
Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
Bab 2
"Zara buka pintunya!"
"Zara!"
Gedoran pada pintu membuat Zara terbaring di lantai terbangun. Dia bersandar pada ranjang dan hanya terdiam. Jiwa Zara terasa hampa. Kekecewaan melanda.
"Zara!" Seseorang berusaha membuka pintu kamar, dan Zara yakin bahwa itu suaminya. "Zara, Mas ingin bicara" ucap Harry sambil terus mencoba membuka pintu kamar.
"Jika Mas hanya ingin bicara masalah kemarin maka lebih baik Mas pergi saja!" Tolak Zara
"Zara, maafkan kebodohan Mas. Kamu tidak perlu melakukan itu. Buka pintunya Zara, kita akan selesaikan semuanya" Pinta Harry dengan nada penuh penyesalan.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan, menampakkan wajah cantik Zara yang terlihat pucat dengan rambut berantakan. Harry tersenyum tipis dan langsung memeluk istrinya, sementara air mata pria itu turun.
"Ayo kita pergi dari sini"
Zara melepaskan pelukannya lalu menatap Harry dengan tajam "Apa maksud Mas?"
Harry memegang kedua bahu istrinya, dan mencium kening Zara dengan lembut.
"Kita harus pergi dari sini!" jawab Harry.
"Apa?? Kenapa?" Zara terkejut mendengarnya.
Namun Harry tak merespon keterkejutan Zara, dia justru bergegas Masuk ke kamar, diikuti oleh Zara yang Masih mempertanyakan sikap aneh suaminya. Harry mengambil koper dan membuka lemari, sibuk menaruh pakaian Zara dan dirinya ke dalam koper.
"Maaf Sayang, Mas sudah menggadaikan rumah kita" Jelas Harry dengan rasa frustrasi yang terasa.
"APA!! Rahasia apa lagi yang Mas sembunyikan dariku?! Jawab Mas!" tangis Zara kembali terdengar. Hatinya terluka lagi. Rumah peninggalan mendiang orang tuanya kini sudah digadaikan tanpa sepengetahuannya?
"Aku benar-benar membencimu, Mas! Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?!" desis Zara, suaranya penuh dengan kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam.
Harry terdiam sejenak, ekspresinya penuh dengan penyesalan dan frustrasi. Dia mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan segalanya kepada Zara, meskipun dia tahu bahwa tidak akan ada kata-kata yang bisa meredakan kesedihan dan kemarahan Zara.
"Sayang, aku tahu ini sangat sulit bagimu untuk menerima, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku melakukan ini karena kita tidak punya uang lagi. Hutang-hutangku menumpuk dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi" ujar Harry dengan suara penuh penyesalan.
Zara menatap Harry dengan pandangan campuran antara kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang mendalam. "Tapi menggadaikan rumah kita? Mengapa kamu tidak berbicara denganku tentang ini? Kita bisa mencari solusi bersama-sama!"
Harry merasa semakin terjepit dalam situasi yang sulit. "Aku tahu aku salah, Sayang. Aku seharusnya berbicara denganmu sejak awal. Tapi aku merasa tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin kehilanganmu, Zara. Aku mencoba melindungimu, meskipun cara yang aku pilih salah."
Zara menggelengkan kepala dengan sedih. "Kamu tidak bisa melindungiku dengan mengkhianati kepercayaanku, Mas. Aku merasa hancur, tidak hanya karena rumah kita digadaikan, tapi karena kamu tidak mempercayaiku sebagai pasanganmu."
Harry menghela napas panjang "Zara maafkan Mas tapi sekarang tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Kita harus pergi dari sini sebelum orang suruhannya menemukanmu, dan aku akan mati di tangannya." Harry mendekati istrinya dan memeluknya erat namun Zara dengan cepat mengelak
"Apa Mas menggadaikan rumah ini untuk membayar hutang? Kalau gitu tebus rumah ini, Mas bisa minta pinjaman di perusahaan Mas"
"Zara.." Ucap Harry dengan lirih
Zara tersenyum kecut "Apa lagi yang Mas sembunyikan dariku?" Ucapnya seperti menduga apa yang akan Harry katakan
"Mas sudah di PHK"
"Sejak kapan?" Tanya Zara dengan tenang, namun percayalah bahwa kata-kata itu keluar dengan rasa sesak didadanya
"Zara, kamu harus percaya pada Mas. Ini bukan waktunya untuk bertengkar. Mas melakukannya untuk melindungimu, untuk melindungi kita berdua. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini" Ucap Harry bersikeras
Zara menghela napas 'satu kesempatan terakhir' batin Zara berbisik lalu menatap suaminya dengan lekat "Mas, berjanjilah. Setelah semua ini selesai, jangan pernah berjudi lagi atau menyembunyikan apapun dariku" ucap Zara hampir berbisik.
Harry hanya diam, namun tangannya meraih pipi istrinya sejenak lalu mengangguk pelan.
Zara Masih ragu, tetapi melihat raut wajah suaminya yang tulus, dia memutuskan untuk mempercayainya sekali lagi.
Keduanya bergegas menyelesaikan pakaiannya dan menutup koper. Mereka meninggalkan rumah dengan hati yang berat, tidak tahu apa yang menanti mereka di Masa depan.
PerjZarannya dari Jakarta ke Bandung terasa berat bagi Zara, karena dia harus merelakan rumah peninggalan orang tuanya yang memiliki banyak kenangan.
Setelah menempuh perjZaran yang melelahkan mereka tiba disebuah rumah kontrakan di sebuah desa yang cukup sepi dan nyaman
"Dari mana Mas tau tempat ini?" Tanya Zara
"Dari teman kantor Mas" Jawab Harry "Ayo Masuk" Ajaknya
Zara tersenyum tipis, kontrakan itu terbuat dari bahan beton, ada ruang tamu, 2 kamar, dapur dan kamar mandi, kontrakan yang cukup luas untuk mereka tempati berdua. Tapi yang membuat Zara merasa aneh adalah kontrakan itu sudah terisi dengan lengkap
"Ada yang tinggal disini Mas?" Tanyanya
"Mas juga gak tau, mungkin memang disediakan pemiliknya soalnya waktu Mas bayar dan cek, rumah ini sudah terisi" ucap Harry
Zara mengerutkan kening bingung, memang tidak ada yang salah dari ucapan Harry tapi Zara merasa aneh. Kapan Harry bayar dan melakukan pengecekan rumah? Sedangkan Zara saja baru tau Masalah Harry kemarin sore.
"Hey jangan melamun. Ayo bereskan barang kita" Ajak Harry yang membuat Zara tersadar lalu mengangguk
Anda Mungkin Juga Suka





