris sebenarnya tidak mau ibunya cekcok dengan Ningsih. Oleh sebab itu, setelah satu minggu menikah Haris langsung memboyong Ningsih.
Pernikahan yang hanya tinggal kenangan. Mereka bercerai karena Ningsih sudah tidak tahan menghadapi tekanan dari ibu Haris. Suatu ketika ibu Haris-ibu Yati pernah terang-terangan berucap sesuatu yang menyakiti hatinya. Semuanya lantaran setelah tiga tahun menikah, dia tak kunjung hamil. Ningsih tahu dia bukan menantu yang diinginkan ibu Haris.
Waktu mereka berpacaran, ibu Haris lebih setuju anaknya bersanding dengan anak pak RT, Kamila Dewi. Dan setelah setahun bercerai, Haris lalu menikah lagi dengan Kamila Dewi, sebagaimana permintaan ibunya.
Sejak bercerai Ningsih terpuruk. Dia pergi dari rumah kontrakan itu. Dia memulai hidup baru. Naning banyak menasehatinya, hingga Ningsih pun tegar. Ningsih akhirnya bekerja serabutan. Karena memang dia tak biasa bekerja saat berumah tangga dulu. Namun bagi Ningsih suasana sudah berbeda. Ia harus dapat bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski banyak duda-duda ataupun laki-laki muda mengajaknya menikah.
Ningsih masih memendam trauma. Sehingga dia pun akhirnya menolak untuk berpacaran lagi ataupun punya pikiran untuk menikah lagi. Ningsih sudah cukup puas dengan kesendiriannya, meski dia juga merasa amat kesepian. Jika dia mulai merasa sepi, dia akan datang ke rumah orang tua dan menemui Naning dan anaknya. Melihat Amir, dan melihat adik perempuan satu-satunya membuat Ningsih merasa bahagia. Jadi, ia tidak perlu memikirkan apapun untuk sekarang.
***
Ningsih bekerja di warung makan milik Faiz dari pukul tujuh pagi hingga pukul lima sore. Jika tepat pukul lima sore dia akan disuruh Faiz pulang seraya Faiz memberikan lauk, nasi juga sayur untuk disantap Ningsih makan malam. Ningsih akan meninggalkan laki-laki itu karena warung makan memang akan tutup pukul delapan malam. Biasanya Faiz akan menjaga warung makan bergantian dengan ibunya, karena batas jam kerja Ningsih yang sudah habis.
Namun, mendadak malam ini Ningsih harus kembali ke warung makan Faiz sesudah magrib. Tadi, sudah dijelaskan pada Faiz bahwa dia harus berbelanja ke supermarket di mall dekat sini lantaran Faiz harus membawa Ara, anak perempuannya yang baru berumur setahun lebih ke klinik dokter tak jauh dari sini.
Ningsih dengan cepat ke dapur. Meletakkan bungkusan nasi, sayur juga lauk untuk makan malamnya dari Faiz tadi. Ningsih lalu beres-beres rumah kontrakan sebentar. Untuk kemudian dia mandi lalu kembali lagi ke warung makan.
Ningsih sudah kembali ke warung makan ketika jam tujuh tepat Faiz sudah menutup warung makannya. Warung makan tutup lebih cepat karena pria itu harus ke dokter.
"Ning, ini catatan belanjaannya, dan ini uangnya. Nanti belanjaannya diteliti ya, jangan sampai ada yang kurang," kata Faiz seraya menggendong anak perempuannya. Terlihat laki-laki itu mengelus punggung Ara yang terlihat lemah.
"Iya, mas," jawab Ningsih. Dia lalu melihat kondisi Ara, lalu tangan Ningsih meraba kening gadis kecil itu.
"Masih panas ya mas?"
Faiz mengangguk. Dan Ningsih merasakan kening dan leher Ara yang hangat. Gadis kecil itu menggeliat saat Ningsih melakukan itu.
"Sudah dikompres ya, mas."
"Sudah, oleh Ibu. Ibu sekarang lagi sama Fathan diatas. Lagi nyiapin Fathan makan malam."
"Kalau begitu, Ningsih langsung pergi ya mas,"
"Iya, kamu hati-hati ya, itu kunci motorku. Biar aku naik motor yang satu lagi," kata Faiz.
Ningsih lalu mengangguk. Dia mengambil kunci motor di meja. Untuk berbelanja, Faiz meminta naik motornya saja. Lagipula mall nya juga nggak terlalu jauh dari sini.
Tak lama, Faiz sudah melihat Ningsih pergi dengan motornya.
***
Begitu memarkir kendaraan roda dua itu, Ningsih lalu bergerak cepat ke lantai 3 mall Cempaka ini.
Supermarket dalam mal ini ada di lantai tiga. Dan Ningsih sedang bergerak menuju kesana.
Sesampainya di supermarket, Ningsih lalu mulai mencari bahan sembako yang ia butuhkan. Ia melihat-lihat catatan yang tadi diberikan Faiz dan satu-persatu bahan belanjaan sudah masuk ke dalam troli yang ia bawa.
Dan Ningsih terkejut ketika di depannya terlihat pria itu tegak di hadapannya. Ini kebetulan atau tanpa sengaja, yang pasti Haris sudah berdiri di depannya.
"Ningsih!" Pria itu telah memanggilnya. Nadanya terdengar terkejut sekaligus senang karena bertemu dengan Ningsih.
"Mas... Har..ris," lidah Ningsih bahkan kelu untuk menyebut nama mantan suaminya.
"Sedang apa disini?" tanya pria itu, dan baru tahu saat troli Ningsih sudah terlihat bahan belanjaan yang cukup banyak. "Belanja?"
"Iya mas,"
"Banyak sekali. Belanja bulanan?"
"Bukan mas. Disuruh boss."
"Oh, aku tahu. Boss kamu tempat bekerja sekarang?"
Ningsih mengangguk-angguk. "Mas Haris sedang apa?" Ningsih celingak-celinguk, dan melihat-lihat ke sekeliling Haris.
"Belanja Ning. Dan aku sedang cari madu. Ibu minta titip beli madu."
"Oh..." Bibir Ningsih sudah membulat.
"Tenang saja Ning. Aku sendirian. Nggak ada istriku," kata Haris untuk mempertegas semuanya. Haris tahu maksud Ningsih lihat sana-sini karena untuk melihat istri Haris. Siapa tahu Kamila Dewi ikut belanja.
"Jadi mas pergi sendirian?"
"Ya, begitulah," ujar pria itu dengan tampang lesu. "Aku juga soal apa-apa kadang pergi sendiri karena Kamila sibuk dengan pekerjaannya sendiri."
Dan Ningsih tahu pekerjaan Kamila. Punya toko manisan yang menjual kue-kue juga bahan-bahan pembuatan kue.
"Maaf mas, aku langsung kesana, ada masih banyak bahan yang harus kubeli."
"Kok buru-buru Ning. Apa kau sengaja menghindar dari aku?"
"Mas," lirih Ningsih.
"Aku bahkan belum tanya kabar kamu?"
"Aku baik-baik saja mas, seperti yang mas Haris lihat,"
Haris menarik napas panjang. "Ning, boleh jika nanti mas main ke rumah kontrakanmu?"
Ningsih menatap mata pria itu. Belum menjawab dan tak akan dapat menjawab, karena memang dia sudah tak mau berdekat-dekatan lagi dengan mantan suaminya.
"Ning," ucap Haris lagi, menyadarkan Ningsih dari lamunan.
"Boleh mas. Boleh saja. Namun malam hari bertamunya. Ning kerja kalau dari pagi hingga sore."
"Ya, mas tau."
"Ya sudah, kalau begitu Ningsih kesana ya mas. Masih mau belanja lagi."
"Ya," kali ini meski tak rela Ningsih berlalu pergi, namun Haris telah berkata demikian.
Dilihatnya kini Ningsih sudah melewatinya.
Haris menjadi kebas. Sebagian hatinya masih terletak pada perempuan itu. Namun ia kini tak dapat berharap banyak. Ternyata bercerai dengan Ningsih bukan pilihan yang sepenuhnya benar. Dan memilih menikah lagi dengan perempuan pilihan ibunya-Kamila Dewi- juga bukanlah sesuatu yang sepenuhnya juga benar.
Haris seperti berada di persimpangan. Terombang-ambing.
Haris masih menatap punggung mantan istrinya, yang kini telah berjalan menjauh. Dan penyesalan itu masih melekat dalam batin terdalamnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





