Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diary Naya

Diary Naya

Bagi banyak orang, makna cinta bersifat subjektif dan beragam, sebagaimana kutipan Marianne Williamson yang menyebutnya sebagai inti eksistensi manusia. Namun, dalam sudut pandangku, definisi sejati dari perasaan ini bukanlah tentang memiliki. Kisah ini mengeksplorasi arti pengorbanan terdalam, di mana mencintai berarti memiliki ketulusan untuk melepaskan sosok yang paling berharga agar ia mampu menemukan kebahagiaan sejatinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sejak tadi pagi, aku sudah di sibuk kan dengan panggilan telepon dari ibu. Dia menyuruhku untuk segera pulang saat ini. Ibu bilang, kalau bapak saat ini tengah sakit. Dan terus menerus memanggil namaku.

Padahal, aku berencana untuk pulang saat libur semester nanti. Tapi, karena aku khawatir dengan keadaan bapak, maka aku memutuskan untuk pulang hari ini juga.

Aku bahkan sudah tidak peduli dengan semua tugas-tugas kuliahku. Yang ada di pikiranku saat ini adalah, segera pulang ke rumah dan melihat keadaan bapak.

Setiap aku mendengar kabar bahwa bapak sakit, aku selalu merasa khawatir. Aku takut sesuatu terjadi pada bapak. Mengingat umur bapak yang sudah sepuh, aku semakin takut untuk kehilangan bapak. Karena dari kecil, aku memang cenderung lebih dekat dengan bapak ketimbang dengan ibu.

Suatu hari, bapak pernah bilang. Bahwa aku adalah anak kesayangannya. Mungkin, karena aku adalah anak bungsu, dan anak perempuan satu-satunya. Karena kata ibu, dari dulu bapak sangat mendambakan mempunyai anak perempuan. Dan ketika aku lahir, bapak begitu menyayangiku.

Pernah suatu hari, ketika aku masih berumur 7 tahun. Aku mengalami sakit demam dan kejang-kejang. Dan bapak sampai menangis karena tidak tega melihat keadaanku saat itu.

Mengingat itu semua, tanpa terasa air mataku jatuh. Tiba-tiba, aku jadi rindu dengan bapak.

Aku bahkan hampir lupa, jika aku harus segera pulang ke rumah. Akhirnya, aku menelepon Amel untuk memberitahunya bahwa hari ini aku akan pulang. Kebetulan, tadi pagi dia sudah berangkat ke kampus. Jadi, aku belum sempat memberitahunya. 

Setelah menelepon Amel, dan membereskan semua pakaianku. Aku  bergegas menuju ke sebuah terminal bus dengan menggunakan ojek online.

Setelah sampai di sana, aku segera mencari bus yang akan mengantarkan aku ke tempat tujuanku. Karena bus yang akan aku tumpangi sudah hampir penuh, aku buru-buru untuk mencari tempat duduk. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya bus yang aku tumpangi melaju menuju ke tempat tujuanku.

***

Setelah melalui perjalanan kurang lebih selama 4 jam. Akhirnya, aku sampai di kampung halamanku. Sebuah desa yang masih sangat asri. Dengan pemandangan sawah yang membentang dari ujung ke ujung.  Dan sebuah gunung yang menjulang tinggi, yang membuatnya menjadi  semakin sempurna. Dan akan membuat siapapun betah dan berlama-lama memandanginya.

"Assalamualaikum? Aku mengucap salam ketika sampai di depan rumah."

"Waalaikumussalam." Jawab ibu dari dalam.

"Ibu, sehat?" Tanyaku, sambil mengecup tangannya yang sudah mulai keriput karena dimakan usia.

"Alhamdulillah, ibu sehat. Kamu gimana? Sehat? Akhirnya kamu pulang juga neng." Ucap ibu dengan wajah yang berbinar. 

"Iya, Bu. Neng khawatir sama keadaan bapak."

"Ya sudah, ayo masuk. Bapak udah nungguin kamu."

"Iya, bu."

"Tapi sebelumnya, kamu simpan dulu tas kamu di kamar. Setelah itu, kamu pergi ke kamar bapak ya! Ibu akan siapkan makanan untuk kamu."

"Bu! Jangan lupa ikan asin sama sambelnya!" Ucapku terkekeh.

"Ibu kira, kamu udah gak suka ikan asin sama sambal." Ucap ibu sedikit meledek.

"Ya, enggak lah bu! Neng mah lidah nya juga lidah Sunda. Jadi, kalau makan tanpa sambal sama ikan asin, rasanya itu kaya ada yang kurang."

Kulihat, ibu hanya tertawa kecil mendengar ucapan ku. Kemudian, ibu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan.

Aku membuka pintu kamarku. Kamar yang selalu aku rindukan. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama, seperti terakhir kali aku meninggalkan kamar ini. Aku yakin, ibu pasti selalu membersihkan dan merawat kamar ini setiap hari.

Tanpa aku sadari, ternyata bapak sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil tersenyum.

"Neng! Kok senyum-senyum sendiri? Lagi mikirin apa?" Tanya bapak dengan suara yang sangat pelan.

"Kok bapak ada di sini? Harusnya kan bapak istirahat aja di kamar. Biar nanti neng yang nyamperin ke kamar bapak."

"Bapak udah kangen banget sama kamu. Kalau nungguin kamu mah lama, nanti yang ada, bapak keburu tua" Ucap bapak sedikit terkekeh.

"Iyaa, pak. Maaf! Tadi, neng di suruh ibu buat nyimpen dulu tas ke kamar. Baru setelah itu, neng langsung ke kamar bapak." Ucapku sedikit merasa bersalah.

"Gimana kuliah nya lancar?"

"Alhamdulillah, pak. Lancar." Ucapku antusias.

"Alhamdulillah kalau gitu, bapak senang dengernya." Ujar bapak.

"Iya pak! Neng pokoknya janji sama bapak sama ibu, kalau neng gak bakal bikin kecewa kalian berdua."

"Bapak percaya sama kamu. Tapi, sebenarnya, ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu." Kali ini, raut wajah bapak terlihat begitu serius.

"Bicara aja pak. Gak usah grogi gitu!Lagian, ngomong sama anak sendiri aja kok kaya mau nembak pacar aja sih. " ucapku tertawa.

"Kapan kamu siap untuk menikah?" Tanya bapak tanpa basa-basi.

Deg!

Seketika, aku langsung terdiam dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh bapak. Kenapa bapak mendadak bertanya seperti itu? Apa itu artinya, bapak ingin aku segera menikah?

Pertanyaan bapak yang tiba-tiba, membuatku, seketika sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa maksud dari pertanyaan bapak tadi? Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu? Semua pertanyaan itu seolah-olah berputar di kepalaku.

"Neng! Kok diem aja bapak tanya?" Ucap bapak membuyarkan lamunanku.

"Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu? Neng kan masih 19 tahun.  Kuliah aja baru semester dua. Lagian, kalau neng nikah sekarang. Kasian suami neng nanti. Soalnya neng masih suka bangun siang. Hehe"

Ucapku terkekeh.

"Bapak udah tua neng! Bapak gak tau, apa bapak masih bisa melihat kamu menikah atau tidak." Ucap bapak dengan wajah sedih.

"Bapak harap, kamu pikirkan  baik-baik ucapan bapak. Menikahlah! Cuma itu permintaan bapak."

"Iyaa, pak. Neng akan pikirkan lagi permintaan bapak."

"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Pasti kamu cape kan? Bapak akan pergi ke kamar bapak."

Setelah bapak pergi, aku menutup kembali pintu kamarku. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. 

Aku tidak menyangka. Jika permintaan bapak kali ini, adalah permintaan yang sangat berat untuk aku penuhi.

Aku masih ingin melanjutkan kuliahku, mengejar semua impianku, menjadi penulis terkenal. Dan keliling dunia seperti cita-citaku dulu.

Tapi sekarang, semua itu menjadi seperti mustahil bagiku. Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan.?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Sila
8.6
Siti Laila, putri seorang ustaz, tumbuh menjadi gadis keras hati akibat kurangnya kasih sayang orang tua. Meski terlihat santun di rumah, Sila menyimpan sisi gelap sebagai pendendam di luar. Saat ia berniat bertobat dan meninggalkan masa lalunya yang kelam bersama Lucas, ancaman besar datang. Lucas mengancam akan menghancurkan keluarga Sila hingga tak bersisa jika ia berani berhenti. Kini, Sila terjebak dalam dilema antara penebusan dosa dan keselamatan keluarganya.
Sampul Novel Foto Bayi di Ponsel Suamiku
9.1
Monalisa adalah istri setia hingga ia menemukan foto bayi misterius di ponsel Bayu, suaminya. Meski Bayu berdalih gambar itu dari internet, kecurigaan Mona menuntunnya pada kenyataan pahit: suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain. Hancur karena dikhianati, Mona menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia justru bangkit dan menyusun rencana matang untuk membalas dendam, berniat menghancurkan hidup Bayu serta selingkuhannya dengan rasa sakit yang jauh lebih hebat.
Sampul Novel Hayu
9.2
Hayu
Hayu awalnya yakin bahwa kriteria kolot seperti bibit, bebet, dan bobot sudah tidak relevan di era modern. Namun, realita pahit menghantamnya saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Sebagai sekretaris biasa, hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, kini berada di ujung tanduk. Hayu harus melewati serangkaian interogasi kaku dari ibu kekasihnya demi mempertahankan cinta mereka. Akankah perbedaan status sosial ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Kumpulan Cerita Dewasa Untuk 21+++
9.3
Antologi ini menyajikan deretan kisah romansa modern yang dikhususkan bagi pembaca dewasa. Setiap cerita di dalamnya dirancang dengan narasi yang berani dan eksplisit, sehingga sangat tidak disarankan bagi pembaca di bawah umur. Fokus utama karya ini adalah mengeksplorasi hubungan intim serta momen-momen penuh gairah yang intens. Pastikan Anda telah cukup umur sebelum menyelami kumpulan narasi sensual yang ditujukan khusus untuk audiens berusia 21 tahun ke atas ini.
Sampul Novel Mawar Hitam Berdarah
9.7
Maria memilih bercerai setelah lelah disiksa batin oleh mertua dan suaminya yang tidak adil. Dianggap cacat karena belum memiliki anak, ia pun harus menelan pil pahit saat sang suami menikah lagi secara sepihak. Namun, takdir mempertemukannya dengan bos menyebalkan yang perlahan mampu meluluhkan hatinya. Saat benih cinta mulai tumbuh, sang mantan suami justru datang memohon untuk kembali. Kini, Maria terjebak di antara cinta baru atau masa lalunya.
Sampul Novel Menantu Yang Diusir Keluarga Suaminya
8.3
Zaireen tinggal di rumah warisan ayahnya bersama Elvano dan mertuanya. Awalnya hangat, namun keluarga suaminya perlahan menindasnya. Luka Zaireen makin dalam saat tahu Elvano berselingkuh dengan restu keluarganya sendiri. Dianggap rendah di rumahnya sendiri, kini Zaireen tak lagi tinggal diam. Ia harus memilih antara bertahan dalam duka atau bangkit menghancurkan mereka dengan cara yang elegan. Air matanya telah habis, kini saatnya ia mengambil kembali harga dirinya.