
Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
Bab 3
Mendengar itu istrinya menarik tangan suaminya untuk kembali berjongkok bersama, dan begitulah ketukan di pintu rumah mereka semakin kencang. Dari mulai hanya ketukan, kini berubah menjadi gedoran. Seperti ditendang-tendang, lantaran marah tak dibukakan.
Begitu pun di luar, Ki Surya berjuang melindungi orang yang sudah membayarnya. Dengan selalu mengingatkan, untuk tidak mendekati pintu atau membukanya.
Sekitar setengah jam keributan itu, semuanya menjadi hening dan tenang. Terdengar di luar rumah Ki Surya terbatuk-batuk, dan berjalan mendekati rumah Pak Sutris.
Ki Surya langsung membuka pintunya, membuat semua orang kaget karena mengira itu Begu Ganjang. Setelah melihat yang membuka pintu Ki Surya, semuanya langsung berdiri dan menuntun dukun itu untuk duduk.
Bu Lintring memberikan segelas air untuk Ki Surya. Setelah menengguk air itu sampai tersisa setengah, Ki Surya mengatur napas.
"Sudah, kalian sudah aman. Dua mahluk itu sudah aku musnahkan," ujar Ki Surya, sambil menahan sakit di sekujur tubuh.
"Benar, Ki? Dia sudah tidak akan menganggu keluarga kami?" tanya Pak Sutris.
Ki Surya mengangguk, lalu, ia mengatakan bila sang pemilik dari Begu Ganjang itu juga mendapat serangan darinya.
"Wanita yang mengirim mereka, juga mendapatkan luka cukup serius dariku. Perhatikanlah setiap orang di desa ini, kalau kalian melihat seorang wanita memiliki luka bakar di tubuhnya. Dialah pengirim itu, dan kalian harus lebih berhati-hati," tutur Ki Surya.
"Baik, Ki, baik ... terimakasih," ujar Pak Sutris merasa senang.
Akan tetapi, Agus, putranya yang masih belum terima dengan meninggalnya kakaknya. Tidak puas.
"Ki, apa tidak bisa kalau kita juga mengirim mahluk kiriman. Untuk membu-nuhnya? Atau teluh untuk menyik-sanya sebelum ma-ti?" tanya Agus.
Ki Surya mengangguk.
"Bisa saja, kalian ingin dia dibuat bagaimana?"
"Aku masih tidak terima atas perlakuannya pada Kak Bambang. Kalau dia hanya mendapatkan luka, itu tidak ada apa-apanya. Dia sudah merenggut nyawa sodaraku, jadi nyawa harus dibalas nyawa!"
Pak Sutris mengusap lengan putranya, mengerti perasaannya.
"Baiklah, aku akan mengirim sesuatu juga untuknya. Namun, ini akan menambah biaya dari kesepakatan sebelumnya. Bagaimanapun, mahluk ini sangat berbahaya," kata Ki Surya.
"Bukankah, tadi Aki bilang kalau sudah memusnahkan mereka?" tanya Pak Sutris.
"Aku memang sudah melenyapkan mereka yang dikirimnya. Masalahnya, ternyata selain dia yang memiliki Begu Ganjang. Dia juga Begu Ganjang itu sendiri."
"Maksudnya bagaimana, Ki?" Pak Sutris tak begitu mengerti.
"Sudah, lupakan. Intinya yang perlu kalian tahu, dia ini sangat berbahaya. Urusan dengan mahluk ini tidaklah mudah, apa kalian yakin?"
Pak Sutris menatap putranya, karena dialah yang paling menggebu-gebu untuk balas dendam sekarang.
"Tetap balaskan, Ki! Akan kami bayar berapapun uang yang Aki minta. Asal balaskan dendam ini!" ujar Agus.
Ki Surya mengangguk. "Baiklah, kalau itu kemuanmu. Untuk pengiriman ini, aku tidak akan meminta uang."
"Lalu, Aki minta apa?" tanya Pak Sutris.
Lelaki berusia 39 tahun itu menoleh, dan melihat Lintang, anak ke dua Pak Sutris. Kakak perempuan Agus.
"Aku ingin, anakmu ini jadi istriku."
Semua orang terkejut, semua melihat ke arah Lintang yang juga tak percaya.
Mereka tak langsung menjawab, dan Ki Surya pun memberi waktu untuk mereka memikirkan penawarannya.
"Aku berikan waktu 1 Minggu, untukmu memikirkannya. Kalau kau setuju, datanglah ke rumahku."
"Baik, Ki. Akan kami pikirkan dulu."
Anda Mungkin Juga Suka





