Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikejar Jodoh

Dikejar Jodoh

Elena terdesak tuntutan menikah hingga dikhianati kekasihnya sendiri. Saat trauma menghantui, Rasky yang ia benci justru hadir mengejarnya tanpa henti. Meski pertahanan Elena goyah oleh perhatian Rasky, masa lalu yang belum usai menjadi ganjalan besar. Elena mendadak meminta pisah di tengah kemesraan mereka, menyimpan rahasia kelam yang mengejutkan. Akankah Rasky tetap bertahan mengejar cintanya, atau rahasia Elena akan menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Loh? Kok, Bunda ada di rumah?” tanyanya dengan nada suara yang berusaha ia buat senormal mungkin di antara degup jantungnya yang terasa memburu.

“Kenapa? Bunda gak boleh ada di rumah?”

“Ga-gak gitu, Bun. Aku cuma kaget aja. Bukannya Bunda biasanya pulang setiap akhir pekan?” Elena menghampiri wanita yang ia panggil dengan sebutan Bunda itu. Mengambil tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu.

“Bunda tadi ada meeting di sini. Besok juga Bunda bakalan kembali lagi ke Bandung.” Elena menganggukkan kepalanya. Bunda memang bekerja di luar kota. Biasanya wanita itu pulang ke rumah di sabtu pagi.

“Kamu sudah makan, Len?” tanya Bunda lagi sambil beranjak dari sofa yang ia duduki. Dari nada bicaranya, Elena tahu jika sang Bunda sedang marah kepadanya dan ketika ia tengah sibuk memikirkan akan merespon apa, Felicia sudah lebih dulu berbicara.

“Pasti belum. Kamu tuh kok yah kebiasaan jelek dipelihara terus, Len. Sudah tahu punya penyakit lambung. Masih aja rapel makan malam jadi sarapan, makan siang jadi makan malam. Memang kamu sepertinya harus punya alarm hidup yang ingetin kamu supaya gak telat makan.” Elena menghela napas. Ia bergerak mengikuti sang Bunda. Memeluk wanita yang tengah menyiapkan makan malam untuk Elena itu dari belakang.

“Bunda… aku udah gede, loh. Kalau lap-“

“Kalau tahu sudah gede gak perlu Bunda ingatkan terus dong, Len. Ini kalian berdua sama aja. Mentang-mentang Bunda gak tinggal bareng kalian jadi suka seenaknya. Yang satu suka pulang malam. Yang satu suka gak pulang. Kalian ini-“

Satu kecupan Elena berikan di pipi sang Bunda. Ia paham Ibunya ini akan terus menceramahinya. Bunda sama seperti ibu-ibu lain yang akan terus berbicara untuk menutupi rasa khawatirnya. Yah, se-tua apapun ia, tetap saja bagi Bunda Elena dan Elang adalah bocah yang masih harus Bunda pantau dan ingatkan.

“Aku makan yah, Bun.” Elena mengambil piring yang sudah terisi nasi dan lauk untuk ia bawa ke meja makan.

Bunda menatap Elena sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia bersyukur karena kedua anaknya tidak pernah membantah apa yang ia katakan walaupun mungkin ada nada protes yang mengisi kepala mereka, keduanya akan tetap mendengarkannya. Yah… walaupun jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan mereka, biasanya keduanya akan mencari waktu yang tepat untuk membahasnya dengan Bunda.

“Len, kamu gak ada niat untuk menikah?” tanya Bunda sambil menatap Elena lekat.

Elena yang awalnya tengah makan dengan nikmat, seketika merasa jika makanan yang ia telan kali ini terasa hambar. Dirinya bahkan dengan susah payah menelan makanannya begitu mendengar pertanyaan Bunda.

“Kamu memang tidak ingin berumah tangga? Usia kamu sudah cukup matang, Len,” tambah Bunda karena Elena memilih diam sejak ia membuka masalah mengenai pernikahan.

“Usia kan gak menjadi jaminan untuk orang berumah tangga, Bun,” jawab Elena. Tangannya meraih gelas dan menenggak isinya untuk sejenak menetralkan suasana hatinya karena pembahasan yang akan mereka bicarakan malam ini.

“Yah, Bunda tahu, cuma… Bunda takut kamu kesepian.” Elena sempat terkekeh mendengar ucapan Bunda yang sarat akan kekhawatiran itu. Ia yakin bukan itu yang Bunda khawatirkan.

“Gak, lah. Aku kan punya Bunda. Punya Elang. Aku gak mungkin kesepian.”

“Kamu tahu bukan itu maksud Bunda, Len.” Bunda menatap Elena dengan serius.

Felicia sebenarnya sudah lama ingin membahas ini dengan Elena. Namun, ia menahannya. Mencoba percaya jika akan ada saatnya Elena datang padanya mengenalkan seorang pria yang nantinya akan berstatus sebagai calon suami dari Elena.

“Bunda gak akan terus menemani kamu. Begitu pun Elang. Yang Bunda maksud suami, Len. Kapan kamu akan memperkenalkan calon suami kamu sama Bunda?”

"Aku... sepertinya belum siap untuk menikah, Bun," jawab Elena dengan ekspresi tenang yang coba ia tunjukkan di saat hatinya sedang bingung untuk merespon pertanyaan sang Bunda. Karena sesungguhnya, ia tidak ingin menambah kekhawatiran Bunda.

"Kamu sudah mau kepala tiga, Len, apa yang bikin kamu gak siap?" Bunda memang bertanya dengan nada lembut tanpa intimidasi. Tetapi pertanyaan yang Bunda lontarkan bukanlah sesuatu yang siap Elena jawab. Hal ini sangat sensitif untuk dibahas oleh keduanya.

"Kamu sudah dewasa, Len. Karir kamu pun sudah berada di posisi bagus. Lalu apa lagi yang kamu kejar?" tanya Felicia sembari menatap Elena dengan tatapan sendu. Ia sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Elena belum tertarik dengan pernikahan. Hanya saja, ia ingin mendengar itu dari bibir Elena.

Elena menelan salivanya susah payah. Di hadapannya kini, Bunda sedang menunggu jawaban dari dirinya. Ia berada di posisi sulit. Jika ia jujur, Bunda pasti terluka. Tetapi jika ia berbohong, ia yang akan mendapatkan masalah karena dihantui rasa bersalah.

"Apa karena pernikahan Bunda yang gagal?" Elena yang bungkam seperti ini, tidak akan mau bicara sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Elena memang seperti itu. Mengunci mulut dan menyimpan semuanya sendirian.

Elena hanya bisa menghela napas panjang. Ia masih diam di tempat tanpa mau menjawab pertanyaan Felicia. Membahas pernikahan, bagi Elena layaknya membahas masa depan yang entah akan berakhir seperti apa. Layaknya menjalani suatu perjalanan dengan seseorang yang bahkan tidak kita tahu ke mana arahnya. Tentang bagaimana belajar mempercayai seseorang sementara diri sendiri tidak pernah bisa menaruh kepercayaan pada siapapun.

"Len. Pernikahan Bunda dengan orang itu memang gagal. Tetapi gak dengan kamu. Kamu berbeda dengan Bunda. Kamu gak akan bernasib sama seperti Bunda." Felicia sudah menduga hal ini sedari lama.

Felicia tahu jika luka yang ia dan ayah Elena torehkan pada wanita itu sangat dalam. Terlebih itu terjadi di saat Elena masih kecil. Tidak menutup kemungkinan Elena trauma akan pernikahan jika ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana seorang pria yang menjadi cinta pertama Elena dengan mudahnya mencurangi keluarganya sendiri. Memilih orang asing dibanding dirinya dan sang Bunda.

"Len. Bunda meminta kamu menikah bukan semata-mata hanya menuntut. Kamu tau itu kan?" tanya Bunda sambil meraih tangan Elena. Mengusapnya penuh kasih sayang.

"Kamu mau sampai kapan terus mengalah untuk keluarga ini? Kamu harus punya masa depan, Len. Kamu harus bangun masa depanmu dengan keluargamu sendiri." Jujur, Felicia takut jika Elena memutuskan untuk terus sendiri hingga tua dan kesepian pada akhirnya.

"Elena. Bunda gak pernah meminta apapun dari kamu. Kali ini aja, Len. Tolong kamu penuhi keinginan Bunda." Felicia menatap Elena dengan mata berkaca-kaca.

Elena buru-buru bangun dari duduk. Menghampiri sang Bunda dan memeluknya erat. Elena dan Felicia merasakan lukanya. Perasaan sakit yang mereka pendam selama bertahun-tahun. Perih yang tidak bisa digambarkan dengan kata, hingga mereka memilih mengubur semua kenangan yang dulu terasa sangat indah untuk mereka berdua, demi menjaga kewarasan tetap pada tempatnya.

Di dalam pelukan sang Bunda, Elena kemudian mengingat sinyal-sinyal yang coba Damar kirimkan padanya jika pria itu ingin hubungan mereka masuk ke tahap yang lebih serius. Elena bukan tidak membaca kode itu. Hanya saja ia belum… yakin?

Seharusnya sinyal-sinyal itu ia yang mengirimkan sebagai wanita. Seharusnya ia pula akan menerima sinyal itu dengan bahagia seperti wanita lain yang akan bahagia begitu kekasih yang lama ia pacari mengirimkan kode untuk segera menikah. Tetapi Elena… justru merasa bimbang dan menghindar.

Elena sekali lagi menghembuskan napas panjang. Berharap melalui udara yang masuk ke dalam paru-parunya, beban yang ia rasakan sedikit terangkat.

Apa ini saatnya gue terima ajakan Damar buat menikah?

***

Elena berusaha bekerja secepat mungkin agar bisa cepat-cepat pulang dan menyiapkan kejutan untuk sang kekasih yang hari itu kembali dari luar kota. Wanita itu bahkan menyempatkan diri membeli beberapa makanan untuk ia persiapkan di apartemen Damar. Karena selama ini Damarlah yang biasanya sibuk memberikan kejutan untuknya. Biasanya Damar yang memasakan makanan untuknya ketika mereka kencan, tetapi kali ini, biar Elena yang akan melakukannya.

Hari itu ia berniat menjawab pertanyaan Damar yang selama ini ia gantungkan. Pertanyaan tentang kesiapannya untuk hubungan mereka yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Malam itu ia akan menjawab kesediaannya. Elena sudah memantapkan hatinya semenjak semalam, semenjak pembicaraan antara dirinya dengan sang Bunda.

Langkah Elena mendadak gugup ketika mulai berhadapan dengan pintu apartemen pria yang telah menjadi kekasihnya itu. Jujur, ia tidak pernah datang sendirian ke apartemen Damar meskipun tahu kode akses untuk masuk ke apartemen kekasihnya.

Elena sempat mengehembuskan napas panjang guna menetralkan rasa groginya. Hari ini ia akan memantapkan hatinya untuk menerima permintaan Damar untuk menikah dengan pria itu. Walaupun masih ada sebersit rasa tidak yakin, tetapi ia akan mencoba, demi sang Bunda.

Elena berhasil masuk ke dalam apartemen Damar. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat sesuatu yang terlihat janggal. Ia melihat ada sepasang sepatu wanita di depan pintu yang terlihat berserakan, seakan si pemilik terburu-buru melepasnya. Sepatu berhak tinggi berwarna merah itu membuat Elena berpikir. Seingatnya, Damar tidak memiliki adik perempuan. Atau... apa mungkin itu sepatu Ibu Damar? Tetapi dilihat dari bentuknya, Elena tidak yakin itu sepatu seorang wanita yang berusia lima puluh tahunan.

Elena mencoba menenangkan hatinya, ia berjalan semakin dalam memasuki apartemen Damar. Menyimpan kue dan beberapa barang yang dibelinya untuk menyiapkan kejutan bagi sang kekasih di pantry.

Saat langkahnya semakin masuk ke dalam, sebuah suara asing menyapa telinga Elena. Suara seorang pria yang ia yakini adalah suara Damar.

Untuk memastikannya, Elena mencoba menguatkan dirinya. Ia berjalan perlahan menuju asal suara dengan perasaan berdebar yang tidak biasa. Suara itu makin kencang terdengar ketika dirinya semakin mendekat ke arah kamar sang kekasih. Suara itu... terdengar tidak asing di telinganya. Terdengar seperti rintihan, tetapi juga ada decapan di sela rintihan itu.

Elena menelan salivanya dengan susah payah. Ia berusaha untuk tetap kuat berdiri, walaupun saat ini kakinya sudah gemetar. Dengan perlahan ia mendorong pintu kamar Damar yang tidak tertutup sempurna. Mata Elena membola. Degup jantung Elena berdetak lebih kencang. Wanita itu merasakan sesak ketika menyaksikan apa yang ada di depannya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak. Ini… gak mungkin terjadi kan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gawat, Pak Bos Ada Maksud Lain
8.1
Pascapersalinan, Linda memulai babak baru dalam hidupnya dengan bekerja di Grup Jarvis sebagai sekretaris pribadi CEO. Namun, profesionalisme yang ia harapkan langsung sirna di hari pertama kerja. Sang atasan, Jonathan Jarvis, menatapnya dengan penuh gairah yang sulit disembunyikan. Pertanyaan provokatif dari sang miliarder tentang kopi tanpa susu seketika mengubah dinamika hubungan kerja mereka menjadi penuh ketegangan.
Sampul Novel Hasrat di Depan Kemudi
9.0
Mengajar mengemudi ternyata menjadi ujian profesionalisme yang berat bagi seorang instruktur. Saat melatih seorang mahasiswi tahun pertama yang tampak polos namun berpakaian minim, ia harus menahan diri dari segala godaan fisik yang sengaja dilakukan di dalam mobil. Ketegangan memuncak ketika sang mahasiswi melepas kopling terlalu cepat hingga mesin mati mendadak. Guncangan hebat tersebut membuat tubuh mereka jatuh dalam posisi yang sangat intim dan membakar gairah.
Sampul Novel Kali ini, Kita Tak Terpisahkan
8.9
Rosa awalnya memercayai bahwa Bobby, tunangannya yang dijuluki sebagai putra Buddha, adalah sosok yang sepenuhnya kebal terhadap godaan duniawi dan asmara. Namun, keyakinan itu runtuh saat Rosa menyadari bahwa Bobby sebenarnya bisa merasakan getaran cinta, hanya saja bukan untuk dirinya. Menghadapi kenyataan pahit bahwa ia tidak akan pernah menjadi wanita yang dicintai Bobby, Rosa akhirnya memilih untuk menyerah. Ia menetapkan batas waktu selama tujuh hari saja demi menghapus seluruh perasaannya pada pria itu.
Sampul Novel Kau Menebar Dusta di Hatiku
9.3
Liyana bekerja sebagai ART di rumah Rafly dan Nadya yang dilanda krisis. Setelah memergoki Nadya selingkuh, ia dijebak misi rahasia oleh Alvin untuk menggoda Rafly demi uang pelunasan hutang keluarga. Meski awalnya terpaksa, keluguan Liyana justru menjerat Rafly dalam gairah tersembunyi. Kini, hidupnya penuh ketegangan saat rahasia mulai terkuak. Di tengah dominasi Rafly yang misterius, Liyana harus berjuang menahan perasaan agar tidak hancur dalam dunia pria itu.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.
Sampul Novel Lepas dari Cinta yang Telah Retak
8.0
Tiga bulan berlalu tanpa pertemuan antara aku, suamiku Arga Pratama, dan putri kami, Dora. Saat Arga akhirnya mengajakku berkumpul di vila, aku mempersiapkan segalanya demi menyambut Dora kembali. Namun, setibanya mereka, Dora justru berpaling dariku dan memeluk erat pelayan kami, Maya. Sikap dingin Arga yang acuh tak acuh memperjelas bahwa aku tidak lagi diinginkan di tengah mereka. Ketika Arga memintaku menunggu di tepi jalan selagi mereka pergi, aku menyadari bahwa batas kesabaranku telah habis.