
Dia Canduku
Bab 3
"Eh, jangan dong! Kalau aku dipecat sekarang bagaimana dengan nasib calon istriku kelak?" tanya Joe cengar-cengir.
"Terserahmu! Itu bukan urusanku! Toh, calon yang kamu bangga-banggakan itu belum tampak di dunia," balas Raka kesal. Dia terus mengusap keningnya. Sepertinya, nanti keningnya akan benjol karena benturannya sangat kuat.
"Hehe. Ini semua terjadi juga gara-gara aku terlalu asik memandangi kamu yang sedari tadi senyam-senyum melulu di belakang. Kamu itu kenapa sih? Apa kejadian semalam meninggalkan kesan yang waw di kepalamu?" terka Joe terkekeh geli. Menurutnya hanya kejadian itu yang pantas dijadikan alasan kenapa Raka seperti orang gila.
"Hey, mana mungkin aku mengingat kejadian semalam itu! Aku senyam-senyum karena tidak sabar ingin bertemu dengan istriku," kilah Raka tidak terima. Padahal yang diucapkan Joe benar adanya. Setiap dia berdiam diri, pasti ingatannya diisi adegan panasnya itu.
"Kok, aku nggak yakin, sih? Seingatku, kamu tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya pada Anita. Setiap kamu bepergian keluar kota … jangankan untuk mengingat Anita … menghubunginya saja kamu tidak pernah. Pastilah Anita yang sibuk menghubungi kamu duluan," jelas Joe mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Astaga ini orang memang minta dikasih surat peringatan agar lebih sopan lagi dengan atasan," sewot Raka kesal.
"Huh, beraninya mengancam mulu untuk menutupi image-nya agar tidak jatuh di depanku. Padahal apa yang dituduhkan bawahannya ini fakta bukan opini semata," ucap Joe segera melajukan mobilnya lagi setelah oranh itu berhasil menyebrangi jalan.
Raka tak menggubrisnya lagi. Dia diam saja karena malas harus berdebat panjang sama Joe. Toh, memang benar yang dituduhkan Joe tersebut.
Kini mobil mereka sudah sampai di rumah Raka. Di teras rumah terlihat Anita tengah berdiri sambil menyunggingkan bibirnya menyambut kedatangan sang suami. Mereka berdua segera turun dari mobil lalu menghampiri Anita. Hal itu dimanfaatkan Joe kembali untuk meledeki bosnya di depan sang istri.
"Wah, sepertinya siang ini akan ada adegan panas di rumah. Sebaiknya, aku langsung pamit saja," ledek Joe tersenyum genit.
Raka langsung melebarkan matanya mendengar celotehan Joe yang lagi-lagi menyindirnya. Dia diam saja karena malas berdebat lagi dengan Joe.
Berbeda dengan Anita, dia malah langsung menanggapinya.
"Ah, kamu ini bisa saja Joe. Mas Raka, pasti masih lelah karena habis melakukan perjalanan jauh. Jadi, nggak mungkin dia sempat memikirkan hal itu," jelas Anita terkekeh geli.
"Hem, untuk kali ini dia tidak lelah kok. Dia malah melamun saja sambil senyam-senyum sendiri mikirin Bu Bos tadi selama di perjalanan," jelas Joe sesuai alasan Raka tadi.
"Ck, bocah tengil ini memang sengaja cari gara-gara sama aku. Awas saja dia. Bulan ini tidak akan ada bonus untuknya," umpat kesal Raka dalam hati. Dia menatap sinis Joe.
"Hah, masa sih? Apa benar Mas yang diucapkan Joe itu?" tanya Anita tertegun saat melihat tatapan sinis suaminya terhadap Joe.
"Kamu kenapa, Mas? Kok, menatap Joe sesinis itu? Apa ucapan Joe memang hanya bualan saja agar aku senang?" tanya Anita tersenyum.
"Iya, dia itu hanya membual saja untuk menghilangkan defresi akibat tak kunjung menemukan calon istri sesuai kategori impiannya," jelas Raka merangkul bahu istrinya. Sekarang dia tak sinis lagi. Bibirnya melengkung ke atas menandakan dia bisa membalas ganti Joe.
"Hey, aku bisa menunjukkan buktinya jika Bu Bos ingin tahu kebenarannya," saran Joe mengedip-ngedipkan matanya.
Dia lupa bahwa obrolan mereka bukan hanya membahas soal kilahan Raka. Namun, menyebar ke mana-mana. Jika Anita sampai melihat rekaman hasil kamera tersembunyi di mobil Joe. Yang ada rahasia Raka akan terbongkar.
Anita yang penasaran langsung melepaskan rangkulan Raka.
"Ayo cepat tunjukan padaku," ajak Anita semangat.
Dia segera melangkah duluan mendekati mobil Joe. Sementara Joe langsung tersenyum mengejek Raka. Lalu, bergegas mengekori langkah Anita.
Raka langsung melebarkan matanya. Dia mengingat semua obrolannya bersama Joe di dalam mobil.
"Ini gawat sekali kalau Anita sampai mendengar obrolanku sama Joe. Dasar anak buah tidak bermutu. Kalau bertindak suka gegabah," batin Raka segera mengejar mereka sebelum terlambat. Soalnya, Joe dan Anita sudah membuka pintu mobilnya.
"Tunggu!" teriak Raka cemas.
Mereka berdua mengurungkan niatnya masuk. Mereka segera menatap ke arah Raka yang terlihat begitu panik.
"Ada apa lagi, Mas? Apa Mas malu kalau aku sampai melihat ekspresi Mas saat melamuni aku?" tanya Anita tersenyum geli.
"Tidak sama sekali. Baiklah, aku membenarkan ucapan Joe tadi soal aku. Ayo lebih baik kita masuk ke dalam. Soalnya, Joe masih ada tugas penting juga," jelas Raka masih begitu panik.
"Hem, sikap Mas ini malah semakin membuat jiwa penasaranku meronta-ronta. Jadi, sebaiknya, aku tengok dulu hasil rekaman CC TV-nya buat hiburan. Ayo Joe cepat tunjukkan," ajak Anita semangat sekali. Dia segera masuk ke dalam.
Sementara, Joe masih bingung melihat wajah panik Raka. Dia langsung menerka-nerka apa yang membuat Raka begitu tak ingin istrinya melihat hasil rekaman CC TV di mobilnya. Tangan Raka langsung memberi kode ke arah bibirnya berharap Joe segera mengingat semua pembahasan mereka tadi selama di mobil.
"Astaga, bodoh sekali aku ini. Jika sampai Anita melihatnya … yang ada nanti semua rahasia akan terbongkar soal kejadian semalam," gumam Joe dalam hati ketika ingatannya kembali soal perbincangannya di dalam mobil tadi.
Dia langsung membuat alasan agar Anita tidak jadi melihatnya.
"Aduh, maaf, Bu Bos." Ekspresi wajahnya dibuat semenyesal mungkin untuk meyakinkan Anita.
"Maaf, kenapa?" tanya Anita bingung.
"Aduh, aku lupa kalau CC TV-nya masih rusak. Terlalu sibuk sama kerjaan di kantor membuatku lupa memperbaikinya lagi," jelas Joe meringis malu.
"Hem, kamu ini bikin mod-ku memburuk saja." Anita mengerucutkan bibirnya. Lalu, segera keluar dari mobil Joe. Dia mendekati Raka dan menggandeng lengan Raka.
"Ayo Mas, kita masuk sekarang," ajak Anita tersenyum manis.
"Yuk!" Gandeng Raka tersenyum. Mereka segera melangkah masuk ke dalam rumah.
Sementara Joe langsung menghela napas dan mengelus dadanya.
"Huh, hampir saja semuanya terbongkar gara-gara kelalaianku," gumam Joe menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah itu, dia memutuskan untuk naik ke dalam mobil dan pergi dari rumah Raka.
Kini Raka dan Anita sudah berada di dalam kamar. Seperti biasa Anita selalu memberikan pelayanan terbaiknya sebagai seorang istri. Tangannya dengan telaten membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Raka. Lalu, pelan-pelan melepasnya dari tubuh sang suami. Bibir Raka terus melengkung ke atas menikmati semua perhatian sang istri. Aksi Anita berhenti seketika. Matanya menyipit saat melihat tanda merah di bahu sang suami.
"Mas, ini kena apa? Kok, bisa merah?" tanya Anita bingung.
Anda Mungkin Juga Suka





