Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Di Bawah Langit London

Di Bawah Langit London

Karina, manajer hotel asal Indonesia, harus berangkat ke London demi memimpin renovasi properti keluarga. Di sana, ia berhadapan dengan Henry, arsitek Inggris berwatak keras kepala. Hubungan mereka kian rumit setelah terungkap bahwa Henry adalah pria yang dijodohkan dengannya. Meski awalnya bersikap dingin, benih cinta perlahan tumbuh di bawah langit London. Kini, mereka harus memilih antara mengikuti perasaan atau tunduk pada tuntutan besar keluarga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan paginya, Karina bangun dengan perasaan campur aduk. Dia merasa segar setelah beristirahat cukup, tetapi ada ketegangan yang terus membayanginya. Hari ini dia akan bertemu dengan tim renovasi dan memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin proyek. Ini bukan pertemuan biasa, dan Karina tahu bahwa sukses atau tidaknya proyek ini bergantung pada kemampuannya memimpin.

Karina berdiri di depan cermin, mengenakan blazer hitam yang elegan dengan sentuhan profesionalisme. Dia menata rambutnya rapi dan menatap bayangan dirinya di cermin dengan penuh keyakinan. Sebagai anak perempuan tertua keluarga Sutanto, tanggung jawab besar selalu ada di pundaknya, tetapi dia tidak pernah mundur. Karina sudah terlatih menghadapi situasi menantang, dan ini hanyalah satu lagi di antaranya.

Di ruang rapat utama hotel, Karina berjalan dengan percaya diri. Ruang rapat itu besar dan mewah, dengan jendela-jendela tinggi yang memperlihatkan pemandangan London yang megah. Di dalamnya sudah ada beberapa orang yang menunggu, termasuk James, manajer operasional, yang mengatur pertemuan ini. Beberapa anggota tim dari divisi keuangan dan manajemen hotel juga hadir, duduk di kursi mereka dan menatapnya ketika dia masuk.

Namun, yang menarik perhatian Karina adalah seorang pria tinggi dengan rambut cokelat yang berdiri di depan papan rencana proyek. Dia berbicara dengan seorang staf lain sambil memperlihatkan desain yang tergantung di papan tersebut. Pria itu memancarkan aura ketenangan dan percaya diri, seolah-olah dia sangat mengenal setiap detail ruangan ini. Karina segera tahu bahwa pria itu pasti Henry Whitmore, arsitek yang akan bekerja dengannya.

"Miss Sutanto, selamat datang," James menyambutnya dengan senyum hangat. "Ini adalah tim yang akan bekerja dengan Anda. Dan ini..." dia mengisyaratkan ke arah pria di depan papan proyek, "Henry Whitmore, arsitek utama yang bertanggung jawab atas renovasi hotel ini."

Henry menoleh saat namanya disebut, dan pandangan pertama mereka bertemu. Henry melangkah mendekat dengan tenang, lalu mengulurkan tangan. "Senang akhirnya bertemu dengan Anda, Miss Sutanto," katanya, dengan nada yang sopan tetapi terukur.

Karina tersenyum tipis dan menerima uluran tangannya. "Anda juga, Mr. Whitmore," jawabnya sambil mempertahankan tatapan profesional.

Pertemuan singkat ini sudah cukup untuk membuat Karina merasa sedikit tidak nyaman. Henry tampak begitu percaya diri, bahkan sedikit angkuh, meski sikapnya sopan. Namun, Karina tahu dia harus menjaga sikap profesional. Tidak ada ruang untuk emosi pribadi dalam proyek sebesar ini.

Setelah semua orang berkumpul, James memulai pertemuan. Dia memberikan pembukaan singkat, memperkenalkan Karina kepada tim dan menjelaskan bahwa dia akan mengambil alih kendali renovasi hotel ini.

"Miss Sutanto akan memimpin keseluruhan proyek ini dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana," ujar James. "Kami berharap Anda semua bisa bekerja sama dengan baik untuk mencapai hasil terbaik."

Karina mengangguk dengan anggun. "Terima kasih, James. Saya senang bisa bekerja dengan tim yang profesional seperti kalian semua. Renovasi ini adalah kesempatan besar untuk meningkatkan standar hotel kita, dan saya yakin kita bisa mencapai sesuatu yang luar biasa jika kita bekerja sama."

Setelah pembukaan singkat itu, Henry berdiri dan mengambil alih pembicaraan. "Saya telah menyiapkan beberapa konsep desain yang menurut saya akan sesuai dengan visi yang telah dibicarakan sebelumnya dengan manajemen," katanya sambil menunjuk ke arah desain yang tergantung di papan.

Henry mulai menjelaskan rencananya. Dia berbicara dengan jelas dan detail, menunjukkan pengalamannya sebagai arsitek yang telah banyak menangani proyek bangunan bersejarah. Konsepnya fokus pada menjaga keaslian struktur bangunan sambil menambahkan sentuhan modern yang akan membuat hotel ini lebih menarik bagi pelanggan kelas atas.

Namun, seiring Henry berbicara, Karina merasakan kegelisahan. Meskipun ide-idenya terdengar baik, Karina merasa beberapa elemen desain Henry terlalu berfokus pada estetika tanpa memperhitungkan sisi praktis operasional hotel. Selain itu, konsep renovasi Henry tampak terlalu mahal dan berlebihan. Karina menyadari bahwa pendekatan Henry mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan visi dan anggaran yang dia bayangkan.

Saat Henry selesai menjelaskan, Karina memutuskan untuk mengutarakan pendapatnya.

"Desain Anda sangat mengesankan, Mr. Whitmore," kata Karina dengan nada sopan namun tegas. "Namun, saya khawatir bahwa beberapa elemen ini mungkin tidak sesuai dengan anggaran dan tujuan operasional yang kami miliki. Saya pikir kita perlu mencari keseimbangan antara keindahan dan efisiensi."

Henry menatap Karina dengan satu alis terangkat, jelas tidak terbiasa dengan orang yang langsung memberikan kritik pada karyanya. "Saya mengerti kekhawatiran Anda, Miss Sutanto, tetapi proyek seperti ini membutuhkan investasi yang signifikan jika kita ingin menciptakan sesuatu yang luar biasa. Hotel ini perlu memiliki daya tarik visual yang kuat untuk bersaing dengan hotel-hotel mewah lainnya di London."

Karina menatap Henry tanpa gentar. "Saya setuju bahwa kita perlu menciptakan sesuatu yang unik, tetapi kita juga harus realistis. Renovasi ini harus memberikan hasil yang memuaskan tanpa mengorbankan efisiensi dan profitabilitas. Saya tidak ingin hotel ini hanya menjadi sebuah monumen arsitektur. Ini harus berfungsi dengan baik untuk tamu-tamu kita dan meningkatkan pengalaman mereka selama menginap."

Ruangan itu hening sejenak. Beberapa anggota tim tampak canggung, tetapi Karina tetap tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengannya dalam rapat bisnis. Dia tahu bahwa pertentangan ini bukan masalah pribadi, ini adalah bagian dari proses kerja.

Henry tersenyum tipis, tetapi senyumnya tidak sepenuhnya hangat. "Saya paham maksud Anda, Miss Sutanto. Namun, jika kita terus-menerus membatasi diri pada anggaran yang ketat, kita tidak akan pernah mencapai potensi penuh dari apa yang bisa dilakukan di hotel ini. Saya percaya bahwa dengan investasi yang lebih besar, kita bisa menarik tamu-tamu yang lebih elit dan meningkatkan reputasi hotel ini di pasar global."

Karina membalas senyum Henry dengan tatapan yang tegas. "Tentu saja, saya setuju bahwa kita harus berinvestasi dengan bijak. Namun, saya percaya bahwa keseimbangan adalah kuncinya. Saya ingin memastikan kita membuat keputusan yang cerdas, bukan hanya keputusan yang berani."

Pertukaran kata-kata antara mereka membuat atmosfer pertemuan menjadi tegang, tetapi Karina tidak mundur. Dia tahu bahwa Henry mungkin arsitek yang berpengalaman, tetapi dia tidak akan membiarkan seseorang, atau siapapun itu, meremehkan visinya atau kontrolnya atas proyek ini. Dia datang ke London untuk memimpin proyek ini, dan itulah yang akan dia lakukan.

James, yang tampaknya menyadari Ketegangan di antara mereka, segera melanjutkan pertemuan dan meminta tim untuk fokus pada logistik dan timeline proyek. Karina mendengarkan dengan seksama, mencatat hal-hal penting yang perlu segera ditangani. Namun, pikirannya masih tertuju pada Henry dan ketegangan di antara mereka. Dia tahu bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir yang akan diwarnai perbedaan pendapat.

Setelah pertemuan selesai, Karina berdiri untuk pergi, tetapi Henry mendekatinya sebelum dia sempat keluar dari Ruangan itu.

"Miss Sutanto," panggil Henry, suaranya tetap tenang. "Saya rasa kita memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai proyek ini, tetapi saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya menghargai kemampuan Anda sebagai pemimpin proyek, dan saya yakin kita bisa mencapai sesuatu yang hebat jika kita saling mendengarkan."

Karina menatap Henry sejenak, mencoba membaca apa yang ada di balik kata-katanya. Dia tidak yakin apakah Henry benar-benar tulus atau hanya bersikap diplomatis. "Tentu saja, Mr. Whitmore. Saya juga berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Namun, saya harap Anda mengerti bahwa tanggung jawab saya adalah memastikan proyek ini berjalan sesuai dengan visi yang saya yakini."

Henry mengangguk. "Saya paham. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya."

Karina meninggalkan ruang rapat dengan pikiran yang berputar. Dia tahu bahwa ini hanya awal dari hubungan profesional yang penuh tantangan dengan Henry. Mereka berdua sama-sama ambisius dan ingin melakukan yang terbaik, tetapi jelas bahwa mereka memiliki cara pandang yang berbeda.

Sambil berjalan kembali ke kamarnya, Karina memikirkan langkah selanjutnya. Dia harus menemukan cara untuk bekerja sama dengan Henry tanpa kehilangan kendali atas proyek ini. Dia tahu bahwa setiap keputusan yang dia buat akan diawasi dengan ketat, baik oleh keluarganya maupun oleh tim di London.

Karina tahu satu hal dengan pasti: dia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Henry Whitmore, menggoyahkan keyakinannya. Proyek ini adalah miliknya, dan dia akan memastikan itu berjalan sesuai dengan visi yang dia yakini, meskipun itu berarti harus menghadapi perlawanan dari arsitek terkenal di London ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Cinta Kedua
8.0
Kehilangan Clarissa akibat leukemia membuat Anton menutup hatinya selama dua tahun. Namun, pertemuannya dengan Luna, barista cerdas dan menawan, perlahan mengubah dunianya hingga ia kembali jatuh cinta. Sayangnya, hubungan mereka ditentang oleh Renata karena perbedaan usia dan status sosial. Renata justru menjodohkan Anton dengan Raisa yang dianggap lebih setara. Kini, Anton dan Luna harus berjuang keras demi mendapatkan restu di tengah tekanan keluarga.
Sampul Novel Gairah Panas Tuan Arion
9.5
Arion Harold dikenal sebagai casanova dingin yang menyembunyikan perasaan mendalam pada sekretaris pribadinya, Emily. Meski sering bersikap ketus, sebuah malam penuh gairah akhirnya mengungkap emosi terpendam mereka. Namun, hubungan sahabat masa kecil ini hancur seketika akibat situasi tak terduga. Emily yang terluka memilih menjauh demi melindungi hatinya. Mampukah Arion memenangkan kembali cinta Emily, ataukah pesonanya tak lagi cukup untuk memperbaiki keretakan itu?
Sampul Novel Ketika Suamiku Tak Mencintaiku Lagi
8.2
Setelah empat tahun terperangkap dalam kegelapan akibat kecelakaan tragis, Bella akhirnya menjalani prosedur pembukaan perban matanya. Di usia dua puluh tujuh tahun, harapan untuk kembali melihat dunia kini berada di depan mata. Sosok yang paling ingin ia temui adalah Galas, suami tercintanya. Namun, sukacita Bella seketika berubah menjadi tanda tanya besar saat menyadari bahwa sang suami justru menghilang secara misterius tepat di saat ia kembali melihat.
Sampul Novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
8.6
Selama tiga tahun, Bella mengubur impiannya demi pernikahan dingin dengan Laskar, pria yang menganggapnya tak berarti. Saat kebenaran terungkap bahwa dirinya hanya tameng medis bagi kekasih Laskar, Bella memilih bercerai dan pergi. Tiga tahun berlalu, ia kembali sebagai ahli bedah jenius dan pianis ternama. Laskar yang kini penuh penyesalan berusaha mengejar Bella di bawah hujan, memohon agar wanita yang dulu ia abaikan itu kembali menjadi miliknya.
Sampul Novel Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
8.9
Sembilan tahun mendampingi Rehan dan bersiap menuju gerbang pertunangan, sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit dalam novel modern ini. Saat hendak menjemput kekasihnya dari acara reuni, ia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam Rehan. Pria itu terang-terangan menyebutnya sebagai pengganti murah yang digunakan untuk meruntuhkan kepercayaan diri cinta pertamanya yang kini telah kembali. Sadar dirinya hanya pelampiasan rasa sepi, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk pergi.