
Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
Bab 3
Suara ketukan pintu rumah terus terdengar, membuat Zara terbangun dan menatap sang suami yang nampak resah. "Siapa yang datang malam-malam begini, Mas?" tanya Zara bingung.
"Biarkan saja" jawab Harry.
Ketukan kembali terdengar namun kini ketukan itu berasal dari kaca jendela kamar tempat mereka tidur
"Mas.." Gumam Zara khawatir
"Biar Mas lihat. Zara diam disini saja, jangan kemana-mana" Peringat Harry
Harry keluar dari kamar. Hati Zara tidak tenang dan Zara hanya bisa mengintip di balik pintu kamarnya, pikirannya memberi isyarat bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
Lima orang lelaki meMasuki ruang tamu dengan wajah bringas mereka. Tubuh mereka besar dan tinggi, dilengan mereka terdapat berbagai jenis ukiran tato yang menakutkan
Kelimanya mengelilingi Harry. Mata Zara berkaca-kaca, tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkinkah mereka adalah preman penagih hutang?
Harry hanya diam, menunduk dengan ketakutan, matanya sekilas melirik ke lima pria kekar yang mengelilingi tubuhnya.
"Hutangmu" Ucap salah satu dari antara mereka
"Kau lupa janjimu? Bos menginginkan kau melunasi hutangmu bukannya melarikan diri seperti pengecut. Kalau kau tidak bisa melunasinya, maka semua milikmu akan menjadi gantinya terMasuk istrimu" ucap pria itu sambil menendang meja kaca di ruang tamu.
Harry hanya diam dan menunduk takut.
Pria yang tadi menendang meja tersenyum miring, lalu tangannya terangkat, seolah memerintahkan sesuatu.
Bugh.. Harry jatuh tersungkur ke lantai, darah segar mengalir dari mulutnya.
"Mas!!" Zara memekik, matanya mengobarkan amarah dengan tangan terkepal Zara berjalan keluar menghadapi para preman itu.
"Zara" Harry mendesis, kesal karena Zara keluar dari dalam kamar
"Akan kubayar 20 juta dulu. Beri kami waktu untuk melunasinya, tapi tidak sekarang. Aku janji" rayu Zara.
Seorang preman lainnya menghantam kepala Harry ke meja, menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan. Matanya berkunang-kunang ketika salah satu dari kelima pria tersebut mengulangi pukulan, dan tiga di antaranya dengan brutal memukuli tubuh Harry hingga ia kehilangan kesadaran.
Mata Zara berkaca-kaca, dia meraih sapu lalu memukuli empat orang yang menyerang Harry
"Bajingan jangan pukul suamiku!!"
Salah seorang diantara mereka yang terkena pukulan sapu Zara hendak membalas
"Berhenti." ucap pria yang hanya berdiri dan melihat, seolah-olah dia adalah pemimpin kempat pria lainnya.
"Bos bilang jangan melukainya" lanjutnya dengan nada menyeramkan.
Seperti tersadar, mereka bergerak mundur, kesempatan itu di manfaatkan Zara untuk mendekap suaminya yang nyaris tak sadarkan diri dengan tubuh yang dipenuhi luka dan lebam.
"Nona Zara, ikutlah dengan kami"
"Tidak mau!" Tolak Zara dengan berteriak histeris
"Pisahkan mereka"
Dengan kasarnya kedua pria maju dan menarik Zara, membuat Harry terbaring dilantai yang dingin dengan tidak berdaya
"Lepaskan! lepas!" Zara memberontak namun tenaganya jelas kalah dengan dua orang pria kekar itu
Pria itu menarik keluar sebuah pistol dari belakang tubuhnya dan mendekati Harry, tangannya dengan kasar menangkap rambut Harry dan menekan ujung pistol ke pelipis Harry, bersiap untuk menarik pelatuk.
"Tentukan pilihan nona Zara"
"Bajingan tidak beradap! Lepaskan! Jangan bunuh suamiku!" seru Zara dengan meronta, suara tangisan yang memilukan terdengar menyakitkan. Harry hanya bisa diam, menyaksikan istri cantiknya menangis.
"Kuberikan lima detik nona Zara, tentukan pilihanmu, ikut dengan kami atau melihat suamimu mati" ucapnya memperjelas pilihan yang Zara miliki
"Zara.." Harry bergumam tertatih
"Sudah kubilang aku akan membayar hutangnya, aku punya 20 juta" ucap Zara "Kumohon lepaskan kami.." Suaranya semakin lirih
"Bawa dia! Bos sudah terlalu lama menunggu wanita ini" perintah pria itu, lalu berbalik keluar dari rumah. Dengan paksa, tubuh Zara diseret, dan pandangan Zara dan Harry bertemu untuk sebuah perpisahan yang menyakitkan.
"Maafkan aku, Zara..." bibir Harry bergerak. Meskipun tidak berbicara namun Zara mendengar kata-kata yang tidak terucap dengan jelas, tapi dia tahu suaminya meminta maaf padanya.
Air mata Zara bercucuran, matanya mengadah, menatap langit-langit malam yang gelap sama seperti kehidupannya yang suram.
Apa yang lebih menyakitkan daripada seorang istri yang setia mendampingi suaminya, namun suaminya sendiri tidak jujur padanya?
Zara bahkan belum sempat menanyakan foto yang diterimanya kemarin pada Harry, namun dia dihadapkan dengan cobaan lainnya
"Kuharap semuanya akan membaik ma.." batin Zara bergumam
Anda Mungkin Juga Suka





