Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIBALIK CADAR ISTRIKU

DIBALIK CADAR ISTRIKU

Terjebak dalam pernikahan dengan Azizah tidak menghentikan perasaan lelaki ini terhadap Azkia, sosok cantik yang memikat hatinya. Keadaan kian rumit karena ia sama sekali belum pernah melihat wajah istrinya yang selalu tersembunyi di balik cadar. Tanpa ia sadari, Azizah menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap. Apakah misteri di balik penutup wajah itu akan mengubah segalanya? Sebuah kisah tentang cinta, keraguan, dan rahasia yang terpendam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Membayangkan akan bertemu Azkia siang nanti begitu membuatku bersemangat. Rasanya, sudah cukup lama aku tak merasakan perasaan seperti ini. Aku tahu, apa yang aku lakukan ini salah, semua perasaan terhadapnya salah, dan rasa ketertarikan itu juga salah. Namun, dalam hatiku berharap semoga Azizah bisa mengerti, walaupun harapanku terdengar egois.

"Mas mau ke mana?" tanyanya sedikit ragu. Dia jarang bertanya sejak kemarahanku waktu itu. 

"Mas ada janji sama temen di kedai kue." 

"Aku juga ada janji bimbingan skripsi, Mas hari ini. Mungkin sampai malam." 

"Oke," jawabku singkat.

Selepas mengisi perut pagi ini, aku langsung tancap gas roda empat menuju kedai milik Azkia yang cukup jauh dari rumah. 

Kedai bernama Azkia Bakery ini masih terlihat sepi saat aku baru tiba. Toko bernuansa pink ini seketika mengingatkaku akan sosok dirinya saat pertama kali bertemu di rumah Lana. Sontak, kutersenyum ketika bayangan gadis berambut panjang itu melintas di otakku. 

"Assalamualaikum, Mas." Seseorang tiba-tiba mengucap salam. Suaranya persis Azkia. 

"Waalaikumsallam," jawabku. 

"Ini aku, Mas. Ayo, masuk." 

Dia mengenakan masker penutup mulut berwarna putih kemudian melepaskannya ketika berada di dalam kedai. 

"Aku alergi debu, Mas. Jadi, kalau di luar aku selalu pakai masker." 

"Oh, iya. Kok, masih sepi?" tanyaku sembari berjalan menuju ke arah kursi. 

"Iya. Kan, belum buka, Mas." 

Jadi, kami hanya berdua di kedai ini? Yang benar saja. 

"Assalamualaikum." 

Lamunanku pecah kala terdengar suara salam beberapa orang di pintu depan. Aku menoleh saat Azkia dengan antusias menjawab salam itu sembari berjalan dengan sedikit tergesa guna membukakan pintu. 

"Waalaikumsallam. Ayo, Bu masuk," ujarnya. 

Rupanya yang mengucapkan salam tadi adalah segerombolan Ibu-ibu. Mereka lantas masuk mengikuti Azkia sementara aku hanya diam mematung di tempat yang semula. 

"Mas, ayo masuk," titah Azkia. Ia hanya menampakkan kepalanya dari balik ruangan yang mereka masuki. 

Setelah masuk, para ibu-ibu sudah bersiap di tempat mereka masing-masing. Ada empat meja sedang di ruangan yang baru aku masuki. Di atasnya terdapat bahan-bahan untuk membuat kue seperti tepung, telur, dan bahan lainnya yang nampak asing bagiku. Di sebelah bahan juga ada alat untuk membuat kue, timbangan, mangkuk kaca bening dan spatula plastik.

"Mas, maaf, ya. Acara pembukaannya gak jadi hari ini, aku lupa kalau ada janji dengan ibu-ibu buat ngajarin bikin kue." 

"Terus, kenapa kamu panggil aku barusan? Bukannya aku bisa langsung pulang?" 

"Aku butuh asisten, Mas. Kamu bisa kan, tolongin aku? Aku belum dape karyawan," jelasnya. 

"Gimana, Mas kamu mau, ya."

Lagi-lagi, tatapan Azkia penuh harap membuatku begitu sulit menolaknya. Tak tega rasanya kalau sekadar menjadi asisten saja aku tidak mau. 

"Oke." Mungkin, aku akan menyesali keputusan ini. 

Azkia dengan lugas menjelaskan bahan apa saja yang akan dibuat menjadi kue. Kata demi kata keluar dari mulut itu begitu mudah dipahami sehingga ibu-ibu hanya mengangguk saja. 

Setelah selesai, Azkia mulai membuat kue. Aku ikut membantu memecahkan telur dan mencampur bahan. Cukup sulit ternyata kalau tidak terbiasa. Apalagi bahan-bahan lain harus ditimbang terlebih dahulu. 

"Mas, kamu kaku banget. Apa belum pernah bikin kue?" bisik Azkia. 

"Belum," jawabku singkat. 

"Setelah mengembang, kecilkan mixer dan campur tepung secara perlahan sedikit demi sedikit," ujar Azkia. 

Semua orang pun mengikuti langkah demi langkah cara-cara membuat kue yang ditunjukkan oleh Azkia. Beberapa kali aku salah fokus kala melihat wajahnya. Aku suka ketika dia sangat serius menatap ibu-ibu. Aku juga suka saat dia penuh konsentrasi membuat kue seakan aku tidak ada di sini. 

Keberadaanku pun sama sekali tidak mengganggu Azkia. Astaga, aku semakin mengaguminya. 

"Mbak, itu siapa? Pacarnya, ya?" tanya salah satu wanita paruh baya pada Azkia. 

"Ah, bukan, Bu. Mas Malik ini ... ."

"Calon suaminya, ya? Aduh, gagah sekali, Mbak," celetuk Ibu lainnya. 

"Kalau nikah nanti, jangan lupa undangannya, Mbak." 

Kali ini, Azkia hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu-ibu. Senyumnya nampak sedikit aneh. Apa mungkin dia canggung dengan keadaan ini? Pipi mulusnya juga ikut berubah warna menjadi bersemu merah muda. Apa mungkin dia merasa malu? 

"Maaf, Mas. Ibu-ibu suka ngasal," ujarnya padaku. Aku hanya sedikit tersenyum. 

"Mas, mau makan siang bareng?" tawar Azkia kala acara memasak usai. Kami mengobrol di ruang depan. 

"Boleh."

"Aku bungkuskan kue dulu, ya. Lumayan buat istri, Mas di rumah." 

Aku hendak menolak, tapi gadis itu sudah menghilang. Sebenarnya tak ada alasan untuk menerima pemberiannya karena aku tak mau lagi Azizah menganggapku memberi perhatian padanya, tapi kue buatannya lumayan enak. Akan sayang kalau aku menolak. 

"Ini. Jangan sungkan, Mas. Mas Lana udah sering makan, kok. Jadi, kalau kubawa pulang, mungkin nggak kemakan juga. Sayang nanti jadi mubah." 

"Apa aku kelihatan sungkan? Aku suka kok, sama kue ini." 

Dia hanya tersenyum. Aku dan Azkia menaiki mobil kami masing-masing dan pergi ke rumah makan. Jaraknya tidak begitu jauh dan hanya 10 menit mengendarai mobil. Selepas memarkirkan mobil, kami keluar dan masuk ke rumah makan dua lantai. 

Azkia terus berjalan menuju lantai dua sementara aku sibuk mengamati pemandangan sekitar hingga tak sadar dia berhenti di sebuah meja bersekat. 

"Kita makan di sini?" tanyaku sedikit heran. 

"Iya. Tenang, Mas. Aku nggak akan apa-apain kamu, kok." 

"Maksud kamu apa?" 

"Tuh." Dia menunjuk CCTV yang tertempel di sudut-sudut ruangan. 

"Di sini makanannya 100% halal. Pengunjungnya juga hal ... ." Dia tak meneruskan ucapannya. Mungkin teringat akan hubungan ini. 

"Pengunjungnya santun, bukan halal." 

"Iya, itu maksudnya." 

Keadaan menjadi canggung kembali. Aku dan dia hanya diam selepas memesan makanan. 

"Mas. Apa aku boleh ngomong sesuatu?" 

"Ehm, silakan." 

"Kenapa Mas setuju aku ajak ke kedai?" 

"Aku pikir Lana ada di sana. Aku juga lupa tanya dia sebelumnya." 

Aku menjadi salah tingkah. Takut, kalau-kalau dia bertanya perasaanku. Meski aku tertarik dan mengaguminya, aku belum siap berkata jujur mengenai hal itu. 

"Kamu udah berapa tahun lulus kuliah?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan guna mencairkan suasana.

"Udah sekitar lima tahun yang lalu, Mas." 

Kami berdua diam. Keadaan membeku lagi sampai pelayan akhirnya datang membawa makanan. 

"Mbak Azkia, wah bawa calonnya, ya? Kereen. Jangan lupa undangannya," ujar gadis pelayan setelah meletakkan seluruh makanan di atas meja dihadapan kami. 

Azkia nampak berusaha menjelaskan pada pelayan kalau aku bukan calon suaminya dengan bahasa isyarat sederhana, tapi kelihatannya pelayan itu tidak mengerti.

"Ternyata, banyak orang yang salah mengerti hubungan kita," ujarku.

"Sebenarnya aku suka sama kamu, Mas." 

"APA?" 

Bersambung.......

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HHE" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HHE
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anything For You
9.7
Andre memendam cinta mendalam pada Samantha, namun segalanya rumit saat pertunangannya di ambang kehancuran. Di tengah kebimbangan Andre, muncul Yansen, dokter yang merawat Samantha. Yansen jatuh hati dan berjanji akan setia mendampingi wanita itu dalam kondisi apa pun. Kini Samantha berada di antara dua pria dengan komitmen berbeda. Siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hatinya di tengah konflik emosional yang kian pelik ini?
Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
8.3
Penderitaan akibat keluarga memaksa Kayshila Zena menikahi Zenith Edsel, pria paling berpengaruh di Jakarta. Namun, tuduhan mencederai kesetiaan di hari pernikahan membuat hubungan mereka hancur. Usai melahirkan dan menandatangani perceraian, Kayshila menghilang. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali membawa sang buah hati dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Sang miliarder yang dingin justru dengan sengaja menerima kehadirannya, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan
8.1
William terpaksa menikahi Fransiska tiga tahun lalu akibat tekanan keluarga, meski hatinya milik wanita lain. Kebencian mewarnai pernikahan mereka hingga Fransiska pergi studi ke luar negeri. Saat kembali, William justru menuntut cerai demi kekasihnya yang sekarat. Fransiska yang terluka setuju untuk pergi, namun sikap William mendadak berubah dan sengaja menunda perpisahan mereka. Di tengah keraguan sang suami, mampukah Fransiska lepas dari ikatan rumit ini?
Sampul Novel Cinta Lima Tahun, Hancur oleh Sebuah Panggilan
8.6
Pernikahan Anisa dan Erlangga hancur saat Citra, mantan kekasih Erlangga, kembali dengan amnesia. Erlangga memaksa Anisa berpura-pura menjadi kekasih kakaknya, Laksmana, demi Citra. Namun, Anisa menyadari bahwa dia hanya dianggap sebagai cadangan yang penurut. Luka hati berubah menjadi dendam membara. Anisa memutuskan menikah dengan Laksmana secara nyata dan menuntut Erlangga menjadi wali nikahnya di pelaminan. Sebuah rencana pembalasan yang dingin pun dimulai.
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR
8.4
Kehidupan asmara Mahya, wanita kelahiran 1991, jauh dari kata sempurna karena kehadiran seorang sahabat yang manipulatif. Di balik topeng keluguan, sang sahabat terus merusak setiap hubungan cinta yang Mahya bangun. Meski sering dikhianati, Mahya yang polos tetap menaruh kepercayaan penuh pada sosok licik tersebut. Namun, sebuah kejadian tak terduga akhirnya memicu kemarahan besar dalam diri Mahya. Akankah tabir kepalsuan ini segera terungkap?
Sampul Novel Hasrat Terpendam di Gerbong Tidur Kereta
8.5
Perjalanan di gerbong tidur kereta menjadi ujian berat saat aroma para pekerja konstruksi membangkitkan gairah terpendam sang protagonis. Terdesak oleh hasrat yang tak tertahankan, ia terpaksa mencoba memuaskan dirinya sendiri di balik selimut. Namun, tindakan rahasia ini justru ketahuan. Paman yang memergokinya segera menyingkap selimut dengan napas tertahan, lalu menawarkan diri untuk memberikan kepuasan nyata alih-alih membiarkannya menggunakan mainan.