Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diamnya Istriku

Diamnya Istriku

Bagi seorang istri, kemiskinan mungkin bisa dihadapi dengan ketabahan, namun pengkhianatan suami adalah luka yang menghancurkan harga diri. Ayu memilih jalan yang berbeda saat rumah tangganya diguncang prahara kesetiaan. Alih-alih mengeluh, ia bersimpuh memohon petunjuk Sang Pencipta agar suaminya bertobat. Ia percaya keajaiban doa mampu melunakkan hati yang sekeras batu. Inilah kisah perjuangan batin Ayu dalam menjaga keutuhan pernikahan lewat kesabaran.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebulan setelah kejadian itu Ayu jadi sering melamun di siang hari, sedang di malam sering kudapati dia berzikir di ruang salat hingga larut malam. Sikap hemat bicaranya kian menjadi. Sejujurnya rasa takut kalau mungkin saja dia kurang tidur akan mengganggu kesehatannya, tetapi bisa jadi itulah yang menjadi sumber kekuatannya. Sampai hari ini belum pernah sekali pun melihatnya menangis. Itulah yang membuat diri ini semakin merasa bersalah, kenapa kamu tidak pernah marah, membentak, atau memukulku! Aku ikhlas Dek setidaknya itu sedikit mengurangi nyeri di sini, di dalam dadaku. Kamu terlalu lembut untuk pria brengsek seperti ku. Entah apa yang kau minta pada Tuhanmu kau tak berbuat apa pun, tapi justru itulah hukuman yang paling berat. Pukul aku Dek! Pukul! Jangan diamkan aku! Kita sudah seperti dua orang asing yang tinggal satu rumah.

Hari ini aku pulang lebih awal, aku berencana mengajak keluargaku liburan, kami akan menginap selama 2 hari di Bandung. Selama menikah mereka belum pernah liburan ke luar kota. Teringat janjiku dulu, kalau kita sudah punya mobil akan ku bawa dia jalan-jalan tiap weekend. Dia selalu ingin ke Bandung, sayangnya 18 tahun pernikahan, aku belum pernah mengabulkannya. Terobsesi ingin punya segalanya, membuatku lupa. Dulu Ayu kuajak ke Bandung saat kami belum menikah dan masih satu kerjaan, itu pun ramai-ramai, dengan teman kerja, mana mau dia, kuajak pergi berdua.

~~

Karena ingin cepat sampai rumah, aku mengambil jalan pintas, jalan ini memang sepi karena kanan kiri masih hamparan persawahan. Semoga saja usahaku kali ini berhasil membuat Ayu mau berbicara padaku, tak masalah kalau dia belum memaafkan, yang penting Ayu lebih banyak berbicara.

“Astagfirullah.” Tiba-tiba ada anak kecil seumuran Ilham yang menyeberang jalan, untunglah aku refleks menginjak pedal rem.

“Mamah.” Anak kecil itu meraung memanggil mamahnya. Syukurlah dia tidak apa-apa mungkin hanya syok.

“Maafin Om ya, jangan takut lagi ya, sini sama Om.” Awalnya dia menghindar tapi akhirnya dia mau kupeluk juga.

“Adek sama siapa? Kok sendirian?”

“Sama Mamah, aku di tinggal mamah, huhuhu tadi aku mau kencing, tapi pas udah selesai, mamah enggak ada om hiks hiks hiks."

“Ya sudah kalau begitu, Om antar pulang aja, mungkin mamah masih di jalan.”

“Om mau culik aku ya? Aku gak mau.” Anak itu tiba-tiba berlari sangat kencang. Aku mengejar tapi sayangnya tak terkejar. Dia terlihat sangat ketakutan, menyangka aku ini seorang penjahat. Akhirnya aku berhenti mengejarnya. Karena hal itu, sampai melupakan mobil yang dibiarkan terparkir di pinggir jalan. Setengah berlari kembali ke mobil. Di perjalanan pulang, kami bertemu kembali. Terlihat anak kecil itu sedang mengejar seorang wanita dengan balita dalam gendongannya. Di sampingnya ada anak perempuan yang kutaksirkan usianya sekitar 3 tahunan. Anak itu tengah memegang ujung baju Ibunya. Melihat mereka, seketika mengingatkan pada Ayu dan anak-anak di rumah, ditambah lagi daster yang dipakai wanita itu, model dan motifnya sama seperti Ayu. Aku masih merasa harus bertanggung jawab. Mobil mulai menepi, lalu perlahan berjalan ke arah mereka. Penampilan wanita itu sedikit acak-acakan. Bajunya lusuh juga rambut yang dibiarkan berantakan. Anak-anaknya pun tak jauh berbeda, yang membuat miris anak yang digendong wanita itu, kuperkirakan umurnya tak jauh berbeda dengan bungsuku, 1 tahunan. Dia tengah menghisap ASI langsung pada ibunya. Dengan secepat kilat kuputar kepala, memalingkan wajah dari wanita itu. Hati ini mendadak nyeri melihat pemandangan itu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu berjalan tanpa payung dan topi di bawah terik sinar mentari yang begitu menyengat? Aku khawatir kalau mungkin bayi itu dehidrasi. Kepalanya hanya ditutupi ujung kain jarik tipis tentu saja tak banyak membantu. Panas matahari bisa langsung menembus kulit walau pun sudah jam 3 siang, cuaca di sini masih sangat panas.

“Mbak, mau ke mana ? Yuk saya antar ya, kasihan dedeknya kepanasan.”

Wanita itu hanya diam.

“Adek jangan takut ya, Om gak akan nyulik kok, Adek mau ya naik mobil! Om antar pulang.” Aku mencoba membujuk anak laki-laki yang hampir kutabrak tadi, karena di antara ke tiga anaknya, dialah yang paling besar. Dia pun hanya diam, tapi kemudian menarik tangan ibunya seperti tengah mencoba berkomunikasi. Tak lama kemudian kami pun masuk ke dalam mobil, kuberikan minum dan camilan yang memang sengaja kubeli untuk bekal liburan nanti. Raut mereka begitu bahagia berbeda dengan ibunya yang hanya murung dan lebih banyak melamun.

“Mbak pulangnya ke arah mana?” tanyaku, saat kami tengah berada di dalam mobil. Wanita itu lagi-lagi bungkam. Ya Tuhan aku bisa gila.

‘Aku salah apa Mbak ? Cukup Ayu saja yang mendiamkanku, Mbak kenapa ikut-ikutan.’

“Adek kamu namanya siapa?” Aku menyerah pada wanita itu, hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada anak-anaknya saja.

“Ilham Om,” ucap nya, kenapa namanya harus sama. Mungkin hanya kebetulan.

“Pulangnya ke arah mana Ham, Om bingung nih belok kanan apa kiri?”

“Kiri Om!” Ilham terus menunjukkan jalan pulang aku hanya mengikuti sesuai arahannya, tapi ada yang aneh. Seingatku sudah dua kali memutari jalan tapi kenapa malah kembali lewat sini.

“Ham kok lewat sini lagi?”

“Aku gak tahu Om, aku lupa,” jawabnya, yang justru membuatku sedikit jengkel.

Astaghfirrullahaladzim, Sabar Andi Sabar. Kuhela nafas pelan, mencoba menenangkan diri yang mulai tersulut emosi. Wajar anak sekecil itu tidak tahu jalan pulang, mungkin bisa jadi dia baru pertama lewat sini.

“Hehehe hehehe heheheh.” Tiba-tiba ibunya ilham tertawa sendiri.

“Astaghfirrullahaladzim, Kenapa Mbak?”

“Hehe hhehe hehehe.” Aku menghentikan laju mobil, kulihat wanita itu masih saja tertawa sedang anak-anak mereka malah melempar pandang padaku. Sesekali mereka tampak saling sikut, seolah menyuruh menjelaskan sesuatu tapi mungkin takut. Hari sudah mulai gelap terdengar azan maghrib berkumandang, dalam situasi seperti ini, di tengah persawahan, penerangan yang ala kadarnya, juga suara perempuan ini yang terus tertawa seperti orang kerasukan, sungguh membuat merinding sekujur badan.

“Mamahku gila Om,” celetuk anak perempuan tiga tahun.

“Hah?” Aku tak percaya, kutatap Ibunya Ilham itu sekali lagi.

“Hehehehehe.”

‘Sial! Dia malah tertawa lagi.’

“Astaghfirrullahaladzim, ya Allah. Huh”

Aku membuang nafas, kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan.

Aku terus beristigfar mencoba menenangkan pikiran, setelah mendengar ucapan anak perempuan itu, dari penampilannya memang terlihat acak-acakan tapi logikaku kembali menolak untuk percaya kalau ibu ini ODGJ. Mungkin hanya sedang banyak pikiran, tapi melihat Ilham terlihat murung dengan wajah tertunduk, memaksaku untuk percaya, mungkin Ilham ingin berbicara tapi dia takut kalau aku akan menurunkannya di jalan. Sejenak aku terdiam kutatap wajah anak-anak itu bergantian, ada raut ketakutan di wajah mereka. Hanya si bungsu yang sesekali terlihat ikut tertawa bersama ibunya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma
8.3
Masa lalu Adel kelam akibat kekerasan ayahnya, menyisakan trauma mendalam meski sang ibu selalu mendukung. Di sekolah, ia merasa terasing saat sahabatnya, Dara, mulai menjauh demi Farhan. Hubungan asmara Adel dengan Vero pun penuh kekecewaan, memaksanya mempertanyakan kesempatan kedua. Demi pulih, Adel memilih mengikuti pelatihan di Surabaya untuk menata masa depan. Di tengah luka dan bayang-bayang masa lalu, mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Bangkit dari Kematian Palsuku
8.7
Sepuluh tahun pernikahan dikhianati saat Mahendra berselingkuh dengan Kiana. Setelah disiksa hingga cacat permanen akibat ulah mereka, aku dibiarkan sekarat dalam kecelakaan tragis. Dibantu Prakoso, aku memalsukan kematian di sebuah kebakaran demi memulai hidup baru sebagai pelatih balap legendaris di luar negeri. Tiga tahun berlalu, aku telah sukses dan berada di puncak karier. Tiba-tiba, Mahendra muncul dengan penuh penyesalan dan memohon kesempatan kedua.
Sampul Novel Can't Be Us
8.9
Bara Danendra beruntung memiliki kekasih sesempurna Tiffany Amora. Namun, Bara menyimpan rahasia kelam akibat kontrak ketat dengan kawan-kawannya yang melarang hubungan asmara terendus media. Frustrasi dengan aturan itu, Bara justru melampiaskannya dengan banyak wanita lain, meski ia tetap menjaga kesucian Tiffany sebagai malaikatnya. Setelah tujuh tahun bertahan dalam rindu dan pengkhianatan yang menyayat hati, Tiffany akhirnya memilih pergi karena trauma mendalam.
Sampul Novel Ceo itu ayah anakku
9.1
Queen Azalea berusaha keras melupakan Sean Alexander, pria masa lalu yang menolak putri mereka karena takut memikul tanggung jawab. Namun, takdir mempertemukan kembali sang CEO dominan itu dengan Queen. Saat Sean tak sengaja bertemu Lilly, ia merasakan ikatan batin yang kuat. Di tengah pengejaran Sean, rahasia pilu terungkap: Lilly mengidap kanker darah. Sean pun memohon kesempatan untuk menebus kesalahan dan menjadi ayah sejati di sisa waktu berharga putri kecilnya.
Sampul Novel Gairah Liar Pria Introvert
9.0
Kisah ini menyajikan perpaduan unik antara ketegangan yang mencekam dan bumbu komedi yang mengocok perut. Di tengah jalinan romansa yang memikat, terselip unsur mistis yang menambah kedalaman misteri dalam alurnya. Pembaca akan dibawa menyelami petualangan emosional yang tak terduga, di mana setiap rahasia perlahan terungkap. Sesuai judulnya, narasi ini mengeksplorasi sisi lain pria introvert yang penuh gairah dalam balutan atmosfer modern yang sangat intens.
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Kehidupan Gerry berubah total sejak pertemuannya dengan seorang janda kaya raya. Tanpa diduga, pernikahan mereka justru menjadi pembuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam dari masa lalu Gerry yang selama ini tersembunyi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri identitas aslinya mulai terkuak ke permukaan, membawa konflik yang tak terbayangkan dalam hubungan rumah tangga mereka yang penuh kemewahan namun menyimpan banyak teka-teki.