Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DI ANTARA DUA HATI

DI ANTARA DUA HATI

Seorang wanita karier yang mapan kini berada di persimpangan emosi yang sulit. Kehadiran kembali sosok cinta dari masa lalunya memicu gejolak batin yang hebat, sementara di sisi lain, ada suami setia yang selalu mendampinginya. Ia harus berhadapan dengan dilema besar untuk menentukan pilihan hidupnya. Apakah ia akan mengejar memori indah yang sempat hilang atau tetap menjaga masa depan yang telah ia bangun dengan susah payah bersama pasangannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, seperti biasanya, Bayu sudah bangun lebih awal dari Alya. Aroma kopi yang ia buat meresap ke seluruh ruangan, menambah suasana hangat di apartemen mereka yang minimalis namun nyaman. Bayu selalu menjalankan rutinitas ini dengan penuh perhatian-menyiapkan sarapan sederhana sebelum Alya berangkat kerja, memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar di rumah.

Alya terbangun dengan kepala yang masih dipenuhi pikiran tentang Adrian. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mengusir bayangan pria itu, tapi sulit. Pertemuan mereka kemarin terus membayanginya. Padahal, di sebelahnya ada Bayu, suami yang selama ini setia dan selalu ada untuknya. Alya menghela napas, merasa bersalah karena membiarkan pikirannya dikuasai oleh seseorang dari masa lalunya, sementara pria yang mencintainya tanpa syarat ada di sini, hanya beberapa langkah darinya.

"Alya, sarapan sudah siap," seru Bayu dari dapur, suaranya tenang dan penuh perhatian seperti biasa.

Alya mengangguk, meskipun Bayu tak bisa melihatnya. Setelah beberapa menit lagi berbaring, ia bangkit dan menuju meja makan. Di sana, Bayu telah menyiapkan roti panggang dan secangkir teh untuk Alya, sedangkan ia sendiri duduk sambil menyeruput kopi.

"Terima kasih, Bayu. Kamu selalu tahu cara membuat hari-hariku dimulai dengan baik," kata Alya sambil tersenyum, meskipun hatinya terasa berat.

Bayu tersenyum balik, wajahnya yang tenang selalu berhasil memberikan rasa nyaman pada Alya. "Tentu saja, itu sudah tugasku sebagai suami yang baik, kan?" katanya bercanda, tapi tatapannya penuh kasih sayang.

Alya duduk dan mulai menyantap sarapannya, mencoba menikmati momen bersama Bayu tanpa terpengaruh oleh perasaan yang menghantuinya. Tapi, semakin ia melihat Bayu, semakin jelas perbedaan antara pria di hadapannya dan Adrian yang baru saja muncul kembali dalam hidupnya. Cinta yang ia miliki untuk Bayu terasa stabil, penuh rasa nyaman dan kedamaian. Bayu adalah rumah baginya-tempat ia kembali setelah semua kesibukan dunia luar. Tapi cinta untuk Adrian dulu berbeda. Itu cinta yang berapi-api, penuh gairah dan emosi yang menggebu-gebu. Kedua cinta itu terasa berbeda-dan kini, Alya mulai menyadari bahwa ada bagian dari dirinya yang merindukan cinta seperti yang ia rasakan untuk Adrian.

"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bayu tiba-tiba, memecah lamunan Alya. "Kamu kelihatan lebih diam dari biasanya."

Alya terkejut sejenak, tapi segera menguasai dirinya. "Enggak, aku cuma mikir soal kerjaan. Ada proyek besar yang bakal mulai minggu depan, jadi kepala rasanya penuh."

Bayu menatapnya dengan tatapan penuh pengertian, seperti biasa. "Kalau ada yang bisa aku bantu, jangan ragu buat cerita, ya. Aku tahu kamu hebat, tapi enggak ada salahnya berbagi beban."

Alya tersenyum lemah. Betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Bayu-pria yang selalu tahu kapan harus mendukung dan kapan harus membiarkan Alya berdiri sendiri. Tapi ada rasa bersalah yang menggerogotinya pelan-pelan. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan pria lain saat memiliki Bayu di sampingnya?

Setelah sarapan, Alya bergegas bersiap untuk pergi bekerja. Hari ini ia memiliki janji makan siang dengan Adrian. Jantungnya kembali berdebar memikirkan pertemuan itu, meskipun ia tahu bahwa tidak ada yang bisa terjadi. Ini hanya makan siang, hanya berbicara. Tidak lebih. Tapi mengapa hatinya tetap merasakan ketegangan yang tak terjelaskan?

Sebelum Alya keluar dari pintu, Bayu memeluknya sebentar. "Hati-hati di jalan, ya," ucapnya lembut. Alya membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang begitu familiar. Ini adalah Bayu-pria yang selalu menenangkan, suami yang tak pernah membuatnya merasa kekurangan cinta atau perhatian.

Namun, begitu ia berada di dalam mobil dan mulai menyetir ke kantor, pikirannya kembali terlempar pada perbedaan besar yang ia rasakan di antara dua cinta ini. Untuk Bayu, ada rasa aman, ada ketenangan, tapi mungkin cinta itu terlalu tenang. Sementara Adrian, meski sudah lama hilang dari hidupnya, selalu membawa semacam gemuruh yang membuat hatinya bergetar.

Di meja kantornya, Alya tidak bisa fokus. Pikirannya melayang pada pertemuan yang akan terjadi beberapa jam lagi. Adrian, dengan segala pesonanya yang tak pernah benar-benar hilang, sedang menunggunya. Bagaimana jika ia terbawa perasaan? Bagaimana jika perasaan lama yang pernah ia pendam selama ini kembali menyala lebih dari yang ia harapkan?

Waktu makan siang semakin mendekat, dan Alya merasakan debaran di dadanya semakin keras. Saat jam menunjukkan pukul 12.00, ia sudah berada di restoran tempat Adrian menunggunya. Ketika ia melangkah masuk, Adrian sudah duduk di meja di sudut ruangan, mengenakan setelan kasual namun tetap tampak elegan. Ketika mata mereka bertemu, sekelebat perasaan yang ia coba hindari sejak pertemuan kemarin kembali menghantamnya.

"Alya," Adrian menyapanya dengan senyuman yang sama hangatnya seperti dulu. "Terima kasih sudah datang."

Alya duduk di hadapannya, mencoba menjaga sikap profesional. "Tentu, Adrian. Aku hanya ingin tahu apa yang ingin kamu bicarakan."

Makan siang itu dimulai dengan percakapan ringan, berbicara tentang karier, kehidupan, dan hal-hal umum. Tapi semakin lama, semakin jelas bagi Alya bahwa Adrian masih menyimpan perasaan untuknya. Tatapan matanya, cara bicaranya, semuanya mengingatkan Alya pada masa lalu-masa ketika cinta mereka adalah segalanya.

"Aku tidak pernah benar-benar melupakanmu, Alya," kata Adrian tiba-tiba, menghentikan percakapan ringan mereka.

Alya terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Adrian, kita sudah lama berpisah. Banyak yang berubah. Aku sudah menikah, kamu tahu itu."

Adrian tersenyum tipis, sedikit pahit. "Iya, aku tahu. Tapi aku juga tahu kalau perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang, kan? Aku merasakannya kemarin, ketika kita bertemu. Dan aku yakin kamu juga merasakannya."

Alya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Apa yang Adrian katakan sebagian benar-perasaan itu memang ada, perasaan yang ia pikir sudah lama hilang. Tapi ada Bayu, suami yang begitu setia, yang selalu mendukungnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan hatinya goyah hanya karena masa lalu?

"Aku mencintai Bayu," kata Alya pelan, hampir seperti meyakinkan dirinya sendiri. "Dia suami yang baik, dan aku tidak ingin menyakiti dia."

Adrian menatapnya dalam-dalam. "Aku mengerti, Alya. Aku tidak ingin merusak kehidupanmu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa perasaanku hilang begitu saja."

Alya menggigit bibirnya, merasa terjebak di antara dua dunia-antara masa lalu yang tak pernah ia lupakan, dan masa kini yang telah ia bangun dengan cinta dan kerja keras bersama Bayu.

"Aku butuh waktu," akhirnya Alya berkata, suaranya terdengar hampir putus asa. Adrian hanya mengangguk, seolah mengerti bahwa Alya sedang bergulat dengan hatinya sendiri.

Saat makan siang selesai, Alya meninggalkan restoran dengan perasaan yang jauh lebih kacau daripada saat ia datang. Di satu sisi, ada Bayu yang setia dan selalu ada untuknya. Di sisi lain, ada Adrian, cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Dan di antara dua hati ini, Alya merasa terjebak-tak tahu harus memilih jalan mana yang harus ia tempuh.

Saat Alya melangkah keluar dari restoran, ia merasakan angin siang menerpa wajahnya. Hatinya masih berdebar tak menentu, seperti ada pertarungan di dalam dirinya yang belum bisa ia menangkan. Kata-kata Adrian tadi terus terngiang di kepalanya. Meskipun ia mencoba menepisnya, perasaan lama yang terpendam selama ini terus muncul ke permukaan, mengganggu pikirannya.

Saat menyetir kembali ke kantor, Alya tidak bisa berhenti memikirkan Adrian. Ada sesuatu dalam caranya berbicara, caranya menatap, yang mengingatkan Alya pada betapa dalam hubungan mereka dulu. Tapi, di sisi lain, ada Bayu. Bayu yang selalu ada, yang selalu mendukungnya, dan yang tak pernah membuatnya merasa kekurangan cinta. Bayu yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuknya, yang selalu memeluknya dengan hangat saat ia merasa lelah. Bagaimana mungkin ia bisa membandingkan keduanya?

Sesampainya di kantor, Alya mencoba untuk fokus bekerja. Tapi pikirannya tetap melayang. Adrian telah mengguncang dunianya hanya dengan beberapa kata. Di tengah pekerjaannya, handphone Alya bergetar. Ia melihat pesan masuk dari Adrian.

_"Aku tidak bermaksud membebanimu, Alya. Tapi aku ingin kamu tahu, aku akan selalu ada di sini jika kamu ingin bicara. Tentang apa pun."_

Alya memandang layar ponselnya lama, sebelum akhirnya ia meletakkannya tanpa membalas. Hatinya dipenuhi keraguan. Ia merasa bersalah, tidak hanya pada Bayu, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ia tahu, membiarkan Adrian masuk ke dalam hidupnya lagi bisa merusak semuanya-pernikahannya, dan hidup yang sudah ia bangun bersama Bayu.

Hari itu terasa begitu panjang, dan Alya tak sabar untuk pulang. Saat ia membuka pintu apartemen, Bayu sudah ada di sana, tersenyum seperti biasa.

"Heii, sudah pulang," kata Bayu dengan suara hangat yang selalu membuat Alya merasa tenang.

"Ya, akhirnya," jawab Alya sambil memaksakan senyum. Ia melepas sepatu dan jaketnya, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyamanan rumah mereka.

Bayu mendekat dan memeluknya dari belakang, seperti yang biasa ia lakukan. Alya terdiam sejenak, merasakan kehangatan tubuh Bayu, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pelukan itu masih sama, penuh cinta dan kasih sayang, tapi di dalam hati Alya ada jarak yang tak bisa ia abaikan.

"Aku sudah siapkan makan malam. Masakan sederhana saja, tapi aku yakin kamu akan suka," ujar Bayu, mencium lembut pundaknya.

Alya mengangguk, tapi pikirannya masih bercampur aduk. Selama makan malam, Bayu bercerita tentang harinya-tentang pekerjaan, tentang rekan-rekannya di kantor. Alya mendengarkan, mencoba terlibat dalam percakapan, tapi pikirannya melayang.

Di tengah makan, Bayu menatap Alya dengan serius. "Alya, kamu baik-baik saja? Aku perhatikan sejak pagi kamu kelihatan sedikit berbeda."

Alya terkejut, tak menyangka Bayu akan menyadarinya. Ia menatap suaminya, merasakan gelombang rasa bersalah yang kuat. Bayu, dengan segala kebaikan dan perhatiannya, tidak pantas mendapatkan ini-kebingungan dan keraguan yang Alya rasakan.

"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah," jawab Alya, mencoba menenangkan suaminya dengan senyuman kecil.

Namun, Bayu tetap menatapnya dengan khawatir. "Kalau ada yang mengganggumu, tolong ceritakan. Kamu tahu, aku selalu ada di sini buat kamu."

Kata-kata Bayu membuat Alya terdiam. Ia tahu, Bayu memang selalu ada. Tapi kenapa sekarang ia merasa begitu jauh dari suaminya? Apakah hanya karena pertemuannya dengan Adrian? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, yang selama ini ia abaikan?

Malam itu, saat mereka berbaring di tempat tidur, Bayu tidur dengan nyenyak di sampingnya, sementara Alya terjaga. Pikirannya terus dipenuhi oleh dua pria yang sama-sama memiliki tempat di hatinya. Di satu sisi, Bayu adalah tempat yang aman-pria yang selalu mendukungnya tanpa syarat. Tapi Adrian, meskipun bagian dari masa lalunya, adalah sosok yang mengguncang emosi Alya dengan cara yang tak bisa ia abaikan.

Alya menatap Bayu yang tertidur lelap di sampingnya. Dalam tidurnya, wajah Bayu terlihat damai, seperti orang yang tidak punya kekhawatiran. Ia teringat semua momen indah yang mereka lalui bersama-saat pertama kali bertemu, saat Bayu melamarnya, dan hari-hari sederhana yang mereka lewati dengan penuh cinta. Bayu adalah pria yang sempurna untuknya. Tapi kenapa sekarang hatinya begitu goyah?

Adrian memang membawa kembali perasaan-perasaan lama yang sempat terlupakan. Perasaan cinta yang penuh gairah, yang membuat hatinya berdebar kencang. Tapi apakah perasaan itu cukup untuk mengalahkan kenyamanan dan kedamaian yang ia temukan bersama Bayu?

Alya tahu, ia tak bisa terus begini. Ia harus membuat keputusan. Tapi bagaimana caranya memilih antara cinta lama yang menggetarkan dan cinta baru yang telah memberikan stabilitas dalam hidupnya?

Pikiran itu menghantui Alya sampai akhirnya ia tertidur dengan gelisah, menyadari bahwa di antara dua hati ini, tak ada pilihan yang mudah.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amarah Dan Cinta
9.5
Bagi Yasnina, mencintai Devan adalah berkah sekaligus luka karena cintanya tak pernah terbalas. Saat mendengar kabar pernikahan Devan, hatinya hancur berkeping-keping. Didorong amarah yang mendalam, Yasnina nekat menjebak pria itu dalam hubungan satu malam tepat sebelum hari pernikahannya. Akankah tindakan berisiko ini membuahkan cinta yang ia dambakan, atau justru membuat Devan semakin membencinya dan menjauh selamanya dari hidup Yasnina?
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Pasca kehilangan ibu dan kakaknya, Isabel menjalani hidup yang penuh duka. Beban sebagai Putri Mahkota terasa kian menyesakkan tanpa keluarga di sisinya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang terbiasa hidup mewah. Pertemuan tersebut memicu gairah membara di antara keduanya. Meski ketertarikan mereka begitu kuat, jalan menuju kebahagiaan terhalang rintangan besar. Mereka dipaksa berjuang melawan badai masalah yang mengancam hubungan tersebut.
Sampul Novel Gulai Daun Singkong Untuk Mertua
7.8
Nek Syam mengalami kepedihan mendalam setelah diusir oleh Jannah, putri kandungnya, hanya karena menginginkan gulai daun singkong. Merasa terhina di rumah sendiri, ia memilih pergi dan berlindung di kediaman putra bungsunya, Ahmad. Mengetahui perlakuan buruk sang kakak terhadap ibu mereka, Ahmad pun naik pitam. Ia langsung bertindak tegas dengan membawa bukti kepemilikan tanah dan balik mengusir Jannah dari rumah tersebut sebagai pembalasan.
Sampul Novel Istri Untuk Warisan
9.7
Malam perceraian yang dinanti Launa justru berujung pada penolakan keras dari suaminya. Meski tiga tahun pernikahan mereka terasa hambar dengan kebersamaan yang sangat singkat, sang suami enggan melepaskannya. Rahasia besar Launa akhirnya terbongkar saat suaminya mengetahui tentang kehamilannya yang disembunyikan. Ia bersikeras melarang Launa pergi untuk berjuang sendirian. Kini, pelarian Launa terhenti karena sang suami tak akan membiarkannya membawa calon buah hati mereka menjauh.
Sampul Novel Of Love Trilogy
8.9
Ayana Ranisya terjebak dalam penderitaan akibat utang suaminya, Ares Adiswara. Takdir membawanya bertemu Arga Arkhilendra, pengusaha sukses yang terikat pertunangan bisnis dengan Sheryl Claudia Wibowo. Insiden cinta satu malam mengubah segalanya, memicu perasaan tulus dalam hati Arga yang sebelumnya dingin. Di tengah komitmen formal demi kekuasaan, Arga kini harus memilih antara logika bisnis atau cintanya pada Ayana. Akankah Arga meninggalkan Sheryl demi mengejar kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Please, Jangan Panggil Ibu
9.5
Dahulu Tanika dan Faris menikah demi sebuah pertolongan saat Tanika masih menjadi guru SMA. Meski terpaut usia sepuluh tahun, benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka hingga sebuah alasan memaksa keduanya berpisah. Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Faris terkejut mendapati kenyataan bahwa kini Tanika telah memiliki suami. Akankah perasaan lama mereka bersemi kembali atau terkubur selamanya?