Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dicintai Iblis Betina

Dicintai Iblis Betina

Sumpah reinkarnasi menggema sebelum sosok itu lenyap bersama aroma busuk yang menyengat. Di tengah keputusasaan, Jacob berusaha menghidupkan kembali arwah kekasihnya melalui bantuan seorang dukun sakti. Namun, ia justru terjerat tipu daya ratu iblis yang licik. Hubungan mereka pun berkembang jauh melampaui sekadar pertemuan biasa, hingga terjebak dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menghadapi konsekuensi mengerikan atas cintanya yang gelap.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jacob dan Kirana beranjak dari restoran tersebut, setelah sang gadis membayar tagihan. Mereka kembali bergandengan menuju tempat parkiran. Sesampai di sana, tiba-tiba listrik padam. Suana begitu gelap karena Jacob memilih memarkirkan mobil di lantai bawah tanah.

"Gelap, Yang. Aku takut," bisik Kirana.

Jacob memeluk Kirana, lalu menyalakan ponsel untuk penerangan. Tak berapa lama, lampu kembali hidup. Sekelebat bayangan tampak berlari dari arah di mana mobil Kirana berada. Jacob menjadi was-was, siapa orang itu? Dia melakukan apa di samping mobil kekasihnya.

"Ayo, Sayang." Jacob meletakkan tangannya di pinggang Kirana, matanya liar memerhatikan keadaan sekitar.

"Liat apa, Yang?" tanya Kirana, dia menengadah melihat wajah Jacob.

"Enggak ada apa-apa. Masuk," pinta Jacob setelah pintu mobil diperiksa, kemudian dibukanya. Tak lupa meletakkan telapak tangan untuk melindungi kepala sang kekasih. Takut terbentur.

Di perjalanan hujan turun sangat lebat. Laju mobil diperlambat agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sambil mengikuti kendaraan lain, Kirana dan Jacob mengobrol santai. Tak berapa lama, mobil pun berhenti karena lampu merah menyala.

Duaaar!

Suara petir menggelegar di angkasa. Jacob buru-buru mematikan ponselnya. Saat hendak meletakkan benda pipih itu ke holder Hp, tak sengaja matanya menoleh ke kanan. Di dekat rambu-rambu lalu lintas, ada sesosok pria berdiri di sana. Tanpa payung maupun jas hujan. Wajahnya tidak cukup jelas, tetapi tatapannya pas sekali membidik ke arah mobil Kirana.

"Apa orang itu sudah gila?" gumam Jacob pelan.

"Ngomong apa, Yang?" tanya Kirana sembari memegang pundak Jacob. Lelaki berhidung mancung itu menggeleng, lalu kembali fokus menyetir karena lampu merah sudah berpindah ke warna hijau.

Jacob melirik ke kaca spion, orang itu sudah tak berada di sana.

"Yang, perasaan dua mobil di belakang, ngikutin kita terus," ucap Jacob, kembali melirik di kaca spion.

"Oh, itu mobil pengawal Papi. Kan, hari sudah sore. Kali aja Papi cemas," jawab Kirana sambil terkekeh. "Perasaan, dari tadi kamu parnoan aja. Ada apa, sih, Yang?"

Lagi-lagi Jacob menggeleng. Dia kembali fokus menatap jalanan yang semakin ramai. Ada gurat kecemasan terpahat di wajahnya. Perasaannya pun sudah mulai tak enak dari bebera hari yang lalu.

Sesampai di kantor, Jacob mengemas peralatan dan mengambil mobilnya sendiri. Sementara Kirana sudah pulang diiringi para pengawal. Paling tidak, dia tak perlu cemas memikirkan sang kekasih.

***

Pukul tiga dini hari, Jacob mendapat kabar kalau Kirana menghilang. Perasaan tak enak, kini terbayar sudah. Dia mondar-mandir di dekat jendela kamar, lalu melongok ke luar.

"Masih gelap," gumamnya.

Rasa sesak kian menghimpit dada, detak jantung yang tak beraturan, dan sebentar-bentar Jacob menghempas napas kasar. Benda pipih yang tergeletak di kasur kembali berdering. Tuan Kim-tan, ternyata. Sudah sekian lama dia tak pernah berbincang dengan calon mertuanya. Sekarang di saat yang genting, barulah pengusaha kaya raya itu menghubungi Jacob.

"Apa kau terlibat dengan hilangnya putriku?" tanya Kim-tan dengan suara angkuhnya.

"Maksud Tuan?"

"Apakah pertanyaanku tidak jelas? Sehingga kau malah balik bertanya."

"Maaf Tuan, kalau Anda menuduh saya terlibat dengan kasus ini, Anda salah, Tuan. Untuk apa saya melakukan ini?" Jacob menghela napas.

"Aku tidak peduli. Sekarang kau harus ikut mencari Kirana. Gunakan jaringan yang kau punya. Kapan perlu, habisi sampah-sampah itu!" kata Kim-tan dengan kalimat penuh penekanan. "Sebenarnya orang-orangku cukup gampang menggeledah seluruh isi Indonesia ini, tapi kau tetap harus tanggung jawab karena putriku adalah calon istrimu." Kim-tan menambahkan sebelum dia menutup panggilan.

***

Seluruh pengawal terlatih dikerahkan, termasuk polisi-polisi diberbagai kota. CCTV yang terpasang dijalanan sudah dicek, tetapi tak ada terlihat tanda yang janggal. Jacob mulai panik, ketika melihat rekaman saat berhenti di lampu merah. Tiang tempat pria berdiri kemarin sore, kosong. Tak ada satu pun makhluk hidup di sana. Misterius.

"Anda kenapa, Pak?" tanya operator di ruang pantau.

"Coba mundurkan lagi, Pak," pinta Jacob. "Nah, ini, di sini ada seorang pria berdiri, tapi kenapa direkaman ini enggak ada siapa-siapa?"

"Mungkin Anda salah lihat, Pak," ujar operator itu.

Jacob hanya mengusap wajah kasar, menggaruk-garuk kepala, lalu berjalan ke arah sudut ruangan. Tubuhnya merosot, kemudian meletakkan telapak tangan di kepala sambil menunduk. Matanya tampak berair. Lelaki bertubuh kekar itu sangat panik. Dia menangis.

Beberapa menit kemudian, ponsel Jacob berdering. Awalnya dia tidak memedulikan, tetapi orang-orang di ruangan operator itu melirik ke arahnya.

"Pak, ponselnya bunyi, tuh." Salah seorang menegur.

Jacob mengangguk, lalu merogoh saku celana. Di layar ponselnya tertera nama seorang gadis.

"Ki-Kirana? Kamu di mana, Sayang?" Tangan Jacob gemetaran, tetapi nampak senyuman membingkai bibirnya.

"Ini bibi, Tuan. Bi Arsih," sahut orang itu di seberang.

"Iya, ada apa, Bi?"

"Bibi juga mau tanya, tadi tuan besar menelepon nomor Nona Kirana. Tahu bibi yang angkat, eh, tuan besar memutuskan sambungan. Ada apa, ya, Tuan Jacob?"

"Hmmm ... ponsel Kirana ternyata sudah di rumah, berarti dia menghilang di rumah? Ah, enggak mungkin," ucap Jacob pelan.

"Tuan bicara apa? Bibi enggak dengar."

"Enggak, Bi. Saya tutup teleponnya dulu, ya."

"Iya ...." Belum sempat Bi Arsih melanjutkan ucapannya, Jacob sudah menutup panggilan.

***

Di kamar yang cukup luas, bercat warna pastel dan biru, Jacob membaringkan tubuhnya yang mulai terasa remuk. Bukan! Hatinyalah yang remuk. Mencoba memejamkan mata, berusaha untuk tidur agar esok dia tak terlalu lelah mencari sang kekasih.

Namun, beberapa jam kemudian, matanya masih menatap langit-langit kamar. Ada yang tidak beres, pikirnya.

"Apakah ini semacam penculikan yang tidak bisa terdeteksi? Ilmu hitam!" tebak Jacob, seketika dia bangkit, meraih ponsel yang tergeletak di lantai kamar.

"Selamat malam Tuan Kim-tan, maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Jacob setelah panggilan diterima.

"Kau pikir aku bisa tidur, hah!?" Terdengar bentakkan dari seberang sana.

"Sekali lagi saya minta maaf." Jacob kembali mendekatkan ponsel ke telinga yang tadi sempat dijauhkan karena bentakkan pak tua itu membuatnya tak nyaman.

"Apa yang mau kau bicarakan, sudah dapat petunjuk?" tanya Kim-tan sembari memainkan sebuah koin emas.

Jacob menjelaskan keanehan yang terjadi padanya dari beberapa hari yang lalu sampai Kirana menghilang.

"Jadi, maksud kau, Kirana diculik hantu?"

"Bukan, Tuan. Ini semacam ilmu hitam. Jadi kita mencarinya menggunakan jasa orang pintar," sahut Jacob mencoba menerangkan lagi.

"Iya, minta tolong pada orang pintar karena kau bodoh! Mana ada hal semacam itu di era modern ini."

"Baik. Tapi saya akan mencari Kirana dengan cara sendiri. Izin menutup telepon, silakan istirahat ...."

Tut! Tut! Tut!

Kim-tan malah menutup panggilan terlebih dahulu. Jacob tersenyum masam, mengingat kelakuan calon mertuanya yang tak pernah bersikap manis terhadapnya.

***

Di tempat lain.

Sebuah gedung tua yang dinding-dindingnya sudah ditumbuhi rumput liar, kilatan dari cahaya petir menambah suasana di sekitarnya mencekam. Tampak seorang pria kekar menggunakan jas berwarna hitam, di tiap sudut ruangan tersebut ada beberapa pria berpakaian serba hitam juga. Di pojok kiri dekat tiang usang, juga ada seseorang berdiri. Dia memakai topi bundar, di tangannya memegang sebuah kampak.

"Tenang, Nona, sebentar lagi kamu tidak akan menderita lagi," ucap pria itu sambil membelai wajah seorang gadis yang digantung terbalik tanpa memakai busana.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AMARAH DALAM SELUBUNG
9.5
Riana terjebak dalam pernikahan dengan pria beristri yang memanfaatkan dirinya melalui kekuatan gaib. Muak akan kebohongan tersebut, ia melawan hingga sang suami jatuh hati, namun Riana tetap menolaknya. Setelah mengusir pria itu, ia membesarkan putranya sendirian hingga sukses. Kini sebagai wanita kaya, Riana membalas dendam secara sistematis. Ia menggunakan ilmu gaibnya untuk menghancurkan kejayaan mantan suaminya hingga tak berdaya tanpa pria itu sadari.
Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Nona keempat keluarga Lu selalu dianggap sampah karena lemah dan bodoh di antara saudara-saudaranya yang berbakat. Kematian tragisnya menjadi awal perubahan besar saat jiwa seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21 merasuki tubuhnya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus berjuang bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya, dimulailah sebuah kisah romansa yang sangat unik.
Sampul Novel Menjadi Ibu Bukanlah Hal Mudah
9.4
Di dunia modern ini, sistem misterius bernama 'Kamu Hebat, Kamu Maju' memberikan bonus bagi siapa saja yang bisa menjalani hidup orang lain dengan lebih baik. Didorong keserakahan, ibu, suami, dan anak laki-laki protagonis menyeretnya ke persidangan sistem. Mereka bertaruh bisa menggantikan perannya demi hadiah puluhan miliar, dengan risiko protagonis akan dimusnahkan menjadi budak mereka. Namun, rencana itu berbalik saat sang protagonis justru berhasil meraup kemenangan senilai 60 miliar.
Sampul Novel Nilakandi
9.6
Selama enam tahun, Diwana terjebak dalam siklus mimpi misterius tentang seorang gadis bergaun biru yang selalu diiringi aroma harum dan bunyi lonceng. Aturan magis mencegahnya menyentuh atau berbicara dengan sosok tersebut hingga ia merasa hampir gila. Namun, delusi itu mendadak nyata saat Diwana bertemu Nilakandi, wanita yang wajahnya identik dengan bayangan mimpinya. Kehadiran Nilakandi yang penuh rahasia mulai mengungkap tabir takdir hidup Diwana yang selama ini tersembunyi.