
Diceraikan Tanpa Alasan
Bab 2
Seraphina menutup pintu apartemennya dengan langkah mantap, meninggalkan semua kenangan pahit yang selama ini menghantuinya. Di luar sana, dunia berputar cepat-tetapi kali ini, giliran dia yang mengatur arah.
Keesokan harinya, ia sudah duduk di ruang kantor mewah keluarga Remos, yang kini menjadi markasnya. Dinding kaca yang tinggi memperlihatkan panorama kota Jakarta yang berdenyut. Dari sini, ia mengawasi kerajaan bisnis yang selama ini menjadi warisan keluarganya, sekaligus ladang pertempuran baru yang harus ia menangkan.
"Selamat datang, Nona Callisto," ucap seorang pria paruh baya dengan raut hormat, sambil mengulurkan tangan. "Saya Andra, kepala keamanan keluarga Remos. Semua persiapan sudah kami lakukan sesuai perintah Anda."
Seraphina tersenyum tipis. "Terima kasih, Andra. Saya ingin semuanya berjalan lancar tanpa celah."
Andra mengangguk. "Tentu saja. Keamanan adalah prioritas utama, terutama dengan ancaman dari pesaing bisnis yang sudah lama menunggu kesempatan."
Seraphina mengerti betul arti kalimat itu. Dunia bisnis keluarga Remos bukan hanya soal uang, tapi juga tentang kekuasaan dan pengaruh yang bisa menentukan nasib banyak orang.
Hari-hari Seraphina kini dipenuhi oleh jadwal yang padat-rapat dengan para eksekutif, pengecekan laporan keuangan, hingga pemantauan proyek teknologi canggih yang tengah dikembangkan. Namun di balik kesibukan itu, ada sesuatu yang selalu memenuhi pikirannya.
Kael Virendra.
Nama itu tetap terngiang di kepala, meski ia mencoba menghapus jejak kenangan buruk itu. Bagaimana mungkin ia melupakan pria yang dulu pernah begitu dekat, tapi juga begitu jauh secara emosional?
Suatu sore, saat hujan turun deras di luar, Seraphina menerima pesan yang tidak ia harapkan. Sebuah nomor yang ia kenal, meski selama ini berusaha untuk menghindarinya.
Kael Virendra:
"Seraphina, aku ingin bicara. Tolong beri aku waktu."
Seraphina membaca pesan itu dengan dingin. Ia membalas singkat.
Seraphina:
"Tidak ada waktu untukmu, Kael."
Namun di balik ketegasan itu, hatinya bergetar. Apakah Kael benar-benar berubah? Atau ini hanya permainan lain yang akan menyakitinya kembali?
Sementara itu, di sebuah kafe mewah di pusat kota, Kael Virendra duduk dengan wajah penuh penyesalan. Di hadapannya, ada seorang wanita cantik dan berkelas-Mira, mantan kekasih yang kini kembali dalam hidupnya.
"Mira," kata Kael lirih, "Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu."
Mira tersenyum sinis. "Kamu terlambat, Kael. Aku bukan lagi gadis yang kamu tinggalkan tiga tahun lalu."
Mereka berbicara tentang masa lalu dan rencana masa depan, tapi pikiran Kael tetap tertuju pada satu nama-Seraphina.
Di lain sisi, Seraphina mulai membangun jaringan baru. Ia mengundang beberapa teman lama dan kolega di dunia teknologi dan medis untuk bergabung dalam proyek ambisiusnya-menciptakan sistem keamanan cyber terdepan yang bisa melindungi bisnis keluarga dari segala ancaman.
Salah satu orang yang paling dipercaya Seraphina adalah Arga, sahabat masa kecilnya sekaligus partner dalam banyak hal.
"Seraphina," Arga berkata serius saat mereka berdiskusi di ruang kerja, "Ini bukan hanya soal bisnis. Kael Virendra pasti tidak akan diam saja melihat kamu bangkit seperti ini."
Seraphina mengangguk pelan. "Aku tahu, Arga. Tapi aku sudah lelah bersembunyi. Kali ini, aku yang akan mengatur permainan."
Hari-hari berlalu dengan cepat. Seraphina tidak hanya menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia bisnis dan teknologi, tapi juga di arena olahraga anggar, di mana ia mulai kembali berlatih untuk kompetisi internasional yang akan datang.
Disela-sela latihan, pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Kenangan manis yang kini terasa seperti duri di hati. Namun ia tahu, ia tak bisa membiarkan diri terjebak di masa lalu yang penuh luka.
Satu malam, saat menghadiri pesta amal keluarga Remos, Seraphina bertemu dengan seorang pria misterius bernama Raka, yang selama ini menjadi salah satu figur penting di balik layar kerajaan bisnis keluarganya.
Raka tersenyum hangat saat melihat Seraphina. "Sudah lama tidak bertemu, Nona Callisto. Kau jauh berbeda dari Elira yang dulu kukenal."
Seraphina membalas senyuman itu dengan tegas. "Aku memang bukan Elira lagi."
Percakapan itu memberi Seraphina semangat baru. Ia sadar bahwa perjalanannya untuk menjadi wanita yang kuat dan mandiri masih panjang. Dan di balik semua itu, bayangan Kael tetap menghantui.
Beberapa minggu kemudian, Seraphina menerima undangan resmi dari Kael Virendra untuk bertemu dan membicarakan masa lalu mereka. Ia tahu, pertemuan itu tak bisa dihindari selamanya.
Saat hari yang dijanjikan tiba, Seraphina datang dengan penampilan yang elegan dan penuh percaya diri. Ia memasuki sebuah restoran mewah di pusat kota, tempat Kael menunggunya.
Kael berdiri menyambutnya dengan ekspresi campur aduk-penyesalan, harapan, dan sedikit ketakutan.
"Seraphina," kata Kael, "Aku tahu aku telah menyakitimu. Tapi aku ingin memperbaikinya. Beri aku kesempatan."
Seraphina menatap dalam matanya, tak tergoyahkan. "Kesempatan? Kau sudah melewati batas, Kael. Aku bukan lagi wanita yang bisa kau abaikan."
Pertemuan itu berakhir dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Kael tahu, jika ingin mendapatkan kembali hati Seraphina, ia harus melakukan lebih dari sekadar kata-kata.
Sementara Seraphina, dengan segala kekuatan dan kejeniusan yang dimilikinya, mulai merancang langkah-langkah untuk melindungi dirinya dari masa lalu yang mencoba menghancurkannya lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





