
Dicerai suami karena mandul
Bab 3
Setelah vonis pengadilan diketuk, Safina akhirnya bisa menarik napas lega meskipun hati dan pikirannya masih terombang-ambing. Kemenangan dalam perceraian ini bukanlah sesuatu yang bisa dirayakan dengan gembira. Rasanya seperti memenangkan perang, tetapi kehilangan sebagian besar dirinya di medan pertempuran.
Rumah yang dulunya menjadi tempat penuh kenangan bersama Reza kini menjadi miliknya. Tapi Safina tahu, ia tidak akan pernah merasa nyaman tinggal di sana lagi. Setiap sudutnya mengingatkannya pada kebohongan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang ia alami.
Hari Pertama Tanpa Beban
Pagi itu, Safina mulai membereskan rumahnya. Semua barang yang mengingatkannya pada Reza ia kumpulkan di dalam beberapa kotak besar. Foto pernikahan, hadiah ulang tahun dari Reza, dan bahkan beberapa pakaian yang masih tertinggal. Ia berniat menyumbangkan atau menjualnya, apa pun asalkan barang-barang itu tidak lagi ada di sekitarnya.
Saat tengah memindahkan sebuah kotak besar ke ruang tamu, teleponnya berbunyi. Nama Raka tertera di layar.
"Safina, apa kabar? Sudah lega sekarang?" tanya Raka dengan nada ceria.
"Ya, lega. Tapi rasanya juga kosong," jawab Safina, mencoba tersenyum meskipun Raka tak bisa melihatnya.
"Kalau begitu, kita harus merayakan ini. Aku akan jemput kamu malam ini. Kita makan malam di luar," ujar Raka tanpa menunggu jawaban.
Safina tertawa kecil. "Kamu memang tidak pernah berubah. Oke, aku akan siap-siap."
Kenangan yang Menghantui
Malam itu, Safina berdiri di depan cermin, mengenakan gaun hitam sederhana yang sudah lama tidak ia pakai. Saat melihat pantulan dirinya, ia merasa asing. Wanita yang berdiri di depannya tampak kuat dan anggun, tetapi Safina tahu, di dalam hatinya ia masih rapuh.
Pikiran tentang Reza dan Dita terus menghantui. Bagaimana Reza bisa begitu cepat melupakan cinta mereka? Bagaimana ia bisa dengan mudah meninggalkan Safina setelah semua yang mereka lewati bersama?
Bel pintu berbunyi, mengusir lamunannya. Ia membuka pintu dan mendapati Raka berdiri di sana, mengenakan jas kasual dengan senyum lebarnya yang menenangkan.
"Kamu cantik sekali malam ini," kata Raka, matanya menatap Safina dengan kagum.
"Terima kasih. Kamu juga terlihat bagus," jawab Safina, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Langkah Baru
Makan malam bersama Raka terasa seperti angin segar bagi Safina. Ia bisa tertawa, berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan, dan untuk sementara waktu melupakan rasa sakit yang ia alami.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Raka sambil meletakkan garpunya.
Safina menatapnya dengan bingung. "Apa itu?"
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku ingin kamu tahu... aku selalu ada untukmu, Safina. Bukan hanya sebagai teman, tapi juga seseorang yang peduli lebih dari itu."
Ucapan Raka membuat Safina terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus merespons. Di satu sisi, ia merasa tersanjung, tetapi di sisi lain, hatinya masih terluka.
"Raka... aku belum siap untuk memikirkan hal seperti itu sekarang," jawab Safina akhirnya.
Raka tersenyum lembut. "Aku mengerti. Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, aku ada di sini untukmu."
Menghadapi Reza Lagi
Beberapa minggu kemudian, Safina menerima kabar mengejutkan. Reza dan Dita pindah dari kota, meninggalkan pekerjaan dan lingkungan mereka sebelumnya. Namun, sebelum pergi, Reza datang ke rumah Safina untuk satu pertemuan terakhir.
"Aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal," katanya tanpa basa-basi.
Safina mengangguk. "Aku sudah mengemas semuanya. Kamu bisa ambil di ruang tamu."
Saat Reza mengambil kotak terakhir, ia berhenti sejenak, menatap Safina. "Aku tahu aku salah. Tapi aku juga tahu, kita tidak pernah cocok sejak awal."
Safina menahan air mata yang hampir jatuh. "Bukan soal cocok atau tidak, Reza. Ini soal bagaimana kamu memperlakukan orang yang mencintaimu."
Reza tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sebelum pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah kepergian Reza, Safina mulai membangun hidupnya kembali. Ia menjual rumah lamanya dan pindah ke apartemen kecil yang lebih nyaman. Ia juga kembali fokus pada pekerjaannya, mencoba menemukan kebahagiaan dalam rutinitas sehari-hari.
Raka tetap ada di sisinya, memberikan dukungan tanpa tekanan. Lambat laun, Safina mulai merasa bahwa kebebasan ini adalah berkah. Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan membuka hati untuk kemungkinan baru.
Anda Mungkin Juga Suka





