Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova

Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova

Naelsa tidak sengaja menemukan kembali buku harian lamanya yang penuh kenangan. Saat membuka tiap lembarannya, ia terkejut teringat kembali pada kisah romansa masa sekolah yang manis. Tulisan itu membawanya bernostalgia tentang cinta monyet dengan seorang teman sekelas. Kenangan emosional tersebut sering disebut oleh sahabatnya, Myna, dengan istilah unik Macaca Lova. Sebuah perjalanan masa lalu yang kembali hadir membuka memori yang sempat terlupakan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hasil bersih-bersih kamar hari ini aku menemukan benda-benda bersejarahku dari masa lalu. Salah satunya ya diary ini.

Yang kuingat diary itu aku beli di toko ATK dekat sekolahku. Itu diary memang sudah lama kuincar. Aku beli pakai uangku sendiri. Mau minta uang ke ibu buat beli tapi takut nggak dikasih. Soalnya aku baru aja masuk SMP. Uang ortuku pasti sudah banyak tersedot untuk biaya pendaftaran dan lain-lainnya. Akhirnya kuputuskan untuk membelinya dari hasil mengumpulkan uang jajanku selama dua minggu.

Dengan penasaran kubuka halaman pertama, Aku baca sebuah tulisan pendek. Mirip sebuah puisi. Sepertinya aku sedang menulis sepenggal puisi di lembar diaryku itu.

24 Juli 2000

Dear Diary

Ia begitu sempurna

Tak perlu sebuah kamera untuk menggambarkannya

Cukup aku memejamkan mata

Sosoknya akan tercipta dengan nyata

Mataku langsung terbelalak. Sebuah pertanyaan melintas tiba-tiba.

”Ini aku yang nulis?”

Aneh. Bisa-bisanya aku menulis kata seperti ini. Lebay banget. Biasanya aku tegas. Bahkan cenderung galak. Jauh dari kata puitis dan romantis. Masak orang galak nulis model beginian?

”Kenapa ada tulisan kayak gini ini di diaryku?”

Akhirnya aku membalik halaman berikutnya. Kembali aku menemukan tulisan menyerupai puisi lagi.

28 Juli 2000

Dear Diary

Dia kadang seperti magnet

Tapi kadang juga seperti pusat tata surya

Dan aku hanyalah satu dari sekian benda langit yang mengelilinginya

Mungkin dia tidak tahu itu

Dan mungkin nggak mau tahu

Bukan masalah buatku

Asal dia bisa tersenyum bahagia

Aku juga begitu...

Oh TIDAAAAAKKKK !!!

”Apa benar ini tulisanku?”

Dahiku mengernyit. Tangan kiriku menggaruk kepalaku. Aneh. Aku kenapa waktu itu? Sampai nulis kayak ginian. Kembali aku membuka halaman selanjutnya. Kubaca yang tertulis di situ.

31 Juli 2000

Dear Diary

Perlu listrik berkekuatan sekian ribu volt untuk membuat ia tersetrum menyukaiku

Ada banyak yang mengelilinginya

Sepertinya mereka juga menyukainya

Sama sepertiku

Entah siapa yang ia suka

Bukan aku sepertinya

Kali ini aku bergidik. Entah bergidik karena heran, takut, atau pun geli mendapati tulisanku di masa lampau itu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sembari berusaha mengingat kenapa aku dulu sampai menulis seperti ini.

Aku raih ponselku. Segera kutelepon Myna. Beruntung tak harus menunggu lama. Pada panggilan nada telepon ketiga sudah terdengar suara Myna yang mengucapkan salam. Kujawab salam itu dengan terburu-buru. Setelahnya aku memberondongnya dengan pertanyaan.

”Mey....aku ini alay, lebay, jablay nggak?”

”Apa?”

”Aku ini lho alay, lebay, jablay gitu nggak?”

”Iihhh apaan sih ini pertanyaannya. Iya jelas nggaklah,”

”Serius?”

”IYA.SUER!”

”Oh, syukurlah kalau gitu,”

Hening sesaat.

”Ada apa sih? Ada yang bilang kamu kayak gitu ya?”

”Nggak. Nggak ada,”

”Terus kenapa nanya kayak tadi?”

”Itu....aku habis menemukan diary lamaku. Aku ketakutan sendiri baca tulisan-tulisanku,”

Terdengar tawa Myna di seberang usai mendengar jawabanku.

”Kamu baca diary apa baca novel horor sih?”

”Ya diarylah Mey...kan udah kubilang tadi,”

”Terus horornya itu di mana? Masak diary aja horor sih?”

”Sumpah deh, Mey....ini tuh mengerikan Aku sampai mikir jangan-jangan aku kesurupan waktu nulis di diary ini,”

Kembali terdengar suara Myna.

”Emangnya isinya apaan sih? Jadi kepo. Bacain dong!”

Segera saja aku pungut diaryku. Dan beberapa detik kemudian aku membacakan tulisan-tulisan yang sudah kubaca sebelumnya tadi.

Dan suara tawa Myna kembali pecah mendengar apa yang aku bacakan itu. Aku jadi dongkol mendengarnya. Ah, menyebalkan.

“Iya. Alay, lebay, jablay ternyata. Hahaha,”

Jadi makin dongkol aku mendengar apa yang barusan dia katakan itu. Emang sih aku sendiri merasa aneh sama isi diaryku ini. Andai saja aku tak mengenali tulisanku sendiri, mungkin aku akan beranggapan kalau itu diary-nya si Myna yang tertinggal di rumahku terus aku simpan. Biasanya Myna suka gitu. Banyak benda-benda miliknya yang tertinggal di rumahku dan tak diambilnya lagi.

Tapi itu nggak mungkin. Selain itu tulisanku, yang menandakan itu jelas milikku, si Myna kan sahabatku waktu SMA. Jadi nggak mungkin itu diarynya. Aku belum mengenalnya waktu itu.

”Ini isi diarymu nyeritain si Cinta Monyetmu itu ya?”

”Iiihhh....kalau nyebut kata monyet jangan pakai penekanan kata dong. Kesel tahu dengernya,”

Terdengar Myna terkekeh-kekeh di seberang sana.

”Kan emang bener Cinta Monyet!”

Myna kembali menyebut kata monyet dengan penuh tekanan untuk meledek.

”Iihhh...pakai istilah lain dong!”

”Apaan? Cinta Gorila?”

”Iihhh...Gorila kan sodaraan sama monyet,”

Myna tertawa mendengar protesku.

”Jangan diprotes mulu dong! Ya udah. Kuganti aja jadi MACACA LOVA. Macaca itu monyet. Terus Lova ya cinta,”

”Kedengerannya enak nih. Boleh deh,”

Myna kembali tertawa.

”Ini cowok kayaknya cakep banget. Kalau nggak cakep nggak bakalan bikin kamu nulis kayak gini ini!”

”Iya. Emang cakep,”

”Di mana dia sekarang?”

”Nggak tahu. Aku aja baru ingat sekarang. Gara-gara buka diary ini jadi ingat pernah naksir dia. Coba kalau nggak nemuin diary ini. Ya lupa!”

”Cari gih!”

”Iihh....ngapain?”

”Ya kali aja dia masih jomblo sama kayak kamu,”

”Iihhh....apaan sih?!”

”Ya siapa tahu kalian jodoh!”

”Iihh...itu sama aja ngasih kamu kesempatan buat bikin ledekan baru,”

”Iya. CLBK. CINTA LAMA BELUM KELAR,”

Terdengar Myna terkekeh-kekeh. Buru-buru kuputus sambungan telepon. Males mendengar tawanya yang meledek itu. Kuletakan ponselku ke meja yang ada di sebelahku.

Kembali aku membuka diaryku itu. Membuka lembaran berikutnya. Membaca apa yang tertera di sana.

19 Agustus 2000

Dear Diary

Jika cinta diibaratkan sebuah lingkaran yang harus 360 °

Aku hanya menemukan 180 ° saja

Dan itu dari pihakku

Dari dia nggak aku temukan

Ini nggak adil

Dan nggak layak disebut sebuah cinta

Kembali aku bergidik. Tanganku yang tak memegang diary kembali menggaruk-garuk kepala. Meski kepalaku tak terasa gatal.

”Aku kesurupan kayaknya pas nulis ini,”

Aku mencoba menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Mencoba mengingat cowok yang disebut-sebut di diary ini.

Dulu di kelasku memang ada cowok yang ganteng sih. Dia berkulit kuning. Hidungnya mancung. Bibirnya merah. Posturnya lumayan tinggi. Anaknya ramah. Seingatku, aku pernah satu kelompok sama dia. Entah di mata pelajaran apa. Yang kuingat lainnya adalah ekskul yang dia ikuti. Dia ikut ekskul basket. Terus yang naksir dia banyak. Aku salah satunya. Tapi masak iya aku senaksir itu?

25 Agustus 2000

Dear Diary

Aku bingung...

Aku sedih....

Tadi Devi teman sebangku Amara cerita

Irham udah jadian sama Amara

Pagiku bakalan nggak secerah sebelumnya

Cowok yang aku sukai sudah punya pacar

Selamat tinggal Irham....

Iya. Kalau baca tulisan-tulisan ini sih sepertinya aku memang naksir berat. Level dewa nih. Kalau nggak bucin abis ya nggak mungkin kan aku menulis kalimat-kalimat kayak gini di diaryku. Ya ampun. Memalukan. Untung aku nulisnya di diary. Jadi nggak ada yang tahu. Coba kalau sosmed sudah ramai kayak sekarang. Terus aku nulis ginian di sosmed? Huuufffttt....akan lebih memalukan lagi kalau tulisan kayak gini kutemukan di sosmedku. Bakal diketawain teman-temanku pastinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Salesman Biasa
9.0
Hidup Ardhan Aji Pradiptio berubah total setelah menolong kakek misterius dan menerima benda ajaib sebagai imbalan. Sebelumnya, ia selalu dirundung malang, mulai dari karier yang mandek, hinaan atasan, hingga batalnya pernikahan. Kini, ia memiliki kemampuan unik untuk melihat kadar kebaikan atau kejahatan seseorang melalui matanya. Namun, sebuah pertemuan dengan pria bermata ganjil membuatnya bimbang. Mampukah Ardhan mengungkap identitas sosok misterius tersebut?
Sampul Novel Dendamku Pada CEO Berujung Pelaminan
8.8
Dulu Aruna diusir dan dicaci sebagai pembawa sial yang tidak diinginkan. Luka hatinya kian dalam saat perasaan tulusnya pada Nathan hanya dijadikan bahan taruhan yang merendahkan. Setelah bertahun-tahun berlalu, Aruna kembali dengan identitas baru dan kepribadian yang jauh berbeda. Takdir mempertemukannya lagi dengan sang CEO yang dulu menolaknya. Kini, Aruna siap menjalankan misi balas dendam demi menghancurkan pria yang pernah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Istri Memalukan
9.7
Bagi Yudha, istri hanyalah simbol status untuk menunjukkan kesuksesannya sebagai manajer. Namun, penampilan Yasmin saat acara pengukuhannya justru dianggap memalukan, hingga Yudha tega mengusirnya sebelum pesta dimulai. Di tengah keretakan hubungan mereka, muncul sosok wanita penggoda yang mulai mendekati Yudha. Akankah Yasmin tetap bertahan dalam pernikahan yang hambar ini, ataukah kehadiran orang ketiga akan mengakhiri segalanya selamanya?
Sampul Novel Mengandung Anak Dari Musuhku
9.7
Dylan Callahan menyimpan dendam pada Alaina Sinclair karena dianggap sebagai pemicu kehancuran keluarganya. Ia pun melancarkan aksi balas dendam kejam yang menghancurkan reputasi serta karier Alaina. Namun, keadaan kian rumit saat Alaina hamil setelah dibius secara misterius. Dylan menyangkal keterlibatannya meski ia dalang di balik penderitaan Alaina. Di tengah misteri itu, kebenaran masa lalu mulai terkuak, memaksa Dylan menghadapi fakta bahwa benci mungkin salah sasaran.
Sampul Novel Mr Cool On My Bed
9.8
Dalam sekuel My Sexy Lady ini, Alina Davidson terjebak dalam cinta bertepuk sebelah tangan. Meski telah berkorban segalanya, hati Thomas tetap terkunci untuk Erika. Putus asa karena diabaikan, Alina nekat menanggalkan pakaiannya dan memohon sentuhan Thomas demi mendapatkan perhatian pria itu. Walau sempat menolak, godaan Alina akhirnya meruntuhkan pertahanan Thomas. Dengan tatapan tajam, Thomas pun menyerah pada hasrat dan bersiap memberikan apa yang Alina minta.
Sampul Novel NODA DALAM RUMAH TANGGA
9.2
Alka menyerahkan kartu berisi saldo yang akan terus bertambah setiap hari kepada Mira. Setelah memberikan kode akses 222222, ia menginstruksikan istrinya untuk menggunakan uang tersebut sesuka hati. Meski sempat ragu saat memegang gagang pintu, Alka hanya mengucapkan selamat malam dengan kaku sebelum akhirnya melangkah pergi. Mira pun terpaksa menghabiskan malam pertama mereka dalam kesendirian setelah sang suami memilih untuk meninggalkannya.