
DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)
Bab 2
Sebulan sebelum kejadian.
Pagi itu begitu sempurna. Matahari menembus tirai tipis ruang makan, memantulkan cahaya keemasan di lantai marmer yang mengilap. Rumah dua lantai bergaya modern tropis itu berdiri megah di tengah kompleks semi elite, dengan taman depan yang rapi dan wangi kopi hangat yang menguar dari dapur bersatu dalam harmoni.
Ferdy turun dari lantai atas dengan kemeja biru muda yang sudah disetrika rapi, rambutnya klimis, dan sepatu kulit yang mengilap. Tania menyusul dari dapur dengan segelas jus jeruk dan senyum manis yang selalu membuat Ferdy merasa beruntung memilikinya.
"Dua hari aja, ya?" Tania menyentuh lengan suaminya sambil merapikan kerah bajunya. "Kalau gak sibuk, mungkin aku nyusul ke rumah Mama. Nazwa sama Rayhan betah banget di sana."
Ferdy mengangguk sambil mengancing jasnya. "Iya, sekalian istirahat juga, Sayang. Kamu juga udah lama gak nengok Mama."
Sambil mengambil kunci mobil dari meja konsol, Ferdy sempat melirik keluar jendela.
"Eh, ngomong-ngomong, Bang Ricko kemana, ya? Udah lama gak kelihatan main ke sini."
Tania tampak berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, "Kayaknya pulang kampung ke Lombok. Mungkin ada urusan keluarga juga."
"Hmm," gumam Ferdy, lalu mengangguk kecil.
Ia memeluk Tania singkat, mencium keningnya dengan lembut. "Jaga diri ya, Sayang."
Tania tersenyum. "Kamu juga. Hati-hati di jalan, Mas."
Ferdy melangkah keluar. Suara deru mesin mobil terdengar halus saat ia membuka pintu garasi. Tania berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan, memandangi sosok suaminya yang gagah dan tampan hingga mobil itu perlahan menghilang di tikungan jalan.
Beberapa menit setelah mobil Ferdy menghilang di ujung jalan, suasana rumah kembali sunyi. Tania berdiri di ambang pintu, matanya menatap kosong sesaat sebelum ia menutup pagar. Tapi belum sempat ia benar-benar masuk, suara langkah datang mendekat rumah.
Seorang pria sebaya dengannya, kaos hitam pas badan yang menempel di dadanya yang bidang, celana jeans hitam sobek di beberapa bagian, dan senyum khas nakal yang membuat wajahnya makin berkarisma. Kulitnya sawo matang, rambut sedikit gondrong berantakan, tapi terawat. Pria itu membuka gerbang tanpa mengetuk, langsung masuk seolah rumah itu juga miliknya.
"Assalamu'alaikum, Tante Rumah," ucapnya ringan, dengan nada menggoda.
Tania tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. "Astaga... Bang Ricko, jangan manggil tante dong. Bikin aku merasa tua aja."
Ricko tertawa pelan, lalu berjalan mendekat dan memeluk Tania erat, penuh kerinduan yang seolah telah lama tertahan. Tania membalas pelukannya tanpa ragu, membenamkan wajahnya di dada Ricko, menghirup aroma maskulinnya yang khas-campuran parfum murah dan keringat yang justru memabukkan.
"Kamu panjang umur. Tadi Mas Ferdy nanyain, udah lama gak keliatan," bisik Tania.
"Udah lebih seminggu, ya... Gila, aku kangen banget, Sayang," balas Ricko.
Tania mengangguk kecil, masih di pelukannya. "Aku juga. Rasanya sempit banget seminggu ini, Mas Ferdy sibuk terus... Aku di rumah kayak hantu, numpang tinggal aja."
Ricko mengusap rambut Tania pelan, lalu menciumnya lembut di ubun-ubun. "Untung suamimu sibuk... jadi kita bisa puas.?"
Tania tersenyum nakal. "Iya. Baru aja dia pergi ke Bandung. Anak-anak juga masih di rumah Mama. Jadi... rumah ini milik kita berdua hari ini."
Mereka tertawa bersama, hangat dan mesra, selayaknya pasangan yang sudah lama saling memahami. Ricko duduk di sofa, melepas sepatunya dengan santai, sementara Tania membawa dua gelas kopi hangat dari dapur.
"Aku seneng loh... Nazwa dan Rayhan tuh udah kayak anakmu sendiri. Mereka lebih nempel ke kamu daripada ke Mas Ferdy."
Tania duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya. "Mereka suka banget kalau kamu datang. Katanya kamu lebih lucu, lebih sabar... dan gak pelit. Nanti sore kita jemput mereka ke rumah Mama, mereka juga pasti udah kangen kamu."
Ricko tergelak. "Jelas lah. Aku sayang sama mereka dan sama kamu juga, kan?"
Tania mencubit perutnya. "Dasar!"
Ricko menangkap tangan Tania dan menggenggamnya. Pandangan mereka bertemu, dan dalam keheningan yang manis itu, waktu seolah melambat.
"Sayang..." suara Ricko serak, lirih.
"Hm?" Tania menjawab pelan, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku... gak tahu bisa tahan sampai kapan, begini terus. Aku makin sayang sama kamu, tiap kali kita pisah, rasanya berat dan nyesek."
Tania mengelus pipi Ricko. "Aku juga, Bang... Tapi sekarang kita punya pagi ini. Jadi... jangan pikir jauh-jauh dulu. Peluk aku lagi."
Ricko menariknya dalam pelukan, lebih erat dari sebelumnya.
Ricko menarik napas panjang. "Sayang, terkadang aku suka berpikir pengen ngajak kamu dan dua anak kita pergi."
Tania menoleh, alisnya sedikit mengernyit. "Kemana, Bang?"
"Ya... kemana aja. Yang penting gak ada suamimu. Gak ada tekanan. Gak ada kepura-puraan. Hanya kita bertiga... eh, berempat." Ia tersenyum kecil, menyentuh ujung dagu Tania.
Tania menghela napas, lalu menatap Ricko dalam-dalam. "Emang Abang udah siap ngidupin aku dan kedua anakku?"
Ricko menatapnya lekat. "Cinta pasti akan membuat kita siap dan kuat, Sayang."
Tania tersenyum getir. "Ya, sebenarnya aku juga sama denganmu... kadang pengen pergi jauh. Mulai semuanya dari awal. Tapi kamu tahu sendiri kan? Bukannya aku merendahkan atau gak percaya, tapi aku merasa... kita belum siap."
Ricko tertunduk. Tania menggenggam tangannya erat.
"Tabunganku pun belum seberapa. Apalagi Abang masih nganggur. Kita mau makan dari mana? Mau kasih anak-anak masa depan dari mana?" katanya lirih.
Ricko mencium punggung tangan Tania. "Aku janji, aku bakal berubah. Aku bakal kerja, apa aja. Asal kamu tetap di sisiku."
Tania tersenyum kecil, menahan perasaan yang bercampur antara rindu, sayang, dan ketakutan akan masa depan yang belum pasti.
"Aku percaya sama kamu. Tapi untuk saat ini... kita jalani aja dulu. Pelan-pelan aja, ya?"
Ricko mengangguk, lalu menarik tubuh Tania ke pelukannya. Mereka berdiam lama dalam keheningan yang nyaman, sebelum akhirnya Tania berkata pelan pelan, "Sayang makan dulu yu."
Di ruang makan yang luas dan terang, cahaya matahari pagi menyinari meja bundar dari kayu jati yang mengilap. Vas kaca berisi bunga segar berdiri anggun di tengah meja, diapit dua piring yang telah ditata rapi oleh Tania. Di atasnya, sepiring nasi goreng kampung dengan telur mata sapi yang masih hangat mengepul, lengkap dengan acar mentimun dan kerupuk udang buatan sendiri.
Ricko duduk santai, kaosnya sedikit basah karena keringat, tapi wajahnya tampak puas, seperti lelaki yang baru saja memenangkan pertarungan paling manis dalam hidupnya. Tania menuangkan teh manis hangat ke dalam dua cangkir porselen bergambar angsa putih, lalu duduk di seberangnya, tersenyum hangat.
Mereka makan perlahan, saling menyuapi sesekali, seperti sepasang kekasih remaja yang baru pacaran. Tania menyeka ujung bibir Ricko dengan tisu, Ricko pura-pura menggigit jarinya, membuat Tania tertawa geli.
"Gak nyangka ya, kita bisa sampai segininya," gumam Ricko sambil memandangi Tania yang duduk manis di hadapannya, rambutnya diikat seadanya, tapi tetap terlihat memesona.
Tania menatapnya lama. "Kadang aku takut, Bang... takut bahagia ini cuma sesaat. Kayak mimpi yang bisa runtuh kapan aja."
Ricko menyentuh tangannya di atas meja. "Kalau ini mimpi, aku gak mau bangun."
Tania tertawa pelan, tapi ada semburat sedih di matanya. "Aku juga..."
Mereka melanjutkan sarapan sambil sesekali tertawa kecil, membicarakan hal-hal remeh: tentang Nazwa yang sudah bisa menyanyi lagu viral, tentang Rayhan yang makin cerewet dan suka bercerita di meja makan.
Tania bahkan sempat membuka galeri di ponselnya, menunjukkan foto-foto anak-anak kepada Ricko. Dan Ricko memandangi gambar-gambar itu dengan mata berbinar, seolah anak-anak itu benar-benar darah dagingnya.
"Aku pengen jadi bagian nyata dari hidup mereka," bisiknya lirih.
"Kamu sudah," jawab Tania tanpa ragu, menyentuh pipinya.
Di luar, suara burung masih bersahutan. Tapi di dalam rumah itu, waktu seakan berhenti, memberi ruang bagi dua hati yang mencari perlindungan dalam pelukan terlarang-di meja makan, dalam wangi nasi goreng dan teh hangat, di antara senyum dan ketidakpastian.
Usai sarapan, Tania bangkit dari kursinya, menyapu remah di pangkuannya, lalu berdiri di samping Ricko. Ia menyentuh pundaknya perlahan, lalu membisik di telinganya, "Yuk... sebentar aja."
Ricko menoleh dengan senyum miring, matanya menyipit menggoda. "Wah, cepet banget ngajaknya, Tante-eh, Sayang Rumah."
Tania mencubit pinggangnya. "Udah ah, jangan sok-sokan. Lagian kamu yang suka duluan goda-godain aku tadi."
Ricko mengangkat kedua tangan, seolah menyerah. "Iya iya, aku ngaku. Tapi... boleh gak hari ini aku jadi cowok alim dulu? Mau istirahat dari dosa sehari."
Tania menatapnya sejenak, lalu tertawa lepas. "Alim dari Hong Kong!"
"Tan, aku harus pergi siang ini, juga," ucap Ricko sambil menatap dalam-dalam mata Tania. "Ada peluang usaha di luar kota. Temanku nawarin tempat buat buka gerobak sendiri. Tapi aku butuh modal buat mulai."
Tania diam. Dalam hatinya berkecamuk berbagai rasa-antara ragu dan percaya. Tapi lebih dari itu, ada harapan. Harapan bahwa Ricko benar-benar ingin memperbaiki hidup mereka.
"Berapa?" tanyanya pelan.
"Tiga puluh juta," jawab Ricko. "Aku tahu ini besar, tapi aku janji, Tan... demi masa depan kita. Aku nggak akan main-main lagi."
Tania menarik napas pelan, menatap wajah Ricko yang kini sedikit menunduk. Ia tahu, di balik janji itu mungkin masih ada kebohongan. Tapi ia juga tahu, sebagian dari hatinya belum sepenuhnya bisa melepaskan.
Tanpa banyak kata, Tania mengambil ponselnya. Dengan jemari cekatan, ia membuka aplikasi mobile banking. Tak sampai dua menit, dana itu sudah terkirim.
"Udah. Cek rekeningmu."
Ricko memeriksa ponselnya dan wajahnya langsung berubah-kaget, kagum, dan terharu dalam satu ekspresi.
"Tan... terima kasih. Aku nggak akan sia-siain. Aku janji."
Tania tersenyum tipis, lalu menatap lurus ke matanya.
"Janji itu bukan buat aku, Kok. Tapi buat dirimu sendiri. Karena kalau kamu gagal lagi, bukan aku yang rugi. Tapi kamu yang kehilangan kesempatan terakhir dari orang yang pernah sepenuh hati percaya."
Baru saja Ricko berbalik hendak pergi, tangannya terulur ke arah sepatu yang ia simpan di bawah kursi ruang tamu-satu-satunya benda yang membuatnya merasa masih punya tempat di rumah ini-tiba-tiba ting-tong, bel rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan.
Ricko refleks membeku. Tatapannya langsung mengarah ke pintu, lalu ke Tania. Dan tanpa menunggu aba-aba, ia melesat menuju lorong samping dan masuk ke kamar mandi. Sunyi, sempit, dan bau sabun yang menusuk hidung, tapi setidaknya aman. Nafasnya tercekat, jantungnya berdentum keras seperti ingin keluar dari dada.
Tania yang terkejut setengah detik tadi, segera menata raut wajah. Ia berjalan tenang menuju pintu, membuka perlahan sambil menarik napas dalam.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





