Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya

Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya

Sepuluh tahun berkorban demi Baskara, Aria justru dibuang saat sang suami sukses. Demi Aurora, investor barunya, Baskara menghapus eksistensi Aria dan mengurungnya di gudang gelap meski tahu fobia yang dideritanya. Puncaknya, Baskara membiarkan Aria disiksa penculik demi menyelamatkan Aurora. Dalam kehancuran, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara tangguh yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas segala pengkhianatan ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudut Pandang Aria Prameswari:

Baskara menelepon satu jam kemudian, suaranya ringan dan ceria, diwarnai kepuasan seorang pria yang baru saja menaklukkan dunia.

"Hei, sayang. Haryono bilang kau sudah tanda tangan. Aku tahu kau akan melakukannya untukku. Untuk kita."

Untuk kita. Kata-kata itu seperti pil pahit di lidahku. Dia membuatnya terdengar seolah-olah aku baru saja setuju untuk mengganti penyedia TV kabel, bukan membubarkan pernikahan kami.

"Untuk merayakannya, aku sudah memesan meja di Awan Senja," katanya, suaranya penuh semangat. "Tempat kita. Pakai gaun merah yang kusuka itu. Sampai jumpa jam delapan."

Dia tidak menunggu jawaban. Dia tidak pernah menunggu.

Aku pergi. Aku mengenakan gaun merah itu. Aku duduk di seberangnya di restoran atap gedung, lampu-lampu kota berkelip di bawah seperti permadani bintang jatuh. Di sinilah dia pertama kali memberitahuku bahwa perusahaannya mendapatkan pendanaan awal, tangannya gemetar karena kegembiraan saat dia memegang tanganku di seberang meja ini.

Sekarang, tangan yang sama itu tergeletak santai di atas taplak meja putih, jauh dariku. Dia berbicara dengan bersemangat tentang IPO, tentang kapitalisasi pasar dan opsi saham, tentang sampul majalah Forbes Indonesia yang akan dia potret minggu depan. Dia adalah supernova, terbakar begitu terang sehingga dia tidak bisa melihat orang yang dilahap oleh apinya.

Aku mengangkat gelas anggurku. "Untukmu, Baskara," kataku, suaraku ternyata stabil. "Kau mendapatkan semua yang pernah kau inginkan."

Dia tersenyum lebar, mendentingkan gelasnya ke gelasku. "Untuk kita, Aria. Kita mendapatkan semua yang kita inginkan."

Dia tidak menyadari nada final dalam toaasku. Dia tidak melihat ucapan selamat tinggal di mataku.

Aku meminum anggur itu dalam satu tegukan panjang, anggur mahal itu terasa seperti abu di mulutku. Untukku, Aria Prameswari. Minuman ini untukmu. Untuk kebebasanmu.

Setelah pelayan membersihkan piring kami, Baskara menyelipkan sebuah map tipis ke seberang meja. "Ini untukmu," katanya, dengan nada murah hati. "Sedikit ucapan terima kasih. Sepuluh persen dari saham pribadiku. Begitu kita go public, kau akan mapan seumur hidup. Kau tidak perlu khawatir tentang uang lagi."

Pengorbananku, masa mudaku, seluruh masa depanku, disaring menjadi portofolio saham. Sebuah paket pesangon.

Tawa pahit nyaris meledak, tapi aku menelannya. Aku hanya mengangguk, mataku menelusuri cakrawala.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sekretarisnya. Dia meliriknya, sedikit kerutan di dahinya.

"Sial. Aurora. Dia ada di bar hotel di bawah, perlu membahas sesuatu yang mendesak tentang pengajuan ke OJK." Dia berdiri, sudah mengenakan jaketnya. "Maaf, sayang. Tugas memanggil. Kau selesaikan saja di sini. Mobil sudah menunggumu di bawah."

Dia membungkuk untuk mencium pipiku, sebuah gerakan basa-basi dan tanpa sadar. Lalu dia pergi, meninggalkanku sendirian dengan lampu-lampu berkelip dan portofolio penuh uang haram.

Aku tidak tinggal. Aku tidak bisa. Aku meninggalkan portofolio itu di atas meja dan berjalan menuju lift. Saat pintu terbuka, aku mendengar suara mereka dari sebuah sudut terpencil di dekat bar.

"Jujur, Bas, apa benar-benar perlu makan malam dengannya malam ini?" Suara Aurora diwarnai nada tidak sabar dan posesif.

"Ini yang terakhir kali, aku janji," suara Baskara adalah gumaman rendah yang menenangkan. "Dia sudah menandatangani surat-suratnya. Aku harus memberinya transfer saham dan mengucapkan selamat tinggal terakhir. Sudah selesai sekarang. Benar-benar selesai."

"Bagus. Aku tidak sabar sampai kita bisa berhenti sembunyi-sembunyi. Sudah tiga tahun, Bas. Aku lelah menjadi rahasia kecil kotormu."

Tiga tahun.

Angka itu menghantamku seperti pukulan fisik. Tiga tahun kebohongannya, jaminannya, janjinya bahwa ini semua hanya sementara.

Seorang pelayan yang membawa nampan makanan muncul dari dapur, menuju meja mereka. Di nampan itu ada sepiring kerang bakar dengan risotto kunyit—hidangan yang sama persis dengan yang baru saja kumakan. Baskara telah memesankannya untukku, mengklaim itu adalah hidangan andalan koki.

Dia telah memesankan kami berdua makanan yang sama. Aku bahkan tidak pantas mendapatkan usaha untuk pilihan yang berbeda. Aku adalah salinan karbon dari sebuah ucapan selamat tinggal.

Gelombang mual dan pusing menyapuku. Aku terhuyung mundur, tanganku meraih dinding untuk menstabilkan diri. Jari-jariku menyentuh patung kaca dekoratif di atas sebuah tumpuan.

Dunia miring.

Aku mendengar suara pecahan yang memuakkan sebelum aku merasakan sakitnya. Patung itu hancur di lantai marmer. Sebuah pecahan kaca, setajam silet, mengiris telapak tanganku. Darah, gelap dan merah mengejutkan, langsung menggenang, menetes ke lantai putih bersih.

"Apa itu?" aku mendengar Aurora bertanya.

Langkah kaki. Mereka muncul di ujung lorong, wajah mereka diterangi oleh pencahayaan lembut. Mata Baskara melebar ketika dia melihatku, memegangi tanganku yang berdarah.

Untuk sesaat, secercah Baskara yang lama muncul. Panik. Khawatir. Dia melangkah ke arahku. "Aria? Apa yang terjadi?"

Tapi kemudian dia menangkap tatapan tajam dan bertanya dari Aurora. Dia membeku.

"Baskara, siapa ini?" tanya Aurora, suaranya sedingin es. Matanya memindai gaun merah sederhanaku, wajahku yang terkejut, dan darah yang menggenang di kakiku dengan penghinaan yang tak terselubung.

Wajah Baskara menjadi kosong. Kilatan singkat kekhawatiran lenyap, digantikan oleh topeng dingin dan menakutkan dari ketidakpedulian. Dia melihat dari wajah menuntut Aurora ke wajahku yang berdarah. Dan dia membuat pilihannya.

Dia berbalik kembali ke Aurora, menggelengkan kepalanya sedikit. "Aku tidak kenal dia," katanya, suaranya datar dan meremehkan. "Mungkin hanya tamu yang ceroboh. Ayo pergi. Pihak hotel akan menanganinya."

Aku tidak kenal dia.

Kata-kata itu bergema dalam keheningan yang tiba-tiba di benakku. Sepuluh tahun hidupku, sepuluh tahun cinta dan pengorbanan, terhapus dalam satu kalimat brutal. Dia menatapku, istrinya, wanita yang telah memberinya segalanya, dan menyatakan aku orang asing.

Hanya orang asing.

Dia bahkan tidak melirikku untuk kedua kalinya saat dia membimbing Aurora pergi, lengannya melingkari pinggangnya dengan aman, melindunginya dari ketidaknyamanan keberadaanku.

Kakiku lemas, dan aku merosot ke lantai, rasa sakit di tanganku terasa tumpul dan jauh dibandingkan dengan luka menganga yang baru saja dia robek di dadaku.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel Bayiku Bukan Untukmu
8.7
Nayla, asisten rumah tangga yatim piatu, terjebak dalam tragedi berdarah yang menewaskan majikannya. Setelah menyelamatkan bayi sang majikan, ia bertemu Arkan, pria misterius yang menawarkan perlindungan. Arkan mengajukan kontrak pernikahan senilai satu miliar rupiah agar Nayla bersedia menjadi istri palsu sekaligus ibu bagi bayi itu. Demi masa depan si kecil, Nayla setuju. Namun, rahasia dan bahaya mengintai saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Budak ranjang tuan muda
8.2
Demi ambisi bisnis, Rian tega menjual kekasihnya, Renata, kepada pemuda kaya bernama Albert. Mahasiswi pertanian ini dipaksa menjadi pemuas nafsu Albert setiap hari, bahkan saat pria itu sedang murka. Namun, kebencian berubah menjadi cinta. Albert akhirnya bertekad menjadikan Renata pendamping hidupnya. Ia rela menentang restu orang tua serta membatalkan pertunangan dengan wanita pilihan keluarganya demi melindungi hubungan mereka.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta tuan muda, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski sering kesal dengan tingkah Yasmin yang kekanak-kanakan, Arkana tetap menjalin cinta rahasia dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, Arkana memilih bercerai demi sang pacar. Namun, ia tak sadar bahwa ikatan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilan darinya. Terkejut, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini berada di rahim Yasmin.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?