Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku

Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Santai aja bro, pukulnya jangan pakai emosi.” Suara Kolonel Teguh penuh penekanan. Irvan tertawa geli. Aku cuma bisa tersenyum pahit.

“Tolong temani Ibu berbelanja, dia menunggu di pinggir lapangan. Biar Irvan yang menemani saya golf.”

“Siap, Ndan.”

Ah, apalagi ini. Kemarin minta ditemani golf, ternyata ada menantunya yang menemani. Sekarang istrinya minta ditemani belanja. Apa ibu komandan belanja bersama Resti, aku disuruh menemani? Resti bisa bawa mobil sendiri, supirnya juga ada, ya tuhan cobaan apa ini.

Aku pergi dengan memberi hormat pada Kolonel Teguh tanpa sepatah katapun, pada Irvan pun aku tak berpamitan. Aku tak peduli dengan mereka yang seolah mempermainkan harga diriku. Aku tak tahu, apakah Irvan tahu bahwa Resti pernah jadi kekasihku. Aku tak mau tahu.

“Belum berkeringat ya? Tolong temani ibu belanja ya, Mam.” Bu kolonel menyalamiku lalu memberikan kunci mobil. “Mari, silahkan.” Aku berusaha seramah mungkin.

Ketika aku sudah duduk dibelakang kemudi, ternyata bu kolonel berdiri di luar, di depan pintu kiri. Ya tuhan, dia minta dibukakan pintu, aku turun lagi membukakan pintu untuknya. Fix, keluarga ini sangat menyebalkan. Dari sini aku sedikit bersyukur karena batal menjadi menantu dari keluarga itu.

“Tolong antarkan ke Gubeng ya, saya mau beli tas. Nanti kalau sudah dekat saya tunjukkan tokonya.”

“Siap.”

Ketika telah sampai di toko yang dimaksud, bu kolonel memberikan beberapa lembar uang padaku. “Nanti kami yang bayar, gak baik jika seorang perempuan berbelanja diantar oleh ajudan bayar sendiri. Jadi kamu yang pegang uangnya.”

“Siap, Bu. Boleh saya hitung dulu uangnya?”

“Iya, coba dihitung dulu. Jangan sampai kurang nanti di dalam.”

Aku menghitung lembaran merah yang diberikan ibu komandan.

“Dua juta tujuh ratus ribu.”

“Ini ditambah lagi biar pas tiga juta.” Aku menerima uang tambahan yang diberikan ibu komandan lalu menyimpannya dan mematikan mesin mobil, lalu keluar. Dan …. ternyata ibu komandan masih duduk manis di dalam mobil menunggu aku membukakan pintu. Benar-benar meraja sekali keluarga mereka. Seingat aku dulu, Resti tak pernah seperti ini.

Dua jam sudah aku menemani bu komandan berkeliling toko besar ini, bosan? Pasti itu. Sebenarnya tas apa yang yang dicari, aku juga tak tahu. Mulai dari tas kecil, tas besar, tas murah, tas mahal semua dipegang tapi tak dipilih. Setiap bu komandan bertanya padaku, mana tas yang bagus untuknya, ya aku bilang bagus semua. Eh, dia malah marah, “Ibu serius bertanya lho, mana tas yang bagus. Semua tas kamu bilang bagus. Koper ini juga bagus gitu ya?” ucapnya sambil berbalik memilih lagi. Kalau tahu begini, lebih baik aku tunggu di luar saja.

Kurasa semua sudut toko besar ini sudah ditelusuri, namun belum ada satupun yang cocok dihati bu komandan. “Coba kamu pilihkan tas yang bagus untuk ibu. Ibu ingin tahu seleramu.” Aku hanya tersenyum, aku cuma suka sama ransel. Memangnya ibu mau tas yang aku pilihkan, hmm.

“Biasanya kalau wanita suka pakai tas mengikuti warna bajunya, tapi menurut saya boros. Warna yang cocok dengan semua baju menurut saya putih. Mungkin ini bu, warnanya putih suci, ditambah taburan mutiara. Sangat elegan jika ibu yang memakainya.” Ucapku berusaha sesantai mungkin sambil menyerahkan tas itu ke bu komandan.

“Boleh juga seleramu.” ucapnya sambil bergaya didepan kaca menggunakan tas itu. Apakah Resti sama seperti ibunya dalam memilih suatu benda? Aku tak tahu, semoga tidak, tapi buat apa lagi memikirkan dia. Dia sudah punya suami yang selalu setia memikirkannya. Tapi apa mungkin suaminya seperhatian aku padanya. Sabtu gini, suaminya menemani bapaknya, ibunya aku yang menemani belanja, apa kerjaan dia di rumah. Ups, kenapa pikiranku sulit berpaling dari Resti. Padahal di latihan kemarin aku sudah bisa melupakannya.

“Kok melamun, ayo kita ke kasir. Ibu suka dengan pilihanmu ini.”

Ya tuhan, kan tadi sebelum aku pilihkan, ibu sudah beberapa kali memegang tas ini. Bisa stress kalau sering-sering nganter perempuan belanja nih.

“Tiga juta empat ratus delapan puluh sembilan ribu rupiah.” ucap kasir lalu membungkus tas itu. Wow, lebih dari uang yang diberikan bu komandan, untungnya aku membawa cadangan uang cash di dompet. Dalam keadaan seperti ini pasti bu komandan tidak akan mau mengeluarkan uangnya.

Setelah membayar, aku mengikutinya ke arah luar. Ah, akhirnya pulang juga.

Masih seperti di awal, bu komandan minta dibukakan pintu mobil selayaknya seorang ratu, dan aku sopirnya.

“Saya lapar, kita makan dulu ya!”

“Iya, Bu.”

Dompet kering nih, semoga cukup untuk bayar parkir. Mana ngajak makan lagi, semoga uang kekurangan yang tadi segera diganti.

“Makan dimana, Bu?”

“Kamu suka makanan apa?” ditanya malah balik bertanya, dasar perempuan.

“Kalau saya masih belum puas makan makanan Indonesia, Bu. Di Lebanon makanannya kurang cocok dengan lidah saya.”

“Gak cocok tapi kok lama banget disana, kayanya betah kamu disana.”

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, andai saja bisa memilih pasti aku juga gak mau berlama-lama disana, gak mau juga ditinggal nikah sama Resti.

“Kita cari makan di dekat sini aja ya, mana tempat makan yang nyaman dan enak rasanya?”

“Di sini saja, Bu.” Aku segera memarkirkan kendaraan sebelum bu komandan meminta sesuatu yang aneh.

“Kamu sudah pernah makan disini?”

“Dulu sudah pernah Bu, sotonya enak.” Aku mematikan mesin mobil dan bu komandan masih duduk manis dikursinya.

“Ehm, Bu. Maaf, uang saya sudah habis tadi untuk membayar tas. Nanti di dalam, mohon ibu,”

“Oh, iya. Berapa uangnya tadi yang terpakai?” bu komandan memotong ucapanku lalu mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Harga tasnya tiga juta empat ratus delapan puluh sembilan ribu rupiah. Uang ibu tadi tiga juta.”

Bu komandan memberikan beberapa lembar uang merah. “Coba dihitung.”

“Satu juta, Bu. Terlalu banyak lebihnya.”

“Ya, nanti kamu yang bayar di dalam. Ayo cepat keluar, saya sudah lapar.”

Kami makan bersama tanpa suara, tampaknya bu komandan sangat lapar. Seandainya status bu komandan adalah mertuaku, mungkin acara makan seperti ini gak terasa garing. Ah, Resti. Enyahlah dari pikiranku.

Setelah makan, bu komandan minta diantar pulang. Aku berharap tidak bertemu Resti. Sampai dirumahnya, aku membawakan tas yang tadi dibeli ke dalam rumahnya. Deg-degan ketika memasuki rumah sederhana ini. Aku duduk di kursi tamu lalu menyerahkan tas itu dan mengembalikan sisa uang bu komandan yang masih kupegang.

“Simpan tas itu. Saya minta tolong, berikan tas itu pada ibumu. Titip salam hormat untuk beliau. Katakan padanya kami mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang kami perbuat. Terima kasih untuk waktunya hari ini. Simpanlah uang sisa yang tadi. Saya senang sekali bisa ditemani orang hebat seperti kamu.”

“Oh, tidak usah bu. Tas ini terlalu mahal, cocoknya ibu yang memakai.”

“Tidak, ibumu juga pantas menggunakannya. Hari ini Sabtu, kamu pulang kan?”

“Tidak, Bu. Saya ingin mengikuti seleksi batalyon taifib, jadi kemungkinan tidak pulang ke kertosono. Mohon doa restunya.”

“Lho, bapak gak bilang kalau kamu mau ikut taifib.”

“Data sudah siap, saya tinggal mengikuti seleksinya.”

“Semua doa terbaik untukmu. Salam untuk ibumu ya, hanya ini yang dapat saya berikan padanya.”

“Terima kasih atas doanya, akan saya sampaikan tas dan salamnya pada ibu saya. Izin pamit. Permisi.”

Ada perasaan perih di dada, hanya tas ini yang dapat dia berikan pada ibuku, bukan putrinya, kenapa?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PGG" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PGG
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Pasca kematian tragis, Juwita Chou terbangun sebagai Sallyana Fedelian, putri bangsawan antagonis yang ditakdirkan mati muda. Meski Sallyana asli dikenal bengis dan agresif, Juwita bertekad mengubah nasib demi bertahan hidup. Ia harus menghadapi kewaspadaan lima tokoh utama pria sambil merusak alur cerita orisinal. Namun, seiring berjalannya waktu, Juwita mulai menyadari adanya rahasia takdir kelam yang menghubungkan dirinya dengan sosok Sallyana yang asli.
Sampul Novel Dewa perang jadi Pengawal Pribadi CEO
8.8
Setelah sekian lama pergi, sang jagoan tangguh bernama Xion akhirnya kembali dengan satu misi besar: menuntaskan segala dendam masa lalu dan membalas budi baik orang-orang yang pernah membantunya. Langkah pertamanya membawanya menjadi sosok pelindung di balik bayang-bayang seorang CEO wanita yang sangat cantik. Xion rela mengabdikan dirinya sebagai pengawal pribadi demi menjaga sang wanita, menghadapi rintangan berbahaya dalam dunia modern yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan demi menegakkan keadilan pribadinya.
Sampul Novel I'm The Beast
9.0
Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Nobel adalah dunia sihir yang menjadi medan perang antara manusia dan iblis. Saat populasi manusia melonjak, Raja Iblis menyebarkan virus mematikan. Indra, pemuda yatim piatu yang dibesarkan ras Triton, kehilangan desanya akibat monster terinfeksi. Ia berkelana melawan kegelapan bersama Aruna yang penuh rahasia dan Rai, pendekar yang ingin memulihkan kerajaannya. Akankah Indra mengungkap asal-usulnya dan menghentikan teror iblis dalam petualangan epik ini?
Sampul Novel Kembali Bangkit Hancurkan Para Pengkhianat
9.1
Sepuluh tahun lumpuh demi Gunawan, aku justru dikhianati. Tunanganku berselingkuh dengan Vivian, sementara adikku, Keenan, menutupi aksi busuk itu demi uang. Mereka mengira aku tetap tak berdaya, namun faktanya aku sudah pulih dan menyaksikan semuanya. Kini, tujuh tahun setelah menghilang, aku bangkit kembali sebagai Alena Kusuma. Dengan identitas investor kaya, aku siap menghancurkan hidup para pengkhianat yang telah menghancurkan masa laluku.
Sampul Novel PENDEKAR Sabda JAGAD
8.4
Jalu Sajiwo, seorang yatim piatu, memulai pengembaraan demi menuntut keadilan bagi keluarganya. Dahulu, Sekte Rajawali Emas sangat perkasa sebelum fitnah keji dari rival-rivalnya menghancurkan kejayaan mereka. Di masa kepemimpinan Ki Respati, ayah Jalu, sekte ini terus ditindas dan dihina. Kini, Jalu harus berjuang di tengah intrik, pengkhianatan, dan duel maut untuk membersihkan nama baik sekte serta membawa Rajawali Emas kembali ke puncak tertinggi dunia persilatan.