
Dia Bukan Milikku
Bab 2
“Serda Resti anaknya Kolonel Teguh sudah menikah?”
“Sudah, mungkin sekitar enam bulan yang lalu. Kalau gak salah Serda Resti itu baru sembuh, kemarin mabuk hamil muda. Baru minggu kemarin beliau aktif dinas lagi.”
Aku menghembuskan nafas kasar, kecewa ini sudah sampai di ubun-ubun.
Resti, kenapa kamu tega menikah dengan orang lain tanpa memberi tau aku, kenapa kamu menitipkan salam untuk kedua orang tuaku, kenapa kamu menjemputku ketika aku baru datang, kenapa kamu memberiku harapan, kenapa ….
Tak apalah hatiku hancur, tapi kau juga telah menghancurkan harapan kedua orang tuaku.
Apa yang harus aku sampaikan pada bapak dan ibu, bapak dan ibu tak pernah memaksaku untuk mengikuti kemauan mereka, apa yang aku pilih mereka memberikan restu. Resti sungguh mencoreng kepercayaan bapak dan ibu padaku.
Suara sirine apel pagi memanggil semua prajurit untuk berkumpul di lapangan. Komandan Pangkalan Utama TNI AL V mengisi apel pagi hari ini. Langit cerah namun tidak dengan hatiku. Selesai apel aku hanya berjalan lesu ke arah kantor yang sudah lama aku tinggalkan.
“Selamat pagi, Letnan!” Resti memberi hormat padaku lengkap dengan senyum manisnya yang kini terasa hambar.
Aku membalas hormatnya, “Selamat pagi, Sersan.”
“Mas, aku bawa puding choco lava lho, kita makan di kursi itu yuk!”
Kami berjalan beriringan menuju kursi yang dimaksud Resti. Apa jadinya kalau Kolonel Teguh melihatku dengan anaknya yang telah menikah duduk di pinggir lapangan berduaan. Terima kasih Resti, kamu telah membuatku sakit hati dan terjerumus dalam permainanmu yang berbahaya.
“Coba deh, aku buatnya kemarin. Sekarang sudah dingin, enak pa gak?”
Resti memberikan dessert box padaku, “Hem, kayanya enak nih.” Aku hanya menatap kosong ke arah box yang terdapat choco chip di tiap lelehan coklatnya.
Aku menyendok beberapa kali, namun rasanya sulit untuk tertelan.
“Resti, kamu sudah menikah. Kenapa masih mendekatiku?”
Resti terlihat kaget, kemudian dia menunduk.
“Aku tak menyangka kamu tega melakukannya, aku sudah berjanji untuk menikahi selepas dinas dr Lebanon. Kamu juga telah berjanji untuk menungguku. Kenapa kau khianatiku? Aku juga tak tahu bakalan tugas lebih dari setahun disana, kamu juga seorang prajurit, jadi seharusnya tahu panggilan negara untuk bertugas. Tak ada yang menginginkan tugas melebihi waktu yang ditentukan. Untuk tiga puluh bulan saja kamu gak sanggup menungguku.” Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
“Kenapa Jum’at yang lalu kenapa kamu menemuiku dengan sejuta harapan? Kenapa kamu menitipkan salam untuk kedua orang tuaku? Asal kamu tahu saja, kemarin aku sudah minta izin pada bapak dan ibuku untuk menikahimu. Sekarang kamu telah memberikan harapan palsu padaku dan mematahkan harapan kedua orang tuaku. Untuk apa? Untuk apa kamu dekati aku lagi? Untuk apa kamu berikan perhatian ini padaku?” Aku segera menghabiskan dessert yang diberikan Resti.
“Terima kasih untuk ini.” aku menyerahkan box kosong yang telah kuhabiskan.
“Terima kasih untuk kekecewaan yang telah kau torehkan. Berbakti dan setialah pada suamimu. Tolong jangan dekati aku atau lelaki manapun selain suamimu.”
Aku berdiri, meninggalkan Resti yang mulai menangis, “Mas, aku bisa jelaskan semuanya.” Resti berusaha menggenggam tanganku
“Aku tak perlu penjelasanmu. Aku masih menghormatimu, terlebih orang tuamu sebagai komandanku. Jadi tolong, jauhi aku. Jangan temui aku lagi!” Aku melepaskan tangan Resti yang masih menggunakan gelang pemberianku kemarin lalu meninggalkannya.
Di kejauhan aku melihat pak Diman memperhatikan kami, aku mendekatinya namun dia menjauh. Aku memanggilnya, dia menoleh dan tampak ketakutan, ”pak, terima kasih infonya tadi. Kalau pak Diman gak ngasih tahu saya, mungkin saya akan dihukum Kolonel Teguh karena ngedeketin anaknya yang sudah bersuami.” ucapku sambil tersenyum dan merangkul pak Diman dari sisi sampingnya. “Letnan, mau ngopi?” tanya pak Diman seraya tersenyum.
“Ya, bolehlah kopi hitam. Agak manis dikit ya, Pak. Kenyataan pagi ini sudah terlalu pahit untuk saya!” senyumku dibalas anggukan kepala Pak Diman yang menjauh.
Masuk ke dalam ruangan tampak ramai, “lah ini orangnya, panjang umur.”
“Ada apa ya?”
“Erwin mau nikah bulan depan, trus Ritonga minggu depannya, kita persiapan latihan pedang pora.”
“Wah, selamat ya. Kok dadakan banget?”
“Persiapan sudah dari lima bulan yang lalu, pas kebetulan kamu baru datang ya ikut regu pedang pora sekalian aja.”
“Siap, laksanakan!”
“Awakmu kapan, Mam?”
“Abis Hendrik ajalah.”
“Hendrik baru lamaran minggu lalu, kamu lamaran aja belum lho!”
“Ditungguin anaknya komandan, malah betah di Lebanon. Tak kira gak pulang, mau jadi orang Lebanon.”
“Apa cinlok sama orang Lebanon, Mam?”
Tawa teman-teman seruangan membuatku lupa dengan peristiwa tadi pagi.
“Suryo kapan nikah nih? Jangan jadi juara bertahan kaya Imam lho!”
“Aku dapat panggilan seleksi taifib, siapa mau ikut barengan tesnya?”
“Aku ya sebenernya pengen jadi korps taifib tapi dah terlanjur ngelamar anak orang, kalau ditinggal takut sedih.”
Tawa kembali pecah di ruangan, “Yang sedih kamu apa calon istrimu?”
Ha … ha … ha ….
Inilah Indonesiaku yang kurindukan selama tiga puluh bulan di Lebanon.
***
“Letnan, Kolonel Teguh minta ditemani golf besok Sabtu.” Pesan Pak Diman padaku, Suryo yang terlihat sibuk mengumpulkan berkas menatapku seraya mengangkat dagu seolah bertanya.
“Siap, Pak. Tolong katakan pada Kolonel Teguh bahwa saya bersedia. Terima kasih.”
Setelah pak Diman pergi, Suryo mendekatiku. “Kolonel Teguh kok tiba-tiba ngajak golf. Ada maunya pasti.” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.
“Apa dia mau minta maaf atas nama Resti?”
“Entahlah, sepertinya aku ingin bergabung bersamamu di korps taifib. Apa saja berkasnya?”
“Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.”
“Aku gak bisa menghindar dari Resti dan Kolonel Teguh jika masih berada disini. Jalanku masih panjang, masih banyak yang bisa kuraih, tidak melulu dengan keluarga itu.”
“Ini list yang harus kamu siapkan, semoga pilihanmu tidak salah. Ayo kita latihan.”
Semua berkas kelengkapan seleksi prajurit intai amfibi korps marinir telah aku penuhi, bahkan aku lebih awal daripada Suryo. Mulai Senin besok seleksi akan dilaksanakan, persiapan fisik dan mental aku lakukan bersama teman seperjuangan. Sebisa mungkin melupakan semua kisah manis bersama Resti hingga hari Sabtu yang dinantikan, yaitu menemani mantan calon mertua golf. Cih, rasanya aku benci sekali.
Pukul tujuh aku sudah siap di padang golf yang dimaksud, dari kejauhan terlihat mobil komandan mendekat. Beliau turun bersama seorang yang tak kukenal.
Ketika mendekat, aku memberikan hormat padanya, “Selamat pagi, Kolonel.”
Kolonel Teguh membalas hormatku, “Selamat pagi, Letnan. Perkenalkan ini menantu saya, Irvan namanya.”
Aku tersentak, lalu segera menyalaminya, “Saya Imam.”
“Tolong bawakan golf bag saya.” Kolonel Teguh berjalan menuju mobil golf. Kemudian mereka duduk di kursi belakang, aku yang membawa peralatan golf Kolonel berusaha meredam kemarahan. Karena mereka duduk dibelakang, berarti aku yang menjadi supirnya.
Aku hanya diam mendengarkan obrolan mertua dan menantu itu sepanjang permainan hingga Irvan memberikan sticknya padaku, “Mas Imam ikutan pukul bola dong. Masa cuma jadi penonton aja.”
“Boleh,” aku menerima sticknya, kudengar Kolonel Teguh sedang menerima telpon.
Pukulanku membuat bola kecil itu melayang sangat jauh.
“Santai aja bro, pukulnya jangan pakai emosi.” Suara Kolonel Teguh penuh penekanan. Irvan tertawa geli. Aku cuma bisa tersenyum pahit.
“Tolong temani Ibu berbelanja, dia menunggu di pinggir lapangan. Biar Irvan yang menemani saya golf.”
“Siap, Ndan.”
Ah, apalagi ini. Kemarin minta ditemani golf, ternyata ada menantunya yang menemani. Sekarang istrinya minta ditemani belanja. Apa ibu komandan belanja bersama Resti, aku disuruh menemani? Resti bisa bawa mobil sendiri, supirnya juga ada, ya tuhan cobaan apa ini.
Anda Mungkin Juga Suka





